Website-Resmi-Balai-Penelitian-Tanaman-Hias-Kementerian-Pertanian

  • PROSIDING SEMINAR NASIONAL ANGGREK 2012
  • No. Judul Artikel Tahun Penulis Download
    1 Kebijakan Penelitian dan Pengembangan Anggrek Mendukung Peningkatan Ekspor

    Industri anggrek di Indonesia menghadapi tantangan berat dan persaingan ketat baik di dalam maupun di luar negeri. Keterbatasan teknologi, sumber daya manusia, permodalan menjadi faktor penghambat pembangunan industri peranggrekan di tanah air. Situasi yang tidak menguntungkan tersebut perlu disikapi dan diantisipasi melalui konsolidasi semua pelaku agribisnis anggrek dan memberdayakan potensi sumber daya genetik Nasional secara optimal. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura sebagai instansi penghasil dan pengembang inovasi teknologi harus mampu berpartisipasi dalam pengembangan anggrek Nasional melalui penyediaan inovasi-inovasi teknologi sesuai kebutuhan pelaku usaha secara berkesinambungan yang berorientasi pada peningkatan produktivitas, kualitas, dan nilai tambah produk dalam upaya meraih pasar domestik dan global. Sinkronisasi program penelitian, pengkajian dan pengembangan tanaman anggrek terus diperlukan guna memperkuat pengembangan dan mendukung kemajuan agribisnis anggrek yang berdaya saing tinggi melalui pemanfaatan sumber daya genetik nasional secara maksimal.

    Kata kunci: Anggrek, inovasi teknologi, produktivitas, kualitas, nilai tambah dan sumber daya genetik nasional.
    2012 Yusdar Hilman, M. Prama Yufdy dan Sri Rianawati
    2 Prospek Pengembangan Usaha Anggrek Berbasis Sumberdaya Lokal

    Anggrek merupakan komoditas tanaman hias penting di Indonesia. Permintaan produk tanaman ini dari tahun ke tahun terus meningkat. Tanaman ini dimanfaatakn tidak hanya tanaman pot dan bunga potong, kini juga dimanfaatkan sebagai decorative plant yang dipasarkan dalam bentuk tanaman rental, plant arrangement, wedding decoration dan juga sebagai komponen landscape modern. Meski bisnis anggrek terus meningkat dan meluas ke berbagai daerah, namun ketersediaan bibit bermutu masih rendah. Dampaknya impor benih terus mengalir ke Indonesia. Agribisnis tanaman ini juga masih terkendala akibat belum diterapkannya pengelolaan rantai pasok (Supply Chain Managemant, SCM) pada semua level usaha. Untuk mengatasi keterbatasan tersebut pola kemitraan pada seluruh level dan pelaku usaha baik dalam penyediaan varietas unggul baru dan bibit bermutu; dukungan pemerintah dalam integrasi usaha, penelitian dan pengembangan yang berkelanjutan, penyediaan infrastruktur, modal usaha, serta aturan yang kondusif sangat diperlukan.

    Kata kunci: Anggrek, bibit, bisnis, infrastruktur, kemitraan, pengelolaan rantai pasok.
    2012 Novianto
    3 Kebutuhan Inovasi dalam Pengembangan Industri Anggrek yang Berdaya Saing & Berbasis Sumber Daya Lokal

    Indonesia adalah negara tropis yang memiliki megabiodiversiti sumber daya genetik tanaman terbesar kedua setelah Brazil. Diperkirakan terdapat sekitar 5.000 jenis anggrek alam yang tumbuh di hutan hujan tropis Indonesia, tetapi sampai saat ini baru sekitar 1.500 jenis yang telah diidentifikasi, sisanya belum teridentifikasi bahkan dikhawatirkan sudah punah karena kerusakan habitat dan adanya konversi hutan. Kekayaan tersebut belum termanfaatkan secara maksimal untuk kesejahteraan masyarakatnya. Untuk meningkatkan akselerasi pemanfaatan anggrek dan mendukung kemajuan peranggrekan Nasional, pemanfaatan dan aplikasi bioteknologi modern terkait dengan perbanyakan masal bibit anggrek berkualitas, perbaikan karakter dan perakitan anggrek transgenik (genetically modified-organism, GMO) sangat diperlukan. Aplikasi bioteknologi modern tersebut tetap mempertimbangkan etika, legalitas dan social impact secara bijak. Keberhasilan aplikasi bioteknologi modern tersebut memerlukan kerjasama mutualisme semua sektor yang terlibat dalam agribisnis anggrek. Aplikasi bioteknologi modern dengan mempertimbangkan berbagai aspek tersebut pada akhirnya diharapkan mampu mewujudkan tersedianya anggrek-anggrek unggulan Indonesia yang mampu bersaing baik dipasar lokal maupun global.

    Kata kunci: Anggrek, agribisnis, bioteknologi modern, karakter, transgenik.
    2012 Endang Semiarti
    4 Inovasi Pemuliaan Anggrek Mendukung Tersedianya Varietas Unggul untuk Substitusi Produk Impor

    Orchidaceae merupakan salah satu famili dari angiopsermae yang terbesar dan memiliki lebih dari 25.000 spesies. Indonesia memiliki 5000 spesies anggrek yang tersebar diseluruh Nusantara. Potensinya besar tersebut memberikan peluang penyilang-penyilang anggrek untuk membuat hybrid-hibrid silangan yang banyak digemari. Program pemuliaan dilakukan untuk memperbaiki ukuran dan warna bunga, begitu pula karakteristik lain seperti ketahanan bunga, panjang tangkai, bentuk daun, kemudahan budidaya, ketahanan penyakit dan viabilitas benih melalui seleksi tetua dalam hibridisasi anggrek. Anggrek Phalaenopsis, Dendrobium dan Vanda menjadi komoditi yang penting dalam pasar domestik maupun internasional. Permintaan anggrek yang terus meningkat menjadikan pemulia akan selalu mencari tipe-tipe baru dari yang belum pernah ada. Namun beberapa jenis anggrek menghadapi banyak kendala seperti inkompatibilitas, perbedaan ploidi dan kendala-kendala sebelum dan setelah fertilisasi. Aplikasi metode-metode seperti pemuliaan genom, poliploidi dan transformasi genetik pada anggrek dimaksudkan untuk mengatasi permasalahan dalam pembentukan varietas-varietas baru. Melalui aktivitas pemuliaan dan pemanfaatan sumber daya genetik tersebut diharapkan dapat menghasilkan varietas unggul baru dengan karakter-karakter unik yang dapat menggantikan anggrek-anggrek produk impor.

    Kata kunci: Anggrek, pemuliaan, poliploidisasi, transformasi, Dendrobium, Phalaenopsis dan Vanda.
    2012 Suskandari Kartikaningrum dan Dedeh Siti Badriah
    5 Inovasi Teknologi Perbanyakan In Vitro dan Kultur Meristem Mendukung Tersedianya Bibit Bermutu Anggrek Secara Berkelanjutan

    Indonesia merupakan negara dengan kekayaan sumber daya alam anggrek yang besar, namun pemanfaatan dan pengembangannya belum maksimal. Dampaknya produk-produk anggrek luar negeri (khususnya bibit berkualitas) banyak mendominasi kegiatan agribisnis anggrek di Indonesia. Kondisi ini harus disikapi dan diupayakan solusi terbaiknya agar kemajuan agribisnis anggrek berbasis produk-produk dalam negeri dapat berkembang lebih baik. Inovasi teknologi perbanyakan in vitro dan kultur meristem merupakan solusi terbaik untuk mengurangi dominasi produk luar negeri yang ada di Indonesia dan menngantikannya dengan produk Nasional. Pengembangan inovasi teknologi perbanyakan in vitro pada Dendrobium, Phalaenopsis, Vanda dan jenis anggrek dalam mendukung tersedianya bibit bermutu anggrek secara berkelanjutan, dalam jumlah yang besar, stabil, seragam dalam waktu yang singkat telah dilakukan oleh Balai Penelitian Tanaman Hias sejak beberapa tahun yang lalu hingga saat ini. Berbagai inovasi teknologi perbanyakan cepat anggrek via aplikasi teknologi kultur jaringan yang telah dikembangkan meliputi: induksi dan proliferasi tunas aksiler dan adventif, induksi dan proliferasi kalus organogenik dan embriogenik dalam bentuk protocorm-like body (plb) dan embrio. Sejak tahun 2010 aplikasi bioreactor dalam perbanyakan bibit anggrek berkualitas sudah berhasil diaplikasikan dan mulai tahun 2012 pengembangan kultur meristem untuk mendapatkan bibit anggrek yang berkualitas, stabil, seragam dan bebas virus dikembangkan di Balithi. Inovasi teknologi kultur in vitro tersebut diharapkan dapat menjadi motor penggerak yang optimal dalam penyediaan bibit anggrek berkualitas yang berkelanjutan dan tumbuhnya perusahaan bibit anggrek di Indonesia. Kemudian kerjasama yang baik seluruh pelaku agribisnis anggrek dan pemerintah juga sangat diperlukan untuk membantu mewujudkan tujuan mulia tersebut.

    Kata kunci: Kultur jaringan, bibit berkualitas, kultur meristem dan anggrek.
    2012 Budi Winarto
    6 Inovasi Teknologi Pengendalian Hama/Penyakit Utama Mendukung Peningkatan Produktivitas dan Kualitas Anggrek yang Berdaya Saing Tinggi

    Permintaan anggrek di pasar domestik dan manca Negara dari tahun ke tahun terus selalu miningkat secara signifikan, namun volume dan nilai ekspor anggrek Indonesia justru mengalami penurunan. Hal ini disebabkan produktivitas dan kualitas yang masih rendah, yang salah satunya diakibatkan adanya serangan hama dan penyakit tanaman (HPT). Untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas anggrek Indonesia dalam rangka menekan serangan HPT dan meningkatan daya saingnya diperlukan teknologi pengendalian HPT yang optimal. Beberapa inovasi teknologi pengendalian HPT yang mendukung peningkatan produktivitas dan kualitas anggrek yang dihasilkan Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi) pada kurun waktu sepuluh tahun terakhir ialah pengendalian hama-penyakit terpadu (PHT), aplikasi biopestisida, dan pestisida kimiawi secara bijaksana. Biopestisida berbahan aktif bakteri antagonis (Bio PF) yang diperkaya dengan Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR), jamur antagonis (Gliocladium dan Trichoderma) dan bahan tanaman (neem dan tuba) berpotensi sebagai insektisida, bakterisida, fungisida dan moluskasida. Biopestisida produk Balithi terbukti dapat mengendalikan berbagai permasalahan HPT dilapangan, beberapa produk telah mendapatkan hak paten dan dikerjasamakan dengan perusahaan swasta Nasional.

    Kata kunci: Anggrek, hama-penyakit, pengendalian terpadu, biopestisida.
    2012 Hanudin dan I Djatnika
    7 Jenis-Jenis Anggrek yang Terdapat di Sumatera Utara

    Indonesia merupakan salah satu negara dengan kekayaan anggrek besar dengan lebih dari 5000 spesies yang tersebar diberbagai provinsi, salah satunya Sumatra Utara. Sumatera Utara berada didaerah tropis yang sangat cocok untuk tempat tumbuh dan berkembangnya anggrek. Adapun jenis anggrek dan penyebarannya di Sumatera Utara antara lain ditemukan di (1) hutan digunung Laouser terdapat 47 jenis makroepifit yang termasuk dalam 4 kelas, 10 ordo, 20 famili, dan 32 genera, (2) Hutan Gunung Sinabung 37 jenis anggrek epifit yang termasuk dalam 17 genus, (3) Taman Wisata Sibolangit dengan 5 jenis anggrek tanah and 2 anggrek epifit, (4) Cagar Alam Sibolangit ada 3 jenis anggrek (epifit, terestrial dan tanah) dan anggrek efifit hanya satu jenis, (5) Kawasan taman eden ditemukan 112 spesies anggrek yang terhimpun dalam 38 genus [78 spesies anggrek epifit (24 genus), 32 spesies anggrek teresterial (18 genus) dan 2 spesies anggrek saprofit (2 genus)], (6) Gunung Lubuk Raya terdapat anggrek sepatu dewi (spesies phapio), (7) Kawasan Hutan Barumun Ada 60 jenis anggrek yang terdiri dari 31 marga, (8) Cagar Alam Dolok Sipirok Ada 95 jenis yang terdiri dari 40 marga, 22 jenis (17 marga) diantaranya merupakan anggrek tanah dan 73 jenis (24 marga) merupakan anggrek epifit. Ada 3 jenis anggrek yang dilindungi yaitu Cymbidium hartinahianum, Phalaenopsis sumatrana dan Vanda sumatrana.

    Kata kunci: Sebaran, Jenis anggrek, Sumatera Utara.
    2012 Khairiah, Novia Chairuman dan Muhammad Fadly
    8 Penyusunan Ideotipe Anggrek Dendrobium, Phalaenopsis dan Vanda

    Ideotipe digambarkan atas dasar karakteristik morfologi, namun sebagian besar berhubungan dengan fungsi fisiologis. Tipe ideal merupakan suatu parameter yang diinginkan oleh konsumen atas dasar observasi permintaan pasar atau preferensi konsumen. Tujuan penelitian adalah untuk menetapkan ideotipe anggrek Dendrobium, Phalaenopsis, dan Vanda. Konsep awal ideotipe saat ini selain disusun berdasarkan karakteristik klon unggul Dendrobium, Phalaenopsis dan Vanda yang berdasarkan Spesifikasi Mutu Bunga Anggrek menurut SNI 01-3171-1995 dengan persyaratan kelas I; preferensi konsumen; juga berdasarkan acuan Ideotipe tanaman lain terutama ditujukan pada karakter hasil dan komponen hasil yang berkorelasi langsung maupun tak langsung dengan fungsi fisiologis tanaman. Materi yang digunakan untuk uji adalah Dendrobium, Phalaenopsis dan Vanda. Untuk Dendrobium dan Phalaenopsis perlakuannya adalah (1) Sudut daun < 45 derajat dan sudut daun > 45 derajat. Untuk kelompok Vanda (bunga potong), perlakuan adalah pada bentuk daun yaitu semi teret (Mokara Chark Kuan) dan Vanda daun (Vanda Robert Delight). Setiap perlakuan menggunakan 20 tanaman. Analisis dilakukan terhadap klorofil dan gula total masing-masing 10 tanaman. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa anggrek Dendrobium Airy Beauty dengan sudut daun < 45 derajat memiliki efisiensi proses fotosintesis yang lebih tinggi dibandingkan dengan anggrek Dendrobium Jade Green dengan sudut daun > 45 derajat. Anggrek Mokara Chark Kuan (semi teret) memiliki efisiensi proses fotosintesis yang lebih tinggi dibandingkan dengan anggrek Vanda Robert Delight (Vanda daun). Anggrek Phalaenopsis dengan sudut daun > 45 derajat memiliki efisiensi proses fotosintesis yang lebih tinggi dibandingkan dengan anggrek Phalaenopsis dengan sudut daun < 45 derajat.

    Kata kunci: Idiotipe, Dendrobium, Vanda, Phalaenopsis, Fotosintesis.
    2012 Anggraeni Santi Setyawati, Suskandari Kartikaningrum, Nurmalinda dan Nur Qomariah Hayati
    9 Persilangan Interspesifik dan Intergenerik Anggrek Phalaenopsis Untuk Menghasilkan Hibrid Tipe Baru

    Sejak puluhan tahun lalu kegiatan pemuliaan Phalaenopsis dilakukan melalui persilangan antar varietas dengan menggunakan kelompok tetua yang sama. Hal ini menyebabkan variasi genetik hibrid yang dihasilkan makin terbatas. Hibrid tipe baru dapat diciptakan melalui persilangan antar spesies dan genera yang memiliki karakter unik. Namun persilangan interspesifik dan intergenerik tidak mudah dilakukan karena terdapat barier genetik yang disebabkan oleh abnormalitas proses meiosis dan ketidakserasian antara tepungsari dan kepala putik antar tetua jantan dan betina. Di dalam penelitian ini dilakukan persilangan interspesifik dan intergenerik Phalaenopsis dengan tujuan mengetahui keserasian genetik antar tetua persilangan. Hasil penelitian diharapkan dapat digunakan untuk merakit hibrid tipe baru yang sesuai dengan preferensi konsumen. Penelitian dilakukan pada bulan Maret sampai dengan Desember 2010 di rumah kaca dan laboratorium Balai Penelitian Tanaman Hias, Cipanas-Jawa Barat. Materi genetik yang digunakan sebagai tetua persilangan terdiri atas spesies, hibrid primer, hibrid sekunder dan hibrid tingkat lanjut (hibrid komersial) Phalaenopsis. Cakupan penelitian meliputi koleksi tetua persilangan, karakterisasi koleksi tetua, persilangan antar tetua, pengecambahan biji, pembentukan plb (protocrom like bodies), regenerasi planlet dan aklimatisasi. Persilangan antar spesies dan genera Phalaenopsis dilakukan di dalam rumah kaca dengan meletakkan tepungsari tetua jantan ke kepala putik tetua betina. Biji F1 dikecambahkan pada media Vaccin dan Went. Plbs yang dihasilkan kemudian diregenerasikan hingga menjadi planlet pada media yang diberi auksin dan sitokinin. Planlet yang tumbuh selanjutnya dipelihara hingga siap diaklimatisasikan di dalam rumah kaca. Sebanyak 147 persilangan antar spesies dan genera Phalanopsis telah dilakukan di dalam penelitian ini, 102 persilangan menghasilkan buah dan 45 silangan tidak menghasilkan buah (aborsi). Buah yang dihasilkan ternyata tidak selalu dapat bertahan hingga matang fisiologis, bahkan sebagian buah yang diketahui telah masak fisiologis ternyata tidak mengandung biji. Sebanyak 11.03 % persilangan saja yang menghasilkan buah matang fisiologis dan menghasilkan biji, sedang sisa buah lainnya mengalami kerontokan pada umur 1-3 bulan. Plb dan planet dari berbagai persilangan interspesifik dan intergenerik Phalaenopsis telah dihasilkan dan sebagian planlet telah diaklimatisasikan di dalam rumah kaca.

    Kata kunci: Phalaenopsis, hibrid, tipe baru, persilangan interspesifik, persilangan intergenerik, keserasian genetik.
    2012 Budi Marwoto, Dedeh S. Badriah, Minangsari Dewanti, dan Lia Sanjaya
    10 Keunggulan Kelompok Anggrek Vanda dalam Meningkatkan Variasi dan Kualitas Anggrek Bunga Potong

    Vanda merupakan salah satu jenis anggrek yang mempunyai nilai ekonomi tingi, tetapi belum dimanfaatkan secara optimal untuk perakitan varietas unggul baru. Jenis anggrek ini sangat penting dan dapat digunakan sebagai tetua persilangan untuk menghasilkan jenis baru yang unik. Sebagian dari jenis anggrek ini dapat digunakan dalam persilangan antar spesies atau antar varietas, sebagian yang lain dapat juga digunakan dalam persilangan antar genus yang berbeda. Dari hasil persilangan menggunakan jenis Vanda, bila diperbanyak secara in vitro dapat menstimulir peningkatan jumlah khromosom, sehingga diperoleh genotip baru yang memiliki karakter-karakter unik yang baru. Kendala pengembangan anggrek di Indonesia antara lain disebabkan terbatasnya ketersediaan bibit unggul, teknologi perbanyakan yang selama ini digunakan masih tradisional, informasi pasar yang tidak jelas dan kurangnya dukungan kebijakan pemerintah.

    Kata kunci: Anggrek, Vanda, persilangan, bibit, bunga potong.
    2012 Dyah Widyastoety dan Anggraeni Santi
    11 Analisa Penilaian Kompetitif terhadap Persyaratan Konsumen dan Teknik pada Pengembangan Dendrobium Bunga Potong

    Dendrobium merupakan salah satu anggrek penting dengan nilai ekonomi tinggi untuk dibudidayakan. Untuk memenuhi kebutuhan konsumen pengguna varietas Dendrobium maka pengembangan varietas baru diarahkan untuk menghasilkan varietas yang sesuai dengan preferensi konsumen, agar resiko kegagalan produk dapat ditekan serendah mungkin. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi atribut persyaratan (1) konsumen dan (2) teknis produsen yang dinilai kompetitif dalam pengembangan Dendrobium bunga potong. Data yang digunakan dalam penelitian adalah data primer dan data sekunder. Metode Analisis data yang digunakan adalah metode analisis Quality Function Deployment (QFD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 16 atribut persyaratan konsumen Dendrobium bunga potong yang dinilai kompetitif oleh konsumen adalah: (a) produktivitas tinggi, panjang malai bunga, jumlah kuntum bunga, kemudahan memproduksi bunga untuk nilai keunggulan; (b) panjang tangkai bunga dinilai sama baik; (c) umur hibrida dinilai cukup baik; (d) kemudahan memperoleh bibit, ketahanan terhadap hama dan penyakit, dan harga beli benih dinilai kurang baik. Sedangkan untuk persyaratan teknik yang dinilai unggul terkait dengan jumlah pseudobulb atau umbi produktif per tanaman, jumlah kuntum bunga per tangkai dan teknologi budidaya anggrek; (b) panjang malai bunga, panjang tangkai bunga, penilaian karakter dan kualitas bunga dinilai sama baik; (c) teknologi kultur jaringan dinilai cukup baik; (d) teknologi perbaikan varietas tanaman tahan hama dan penyakit (uji lanjut), sistem informasi handal, hubungan kerjasama antara lembaga penelitian dengan pelaku usaha dinilai tidak baik. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar dalam perbaikan kualitas varietas unggul baru Dendrobium yang akan dikembangkan yang sesuai dengan keinginan konsumen dan kemampuan teknis produsen.

    Kata kunci: Persyaratan konsumen dan teknis, perbaikan kualitas, dan Dendrobium bunga potong.
    2012 Nur Qomariah Hayati
    12 Analisis Finansial Bibit Anggrek di DKI Jakarta

    Salah satu produk pertanian yang memiliki peluang untuk dikembangkan ialah anggrek. Walaupun produktivitas tanaman anggrek secara nasional berfluktuasi, tetapi terjadi peningkatan produksi, selain karena diakibatkan terbentuknya sentra-sentra tanaman anggrek di luar Pulau Jawa, tetapi juga masyarakat di luar Pulau Jawa mulai tertarik untuk mengembangkan anggrek. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis usahatani anggrek secara finansial dan mencari permasalahannya di DKI Jakarta. Penelitian dilakukan di DKI Jakarta pada bulan Januari-Desember 2008 di DKI. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja dengan pertimbangan bahwa lokasi tersebut merupakan salah satu daerah penanaman anggrek di Indonesia. Metoda penelitian yang akan digunakan ialah metode survei digabungkan dengan observasi lapangan, untuk mengumpulkan data primer dan sekunder. Responden penelitian adalah petani anggrek sebanyak 20 orang, serta informan kunci yang paham dengan usahatani dan pemasaran anggrek. Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode Input-output analysis (Price, 1972). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengusahaan pembibitan anggrek cukup menguntungkan, dengan B/C rasio bibit anggrek pembesaran dari botol adalah 1,45; pembesaran dari kompot 1,51 dan pembesaran dari seedling 1,35. Permasalahan yang dihadapi petani dari sisi produksi ialah pengadaan bibit bermutu, hama dan penyakit tanaman dan harga pupuk.

    Kata kunci: Analisis finansial, Bibit, Anggrek.
    2012 Nurmalinda dan Nur Qomariah Hayati
    13 Proliferasi dan Kecepatan Penggandaan Tiga Protocorm-Like Body (plb) Dendrobium pada Media Pupuk yang Berbeda secara In Vitro

    Proliferasi dan kecepatan penggandaan tiga protocorm-like body (plb) Dendrobium pada media pupuk yang berbeda secara in vitro telah dipelajari di laboratorium kultur jaringan Balai Penelitian Tanaman Hias. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan proliferasi dan kecepatan penggandaan plb dari tiga jenis Dendrobium Indonesia pada media pupuk yang berbeda secara in vitro. Plb yang digunakan dalam percobaan ini berasal dari D. 'Jayakarta', D. 'Gradita 31' and D. 'Zahra FR 62'. Media pupuk untuk proliferas (PM) yang diaplikasikan pada percobaan ini adalah (1) medium 1/2 MS medium (PM-1 sebagai kontrol), (2) medium VW (PM-2 sebagai kontrol), (3) medium Hyponex (1.5 g/l 25N:5P:20K + 1.5 g/l 10N:40P:15K) (PM-3), (4) medium Hyponex (3 g/l 25N:5P:20K) (PM-4), (5) medium Growmore (1.5 g/l 32N:10P:10K + 1.5 g/l 20N:20P:20K) (PM-5), (6) medium Growmore (1.5 g/l 20N:20P:20K + 1.5 g/l 6N:30P:30K) (PM-6), (7) medium Rosasol (1.5 g/l 25N:10P:10K +TE + 1.5 g/l 15N:10P:30K+TE) (PM-7) dan (8) medium Rosasol (1.5 g/l 18N:18P:18K + 1.5 g/l 25N:10P:10K +TE) (PM-8). Percobaan disusun menggunakan rancangan acak lengkap pola faktorial dengan 4 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa plb D. 'Jayakarta' merupakan plb yang paling responsif dalam proliferasi dibanding plb dari D. 'Gradita 31' and D. 'Zahra FR 62' plbs. Medium PM-8 merupakan medium yang paling sesuai untuk menstimulasi pertumbuhan dan proliferasi tiga plb Dendrobium Indonesia. Plb D. 'Jayakarta' yang dikultur pada medium PM-5 merupakan kombinasi perlakuan terbaik untuk mendapatkan pertumbuhan dan proliferasi plb dengan berat total plb mencapai 5.3 g dengan 2.7 g berat basah rata-rata plb per periode subkultur, 1848 total jumlah plb, 462 rata-rata jumlah plb dan 0.7% pencoklatan plb; sementara medium PM-1 sesuai untuk plb D. 'Gradita 31' dan medium PM-3 untuk plb D. 'Zahra FR 62'. Kecepatan penggandaan tertinggi hingga 2.7 ditunjukkan oleh plb D. 'Jayakarta', sementara kecepatan penggandaan rendah hingga 0.32 dan 0.13 diperlihatkan oleh plb D. 'Gradita 31' dan plb D. 'Zahra FR 62' dengan titik puncak proliferasi pada subkultur ke empat dan menurun pada subkultur kelima. Hasil studi ini memberikan implikasi bahwa dalam proliferasi plb Dendrobium setiap Dendrobium memerlukan medium yang spesifik.

    Kata kunci: Dendrobium, protocorm-like body (plb), proliferasi dan media pupuk.
    2012 Budi Winarto
    14 Pengaruh Komposisi Media dan Methylobacterium sp. Terhadap Perkembangan Protocorm-Like Body (plb) Phalaenopsis violacea dan Phalaenopsis amboinensis

    Perbanyakan anggrek Phalaenopsis spesies untuk tujuan konservasi dilakukan dengan biji. Perbedaan spesies ternyata membutuhkan komposisi yang berbeda untuk berkembang dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan komposisi media terbaik untuk perkembangan protocorm agar dapat menjadi plantlet yang sempurna. Penelitian dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan Balai Penelitian Tanaman Hias, Segunung. Bahan tanaman yang digunakan adalah protocorm dari hasil semai biji Phalaenopsis violacea dan Phalaenopsis amboinensis. Media yang digunakan adalah modifikasi dari media MS dan Knudson C. Penambahan Methylobacterium sp. pada media digunakan untuk tujuan memacu protocorm untuk dapat menjadi plantlet pada P. amboinensis. Hasil penelitian menunjukan bahwa sub kultur pertama merupakan periode kritis untuk pertumbuhan protocorm, media 1/2 MS dengan penambahan air kentang, pepton 1g/l tanpa arang aktif merupakan media terbaik untuk sub kultur pertama dan untuk subkultur selanjutnya sampai plantlet media yang sesuai adalah media 1/2 MS yang ditambahkan arang aktif 1g/l. Methylobacterium sp. tinggi Giberelin Strain TD-Tpb3 dan Methylobacterium sp .tinggi sitokinin Strain TD-J2 dapat digunakan sebagai bahan alternatif yang ditambahkan pada media untuk proliferasi kalus dan mendorong terjadinya plantlet pada P. amboinensis.

    Kata kunci: Phalaenopsis violacea, Phalaenopsis amboinensis, media, protocorm-like body (plb), dan Methylobacterium sp.
    2012 Debora Herlina dan Dewi Pramanik
    15 Perbanyakan Anggrek Phalaenopsis dan Paraphalaenopsis Spesies dengan Semai Biji Secara In Vitro untuk Tujuan Koleksi dan Konservasi

    Perbanyakan anggrek Phalaenopsis dan Paraphalaenopsis spesies dengan biji telah dilakukan dengan tujuan untuk mengoleksi dan mengkonservasi anggrek spesies mempunyai nilai komersial dan keberadaan di alam aslinya sudah jarang, baik yang berasal dari Indonesia maupun luar Indonesia. Koleksi yang berupa tanaman induk dikawinkan kemudian buah yang terbentuk disemai secara in vitro. Media MS atau Knudson C yang ditambah dengan air kelapa 150 ml/l, air kentang (65 g/l air) dan pepton 1g/l digunakan sebagai media semai biji. Dari hasil penelitian ini sudah terkoleksi 32 spesies Phalaenopsis dan 3 spesies Paraphalaenopsis, 25 spesies bunganya diserbukan dan 24 spesies buahnya berhasil dipanen dan disemai. Kemasakan buah berkisar dari 3 sampai 7 bulan setelah penyerbukan. Tidak semua spesies yang bunganya berhasil diserbukan membentuk buah maupun biji. P. gigantea, P. bellina, P. violacea Sumatra, P. modesta, P. manii dan P. venosa biji berkecambah dengan sangat baik pada media yang digunakan.

    Kata kunci: Phalaenopsis, Paraphalaenopsis, Spesies,Perbanyakan, Invitro, Konservasi.
    2012 Debora Herlina
    16 Pengaruh Kerapatan Plantlet dan Media Organik Terhadap Pertumbuhan dan Kualitas Planlet Anggrek Dendrobium

    Pengaruh kerapatan plantlet dan media organik terhadap pertumbuhan dan kualitas plantlet anggrek Dendrobium telah dipelajari. Tujuan penelitian mengetahui pengaruh kerapatan plantlet dan media organik terhadap pertumbuhan dan kualitas plantlet anggrek Dendrobium. Penelitian dilaksanakan dirumah kaca Balai Penelitian Tanaman Hias, KP.Pasar Minggu, dari bulan April 2011 sampai Maret 2012. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok terdiri atas 12 kombinasi perlakuan dan 4 ulangan, masing-masing 3 botol setiap perlakuan. Faktor pertama adalah kerapatan planlet terdiri dari: 5, 10, 15 dan 20 planlet per botol. Faktor kedua adalah tiga macam media masing-masing adalah : 1. Vacin & Went + pisang 75g/l + air kelapa 150cc/l+gula 20gr/l. 2. Fish Emulsion 0,2% + pisang 75gr/l+air kelapa 150cc/l+gula pasir 20g/l+daun mengkudu (Morinda citrifolia) 100g/l. 3. Vacin & Went+pisang 75gr/l + air kelapa 150cc/l+Manitol 30gr/l. Hasil penelitian menunjukkan bahwa plantlet terbaik tampak pada media Manitol dengan kerapatan 5 plantlet per botol dengan persentase tumbuh 235% dan scoring vigoritasitas (8.8), diikuti oleh perlakuan media pisang dengan kerapatan 5 plantlet per botol menghasilkan persentase tumbuh (205%) dan scoring vigoritasitas (8,6). Sedangkan pertumbuhan plantlet terendah terdapat pada perlakuan media Fish Emulsion + Mengkudu.

    Kata kunci: Anggrek Dendrobium, Planlet, Media Organik.
    2012 Pudji K. Utami, Jaka Prasetya, Nono Sutrisno, Anggraeni Santi, Dyah Widiastoety
    17 Pengaruh Pemupukan N dan Umur Tunas Sebagai Sumber Eksplan Terhadap Pemacuan Inisiasi Plb Dendrobium

    Pengaruh pemupukan N dan umur tunas sebagai sumber eksplan terhadap pemacuan inisiasi plb Dendrobium telah dipelajari. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh pemupukan N dan umur tunas sebagai sumber eksplan terhadap pemacuan inisiasi plb Dendrobium. Penelitian dilakukan dilaboratorium kultur jaringan Balai Penelitian Tanaman Hias, Pasar Minggu, yang dilaksanakan mulai Januari 2011 sampai dengan Desember 2011. Bahan tanaman yang digunakan adalah 5 genotype Dendrobium hasil silangan Balithi (NS 058; NS 069; NS 085; NS 086; NS 154). Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok pola Faktorial dengan 3 ulangan. Faktor pertama 2 macam pemupukan N tinggi yaitu Hyponex (25-5-20) dan Growmore (32-10-10), Faktor kedua adalah 4 umur tunas eksplant masing-masing : 7, 14, 21 dan 28 hari setelah tumbuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua genotype Dendrobium hasil silangan Balithi yang dicoba dapat tumbuh membentuk plbs dan hasil terbaik tampak pada NS 086 dan NS 154. Pemupukan N tinggi tidak berbeda nyata terhadap induksi pembentukan plb. Sedangkan umur tunas 21 hari merupakan umur tunas terbaik menghasilkan plb lebih cepat dan lebih berkualitas.

    Kata kunci: Dendrobium, umur tunas, pemupukan N, Kultur Jaringan.
    2012 Pudji K. Utami, Anggraeni Santi, Benamehuli Ginting, Jaka Prasetya
    18 Studi Kasus Teknologi Perbanyakan Anggrek Dendrobium secara In Vitro di Esties's Orchid, Depok, Jawa Barat

    Anggrek Dendrobium merupakan jenis anggrek yang dapat tumbuh di dataran rendah-medium, mudah berbunga dibandingkan dengan anggrek jenis lain. Anggrek Dendrobium banyak disukai masyarakat karena rajin berbunga dengan warna dan bentuk bunga yang bervariasi dan menarik. Sering digunakan dalam rangkaian bunga karena memiliki kesegaran yang relatif lama, tangkai bunga lentur dan produktivitas yang tinggi. Perbanyakan tanaman secara komersial menggunakan kultur in vitro pada tanaman anggrek diharapkan mendapatkan bibit bermutu dalam waktu cepat, seragam dan dalam jumlah banyak. Tujuan dari studi kasus ini untuk mengetahui metode perbanyakan anggrek Dendrobium melalui kultur in vitro yang dilakukan di Esties's Orchid pada skala komersial. Studi dilakukan menggunakan metode survei. Hasil studi menunjukkan bahwa Esties's Orchid menggunakan tunas muda sebagai bahan perbanyakan anggrek Dendrobium secara in vitro yang diinduksi pada media Vacin dan Went cair diatas shaker dengan kecepatan 90-120 rpm, kemudian dipindah pada media padat untuk membentuk tunas dan akar serta pembesaran dengan media campuran Hyponex 20:20:20, pisang dan arang aktif. Pada tahap aklimatisasi, planlet yang sudah bersih dari media agar direndam pada larutan fungisida 0,5 g/l selama kurang lebih 5 menit kemudian dikeringanginkan dan ditanam pada media yang telah difermentasi pada tray 1 lubang 1 tanaman dengan keberhasilan yang tinggi.

    Kata kunci: Dendrobium, umur tunas, pemupukan N, Kultur Jaringan.
    2012 Herni Shintiavira, Ika Rahmawati, dan M. Prama Yufdy
    19 Kajian Penggunaan Jenis Pupuk Daun Komersial dan Air Kelapa terhadap Pertumbuhan Plantlet Denrobium

    Kajian penggunaan jenis pupuk daun komersial dan air kelapa terhadap pertumbuhan plantlet Dendrobium telah dilakukan. Tujuan penelitian ini ialah untuk mendapatkan media sub kultur in vitro yang mudah diperoleh dan murah menghasilkan kualitas produk setara dengan media Vacint and went. Penelitian dilakukan di laboratorium kultur jaringan Dinas Pertanian provinsi Sumatera Utara. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan 3 ulangan. Pupuk daun yang dikaji untuk media kultur in vitro yaitu Bayfolan, Santagrow, Hortigrow, Kemira, Multigrow dengan dosis 2 g/ l yang dikombinasikan dengan air kelapa muda 150 ml dan 300 ml/l. Pembandingnya adalah media Vacint dan Went. Eksplan yang digunakan ialah plantlet anggrek Denrobium yang baru berubah dari plb ke plantlet. Tinggi plantlet 1 cm dengan 2-3 jumlah daun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan pupuk Hortigrow dan Kemira menunjukkan pertumbuhan plantlet yang sehat dan vigoritas dan baik untuk aklimatisasi dibanding pupuk daun lain dan kontrol. Sementara penggunaan pupuk daun Multimikro menstimulasi pertumbuhan tunas yang lebih banyak tunas dibanding perlakuan lainnya. Penambahan konsentrasi air kelapa dari 150 ml menjadi 300 ml tidakmemberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan plantlet Dendrobium.

    Kata kunci: Dendrobium, Media subkultur, air kelapa, pupuk daun.
    2012 Sri Romaito, Sortha Simatupang, Vivi Ariyati dan Lely Z. Nst
    20 Pengkajian Perbanyakan Dendrobium 'Tin Suharto' dari Biji ke Protocorm like body (Plb) ke Plantlet

    Pengkajian perbanyakan Dendrobium 'Tin Suharto' dari biji ke plb ke plantlet telah dilakukan. Tujuan penelitian ini ialah untuk mendapatkan bahan baku media subkultur in vitro yang yang mudah diperoleh dan murah harganya, setara hasilnya dengan kualitas media Vacint and went. Penelitian dilakukan di laboratorium kultur jaringan KP Buah Berastagi, Sumatera Utara. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan 6 ulangan. Media yang dicoba ialah M1(tepung agar Swallow + tomat + air kelapa), M2 (tepung agar Swallow + tomat ), M3: Media Vacint & Went sebagai kontrol. Penelitian dibagi 2 tahap. Tahap pertama mengecambahkan biji angrrek menjadi plb. Tahap kedua menumbuhkembangkan plb menjadi plantlet. Jenis anggrek yang digunakan ialah anggrek alam Dendrobium 'Tin Suharto'. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk perkecambahan biji Dendrobium 'Tin Suharto' menjadi plb, dapat dilakukan menggunakan media sederhana tomat dan tepung agar saja. Dan hasilnya tidak berbeda bila media campuran tersebut ditambah air kelapa muda, dan tidak berbeda hasilnya dengan medium Vacint & Went sebagai kontrol. Pada sub kultur untuk menumbuhkembangkan plb menjadi plantlet, media sederhana tadi tidak dapat digunakan karena plb tidak berkembang menjadi plantlet. Sedangkan pada media Vacint and Went plb segera berubah menjadi plantlet.

    Kata kunci: Dendrobium, media, biji, protocom like body (plb) and plantlet.
    2012 Sortha Simatupang
    21 Kajian Penambahan Jenis Pupuk Daun Hortigrow pada Media Tanam Anggrek sebelum Aklimatisasi Plantlet

    Kajian penambahan jenis pupuk daun Hortigrow pada media tanam anggrek sebelum aklimatisasi plantlet telah dilakukan. Tujuan penelitian ini ialah untuk mendapatkan jenis pupuk daun Hortigrow yang terbaik yang ditambahkan ke media tanam anggrek in vitro sebelum planlet diaklimatisasi. Penelitian dilakukan di laboratorium kultur jaringan Dinas Pertanian provinsi Sumatera Utara. Rancangan yang digunakan rancangan acak lengkap non faktorial dengan 3 ulangan. Variasi pupuk daun Hortigrow yang dikaji dan ditambahkan ke media kultur in vitro adalah: Hortigrow A, Hortigrow B, Hortigrow C, Hortigrow F dengan dosis 2 g/ l yang dikombinasikan dengan air kelapa muda 0, 150 ml dan 300 ml/l. Total perlakuan adalah 12 perlakuan. Pembandingnya adalah media Vacint dan Went. Eksplan yang digunakan ialah plantlet anggrek Denrobium yang baru berubah dari plb ke plantlet. Tinggi plantlet 1 cm jumlah daun 2-3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pupuk daun komersial dapat menggantikan peran medium Vacint ang Went dalam penyiapan plantet Dendrobium. Penggunaan Hortigrow-C untuk meningkatkan pertambahan jumlah daun, Hortigrow-B yang ditambah dengan 150 ml/l air kelapa untuk pertumbuhan akar dan Hortigrow-A dengan 150 ml/l air kelapa untuk pertumbuhan plantlet yang maksimal lebih vigor dibanding penggunaan pupuk lainnya.

    Kata kunci: Anggrek Denrobium, media tanam, air kelapa, pupuk daun.
    2012 Sortha Simatupang
    22 Studi Kasus Teknologi Budidaya Anggrek Dendrobium di Esties's Orchid, Depok-Jawa Barat

    Dendrobium merupakan anggrek yang digemari oleh konsumen dan petanipengusaha bunga karena warna dan bentuknya yang sangat bervariasi dan menarik. Sebagai komoditas hortikultura unggulan, anggrek ini juga menjadi produk unggulan pada beberapa nursery, salah satunya Esties's orchid. Selanjutnya untuk mendapatkan anggrek yang berkualitas, teknologi budidaya yang efektif dan efisien juga diterapkan oleh nursery ini. Studi kasus di Esties's orchid ini bertujuan untuk menggali dan mendapatkan informasi teknologi budidaya anggrek yang diterapkan di Esties's orchid. Metode yang digunakan adalah metode survei. Hasil studi mengungkapkan bahwa budidaya Dendrobium di Esties's orchid dimulai dari pembelian bibit, aklimatisasi, pembesaran bibit hingga pembungaan, pemupukan, pemeliharaan, pengendalian hama penyakit hingga pasca panennya. Aklimatisasi dilakukan dengan menanam bibit di media sabut kelapa pada tray plastik, media tanam menggunakan campuran pakis dan daun kaliandra yang diwadahi dalam pot-pot tanah. Pemupukan menggunakan NPK seimbang, seminggu 2 kali dengan dosis 1/4 kali dosis anjuran. Secara bertahap dosis pemupukan ditingkatkan. Pada stadia remaja- jelang berbunga, diberikan pupuk NPK dengan unsur phosphor dan kalium yang lebih banyak daripada unsur nitrogennya. Pupuk-pupuk ini diberikan dengan cara dicairkan dan disemprot ke daun. Pestisida yang digunakan untuk pengendalian tungau bahan aktif abamectin, untuk siput berbahan aktif metaldehida dan untuk serangga berbahan aktif imidakloprid. Penjualan bibit dilakukan baik saat stadia seedling, remaja mapun individu berbunga.

    Kata kunci: Dendrobium, Teknologi Budidaya, Esties's orchid.
    2012 Ika Rahmawati, Herni Shintiavira, dan M. Prama Yufdy
    23 Metode Pengujian Ketahanan Phalaenopsis Hasil Silangan F1 Terhadap Infeksi Erwinia Carotovora Subsp. Carotovora Secara In Vitro

    Di Indonesia, Phalaenopsis dibudidayakan dan dikembangkan secara konvensional sehingga kendala penyakit busuk lunak yang disebabkan oleh Erwinia carotovora subsp carotovora belum dapat teratasi dengan pembentukan kultivar tahan karena sumber genetik ketahanan tersebut tidak tersedia. Dalam proses perbaikan tanaman untuk memperoleh genotipe Phalaenopsis yang resisten terhadap Erwinia ini membutuhkan metode inokulasi yang efektif untuk penapisan plasma nutfah. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengevaluasi efektifitas metoda inokulasi Erwinia carotovora subsp carotovora dan kerapatan bakteri untuk menginduksi timbulnya infeksi penyakit busuk lunak pada bibit Phalaenopsis serta (2) mengevaluasi respon empat genotipe Phalaenopsis silangan terhadap infeksi Erwinia carotovora subsp carotovora secara in-vitro. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode inokulasi yang cukup efektif adalah menggunakan metode pelukaan dengan kerapatan bakteri 107 cfu/ ml. Pada kerapatan bakteri 107 cfu/ml sudah efektif untuk menginfeksi lebih dari 50% plantlet secara in-vitro. Metode infeksi di lapang yang paling sesuai adalah menggunakan pelukaan namun membutuhkan ruang inkubasi tertutup. Respon plantlet ke empat hasil silangan Phalaenopsis sangat rentan pada 508 dan 655, dan rentan pada 529 dan 688.

    Kata kunci: penyakit busuk lunak, resistensi, metode inokulasi, Phalaenopsis.
    2012 Ika Rahmawati, Herni Shintiavira, dan M. Prama Yufdy
    24 Pra-Evaluasi Ketahanan Aksesi Anggrek Phalaenopsis dan Dendrobium terhadap Cymbidium Mosaic Virus (CyMV) dan Odontoglossum Ring Spot Virus (ORSV)

    Anggrek merupakan komoditas tanaman hias dengan nilai ekonomi dan permintaan pasar yang tinggi, namun dalam budidayanya petani sering diperhadapkan pada kendala serangan hama dan penyakit, diantaranya: serangan Cymbidium mosaic virus (CyMV) dan Odontoglossum ring spot virus (ORSV). Salah satu cara mengendalikan CyMV dan ORSV ialah menggunakan tanaman resisten. Untuk merakit varietas tersebut diperlukan sumber genetik dan deskripsi karakter yang jelas. Praevaluasi ketahanan 4 populasi Phalaenopsis yaitu SK 50, SK 17, E 2153, E 2189 dan 3 populasi Dendrobium yaitu UM, SK 252 dan SK 18 (masing masing 30 aksesi) terhadap CyMV dan ORSV dilakukan di laboratorium virologi Balai Penelitian Tanaman Hias pada tahun 2006. Evaluasi resistensi dilakukan setelah tanaman diinkubasi 2 3 bulan dengan menganalisa kandungan virus pada tanaman uji menggunakan metode ELISA tidak langsung. Dari hasil penelitian diperoleh 51 aksesi Phalaenopsis tahan terhadap CyMV dan ORSV serta 9 aksesi Dendrobium tahan terhadap CyMV dan ORSV. Aksesi-aksesi yang tahan tersebut selanjutnya dapat digunakan sebagai salah satu tetua persilangan untuk mendapatkan karakter tahan terhadap infeksi CyMV dan ORSV.

    Kata kunci: Anggrek, Phalaenopsis, Dendrobium, Ketahanan, CyMV, ORSV.
    2012 Indijarto Budi Rahardjo, Erniawati Diningsih dan Agus Muharam
    25 Deteksi Penyebab Gejala Mosaik dan Ringspot pada Tanaman Anggrek Menggunakan Teknik Elisa

    Anggrek (Famili : Orchidaceae) merupakan salah satu komoditas tanaman hias yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Salah satu kendala peningkatan produksi bunga anggrek adalah adanya penyakit sistemik yang disebabkan oleh virus. Tanaman anggrek dapat terinfeksi lebih dari 30 jenis virus. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis virus yang menyebabkan gejala mosaik dan ringspot pada tanaman anggrek. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Virologi Balai Penelitian Tanaman Hias di Segunung, Cianjur, Jawa Barat, pada bulan Januari sampai Juni 2008. Sampel diperoleh dari tanaman anggrek bergejala mosaik dan ringspot di Kebun Percobaan Segunung (Jawa Barat) (1.100 m di atas permukaan laut) sebanyak 39 sampel. Kontrol positif (CyMV, ORSV dan CyRSV) berasal dari sampel kit perusahaan DSMZ Jerman, sedangkan kontrol negatif dari tanaman anggrek sehat asal biji. Metode deteksi menggunakan teknik ELISA tidak langsung : Plate ELISA diisi dengan ekstrak sampel (1:5), "Blocking", Antiserum dengan pengabsorb (1:500) (antiserum yang digunakan adalah antiserum CyMV, ORSV dan CyRSV, Anti-rabit alkaline phosphatase conjugate (1:5000), Substrate, Pembacaan hasil dengan ELISA Reader pada panjang gelombang 410 nm. Hasil penelitian menunjukkan dari 39 sampel tanaman anggrek yang diuji, terhadap antiserum CyMV terdapat 25 tanaman yang positif, terhadap antiserum ORSV terdapat 4 tanaman yang positif, terhadap antiserum CyRSV terdapat 6 tanaman yang positif. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa terdapat tanaman anggrek yang bergejala mosaik dan ringspot terinfeksi CyMV, ORSV dan CyRSV. Perlu dilakukan pengujian deteksi virus pada tanaman anggrek dengan sampel yang lebih banyak, menggunakan antiserum yang lebih banyak sehingga diketahui jenis-jenis virus yang menginfeksi tanaman anggrek.

    Kata kunci: Orchidaceae, Gejala mosaik, Gejala Ringspot, Virus, Deteksi, Teknik ELISA.
    2012 Indijarto Budi Rahardjo, Agus Muharam dan M. Prama Yufdy
    26 Penyakit Busuk Lunak (pbl) pada Anggrek: Penyebab dan Upaya Pengendaliannya

    Tujuan penulisan makalah ini ialah menginformasikan mengenai keberadaan penyakit busuk lunak (pbl) pada anggrek dan upaya pengendaliannya. Ruang lingkup subtansi pembahasan mencakup arti ekonomi, epidemiologi, gejala serangan, karakteristik isolat secara morfologi, biokimia dan upaya pengendaliannya dengan mengacu hasil penelitian yang dilakukan di dalam dan luar negeri. Dari studi literatur diketahui bahwa karakteristik gejala serangan pbl mula-mula akan menampakkan bercak luka hijau kekuningan (water soaked lesions) pada organ yang terserang, kemudian luka tersebut berkembang dengan sangat cepat hingga menyebabkan pembusukan jaringan. Berdasarkan uji biokimia dan lopat, penyakit tersebut disebabkan oleh Dickeya dadantii (Erwinia chrysanthemi) dan Pseudomonas viridiflava. Karakteristik isolat D. dadantii ialah menunujukan warna koloni kream pada media Nutrient agar dan King's B. Di samping itu pathogen ini memproduksi levan dan menghidrolisa arginin. Sedangkan P. viridiflava, menunjukkan warna koloni hijau berpendar (fluorescens) bila dibiakan pada media King's B, tidak menghidrolisa arginine, dan tidak memproduksi levan. Pengendalian pbl dapat dilakukan melalui penggunaan varietas toleran, tanaman transgenic, bakterisida kimia sintetik, bakteri endosimbion dan bakteri antagonis.

    Kata kunci: anggrek, penyakit busuk lunak, penyebab dan pengendalian.
    2012 Hanudin dan Indijarto Budi Rahardjo