Website-Resmi-Balai-Penelitian-Tanaman-Hias-Kementerian-Pertanian

  • PROSIDING SEMINAR NASIONAL FLORIKULTURA 2004
  • No. Judul Artikel Tahun Penulis Download
    1 Media Tumbuh untuk Varietas Baru Anggrek Dendrobium

    Media tanam termasuk salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam budidaya anggrek. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh berbagai bahan media tumbuh terhadap pertumbuhan vegetatif dan generatif anggrek Dendrobium. Percobaan dilaksanakan dirumah sere Kebun Percobaan Tanaman Hias Pasarminggu, Jakarta, dari bulan Mei 1998 hingga Maret 1999. Penelitian ini menggunakan Rancangan Petak Terpisah dengan 2 faktor dan 2 ulangan. Sebagai petak utama adalah kultivar (V), terdiri dari Dendrobium Bloemen White (V1) dan Dendrobium Jayakarta (V2). Anak petak adalah media tanam (M), terdiri dari Arang (M1); Rockwool (M2); Batu apung (M3); Batu marus (M4); Styrofoam (M5); Sabut kelapa pot (M6); Batu split (M 7); Campuran Arang dan Rockwool (M 8); Campuran arang dan batu apung (M9); Campuran arang dan batu marus (M 10); Campuran arang dan styrofoam (M 11); Campuran arang dan sabut kelapa (M 12) dan Campuran arang dan batu split (M13). Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sabut kelapa pot; media campuran arang dan sabut kelapa; media campuran arang dan batu marus, memberikan hasil yang lebih baik pada pertumbuhan anggrek kultivar Dendrobium Jayakarta dibanding media lainnya. Jenis media rockwool, batu apung, batu marus dan batu split dapat digunakan sebagai media tanam anggrek, namun perlu dicampur dengan arang. Katakunci; Dendrobium; Arang; Batu Apung; Batu Marus; Batu Split; Rockwool; Styrofoam; Sabut Kelapa; Pertumbuhan.

    2004 Ginting B., W. Prasetio dan T. Sutater
    2 Pengaruh jenis Pupuk Kandang dan Konsentrasi Pupuk Urea terhadap Pertumbuhan Vegetatif Anggrek Oncidium

    Salah satu cara untuk meningkatkan pertumbuhan vegetatif tanaman adalah dengan pemberian pupuk kandang dan urea. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian jenis pupuk kandang dan konsentrsi pupuk urea terhadap pertumbuhan vegetatif anggrek Oncidium Golden Shower. Penelitian dilaksanakan di Kebun Bibit Lebak Bulus Jakarta Selatan dari bulan Desember 2002- bulan Februari 2003. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan acak kelompok, tiga ulangan dengan penyusunan perlakuan factoial. Faktor pertama jenis pupuk kandang yaitu; (A) kotoran Ayam (B) Kotoran Kambing (C) kotoran Sapi, dan (D) kotoran Kuda. Faktor kedua konsentrasi pupuk urea yaitu; (P1) 0,6 g/l air, (P2) 1,2 g/l air, dan (P3) 1,8 g/l air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan beberapa jenis pupuk kandang dan konsentrasi pupuk urea memberikan pengaruh yang sama terhadap pertumbuhan vegetatif anggrek Onchidium Goldem Shower sampai umur 10 MST. Kata kunci : Onchidium, Pupuk kandang,Urea, Pertumbuhan vegetatif.

    2004 Elfarisna,Parsan dan Sularno
    3 Penggunaan Pupuk dan Air Kelapa untuk Pertumbuhan Bibit Anggrek Dendrobium

    Tujuan dari penelitian untuk mendorong pertumbuhan anggrek Dendrobium dengan menggunakn air kelapa dan pupuk alternatif. Penelitian dilaksanakan di rumah sere Balai Penelitian Tanaman Hias Jakarta mulai bulan Juli 1998 sampai dengan Maret 1999. Rancangan Percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok pola faktorial dengan perlakuan pemupukan sebagai faktor pertama dan penggunaann air kelapa sebagai faktor kedua. Masing-masing perlakuan menggunakan 10 tanaman dengan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan dengan air kelapa menghasilkan pertambahan tinggi tanaman dan panjang daun yang lebih baik dibandingkan tanpaair kelapa. Pemupukan NPK (16-16-16) 2,625 g/l memberikan hasil terbaik pada pertambahan tinggi tanaman dan panjang daun. Dengan demikian air kelapa dan NPK dapat digunakan sebagai bahan stimulan dan pupuk alternatif untuk bibit tanaman anggrek Dedrobium. Kata kunci: Dendrobium; Pemupukan; Air kelapa

    2004 Santi,A., P.K.Utami dan J.Prasetya
    4 Pengaruh Bubur Buah Pisang terhadap Pertumbuhan Plantlet Anggrek Phalaenopsis dalam Media Kultur

    Penelitian dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan, Balai Penelitian Tanaman Hias, Pasarminggu, Jakarta, mulai bulan April 2002 sampai dengan bulan Oktober 2002. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan kultivar pisang yang mempunyai pengaruh sama dengan pisang Ambon dalam meningkatkan pertumbuhan planlet anggrek Phalaenopsis.Optimasi komposisi media yaitu dengan penembahan senyawa organik bubur buah pisang dalam media kultur. Bahan penelitian yang digunakan adalah planlet anggrek Phalaenopsis yang ditumbuhkan dalam media VW padat dengan pnambahan air kelapa 150 ml/l, sukrosa 20 g/l, dan arang aktif 1 g/l. Perlakuan disusun dalam rancangan acak kelompok dengan 6 perlakuan dan 4 ulngan. Perlakuan terdiri dari penembahan bubur buah pisang Kepok, Mas, Raja, Ambon Putih, Ambon Lumut dan kontrol (tanpa pemberian pisang). Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua perlakuan penambahan bubur buah pisang dapat meningkatkan pertumbuhan planlet. Namun tidak sebaik pisang Ambon Lumut, Ambon Putih, dan Raja. Kata kunci; Anggrek; Phalaenopsis; Pisang; Media; Planlet.

    2004 Widiastoety, D., R.W. Prasetio, dan Purbadi
    5 Pengaruh Aplikasi Ekstrak Nimba secara Mekanis terhadap Virus Mosaik Tembakau Strain Anggrek (TMV-O) pada Tanaman Indikator Tembakau

    Salah satu virus penyebab penyakit tanaman pada anggrek yang cukup penting dalah disebabkan oleh TMV-O (Tobaco mosaic virus ochid strain). Alternatif pengendalian yang dicoba dikembangkan adalah menggunakan pestisida nabati dari tanaman nimba. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas ekstrak nimba terhadap penularan TMV-O secara mekanis. Percobaan dilaksanakan di Rumah Kaca Virologi Balithi, Segunung, Cipanas, Cianjur, (ketinggian 1.100 m d.p.l), dari bulan Juni sampai Oktober 1999. Perlakuan yang dicoba adalah perlakuan TMV-O (kontrol), penularan TMV-O secara mekanis yang dicampur dengan ektrak daun nimba 50, 100, dan 150 g/l yang diaplikasikan sebelum penulran TMV-O secara mekanis, disusun menurut rancangan acak lengkap dengan ulangan 4 buh. Hasil prcobaan menunjukkan (1) ekstrak daun nimba menghambat penularan TMV-O, (2) pengaruh ekstrak daun nimba yang diaplikasikan sebelum penularan TMV-O secara mekanis hasilnya lebih baik untuk pencegahan dan pengendalan TMV-O dibandingkan dengan penularan TMV-O secara mekanis yang dicampur dengan ekstrak daun nimba, (3) perlakuan ekstrak daun nimba 150 g/l yang diaplikasikan sebelum penularan TMV-O secara mekanis hasilnya lebih baik untuk pencegahan dan pengendalian TMV-O dibandingkan dengan perlakuan lainnya, perlakuan tersebut dapat menghambat infeksi sebesar 37,5%. Kata kunci; Anggrek; TNV-O; Tanaman indikator; Tembakau; Pestisida nabati; Nimba.

    2004 Rahardjo, I.B., Y. Sulyo dan Maryam Abn
    6 Uji Kemangkusan Isolat Pseudomonas Fluorescens terhadap Penyakit Busuk Lunak pada Anggrek Phalaenopsis

    Salah satu penyakit penting pada anggrek Phalaenopsis adalah busuk lunak yang disebabkan oleh Erwinia carotovora. Untuk menguji kemangkusan isolat P.fluorescens terhadap pemyakit tersebut, suatu percobaan telah dilakukan di Segunung, sejak April sampai Desember 2002. Percobaan terdiri dari dua bagian yakni, percobaan laboratoium dan percobaan rumah kaca. Hasil percobaan laboratorium menunjukkan bahwa P.fluorescens pada konsentrasi 108 mampu menghambat pertumbuhan E.carotovora. Selanjutnya pada percobaan rumah kaca menunjukkan bahwa P.fluorescens pada konsentrasi yang sama juga dapat menekan serangan E.carotovora pada tanaman anggrek Phalaenopsis. Kata kunci: Phalaenopsis; penyakit busuk lunak; Erwinia carotovora; Agensi hayati;Pseudomonas fluorescens; Kemangkusan.

    2004 Handayati,W.
    7 Koleksi dan Karakterisasi Plasma Nutfah Anggrek Spathoglottis dan Pemanfaatannya

    Spathoglottis merupakan anggrek tanah yang paling umum dijumpai dan banyak dibudidayakan sebagai tanaman taman. Biasanya Spathoglottis ditanam secara massal di dalam bedengan sebagai tanaman pembatas atau tanaman tepi. Warna bunga Spathoglottis bervariasi dari ungu tua, ungu muda, pink, kuning sampai putih. Kurang lebih 40 spesies diketahui tersebar dari China Selatan, India bagian Utara, di Asia Tenggara, Australia, Samoa dan Papua Nugini. Tujuh diantaranya bersifat indigeneus di Filipina. Hasil eksplorasi anggrek Spathoglottis berhasil dikoleksi beberapa spesies anggrek yang berasal dari Jawa, Sulawesi dan Papua. Sebagian besar koleksi anggrek Spathoglottis diperoleh di daerah Jawa. Dari daerah Sulawesi diperoleh spesies anggrek Spathoglottis berwarna putih. Selain dikoleksi anggrek dari Indonesia, juga dikoleksi anggrek yang berasal dari luar Indonesia. Sebagian besar koleksi anggrek dari luar Indonesia berupa hibrid-hibrid yang berasal dari Singapura dan Filipina. Spesies-spesies yang berhasil dikoleksi adalah Spathoglottis plicata dengan variasi warna dan ukuran bunga, mulai dari warna putih, pink, ungu muda, dan ungu tua, S.unguiculata yang berwarna ungu tua bertangkai bunga pendek, S.vanoverbergii berwarna kuning dengan ukuran bunga kecil dan tangkai bunga pendek, S.aurea yang berwarna kuning dengan ukuran bunga besar, S.augustorum yang berwarna putih, dengan ukuran bunga besar. Keragaman karakter Spathoglottis terletak pada tangkai bunga, bunga dan bagian-bagian bunga, sedangkan pada daun tidak terdapat keragaman karakter. Namun terdapat keragaman pada ukuran daun. S.unguiculata dan S.vanoverbergii merupakan sumber tetua untuk tangkai pendek. Sebagaian besar koleksi sudah dikarakterisasi, dan dimanfaatkan dalam kegiatan hibridisasi. Hasil persilangan antar spesies dan dalam spesies menghasilkan keturunan dengan keragaman corak dan warna bunga yang sempit. Kata kunci: Spathoglottis sp.; Koleksi; Karakterisasi; Plasma Nutfah.

    2004 Kartikaningrum, S., K. Effendie, S. Soedjono, D. Widiastoety, N.Q. Hayati dan R.W .Prasetio
    8 Karakterisasi Genetik Koleksi Plasma Nutfah Anggrek Vanda dan Kerabatnya

    Abnormalitas meiosis dan rendahnya fertilitas sering terjadi pada persilangan interspesifik maupun intergenerik pada beberapa tanaman anggrek Vanda dan kerabatnya. Sebagian besar pemulia anggrek yang terlibat dengan pengembangan Aranda menghadapi rendahnya persentase keberhasilan persilangan jika Aranda digunakan sebagai tetua. Kendala-kendala dalam persilangan juga terjadi jika ingin dibentuk genus baru Mokara yang melibatkan persilangan 3 genus. Hal tersebut kemungkinan berhubungan dengan jauh dekatnya kekerabatan tanaman. Empat belas primer dekamer acak digunakan untuk mengamplifikasi DNA berdasarkan Polymerase Chain Reaction (PCR) dan diperoleh 201 pita fragmen DNA yang polimorfik. Kekerabatan antar spesies dan antar genus dihitung berdasarkan jarak genetik yang dihitung menggunakan rumus D=1-S ( S=similarity, berdasarkan Dice koefisien). Kekerabatan tanaman digambarkan dalam bentuk posisi relatif antara spesies dan genus anggrek dengan membandingkan komponen utama I dan komponen utama II. Berdasarkan nilai komponen utama dari 201 pita hasil amplifikasi 14 primer pada anggrek Vanda dan kerabatnya dapat diidentifikasi 154 pita RAPD yang berperan dalam mengelompokan secara terpisah 16 genotip anggrek Vanda dan kerabatnya. Berdasarkan penentuan pita-pita yang berperan dalam membedakan 16 genotip anggrek Vanda dan kerabatnya yang diamplifikasi dengan 14 primer acak, ditemukan pita penduga yang dapat dijadikan sebagai penanda spesifik genotipe yang dapat digunakan untuk membedakan genotipe tersebut dengan genotipe lain. Pita OPN 16560 kemungkinan dapat dipakai sebagai penciri bagi genus Vanda, karena pita tersebut hanya munculpada empat spesies-spesies dari genus Vanda yang memiliki korelasi dengan komponen utama I sebesar 0,7693. Kata kunci: Anggrek; Vanda; Karakterisasi; Plama Nutfah

    2004 1.Kartikaningrum,S.2.N.Hermiati 3.A.Baihaki 3.M.H.Karmana dan 4.N.T Mathius
    9 Hibridisasi dan seleksi Populasi F1 Anggrek Vanda

    Persilangan antara tetua terpilih anggrek Vanda telah mampu menghasilkan varietas-varietas Vanda yang memiliki sifat-sifat unggul dan disukai konsumen. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan hibrida Vanda baru yang memiliki sifat-sifat bunga warna merah, kuning, biru, berbentuk bulat atau serasi, memiliki kesegaran bunga yang lama, rajin berbunga dan tahan terhadap hama dan penyakit. Penelitian dilaksanakan pada bulan April 2000 sampai Desember 2000 di laboratorium Pemuliaan dan rumah sere Balai Penelitian Tanaman Hias Pasarminggu. Persilangan dilakukan dengan cara menyilangkan tetua terpilih sebagai tetua jantan atau betina, secara acak maupun resiprok, dan persilangan dilakukan interspesific maupun intergenerik. Kegiatan meliputi karakterisasi tetua, persilangan dilakukan dengan cara menyilangkan tetua terpilih sebagai tetua, persilangan, panen, penyebaran biji, transfer planlet, pengompotan dan penanaman individu. Penyebaran biji dan transfer dilakukan secara aseptik di dalam laboratorium, sedangkan pengompotan dan tanam individu dilakukan dirumah kaca. Pengamatan dilakukan terhadap karakter induk yang digunakan, waktu persilangan sampai dengan panen buah, waktu terbentukan protokorm, pertumbuhan planlet di dalam botol, tanaman kompotan dan tanaman muda yang ditanam secara individu. Dari penelitian dihasilkan 3 seri silangan dalam fase pertumbuhan protokorm, yaitu persilangan antara (Renantera Kalsom x Aranda Storii) X V. Tricolor Jabar; (Renantera Kalsom x Aranda Storii) X Paraphal. Serpetinlingua; V. Rasri X V.tricolor Jatim dan 4 seri silangan dalam fase planlet, yaitu silangan antara V.Wirat X V. Tricolor Jabar; (V.Patau x V.Jennie H.) x Asc. Peggy Foo) X V. Tricolor Jabar; (V.Thongsor x V.insiggnis) X V. Limbata; asc. Duong porn X (Phal. Phuket B x Phal. Pinlong K.). Waktu yang diperlukan untuk masaknya biji bervariasi antara 103-166 hari, terbentuknya protokorm 33-106 hari, dan terbentuknya planlet 79-192 hari. Dengan terbentuknya populasi F1 Vanda baru dan setelah melalui seleksi yang tepat akan didapatkan hibrida Vanda baru yang memenuhi selera konsumen. Kata kunci: Vanda, anggrek, hibridisasi.

    2004 Bety, Y.A.., S. Kartikaningrum, S.Soejoeno, dan Suryanah
    10 Karakter Kegenjahan Beberapa Populasi F1 Anggrek Vanda

    Anggrek Vanda memerlukan waktu yang lebih lama untuk mencapai fase berbunga dibandingkan dengan anggrek jenis lain. Oleh karena itu seleksi terhadap karakter kegenjahan sangat diperlukan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui sifat kegenjahan dari beberapa populasi F1 Vanda. Percobaan dilaksanakan pada bulan April 1998 sampai Maret 2000 di kebun percobaan Pasar Minggu. Untuk mendapatkan populasi F1, persilangan antar tetua dilakukan secara acak dan resiprok, interspesifik maupun intergenerik. Tahap penelitian meliputi kegiatan persilangan, panen buah, penyebaran biji, transfer planlet, dan pengompotan. Penyebaran biji dan transfer planlet dilakukan secara aseptik di laboratorium, kegiatan yang lain dilakukan di rumah sere. Pengamatan dilakukan terhadap jangka waktu yang diperlukan pada tiap tahap pertumbuhan, yaitu umur masak buah dapat dipanen, terbentuknya protokorm, dari protokorm sampai tumbuh menjadi planlet, dan planlet sampai dapat dikompot. Hasil penelitian menunjukkan bahwa empat belas populasi F1 yang terbentuk memiliki karakter kegenjahan yang berbeda. Waktu yang diperlukan biji untuk mencapai umur masak atau buah dapat dipanen pada 14 populasi F1 bervariasi antara 84-220 hari, waktu terbentuknya protokorm 30131 hari, terbentuknya planlet 28-157 hari, dan planlet dapat dikompot 134-346 hari. Populasi F1 yang paling genjah adalah hasil silangan antara Ascocenda dan Vanda dengan Phalaenopsis. Phalaenopsis jenis tertentu dapat digunakan sebagai tetua jantan untuk mendapatkan hibrida Asocenda atau Vanda yang cepat berbunga. Kata kunci; Vanda; Populas F1; Kegenjahan; Karakter

    2004 Bety, Y.A.
    11 Formula Pengawet untuk Bunga Anggrek Potong

    Formula pengawet untuk bunga Anggrek potong. Penggunaan larutan perendam segera sebelum pengiriman sangat berguna untuk sumber karbohidrat pada bunga dan melindungi tangkai bunga dari serangan mikroorganisme penyebab penyumbatan pada batang, selanjutnya masa kesegaran bunga dapat diperpanjang. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh komposisi larutan perendam yang tepat guna memperpanjang masa kesegaran bunga potong anggrek. Dalam penelitian ini digunakan lima jenis larutan perendam, yaitu 25 ppm perak nitrat + 10% gula tebu+ 75 ppm asam sitrat, 50 ppm perak nitrat+10% gula tebu+15 ppm asam sitrat, 10% gula tebu+75 ppm asam sitrat, air masak, dan air mentah. Perendaman dilakukan selama 90 menit. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan 5 ulangan. Hasil pnelitian menunjukan bahwa larutan perendam yang mengandung 50 ppm perak nitar+10% gula tebu+15 ppm asam sitrat selama 90 menit merupakan perlakuan yang terbaik dengan masa kesegaran bunga potong mencapai 20,3 hari (7,8 hari lebih lama dibanding penggunaan air mentah) dan dengan persentae pemekaran kuncup bunga 78,16%. Penggunaan larutan perendaman tersebut dapat memperpanjang masa kesegaran bunga dan juga dapat meningkatkan pemekaran kuncup bunga. Kata kunci: Dendrobium sp; Bunga potong; larutan perendam; Umur peragaan; Pemekaran kuncup.

    2004 Amiarsi, D. Dan Yulianingsih
    12 Perbanyakan Cepat Klon-Klon Harapan Anyelir Secara In Vitro dan Aklimatisasinya

    Ketersediaan benih bermula merupakan kendala utama dalam budidaya anyelir (Dianthus caryophillus). Sejauh ini benih anyelir diperoleh dari tanaman induk yang digunakan secara berulang.Hal ini mengakibatkan rendahnya kualitas bunga yang dihasilkan oleh para petani di sentra produksi. Penelitian ini dilakukan di Balai Penelitian Tanaman Hias selama tahun 2002 dengan tujuan untuk mendapatkan bibit klon-klon harapan anyelir melalui perbanyakan in vitro. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan 5 ulangan. Perlakuan adalah 6 klon anyelir dengan satuan unit percobaan sebanyak 5 botol per klon. Untuk menginduksi percepatan pertumbuhan tuns aksiler, setiap planlet dipotong dengan 1 ruas batang dan segera ditanam ke dalam media MS+5 um NAA+10 um BA. Di dalammedia tersebut akan terjadi multiplikasi planlet dalam waktu sekitar 30 hari stelah kultur. Potongan planlet dengan satu ruas batang selanjutnya ditanam kedalam media MS+0,1 mg/l IAA untuk menginduksi perakaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan regenerasi dari eksplan tunas apikal berbeda nyata antar klon anyelir. Klon 24.17 dan 21.22 memiliki kemampuan regenerasi paling tinggi.Kendati demikian tingginya kemampuan regenerasi kedua klon tersebut tidak di ikuti oleh tingginya kemampuan pertumbuhan vegetatif.Selama pertumbuhan vegetatif klon-klon anyelir tidak mengalami dominansi pertumbuhan tunas apikal terhadap pertumbuhan sistem perakaran. Hal ini mengidentifikasikan bahwa pertumbuhan vegetatif berlangsung secara simultan. Berdasarkan hasil penelitian ini tampak bahwa aklimatisasi planlet dari kultur in vitro membutuhkan media yang spesifik untuk tiap kultivar anyelir. Pada media pasir, sistem perakaran planlet tidak dapat berkembang optimal akibat dari rendahnya ketersediaan hara dalam media. Media untuk aklimatisasi anyelir yang terbaik ialah yang mengandung kuntan dan humus bambu. Kata kunci: Dianthus caryophillus; Bibit klon-klon anyelir;Kultur in vitro; IAA; NAA;BA.

    2004 Sanjaya,L., M.Dewanti dan E.Febrianty
    13 Pengendalian Hayati Penyakit Layu Fusarium oxysporum f.sp dianthi pada Anyelir

    Fusarium oxysporum f sp. Dianthi merupakan salh satu penyakit penting pada tanaman anyelir. Patogen penyebab layu ini mampu bertahan hidup di dalam tanah. Salah satu alternatif untuk memperkecil dampak lingkungan yaitu pengendalian secara hayati. Tujuan penelitian untuk mendapatkan agens hayati yang efektif mengendalikan penyakit layu F.oxysporum f sp dianthi yang ramah lingkungan. Penelitian dilakukan di Laboratorium Biocontrol dan Rumah plastik Balai Penelitian Tanaman Hias Segunung dari Bulan Juni-Desember 2003. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 7 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan terdiri dari : 1).P.fluorescens Sgn 02 (107 cfu/ml), 2). Gliocladium sp. (107 sel spora/ml), 3). T.harzianum (107 sel spora/ml), 4). Bacillus sp (107 cfu/ml), 5). Dazomet 98% (100/m2), 6). Benomyl, dan 7). Kontrol (air). Hasil penelitian menunjukkan bahwa T.harzianum merupakan perlakuan yang paling efektif untuk menekan layu F. Oxysporum f sp. Dainthi pada tanaman anyelir dengan persentase penekanan 77,31 % dibandingkan dengan control. Kata kunci: Dianthus caryophillus, agens hayati; Pseudomonas fluorescens; Gliocladium sp.,; Trichoderma harzianum; Bachillus sp., F.oxysporum

    2004 Nuryani,W.,Hanudin,E.Silvia, Suhardi dan Muhidin
    14 Pengaruh Pemberian Zinc-Sulfat dan Amonium-Asetat terhadap Pertumbuhan Tunas Bibit Asal Setek Areuy Badak (Hoya latifolia G.Don)

    Pertumbuhan areuy badak (Hoya latifolia G.Don.:Asclepiadacceae) merupakan salah satu sumber plasma nutfah berpotensi sebagai tanaman hias. Penelitian dilaksanakan di rumah kaca Hoya, Pusat konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor, pada bulan Mei-Juli 2004. Aplikasi zinc sulfat dan amonium asetat dalam 1% larutan pupuk NPK telah dilakukan pada setek batang tumbuhan areuy badak untuk inisiasi pembentukan tunas lateral dalam rangka pembentukan bibit H.latifolia sebagai tanaman hias pot meja. Penambahan zinc sulfat dan amonium asetat masing-masing sebanyak 1 gram dalam 1 liter larutan NPK memberikan hasil inisiasi yang tercepat dan serentak dengan umur muncul tunas rata-rata 9,44 hari setelah perlakuan. Perlakuan tersebut juga berhasil merangsang perpanjangn tunas dan lebih menekan pertumbuhan daun pada tahap awal pertumbuhan, sehingga lebih sesuai dengan tujuan pembentukan bibit Hoya latifolia sebagai tanaman hias pot meja. Konsentrasi zinc sulfat dan amonium asetat yang lebih tinggi, yaitu masing-masing 2 gram dan masing-masing 4 gram juga dapat menginisiasi pembentukan tunas, tetapi lebih lambat dan kurang serempak, serta diikuti pembentukan daun yang lebih cepat sesuai pertumbuhan tunas. Kata kunci: Hoya latifolia; Znc Sulfat; Amonium Asetat; Inisiasi Tunas; Stek Tunas.

    2004 Rahayu, S.
    15 Populasi Cyathea spp. di Indonesia dan Potensi

    Cyathea adalah tanaman paku yang termasuk famili Cyatheaceae. Ini merupakan genus yang besar dengan total lebih dari 600 spesies di dunia. Sebagian besar merupakan tanaman hutan, dengan tingkat toleransi terhadap sinar matahari langsung dan udara kering yang bermacam-macam. Dengan lingkungan yang sesuai Cyathea berpotensi sebagai tanaman hias, kecuali sebagai anggrek dataran medium.Sebagian besar spesies Cyathea tumbuh di ekosistem pegunungan tetapi terdapat beberapa spesies yang dapat tumbuh dan berkembang sebagai tanaman hias di area dataran rendah. Data di Indonesia jumlah spesies dan populasi dari spesimen herbarium berkisar 91 spesies (468 lembar tidak teridentifikasi), dan 79 spesies termasuk di catatan CITES. Hasil klasifikasi spesies di indonesia memperlihatkan sebagian besar dari Cyathea diketemukan di Sumatera dan Irian Jaya, sedangkan di Nusa Tenggara sedikit. Terdapat 59 spesies yang endemik di dataran tinggi di Irian 37%, dan spesies yang tidak endemik di Jawa. Kata kunci: Cyathea; Indonesia; CITES; Populasi.

    2004 Purwaningsih, I. Larashati dan R.Yusuf
    16 Potensi Cestrum spp. di Kebun Raya Cibodas sebagai Tanaman Hias

    Telah dilakukan penelitian potensi jenis-jenis Cestrum spp. Kebun Raya Cibodas sebagai tanaman hias.Berdasarkan 20 karakter morfologi yang unik dan menarik dengan menggunakan metode NTSYS terhadap 16 spesimen Cestrum spp. koleksi Kebun Raya Cibodas dapat dikelompokkan menjadi 7 jenis, yaitu C. diurnum, C purpureum, C parqui, C.aurantiacum, C. calycinum, C. pallidissimum, dan C. nocturnum. Upaya pemanfaatan secara optimal masih perlu dilakukan melalui pemuliaan dengan memperhatikan dasar-dasar biologinya, Hibridisasi dapat dilakukan untuk mendapatkan warna, ukuran, dan bentuk bunga yang lebih menarik. Kata kunci: Cestrum spp., potensi tanaman hias, Kebun Raya Cibodas

    2004 Purwantoro, R.S. dan A. Suhatman
    17 Tanggapan Species Dracaena terhadap Pupuk Nitrat

    Penelitian dilaksanakan Oktober 2002- Juni 2003 di Kebun percobaan Segunung, Cianjur 1100 m di atas permukaan laut (dpl). Tanah diolah dan dicampur sekam gabah 1:2 terletak dibawah paranet 55% (45% cahaya tembus).Percobaan terdiri atas dua unit pemberian pupuk.Pertama menggunakan sumber KNO3 dan kedua menggunakan NH4No3. Pupuk diberikan setara 3 takaran N aktif yaitu 0,63 g, 1,26g dan 1,89g setiap tanaman setiap bulan. Spesies Dracaena yang diteliti adalah : D.sanderiana, D.thalioides, D.angustifolia dan D.reflexa. Data dari dua percobaan di analisis gabungan untuk melihat pengaruh perlakuan yang terdiri atas 12 kombinasi dengan 3 ulangan. Hasil pene;itian menunjukan bahwa ada interaksi nyata dua sumber N yang diberikan 3 takaran terhadap pertumbuhan tinggi, diameter batang dan helaian daun serta panjang daun tanaman Dracaena. Pertumbuhan tinggi tanaman D.sanderiana cenderung lebih cepat pada tanaman yang diberi takaran rendah (0,6 g) dari KNO3. Sedangkan dari NH4NO3menghasilkan pertumbuhan tinggi tanaman sangat nyata lebih cepat pada takaran N sedang (1,26 g). Pada takaran N sama D.angustifolia pertumbuhan tinggi tanaman cenderung lebih cepat baik dari sumber KNO3 maupun NH4NO3. takaran N dari sumber pupuk yang sama pada D. Angustifolia menghasilakan pertumbuhan daun terbanyak. Pada D.reflexa pertumbuhan daun lebih banyak pada tanaman yang diberi takaran N rendah dan sedang dari NH4NO3 daripada KNO3. Tanaman D.sanderiana dan D.thaliodes pertumbuhan daunnya tidak dipengaruhi takaran dan sumber pupuk N. Kata kunci: Dracaena angustifolia, D.reflexa, D.sanderiana, D.thaliodes, takaran N, pupuk N.

    2004 Adyantoro, S., R. Tejasarwana dan D. Herlina
    18 Tanggapan Spesies Dracaena terhadap Sumber N

    Percobaan dilaksanakan di rumah kaca naungan paranet 65% kebun percobaan Segunung, Cianjur 1100 m dpl.Percobaan dilaksanakan Agustus 2001-April 2002 menggunakan rancangan petak terpisah. Empat jenis sumber N yaitu, amoniumnitrat (NH4NO3), amonium sulfat (ZA), kaliumnitrat (KNO3) dan urea sebagai petak utama. Anak petak 3 spesies Dracaena yaitu: D.compacta, D.surculosa dan D.sanderiana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa amoniumnitrat dan kaliumnitrat lebih baik daripada amoniumsulfat dan urea sebagai sumber N untuk D.compacta dan D.sanderiana dilihat dari pertumbuhan batangnya. Khusus D.sanderiana kedua pupuk tersebut juga lebih baik untuk lebar, bobot dan kandungan klorofil daun. Kata kunci: Dracaena compacta; D.sanderiana; D.surculosa; Pupuk N.

    2004 Andyantoro, S., D. Herlina
    19 Tanggapan Spesies Dracaena terhadap Intensitas Cahaya

    Dracaena salah satu tanaman hias penghasil daun potong yang banyak diminati konsumen. Mutu daun potong sangat dipengaruhi oleh lingkungan pertumbuhannya. Percobaan dilaksanakan di rumah sere kebun percobaan Balai Penelitian Tanaman Hias Segunung, Cianjur 1100 dpl Agustus 2001-April 2002. Percobaan menggunakan rancangan petak terpisah. Petak utama tiga kerapatan paranet untuk mengurangi intensitas cahaya yaitu: 55%, 65% dan 75%. Cahaya terukur dibawah paranet pada cuaca cerah musim kemarau berturut-turut : 27.000 lux, 22.000 lux dan 17.000 lux, sedangkan pada cuaca berawan musim hujan berturut-turut : 17.000 lux, 12.000 lux dan 7.000 lux. Anak petak tiga spesies Dracaena yaitu; D. Compacta, D.sanderiana, dan D.surculosa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kebutuhan tanaman cahaya Dracaena agar diperoleh produksi dan mutu yang baik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daun D.sanderiana dibawah paranet rapat 75% ukurannya terpanjang dan mengandung lebih banyak klorofil. Akan tetapi bagian kuningnya memudar berubah menjadi kehijauan sehingga perbedaan dengan bagian hijaunya tidak tajam. Batang spesies D.sanderiana dan D. Surculosa tumbuh lebih cepat daripada dibawah paranet 55%. Sebaliknya pertumbuhan batang D.compacta lebih cepatpada paranet jarang 55%. Kata kunci: Dracaena compacta, D.sanderiana, D.surculosa, intensitas cahaya, pertumbuhan vegetatif.

    2004 Andyantoro, S., R. Tedjasarwana, D.Herlina
    20 Sumber Karbohidrat dan Zat Penghambat Pertumbuhan pada Pembentukan Subang Mikro dari Planlet Gladiol

    Pembentukan subang mikro dari planlet klon-klon gladiol merupakan salah satu tahapan yang cukup penting dalam penyediaan bibit gladiol melalui kultur jaringan. Tingkat keberhasilan aklimatisasi klon-klon gladiol dalam bentuk subang mikro lebih tinggi dibndingkan planlet berakar. Penelitian sumber karbohidrat dan zat penghambat tumbuh pada pembentukan subang mikro dari planlet gladiol dilakukan di laboratorium Balai Penelitian Tanaman Hias dari bulan Januari 2002-Desember 2002 dengan tujuan mendapatkan metode induksi subang mikro dari planlet gladiol. Percobaan menggunakan rancangan acak lengkap pola faktorial terdiri atas dua faktor dengan 5 ulangan. Faktor pertama adalah 3 macam sumber karbohidrat yaitu 1) Sukrose dengan dosis 30 /l media, 2) Sukrose 5 g+mannitol 25 g, 3) Sukrose 10 g+ mannitol 20 g. Sedangkan faktor kedua adalah zat penghambat pertumbuhan yaitu : 1) Paklobutrasol 5 ppm, 2)Cycocel 10 ppm dan 3)Cycocel 15 ppm. Setiap kombinasi perlakuan digunakan 5 botol dengan setiap botol lima kultur tunas. Klon yang digunakan adalah klon HX6. Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan Cycocel (10 ppm maupun 15 ppm) pada media MS + 30 g sukrosa mendorong pertumbuhan planlet ke arah tunas. Sedangkan paklobutrazol 5 ppm mendorong planlet ke arah pertumbuhan akar. Paklobutrasol 5 ppm pada media MS+30 g sukrose paling awal membentuk subang mikro dari planlet gladiol yaitu pada umur 42,03 hari. Hasil penelitian ini merupakan salah satu cara yang dapat diaplikasikan dalam mendorong terbentuknya subang mikro untuk perbanyakan cepat gladiol. Kata kunci: Gladiol hybridus; subang mikro; paklobutrasol; Cycocel.

    2004 Wuryaningsih, S., D.S. Badriah, E. Setyowati
    21 Evaluasi Pertumbuhan dan Daya Hasil BeberapaKlon Terpilih Gladiol

    Pertumbuhan dan perkembangan tanaman gladiol sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Penelitian bertujuan mengevaluasi klon-klon terpilih gladiol untuk mendapatkan sejumlah klon yang beradaptasi dan memiliki daya hasil tinggi serta berpenampilan lebih baik dari kultivar gladiol yang telah ada. Percobaan dilakukan di dua tempat di daerah Jawa Barat yaitu Cipanas (Cianjur) dan Sukabumi dari bulan Januari sampai dengan Desember 2001. Rancangan Acak Kelompok dengan dengan perlakuan 15 klon genotipe gladiol hasil seleksi ketahanan terhadap penyakit layu fusarium dan 3 kultivar unggul lokal yaitu White Friendship, Holland Pink dan Holland Merah. Dengan 3 ulangan. Hasil Penelitianmenunjukan bahwa pertanaman gladiol di Sukabumi menghasilkan tanaman dan malai bunga lebih tinggi dibandingkan pertanaman di Cipanas. Tiga klon yaitu 204/65, 212/49 dan 214/47 dan tiga kultivar pembanding pada pertanaman di Cipanas maupun Sukabumi mempunyai umur panen yang sama. Klon 211/49 dan kultivar Holland Merah pada pertanaman di Sukabumi menghasilkan bunga dengan ukuran kelas standar. Holland Pink dan klon 211/49 di Cipanas maupun Sukabumi, klon 214/74 dan 217/13 di Sukabumi menghasilkan jumlah bunga memenuhi kriteria standar mutu bunga potong gladiol.Klon-klon hasil evaluasi yang terpilih dapat dikembangkan di lokasi percobaan sebagai sentra produksi bunga potong gladiol untuk menambah variasi kultivar yan telah ada. Kata kunci:Gladiol; daya hasil; klon terpilih; lokasi.

    2004 Wuryaningsih, S., D.S. Badriah, N.Solvia
    22 Penampilan Karakter Kualitatif dan Kuantitatif Sebelas Kultivar Bunga Gladiol di Dataran tinggi Cipanas

    Penampilan suatu karakter tanaman memegang peranan penting untuk menentukan kualitas dari tanaman itu sendiri. Penelitian bertujuan untuk mengetahui penampilan karakter kualitatif dan kuantitatif dari sebelas kultivar bunga gladiol yang ditanam di daerah dataran tinggi Cipanas. Percobaan dilakukan di kebun percobaan Instalasi Penelitian Cipanas pada bulan September 2001 sampai Maret 2002. Dalam percobaanini digunakan rancangan acak kelompok dengan 11 kultivar gladiol sebagai perlakuan dan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat perbedaan penampilan untuk karakter kualitatif dan kuntitatif pada bunga gladiol, kecuali krakter arah duduknya tangkai bunga. Kata kunci:gladiol, karakter kualitatif, karakter kuantitatif,kultivar.

    2004 Solvia, N., D.S. Badriah
    23 Seleksi Ketahanan Klon-Klon Harapan Gladiol terhadap Layu Fusarium secara in vitro

    Seleksi Ketahanan Klon-klon Harapan Gladiol terhadap layu fusarium secara in vitro. Seleksi in vitro dengan menggunakan toksin mempunyai beberapa kelebihan daripada seleksi dengan menggunakan inokulasi buatan. Penelitian seleksi ketahanan klon-klon harapan gladiol terhadap layu fusarium secara in vitro telah dilakukan dari bulan April sampai Juni 2000 di laboratorium Kultur Jaringan Instalasi Penelitian Tanaman Hias Segunung dengan menggunakan asam fusarat (0; 0,2; 0,35 dan 0,7 mM) dan filtrat Fusarium oxysporum ( 0;16,7; 28,8; dan 44,4%) pada planlet klon PH75, PH21, PH19, PH18, PH3, HWF56, HWF8, HX7,HX4dan C6-9 dengan pembanding kultivar Holland Merah rentan dan kultivar Mirella resisten. Hasil penelitian menunjukan bahwa asam fusarat atau filtrat F.oxysporum secara in vitro. Klon HX4 merupakan klon yang paling tahan terhadap penambahan asam fusarat atau filtrat. Ketahanan klon HX4 perlu diuji lebih lanjut dilapangan terhadap layu fusarium, penampilan dan stabilitas Kata kunci: Gladiolus hibridus; Seleksi in vitro; Toksin; Fusarium oxysforum; Penyakit layu.

    2004 Badriah, D.S., W. Nuryani, E. Setiawati, T. Sutater
    24 Media dan Pemupukan NPK untuk Pengakaran Stek Krisan

    Berbagai jenis media untuk pengakaran stek krisan dapat digunakan, namun kajian hal tersebut sangat kurang. Penelitian bertujuan untuk menguji beberapa jenis media pengakaran yang berbeda macamnya dan pengaruh pemberian pupuk NPK selama periode pengakaran pada stek krisan, sehingga diketahui media yang lebih sesuai diterapkan untuk pengakaran stek krisan. Petak-petak percobaan disusun menurut rancangan acak kelompok dengan pola petak terpisah dan empat ulangan. Petak utama adalah media arang sekam bakar, sabut kelapa, perlite, vermiculite dan campuran perlite + vermiculite. Sebagai anak petak adalah tanpa pupuk dan diberi pupuk NPK (25-7-7) 0,5 g/1 liter air (500 ppm, EC=1). Hasil percobaan menunjukan bahwa arang sekam dan pemupukan NPK merupakan media terbaik untuk krisan. Kata kunci: Dendrothema glandiflora, media stek pemupukan

    2004 Nugroho, E.D.S., Y. Sulyo
    25 Pengaruh Nitrogen dan Giberelin pada dua sistem Pembudidayaan Tanaman Induk Krisan

    Krisan merupakan salah satu komoditas tanaman hias yang paling penting di Indonesia. Lebih dari 50 juta tangkai bunga krisan dijual untuk memenuhi permintan pasar domestik. Bunga krisan dihasilkan oleh tanaman yang berasal dari stek pucuk yang dipanen dari tanaman induk yang dipelihara dibawah kondisi rumah kaca. Dalam upaya meningkatkan efisiensi produksi stek pucuk, maka di dalam penelitian ini dilakukan upaya budidaya tanamaninduk dilahan terbukatanpa mengurangi kualitas dan kuantitas stek pucuk yang dihasilkannya. Penelitian dilakukan di Balai Penelitian Tanaman Hias pada bulan Maret-September 2002. Rancangan split-split plot dengan 3 ulangan digunakan dalam penelitian. Petak utama adalah sistim budidaya tanaman induk, yaitu indoor dan outdoor; sebagai anak petak adalah pupuk nitrogen dengan 3 taraf (200,300 dan 400 kg urea/ha), sedangkan anak-anak petak adalah konsentrsi giberelin dengan 3 taraf (0, 50 dan 100 ppm). Hasil penelitian menunjukan bahwa budidaya tanaman induk krisan Retno Dumilah di bawah kondisi outdoor menghasilkan bunga krisan yang sama baiknya dengan penanaman secara indoor. Aplikasi nitrogen dan asam giberelin mempercepat inisiasi akar, meningkatkan jumlah stek, memperbesar diameter batang stek dan menambah bobot segar stek. Kata kunci: Chrysantemum; indoor; outdoor; tanaman induk; stek pucuk; nitrogen; asam giberelat.

    2004 Sanjaya, L., R. Meilasari, K.Budiarto
    26 Pengaruh Iradiasi Sinar Gamma terhadap Penampilan dan Viabilitas Planlet Lima Genotip Krisan Potong

    Salah satu jalan pintas untuk meningkatkan keragaman genetik pada krisan potong adalh dengan induksi mutasi melalui iradiasi sinar gamma. Untuk mengetahui pengaruh dosis sinar gamma pada lima genotip krisan potong, suatu penelitian telah dilakukan di laboratorium kultur jaringan dan rumah kaca Balithi Segunung sejak Agustus 2002 sampai dengan Maret 2003. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok pola faktorial dengan 2 ulangan. Sebagai faktor pertama adalah dosis iradiasi yaitu, 0, 0,5 ,1,0 dan 1,5 krad. Faktor kedua adalah 5 genotip krisan potong yaitu Dewi Sartika, Nyi Ageng Serang, Pitaloka, Sekartaji dan Sri Rejeki. Hasil percobaan menunjukan bahwa semakin tinggi dosis iradiasi maka menyebabkan penurunan jumlah daun, tinggi planlet dan waktu inisiasi akar menjadi lebih lama. Demikian juga setelah aklimatisasi, semakin tinggi dosis sinr gamma, cenderung menyebabkan tingginya jumlah kematian planlet. Kata kunci: Krisan; keragaman genetik; iradiasi; sinar gamma.

    2004 Sihombing, D.
    27 Isolasi Mutan Khimer dari Petal Bunga Krisan (Chrysanthemum Morifolium Ramat) Varietas Komersial

    Isolasi mutan khimer dari petal bunga krisan sering ditemukan karena tanaman hias ini mudah mengalami mutasi (spontan atau induksi sinar gamma). Mutan khimer dapat diisolasi dalam media regenerasi yang sesuai. Penelitian tentang isolasi mutan telah dilakukan di laboratorium Pemuliaan Balai Peneliian Tanaman Hias selama tahun 2002. mutan krisan (spontan atau induksi sinar gamma) pada kultivar-kultivar komersial diperoleh dari perusahaan swasta di daerah Cipanas ataupun hasil iradiasi oleh peneliti Balithi Segunung.Petal bunga yang mengalami mutasi ditumbuhkan dalam media Murashige dan Skoog yang ditambah dengan BA (0,5 mg/l) dan NAA (0.01 mg/l). Sebanyak 30 planlet mutan telah berhasil diisolasi, disub kultur di aklimatisasikan dan dibungakan, dari 30 mutan tersebut, empat mutan memiliki karakter unggul sesuai dengan preferensi pasar yaitu, WF 6.4, YF 6.1, DF 10.4, dan RS 5.3, masing-masing berasal dari varietas-varietas komersial. Kata kunci: Chrysanthemum morifolium RAMAT; khimer; mutasi spontan.

    2004 Sanjaya, L., R. Kurniati, E. Febrianty
    28 Induksi Mutasi dengan Menggunakan Sinar Gamma pada Varitas-varitas Krisan

    Radiasi ion telah dilaporkan oleh beberapa peneliti dapat digunakan untuk induksi mutasi somatik pada krisan. Didalam penelitian ini perakitan vrietas krisan tipe spray dari kultivar Sri Rejeki, Dewi sartika, Chandra kirana, Shakuntala dan Cat eyes telah dilakukan dengan menggunakan iradiasi sinar gamma. Stek berakar kultivar-kultivar krisan tersebut di iradiasi sinar gamma dengan dosis 0, 10, 15, 20 dan 25 GY di P2IR Batan, Pasar Jumat, Jakarta. Selanjutnya stek ditanam dirumah plastik Balai Penelitian Tanaman Hias pada tahun 2003. Iradiasi sinar gamma mengakibatkan penurunan daya hidup tanaman, tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun dan peningkatan/penurunan jumlah bunga pita dan bunga tabung serta abnormalitas bunga. Perubahan bentuk dan warna bunga terdeteksi pada tanaman yang diiradiasi dengan sinar gamma diatas 15 GY. Daun Dewi Sartika yang diiradiasi 15 GY menjadi variegata. Sebanyak 5 mutan yang berubah bentuk bunga atau daunnya telah diperoleh dari hasil penelitian ini. Karakterisasi terhadap morfologi tanaman mutan berbeda nyata dibandingkan dengan aslinya. Kata kunci: Krisan; sinar gamma; mutasi.

    2004 Sanjay, L., Y. Supriyadi, R. Meilasari, K. Yuniarto
    29 Studi Persilangan Buatan pada Krisan

    Persilangan buatan pada krisan merupakan salah satu cara untuk menciptakan kultivar baru krisan. Tujuan dari studi ini adalah mempelajari bagaimana teknik persilangan buatan pada tanaman krisan hingga menghasilkan biji. Studi ini dilakukan di Balai Penelitian Tanaman Hias KP Cipanas yang mempunyai ketinggian 1200 m dpl. Selama 2 tahun, yaitu April 2000 sampai Juli 2000 dan Juli 2001 sampai Nopember 2001. Hasil studi ini menunjukan bahwa persilangan buatan pada krisan telah berhasil dilakukan di Balithi KP Cipanas. Keberhasilan persilangan buatan krisan ini didapat pada persilangan bentuk bunga tunggal, ganda dan anemon. Sementara persilangan krisan pada bentuk bunga dekoratif belum berhasil dilakukan. Diduga hal ini disebabkan adanya sistem self incompability yang tinggi pada krisan bentuk dekoratif. Kata kunci: Dendrathema grandiflora Tzvlev, Persilangan buatan, self incompability.

    2004 Yuniarto, K., M. Dewanti, B. Marwoto
    30 Variabilitas Genetik Karakter Morfologi Progeni 13 Pasang Persilangan Krisan (Dendranthema grandiflora Tzvelev)

    Penelitian telah dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi), KP. Cipanas, Cianjur, Jawa Barat mulai bulan Februari 2003 sampai dengan bulan Juli 2003. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai variabilitas genetik, nilai duga heritabilitas, kemajuan genetik harapan karakter morfologi genotip-genotip progeni 13 pasang persilangan krisan. hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa karakter tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, panjang daun, lebar daun, panjang pedicel, diameter ray floret, diameter disk floret, jumlah ray floret, jumlah disk floret, umur panen dan vase life mempunyai variabilitas genetik yang luas. Semua karakter yang diamati memiliki variabilitas fenotipik luas. Heritabilitas karakter tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, panjang daun, umur panen dan vase life tergolong sedang. Heritabilitas karakter lebar daun, panjang pedicel, diameter ray floret, diameter disk floret, jumlah ray floret dan jumlah disk floret tergolong tinggi. Kemajuan genetik karakter diameter batang, jumlah daun, umur panen dan vase life tergolong agak rendah. Kemajuan genetik karakter panjang daun dan diameter disk floret tergolong agak tinggi, sedangkan kemajuan genetik tinggi tanaman, lebar daun, panjang pedicel, diameter ray floret, jumlah disk floret dan jumlah ray florer tergolong tinggi. Penampilan fenotipik bunga progeni persilangan krisan relatif beragam baik dari warna bunga dan bentuk bunga. Kata kunci : Dendranthema grandylom Tzvelev, variabilitas genetik, karakter morfologi, progeni.

    2004 Yuniarto, K. 1), M. Haeruman K. 2), W. Astika 3), B. Marwoto 1)
    31 Pengujian Pertumbuhan dan Stabilitas Genetik 21 Klon Harapan Lili (Lilium longyflorum)

    Lilium longyflorum merupakan tanaman hias penghasil bunga potong yang populer di dunia. Budidaya lili meng- hadapi kendala berupa ketergantungan terhadap benih impor yang harganya sangat mahal. Selain itu varietas lili yang diimpor tidak adaptif dan rentan terhadap penyakit busuk umbi yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum f.sp. lilii. Dalam upaya melestarikan budidaya lili di Indonesia, maka perakitan varietas unggul lokal perlu mendapat prioritas penelitian. Perakitan varietas unggul lili lokal telah dilakukan pada tahun 1999 melalui proyek RUT Vll. Persilangan antara L. longyflorum lokal dengan Lilium Oriental dan Lilum asiatik menghasilkan populasi F1 di antaranya ditemukan klon-klon harapan yang memiliki karakter unggul, yaitu tahan terhadap penyakit busuk umbi dan tipe bunga novel. Agar dapat dilepas, klon-klon harapan tersebut perlu dievaluasi pertumbuhan dan adaptasinya. Penelitian adaptasi lili telah dilakukan di tiga lokasi di Cipanas tahun 2002 dengan altitude yang berbeda, yaitu 900 m dpl, 1000 m dpl dan ll00 m dpl. Perlakuan pada setiap tempat disusun menggunakan rancangan acak kelompok. Sebagai perlakuan adalah 21 klon harapan lili hasil seleksi penelitian sebelumnya. Hasil pengujian menunjukkan bahwa 18 dari 21 klon yang diuji diketahui memiliki daya adaptasi baik. Klon-klon tersebut disarankan untuk dapat dilepas kepada petani sesuai dcngan ketentuan yang berlaku.Kata Kunci : Lilium longyflorum, Lilium oriental, Lilium Asiatik, hibridisasi, Fusarium oxysporum f.sp. lilii, stabilitas genetik. daya adaptasi

    2004 Sanjaya, L., B. Marwoto, Y. Supriyadi, E. Febrianty
    32 Analisis Finansial Usahatani Lili Lokal dan lmpor

    Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui biaya dan pendapatan, titik impas dan luas lahan minimum usahatani lili sehingga petani dapat mengetahui luasan dan harga tertentu yang dapat memberi keuntungan yang layak. Penelitian ini dilakukan di dua lokasi penelitian, yaitu di kebun Percobaan Ciputri dan di petani Cisarua Lembang dan Selabintana, Sukabumi, Jawa barat. Penelitian yang dilakukan di kebun percobaan Ciputri merupakan studi kasus dan penelitian yang dilakukan di lahan petani menggunakan metode survei yang terdiri dari dua tahap yaitu prasurvei dan survei. Penelitian dilaksanakan mulai bulan . Januari 2003 sampai dengan bulan Desember 2003.Data primer diambil dari 15 orang dari petani lili melalui wawancara langsung dengan menggunakan kuesioner yang telah dipersiapkan terlebih dahulu. Data sekunder diperoleh dari Balai Penelitian Tanaman Hias, Dinas Pertanian dan literatur yang ada kaitannya dengan penelitian. Penentuan sample diambil secara sengaja. Analisis data menggunakan analisis R/C ratio, titik impas dan luas lahan minimum. Biaya produksi terbesar lili lokal maupun asiatik temyata terletak pada bibit, yaitu 76,75 % untuk liliy lokal dan 84,90 % untuk lili asiatik dari total biaya produksi. Titik impas produksi lili local (longiflorum) terjadi pada tingkat harga Rp. 1.074,1,- perkuntum, produktivitas 9.700 kuntum per 100 mz, nilai produksi Rp.10.418.770,- dan biaya produksi Rp.10.418.500,-. Titik impas pad lili impor (asiatik) terjadi pada tingkat harga Rp. 6.829,2,- per tangkai, produktivitas 4009 tangkai per 100 m2, nilai produksi Rp.27.378.263,-per 100 ml dan biaya produksi Rp.27.378.110,- per 100 mz. Luas lahan minimum lili lokal pada tingkat harga terendah, yaitu Rp.1.000,- per kuntum, luas lahan minimum negatip. Luas lahan minimum pada lili impor pada tingkat harga terendah yaitu Rp 8.500,- per tangkai yaitu 55 mz, itu masih di bawah luas lahan rata-rata, yaitu l00 ml. lni berarti pada tingkat harga terendah sasaran pendapatan masih bisa tercapai. Kata kunci: Lilium longylorum, Lili Asiatik, Analisis Finansial, Usahatani.

    2004 Komar, D., Nurmalinda, R.S. Basuki
    33 Hara dan Arsitektur Tanaman pada Budidaya Mawar Potong

    Penelitian ini telah dilaksanakan September 2001 sampai April 2002 di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Hias di Segunung, Cianjur 1100 m dpl. (dari permukaan laut). Tujuan penelitian untuk mempelajari kemungkinan adanya interaksi pemberian hara dan arsitektur tanaman terhadap produksi bunga mawar kultivar.Penelitian menggunakan rancangan petak terpisah dengan 3 ulangan. Petak utama tingkat daya hantar listrik (DHL) pupuk cair yang memakai lamtan formula Handreck and Black (1994) yang dimoditikasi dan diatur taraf DHL-nya menjadi 3 kisaran : 1,10 - 1,30; 1,40 - 1,60 dan 1,70 - 1,80 dS/m2. Anak petak adalah 4 arsitektur tanaman : tradisional Indonesia, Belanda dengan hard pinching, Belanda dengan soft pinching dan arsitektur Jepang. Perlakuan yang terbentuk menjadi 12 kombinasi. Entries mawar potong yang digunakan kultivar Pertiwi. Pembentukan arsitektur Belanda dengan soft pinching menghasilkan tangkai bunga berdiameter terbesar (6,13 mm)pada DHL pupuk 1,40-1,60 dS/m2 yang diberikan 2 kali seminggu dengan 0,5 1/pemberian pupuk. Dapat dikatakan pada taraf DHL ini arsitektur Belanda dengan soft piching menghasilkan bunga mawar Pertiwi dengan mutu terbaik. Kata kunci : Rosa hybrida, arsitektur tanaman, daya hantar listrik, hasil, mutu bunga, pupuk cair.

    2004 Andyantoro, S., R. Tejasarwana, B. Ginting
    34 Media dan Kerapatan Lindak untuk Bibit Tanaman Mawar

    Salah satu sifat fisika yang perlu dipertimbangkan dalam media untuk bibit tanaman adalah kerapatan lindak. Nilai kerapatan lindak yang makin besar menunjukkan tekstur media tersebut makin padat, sulit meneruskan air dan sulit ditembus akar. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan formula media untuk bibit tanaman mawar yang ringan dengan bahan mudah didapat, murah, ramah lingkungan dan tanaman tahan tidak layu tanpa perlakuan sehingga diharapkan dapat meningkatkan persentase tumbuh apabila dipindah ke lapang. Percobaan dilaksanakan pada bulan Mei 2002 - Desember 2002 bertempat di Rumah plastik Balithi meng-gunakan rancangan acak kelompok pola faktorial dengan 3 ulangan. Faktor pertama adalah 5 campuran media yaitu 1) Serbuk sabut kelapa + arang sekam + pupuk kandang, 2) Serbuk sabut kelapa + humus bambu + arang sekam + pupuk kandang, 3)Serbuk sabut kclapa + arang sekam + pasir, 4) Serbuk sabut kelapa + sekam segar + arang sekam + pupuk kandang + zeolit dan 5) Sekam segar + pupuk kandang + tanah, faktor kedua adalah 3 tingkat kerapatan lindak media yaitu 0,4; 0,6 dan 0,8 g/cm3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari persentase bibit tanaman yang hidup dan jumlah tunas dapat diketahui bahwa media campuran serbuk sabut kelapa + sekam segar + arang sekam + pupuk kandang + zeolit dengan kerapatan lindak 0,6 g/cm3 merupakan media terbaik. Selanjutnya diikuti oleh media campuran serbuk sabut kelapa + arang sekam + pasir. Selain menunjang kenyamanan lingkungan dan melestarikan sumber daya alam penggunaan serbuk sabut kelapa, sekam segar yang tadinya merupakan limbah dapat dimanfaatkan sebagai media bibit tanaman mawar, sehingga mempunyai nilai tambah dan berprospek untuk dikembangkan. Kata Kunci : Rosa hybida; Media pembibitan; Kerapatan lindak

    2004 Wuryaningsih, S., R.Tedjasarwana, T. Sutater dan A. Abdurachman
    35 Pengaruh ZPT Paclobutrazol dan Komposisi Media Tanam Mawar Mini terhadap Pertumbuhan dan Hasil Bunga

    Zat pengatur tumbuh (zpt) paclobutrazol dan komposisi media tanam dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan mawar mini (Polyantha spp.) dan hasil bunga. Tujuan percobaan adalah mengetahui pengaruh komposisi media dan konsentrasi zpt Paclobutrazol terhadap pertumbuhan dan hasil bunga mawar mini Red baby rose. Percobaan dilaksanakan di Kp. Segunung, Balithi, Cipanas, Cianjur 1100 m d.p.l. pada Februari-Mei 2004. Petak-petak percobaan disusun menurut rancangan petak terpisah tiga ulangan. Perlakuan petak utama adalah konsentrasi Paclobutrazol 0, 500, dan 1000 ppm yang diberikan 2 kali seminggu selama 5 minggu. Anak petak adalah komposisi media tanam yaitu kompos daun bambu, moss, sekam segar dengan perbandingan 1:1:1, 1:2:1, 1:3:1, kompos daun bambu dan arang sekam dengan peerbandingan 1:1, dan arang sekam dan moss dengan perbandingan 1:4. Hasil percobaan menunjukkan bahwa zpt Paclobutrazol pada konsentrasi 500 ppm memperpendek tinggi tanaman, tetapi pada konsentrasi 1000 ppm menekan pertumbuhan terlalu berat sehingga tanaman terlalu pendek. Media tanam yang terbaik untuk pertumbuhan tanaman adalah arang sekam plus moss (1:4) dan cenderung memberikan hasil bunga tertinggi. Pertumbuhan tanaman serasi bagi mawar mini di pot, konsentrasi zpt Paclobutrazol yang diberikan di bawah 500 ppm. Kata kunci :Polyantha spp., Paclobutrazol, Media tanam.

    2004 Tejasarwana, R.
    36 Perbanyakan Cepat Batang Bawah Mawar Bebas Virus secara in-vitro

    Mawar merupakan salah satu komoditas tanaman hias yang diprioritaskan pengembangannya di Indonesia. Sebagian besar tanaman mawar sudah terinfeksi PNRSV (Prunus Necrotic Ringspot Virus). Sumber utama penularan adalah Rosa multiflora yang digunakan sebagai batang bawah. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh metode pembebasan virus pada batang bawah mawar secara in vitro. Penelitian dilaksanakan di laboratorium Virologi, Balai Penelitian Tanaman Hias Segunung, Cianjur, Jawa Barat, (1.100 m dpl) dari bulan Januari 2002 sampai dengan Desember 2002. Eksplan yang digunakan adalah tangkai batang bawah mawar yang mengandung satu mata tunas yang sudah terinfeksi PNRSV. Pembebasan batang bawah dari infeksi virus dilakukan melalui kegiatan subkultur berulang pada media MS + 1.0 ppm BAP + 0,01 ppm TDZ, yang merupakan media terbaik hasil pra perlakuan. Metode serologi DAS ELISA digunakan untuk mengguji eksplant dan plantlet yang sudah diberi perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa planlet hasil subkultur ke- 4 masih terinfeksi virus sekitar 80% pada kultivar R. multyiora, 40 % pada Rosa sp. kultivar Multic dan Natal Brior. Infeksi menurun sekitar 20% pada semua kultivar yang digunakan setelah dilakukan subkultur sebanyak 6 kali. Pada R. multiflora dan kultivar Natal Brior infeksi menjadi 0 % setelah disubkultur sebanyak 8 kali, sedangkan kultivar Multic masih terinfeksi sekitar 20 %. Kata kunci : Rosa multylora, Batang bawah, virus, PNRSV, kultur in vitro.

    2004 Diningsih, E., Y. Sulyo, Darliah
    37 Evaluasi Beberapa Karakter Fenotipik Klon-Klon Harapan Mawar Mini

    Salah satu tanaman hias pot yang diminati konsumen adalah mawar mini. Sejumlah klon hasil silangan telah tersedia. Penelitian bertujuan untuk mengetahui karakter fenotipik hasil silangan mawar mini. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Cipanas, Cianjur (Jawa Barat) dengan ketinggian 1100 m dpl, dari bulan Januari sampai dengan bulan Desember 2003. Rancangan percobaan yang digunakan yaitu rancangan acak kelompok dengan empat ulangan. Lima klon harapan mawar mini (klon No. 1, 2, 4, 5, dan 53) hasil hibridisasi dan 1 varietas introduksi (pembanding). Jumlah tanaman per unit perlakuan adalah 6 tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa klon-klon Nol, 4 dan 5 dipilih karena mempunyai warna yang lebih menarik yaitu terdiri dari dua wama. Klon No 1 mempunyai warna petal bagian tengahnya merah muda (Red group 49 C) dan bagian pinggir petal berwama merah (Red group 54 B), serta mempunyai diameter bunga lebih besar dan jumlah petal lebih banyak dari pem- banding; Klon No. 4 mempunyai warna petal bagian tengah kuning (Yellow group 11 C) dan bagian pinggir petal berwama merah (Red group 54 C), serta mempunyai diameter bunga lebih besar, jumlah petal lebih banyak dan kesegaran bunga lebih lama dari pembanding; Klon No. 5 memiliki warna petal bagian tengah kuning (Yellow group 8 C) dan bagian pinggir petalnya berwama merah (Red group 49 B), serta mempunyai diameter bunga lebih besar, jumlah petal lebih banyak, dan kesegaran bunga lebih lama dari pembanding. Kata Kunci: Rosa hybrida L.,mawar mini, warna bunga, petal, evaluasi karakter

    2004 Darliah dan W. Handayati
    38 Preferensi Kutu Daun dan Distribusinya di Dalam Tanaman pada Beberapa Genotip Mawar Bunga Potong

    Kutu daun merupakan hama penting pada tanaman mawar bunga potong. Untuk mengetahui preferensi hama tersebut terhadap beberapa genotip mawar bunga potong dan distribusinya di dalam tanaman tersebut, suatu percobaan telah dilaksanakan di lnstalai Penelitian Tanaman Hias Segunung, sejak bulan Mei 1995 sampai dengan Desember 1998. Percobaan mengunakan rancangan acak kelompok dengan 4 ulangan. Pada percobaan ini telah diuji adalah 10 genotip mawar bunga potong yakni Alhambra, American Beauty, Apollo, Holland, Mario Callas, Misty, Mr. Lincoln, Queen Elizabeth, klon no. 91012-5 dan no. 91032-1. Hasil percobaan menunjukkan bahwa genotip Alhambra dan Holland. Cenderung lebih tahan terhadap hama kutu daun dibanding genotip lainnya. Hama kutu daun menyebar ke seluruh bagian tanaman baik daun atas, tengah maupun daun daun bawah. Kata kunci : Mawar, Macrosiphum rosae, preferensi, penyebaran

    2004 Sihombing, D., Suhardi
    39 Pengaruh Larutan Kimia untuk Mempertahankan Kesegaran Bunga Mawar Potong

    Larutan kimia digunakan untuk sebelum pengiriman untuk memberi tambahan energi, melindungi tangkai bunga dari serangan mikroorganisme penyebab penyumbatan pada batang dan menunda senesensi. Tujuan penelitian adalah untuk memperoleh komposisi larutan perendam yang tepat guna memperpanjang masa kesegaran bunga potong mawar. Percobaan menggunakan lima jenis bahan pengawet dengan masing-masing terdiri atas tiga taraf konsentrasi yaitu 10 ppm,20 ppm dan 30 ppm AgNO3; 5 PPHL 15 ppm dan 20 ppm Thiabendazole; 20 ppm, 30 ppm dart 40 ppm Tetrasiklin; 100 ppm, 200 ppm dan 300 ppm Tanin; 400 ppm, 500 ppm dan 600 ppm Gambir. Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perendaman dengan larutan Thiabendazole 5 ppm+gula pasir 5%+asam sitrat 320 ppm selama 24 jam memberikan hasil terbaik dengan masa kesegaran bunga potong mencapai 11 hari (6 hari lebih lama dibanding kontrol) dan persentase kemekaran bunga 90% Ketersediaan bunga potong dipasar dapat dijaga dengan aplikasi teknologi ini. Kata kunci: Bunga Mawar Potong; Larutan Pulsing; Umur Kesegaran; Pemekaran Kuncup.

    2004 Yulianingsih, D. Amiarsi
    40 Evaluasi Insektisida Nabati terhadap Hama Palpita unionalis pada Tanaman Melati

    Suatu penelitian untuk mengevaluasi keefektifan insektisida nabati terhadap P. unionalis telah dilaksanakan di laboratorium Entomologi dan kebun percobaan Balithi Segunung. Penelitian ini terdiri dari dua bagian, yaitu (1) Pengujian keefektifan insektisida nabati terhadap Palpita unionalis di laboratorium dan (2) Pengujian lapangan efikasi insektisida nabati terhadap P. unionalis. Jenis-jenis insektisida nabati yang diuji yaitu 10 jenis bahan tumbuhan yang telah diketahui atau diduga mengandung bahan yang bersifat insektisidal, yaitu biji srikaya (Annona squamosa), biji buah nona (A. reticulata), biji sirsak (A. muricata), daun neem (Azadirachta indica), biji mahoni (Swietenia macrophylla), daun suren (Toona sureni), daun Ki pait (Tithonia diversifolia), daun tembakau (Nicotiana tabacum), daun Lantana camara dan kulit batang kina (Chincona sp.). Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok dengan 10 jenis insektisida nabati sebagai perlakuan dengan tiga ulangan. Hasilnya menunjukkan bahwa biji srikaya, biji buah nona dan biji sirsak paling efektif terhadap P. unionalis baik di laboratorium maupun di lapang. Diharapkan hasil penelitian ini dapat menambah altematif pengendalian hama disamping cara yang sudah ada untuk menunjang pengembangan PHT pada tanaman melati. Kata kunci: Jasminum sp, Palpita unionalis, Hama melati, insektisida nabati.

    2004 Maryam Abn, T.R. Omoy dan T. Mulyana
    41 Koleksi Herbarium Nepenthes gracilis K. Penyebaran, dan Potensinya sebagai Tanaman Hias

    Nepenthes gracilis termasuk tumbuhan pemakan serangga (insectivorous plants), memiliki bentuk kantung dan corak wama menarik dan unik. Hasil survei di beberapa daerah di Sumatra dan Kalimantan, populasi N. gracilis masih cukup banyak dan penyebarannya cukup luas, karena itu jenis tersebut berpotensi untuk dibudidayakan dan dikembangkan sebagai tanaman hias pot maupun pekarangan. Hasil penelitian di Herbarium Bogoriense pada bulan Juni 2004, tercatat ada 162 spesimen herbarium N. gracilis hasil koleksi dari Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi. Koleksi herbarium, morfologi, persebaran, ekologi, dan potensinya sebagai tanaman hias, dipaparkan dalam makalah.Kata kunci : Nepenzhes gracilis, koleksi herbarium, ekologi, tanaman hias.

    2004 Mansur, M.
    42 Paku Sarang Burung, Tanaman Hias Berpotensi untuk Perdagangan dengan Berwawasan Konservasi Ditinjau dari Keberadaan dan Peranannya di Alam

    Asplenium nidus (Paku sarang burung), Sudah dikenal sebagai tanaman hias yang cukup berpotensi. Dalam makalah ini akan dibahas potensi paku sarang burung sebagai tanaman hias dalam menunjang perdagangan tanaman hias di skala intemasional. Perdagangan tanaman, tidak akan terlepas dari habitat asli dari tanaman tersebut, bagaimana persebaran, kelimpahannya dan peranannya, sehingga tujuan perdagangan tidak menyebabkan rusaknya habitat, Penelitian tentang bagaimana keberadaan, habitat serta peranan A. nidus di alam dilakukan di Taman Nasional Gunung Halimun pada bulan September 2003 dan Maret 2004. Dari hasil pengukuran dilapangan tidak ditemukan pola hubungan yang jelas antara ketinggian dimana dia tumbuh dengan diameter akar dan jumlah daunnya. Walaupun demikian terlihat kecenderungan adanya peningkatan diamater dengan semakin tingginya tempat dimana dia menempel pada pohon. Hubungan antara diameter dan jumlah daun juga tidak terlihat adanya trend yang jelas. Sehingga dapat diuraikan bahwa A. nidus di habitat aslinya bisa tumbuh dengan baik dimanapun dia menempel, tidak tergantung pada ketinggiannya. A. nidus sangat ber- peranan dalam penyedia hara dan habitat tempat hidup mikroorganisma pengurai, dan juga menjadi media tumbuh jenis-jenis mikroorganisme yang bermanfaat dalam keseimbangan ekosistem hutan. Berprospek positif untuk ditingkatkan perdagangan skala intemasional terutama ke wilayah non tropis, dengan berwawasan konservasi, mengingat peranannya yang cukup besar dalam menyediakanhara ke lantai hutan. Kata kunci: A. nidus, konservasi, Perdagangan, Gunung Halimun

    2004 Rahajoe, J .S.
    43 Kemampuan Regenerasi Daun pada Dua Jenis Tanaman Sansevieria yang Berdaun Variegata

    Tanaman Sansevieria biasanya dibudidayakan melalui stek daun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan regenerasi stek daun 2 jenis lidah mertua berdaun variegata, yaitu S. grandis hahnii dan S. tryasciata laurentii dibawah pengaruh zat pengatur tumbuh IBA (indole butyric acid). Bagian potongan stek daun direndam selama 24 jam bahan induksi IBA diberikan masing-masing dengan konsentrasi 100 ppm dan kemudian ditanam pada media pasir steril dengan menggunakan rancang acak kelompok. Kemampuan regenerasi diamati setiap bulan selama 3 bulan. Hasil penelitian terlihat bahwa kedua jenis menghasilkan tunas yang anakan berdaun hijau 19,44% akan tumtbuh sebagai S grandis, dan sebagian besar 80,56% tunas berwama kuning. Pada stek daun S. Irifasciata laurentii hanya 0,57% tunas variegata seperti induknya, kemudian 88,82% tunas barwarna hijau akan tumbuh menjadi tanaman S trifasciata dan tunas yang berwama kuning 8,03% juga tidak dapat bertahan hidup. Hasil uji statistik menunjukan setiap perlakuan memberikan perbedaan yang signifikan untuk setiap perlakukan (p < 0,5). Dari penelitian ini dapat diketahui bahwa hasil anakan stek dari kedua jenis Sansevieria tidak menghasilkan anakan yang sama dengan induknya, sehingga cara perbanyakan melalui stek tidak bisa digunakan untuk S. grandis hahnii dan S.trifassciata laurentii. Kata Kunci :Sansevieriaceae, S. grandis hahnii, S Tryasciata laurentii, zat pengatur tumbuh, IBA, stek daun.

    2004 Sulianti, S.B.
    44 Stimulasi Pertumbuhan Multi Tunas Apikal pada TanamanLidah Mertua (Sansevieria grandis) menggunakan Zat Pengatur Tumbuh

    Telah dilakukan penelitian pendahuluan pengaruh zat tumbuh Cultar dan Cycocel terhadap stimulasi pertumbuhan multi tunas apikal pada tanaman Sansevieria grandis hahnii dengan berbagai variasi konsentrasi dari masing-masing zat pengatur tumbuh yaitu, 100, 200, 300, 400 dan 500 ppm. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh zat pengatur tumbuh terhadap pembentuk multi tunas apikal dan pengamatan dilakukan selama 7 bulan. Media tumbuh terdiri dari 2 katagori antara lain, tanah dan media campuran tanah, pasir, kompos dan pupuk kandang (2:4:4:1) dan dilakukan secara rancangan acak kelompok. Penambahan Cultar memberikan pengaruh yang cukup signitikan (p < 0,5) terhadap pertumbuhan jumlah daun dan jumlah tunas dan dapat menstimulasi pembentukkan tunas apikal, pada perlakukan pembentuk tunas apikal meningkat sesuai dengan kenaikan konsentrasi zat pengatur tumbuh yang diberikan (100 - 400 ppm), tetapi pada konsentrasi tinggi pembentukan tunas apikal kembali menurun (500 ppm). Sedangkan pemberian Cycocel tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna (p > 0,5) yaitu dengan konsentrasi yang sama tidak berpengaruh terhadap pembentuk tunas apikal. Kata Kunci: Sansevieria grandis hahnii, zat pengatur tumbuh, Cultar, Cycocel, multi tunas apikal.

    2004 Sulianti, S.B.
    45 Perendaman dan Kedalaman Tanam Umbi terhadap Pertumbuhan dan Produksi Bunga Sedap Malam

    unga dengan perendaman umbi sebelum ditanam dan kedalaman tanam. Penelitian dilaksanakan di daerah Cianjur mulai bulan Juni 1998 sampai dengan Maret 1999. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok pola Faktorial dengan varietas (bunga tunggal dan bunga ganda) sebagai faktor 1, perendaman (tanpa perendaman, perendaman air, dan perendaman 100 ppm GA,) sebagai faktor II, dan kedalaman tanam (4, 7, 10 cm) sebagai faktor 111. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perendaman umbi dalam air maupun GA3 cenderung menambah persentase tumbuh, jumlah anakan, tinggi tanaman dan mempercepat pembungaan serta meningkatkan produksi bunga/plot. Sedangkan perbedaan varietas berpengaruh terhadap persentase tumbuh, jumlah anakan, tinggi tanaman, panjang tangkai dan malai bunga. Kedalaman tanam hanya berpengaruh terhadap persentase tumbuh. Kata kunci: Sedap Malam; Perendaman Umbi; Kedalaman Tanam; Pertumbuhan Tanaman; Produksi Bunga

    2004 Santi, A., S. Kusumo, W. Nuryani
    46 Efektiiitas Perangkap Berwarna dalam Pemantauan dan Pengendalian Hama Thrips Sedap Malam

    Untuk mengetahui efektifitas perangkap berwarna dalam memantau populasi thrips pada sedap malam dan potensinya untuk mengendalikan hama thrips tersebut, suatu percobaan telah dilaksanakan di Karang Tengah - Cianjur, sejak April 1998 sampai Maret 1999. Percobaan menggunakanrancangan acak kelompok dengan 3 ulangan. Sebagai perlakuan adalah warna dari perangkap yang terdiri dari 5 macam yakni kuning, hijau, merah, biru, hijau dan putih. Hasil percobaan menunjukkan bahwa perangkap warna kuning paling efektif dalam memonitor populasi hama thrips, karena mampu memerangkap sampai 581,16 ekor per minggu atau 83,1 ekor per hari. Hal tersebut juga menunjukkan bahwa perangkap kuning dapat digunakan sebagai alternatif dalam pengendalian hama thrips pada sedap malam. Kata kunci: Polyanthes tuberosa, Taeniothrips, perangkap berwarna, pemantauan, pengendalian

    2004 Sihombing, D.
    47 Keanekaragaman Sphagnum di Indonesia dan Peranannya dalam Tanaman Hias

    Di Indonesia merupakan negara yang mempu-nyai keaneragaman hayati cukup tinggi, salah satu diantaranya kelompok tumbuhan lumut yang belum banyak dikenal orang terutama di Indonesia sehingga keanekaragaman maupun pemanfaatannyapun juga belum banyak diketahui. Sphagnum merupakan salah satu marga dari kelompok tumbuhan ini telah banyak dimanfaatkan orang terutama para penangkar tanaman hias sebagai mulsa dalam pengembangan dan perawatan tanaman hias khususnya yang berada di pot. Dengan menggunakan lumut sebagai mulsa maka tidak perlu dilakukan penyiram setiap hari karena sifat dari lumut ini mampu menyerap air cukup banyak. Meskipun telah dimanfaatkan namun pada umumnya para penangkar belum banyak yang mengetahui keanekaragaman jenisnya. Berdasarkan hasil pengecekan koleksi spesimen dan penelusuran beberapa pustaka terkait dapat diketahui keanekaragaman jenis yang ada di Indonesia tercatat 12 jenis, satu diantaranya yaitu Sphagnum novo-guineense merupakan jenis endemik di Indonesia. Kata kunci: Sphagnum spp., keanekaragaman hayati,pemanfaatan

    2004 Windadri, F.I.
    48 Analisis Kandungan Escherichia coli dan Salmonella sp. dalam Sabut Kelapa sebagai Media Tumbuh Tanaman Hias

    Sabut kelapa adalah bahan limbah tanaman yang mudah diperoleh, diketahui mempunyai sifat fisiko kimia yang cocok untuk media tumbuh tanaman hias. Sejauh ini penggunaan sabut kelapa sebagai media tumbuh tanaman belum digunakan secara luas, mengingat belum memenuhi standar intemational industri tanaman hias. Australian Quarantine Inspection menentukan persyaratan bahwa, media sabut kelapa harus bebas patogen terutama Escherichia coli dan Salmonella sp., yang patogenik terhadap manusia dan hewan. Untuk menganalisis kandungan mikrobe patogenik pada sabut kelapa digunakan bakteri coliform sebagai indikator. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kandungan E. coli, Salmonella sp. dan bakteri lainnya pada sabut kelapa yang akan digunakan untuk media tumbuh tanaman hias. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium, Balai Penelitian Veteriner Bogor. Sejak Mei sampai Desember 2002. Di dalam penelitian ini contoh spesimen dibagi tiga bagian, kemudian dimasukan ke dalam labu Erlenmeyer ukuran 250 ml. Masing- masing labu diberi label perlakuan sebagai berikut : A = 10 g Serbuk Sabut Kelapa + 180 ml Buffered peptone water (BPW - Oxoid, 1982) = S2K., B = 10 g Serbuk & Serat Sabut Kelapa + 180 ml BPW - Oxoid (1982) = S3K., C = I0 g Serbuk &. Serat Sabut Kelapa + 180 ml BPW - Oxoid (1982) dan diinfestasikan masing-masing 1 ml suspensi E. coli dan Salmonella sp. = S3K plus. Kerapatan mikrobe yang digunakan adalah 10 8 colony forming unit (cfu)/ ml suspensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sabut kelapa tidak mengandung E. coli, dan Salmonella spp.,. Namun di dalam sabut kelapa ditemukan kuman yang mirip E. coli yaitu Klebsiella sp., Pseudomonas sp., dan Citrobacter sp dan Bacillus circularis, B. megaterium, dan B. firmus. Berdasarkan kriteria AS Standar 1776.5.2.1, most probable number pada perlakuan tersebut berturut-turut adalah 0,7; 4,6; dan > 480 chu/ g. Kata Kunci : Medium Tumbuh Tanaman Hias, Sabut Kelapa, Analisis mikroorganisma, Escherichia coli, Salmonella

    2004 Hanudin 1, VV. Nuryani 1, dan Sutyastuti 2
    49 Pemanfaatan Pseudomonas flourescens, Gliocladium dan Trichoderma untuk mengendalikan Penyakit Layu Fusarium pada Krisan

    Salah satu masalah pada budidaya tanaman krisan, yaitu penyakit tular tanah yang disebabkan oleh fusarium. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efektivitas formulasi P.fluorescens, Gliocladium dan Trichoderma terhadap penyakit layu Fusarium pada krisan. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium, dan di rumah plastik Balai Penelitian Tanaman Hias Segunung. Sejak Juni sampai Desember 2002. Isolat Pf 4a, Pf 9 dan MR 96 diperbanyak secara masal pada media King, B kemudian dipanen dan dituangkan kedalam media perlakuan komposisi formulasi (a). Air steril + Mg SO4, dan (b). Kontrol (air steril tanpa mikroba antagonis). Untuk Gliocladium sp dan Trichoderma sp. Dibiakan pada media PDA deramkan pada suhu kamar selama 5 hari, kemudian dipanen dan larutkan kedalam air steril. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok 12 perlakuan formulasi, dengan 3 buah ulangan. Akar krisan var. Yellow fiji sebanyak 20 pohon/ perlakuan, direndam selama 15 menit didalam suspensi mikrobe antagonis. Aplikasi Pf diulang setiap 7 hari sekali, dituangkan pada pangkal batang dan permukaan tanah sekitar batang tanaman. Hasil penelitian menunjukan bahwa semua isolat Pf yang ditumbuhkan pada media King B berwarna fluorescens bila disinari Ultra violet (UV). Berdasarkan reaksi gram, Pf 01, dan 02, menunjukan reaksi positif dan yang lainnya memperlihatkan reaksi negatif. Pf 4a menunjukan areal zone yang paling luas Pf 4a yang dibiakkan pada media King B yang mengandung 0,01 M FeCl3 kemudian disuspensi ke dalam larutan 0,1M MgSO4, secara nyata konsisten dapat menekan serangan F.oxysporum f.sp tracheiphilum pada krisan sebanyak 72,51%. Kata kunci: Dendranthema grandiflora; Pseudomonas fluorescens; Gliocladium; Trichoderma; pengendali hayati; Fusarium oxysporum f.sp. tracheiphilum.

    2004 Hanudin, W. Nuryani, K. Kardin, B.Marwoto