FERTIGASI OTOMATIS BERBASIS TENSIOMETER DAN SENSOR EC UNTUK BUDIDAYA TANAMAN HIAS

  • FERTIGASI OTOMATIS BERBASIS TENSIOMETER DAN SENSOR EC UNTUK BUDIDAYA TANAMAN HIAS
  • Peneliti : Ir. Yoyo Sulyo, MS

    Tahun Rilis : 2012

    Pemberian hara melalui sistem irigasi menjadi cara yang umum dilakukan pada pertanian modern. Cara ini disebut dengan istilah fertigasi. Dengan fertigasi, hara dalam bentuk larutan pupuk dapat mengantisipasi sebagian besar kebutuhan tanaman sesuai dengan stadia pertumbuhannya.
    Penjadwalan pengairan diartikan sebagai frekuensi dan banyaknya air yang diberikan pada setiap pengairan. Ada beberapa pendekatan dalam penjadwalan, salah satunya berdasarkan tensiometer. Penjadwalan pengairan dapat menghemat air, mencegah tanaman stres, mencegah tercucinya pupuk dan mengemat biaya energi. Penjadwalan pengairan yang baik artinya pemberian dalam jumlah air dan waktu yang benar, agar memperoleh kelembaban tanah yang sesuai, sehingga air tersedia bagi tanaman pada saat diperlukan. Interval antara pengairan akan tergantung kepada konsumsi air oleh tanaman. "Tensiometer" artinya pengukur tegangan/gaya. Untuk menyerap air dari dalam tanah, tanaman perlu mengatasi gaya isap dari tanah, gaya ini diukur dengan sebuah tensiometer. Satuannya kilo Pascal (kPa) atau sentibar (cBar). Tensiometer ini terbuat dari tabung akrilik yang salah satu ujungnya dipasangi cawan keramik berpori dan pada ujung lainnya dipasangi vakum meter. Cawan keramik mensimulasikan aliran air melalui tanah. Jika tanah sekitar cawan keramik tensiometer kering, air diisap keluar dari tabung, sehingga terjadi hampa udara di dalam tabung yang akhirnya angka di vakum meter terbaca. Makin kering tanah, makin tinggi pembacaan tensiometer. Kalau tanah menjadi basah, maka air masuk ke tabung, sehingga pembacaan vakum meter mendekati nol. Pembacaan tensiometer yang sama pada tanah yang berbeda menunjukkan kandungan air yang berbeda. Hal ini disebabkan karena setiap jenis tanah memiliki karakteristik daya memegang air yang berlainan. Pada nilai tensi yang sama, jenis tanah yang berbeda akan mengandung air yang berbeda. Jadi tanah yang berat mengandung air lebih banyak daripada tanah pasir. Oleh karena itu tanah berpasir memerlukan frekuensi pengairan yang lebih sering dibandingkan tanah yang bertekstur lebih berat. Untuk kebanyakan tanah, nilai tensiometer di atas 50 kPa artinya tanah kering dan di bawah 10 Kpa menunjukkan tanah basah. Otomatisasi penyiraman akan menyesuaikan kebutuhan air dengan stadia pertumbuhan tanaman. Pengairan yang diberikan bersamaan dengan pemupukan berpeluang untuk menyebabkan kandungan hara di dalam media tanaman menjadi terlalu tinggi, sehingga dapat meracuni tanaman. Dengan otomatisasi, maka dapat mempertahankan level hara yang tepat di dalam media tanam.