PAKET TEKNOLOGI BALITHI


photo

Perbanyakan Masal Anggrek Dendrobium Secara In Vitro (2018)

TIM PENELITI
STATUS 
DESKRIPSI TEKNOLOGI
Usaha untuk meningkatkan produksi anggrek baik kuantitas dan kualitas adalah dengan cara meningkatkan mutu varietas, dan kualitas sistim perbenihan. Penyediaan benih anggrek secara masal diantaranya perbanyakan benih dengan cara in vitro. Hasil kegiatan tahun 2016 adalah perbanyakan Dendrobium varietas Dian yang diperoleh adalah kalus berjumlah 70 botol dan plb 7 erlenmeyer, plantlet sebanyak 3700 dan kompot 10 tray, untuk varietas Syifa dicapai 350 plantlet, dan pada varietas Almira dihasilkan kalus 15 botol, dan plb dalam 2 erlenmeyer serta plantlet 200. Hasil yang diperoleh tersebut dapat diperoleh dari satu paket metode penyediaan materi genetik Dendrobium yaitu mata tunas ditanam pada media ½ MS +0,75 mg/l+ 0,5 mg/l BAP, selanjutnya inisiasi kalus dan plb menggunakan metode TCL dan media ½ MS +0,5 mg/l BAP + 0,5 mg/l NAA atau menggunakan tunas pucuk yang ditanam pada media ½ MS + 0,5 mg/l thidiazuron+ 0,5 mg/l BAP+sukrosa 2%. Kemudian untuk proliferasi plb di media cair dapat digunakan media ½ MS +0,5 mg/l BAP+ 0,5 mg/l NAA. Plb dapat diregenerasikan dengan baik pada media VW + 100 g/l pisang + 100 ml/l air kelapa. Dengan diperolehnya satu paket metode penyediaan materi Dendrobium diharapkan dapat diaplikasikan untuk klon-klon lain agar dapat dipenuhi kebutuhan Dendrobium untuk stake holder.

Era Masyarakat Ekonomi Asia (MEA) mendorong Indonesia untuk meningkatkan daya saing produk pertanian. Khususnya pada tanaman anggrek, peningkatan daya saing akan berdampak pada peningkatan mutu produk anggrek, dan kontinuitas persediaan benih. Dengan demikian peningkatan mutu anggrek dan perbenihan harus mendapat perhatian secara khusus. Usaha untuk meningkatkan produksi anggrek baik kuantitas dan kualitasnya adalah dengan cara meningkatkan mutu varietas, dan kualitas sistim perbenihan. Hingga saat ini Indonesia belum memiliki sistim perbenihan anggrek Dendrobium yang stabil dan handal. Usaha pengembangan anggrek ini telah dilakukan sejak lama oleh berbagai pihak, namun hasil yang diperoleh hingga saat ini belum mencapai hasil yang maksimal. Aspek sistim perbenihan ini masih memerlukan penanganan khusus, terutama yang berkaitan dengan dengan teknik penyediaan bibit secara in vitro, penyediaan seedling dan penyediaan tanaman remaja maupun dewasa. Pada tingkat perbenihan in vitro, permasalahan akan berkaitan dengan ketersediaan unsur makro, mikro dan zat pengatur tumbuh serta metode yang digunakan. Perbanyakan anggrek Dendrobium secara in vitro dilakukan melalui berbagai cara antara lain dengan cara induksi embryogenesis somatik langsung (Arditti and Ernest, 1993; Chung et al, 2005; Chen et al, 2007), atau secara tidak langsung melalui pembentukan kalus (Meesawat et al. 2002; Roy et al, 2003; Zhao et al, 2008). Komponen yang digunakan untuk menumbuhkan eksplan juga bermacam macam (Alam et al, 2002) dengan tambahan ZPT misalnya thidiaruron (Nayak et al, 1997; Kumari et al, 2013), BAP dan NAA ( Chung et al, 2005; Sujjaritthurakarn et al, 2011). Berbagai komponen teknologi perbanyakan masal Dendrobium telah berhasil dikembangkan oleh Balithi, di antaranya inisiasi protocorm-like body (plbs) maupun embrio baik menggunakan media berbasis Murashige dan Skoog (1962) maupun Vacin dan Went (1949). Media dasar tersebut dikombinasikan dengan berbagai jenis hormone seperti: TDZ, BAP, Kinetin, NAA, IAA, Methylobacterium sp; bahan organik seperti: 1). bubur pisang ambon lumut; 2). bubur taoge pendek; 3). bubur rebung; 4). bubur ubi kayu; 5). bubur ubi jalar ungu; dan berbagai jenis suplemen yang lain (Santi et al. 2012; Utami & Ginting, 2007). Variasi media tersebut juga diaplikasikan untuk proses perbanyakan plb maupun embrio; sementara pada pengakaran aplikasi media berbasis media generik, seperti: Hyponex, Growmore, dan Rosasol dengan penambahan arang aktif juga telah diaplikasikan. Sejak tahun 2012 hingga 2015 telah dilakukan berbagai kegiatan in vitro mengenai cara inisiasi perbanyakan Dendrobium antara lain : (1) Optimasi komposisi media dengan sumber karbon tertentu, dan optimasi ukuran eksplan dengan periode ”healing” tertentu dalam mempercepat waktu inisiasi plbs. anggrek Dendrobium hasil silangan Balithi secara meriklon (Santi et al. 2012); (2) Pengaruh beberapa modifikasi Tiamin, Kinetin, NAA, BAP, dan TDZ dalam media dasar Vacin & Went dengan berbagai period “healing” terhadap inisiasi plbs. anggrek Dendrobium bunga potong secara in vitro (Santi et al. 2013); (3) Aplikasi adenine sulfate dan chitosan pada perbanyakan in vitro Dendrobium dan Phalaenopsis. Kegiatan tahun 2015 menghasilkan teknologi perbanyakan in vitro anggrek Dendrobium menggunakan adhenin sulfat dan chitosan. Secara keseluruhan untuk meningkatkan pemanfaatan varietas unggul baru yang dihasilkan oleh Balithi oleh pengguna dan meningkatkan mutu anggrek. Penerapan kegiatan yang terkait dengan perbanyakan masal anggrek ini diharapkan menghasilkan benih varietas yang berdaya saing dan mampu menembus pasar global, dengan sistim perbenihan yang produktif, yang dibudidayakan dengan cara yang terstandarisasi dengan pengendalian hama penyakit yang handal. Pada kegiatan ini diharapkan dapat mengatasi masalah perbenihan anggrek terutama Dendrobium sehingga dapat segera dimanfaatkan oleh masyarakat.

A. Penyediaan bahan tanaman sebagai sumber eksplan Dendrobium

Telah dilakukan penyediaan materi awal dari beberapa varietas antara lain adalah Varietas Dian Agrihorti, Varietas Almira, Varietas Syifa. Tunas yang berasal dari tunas anakan Dendrobium ditanam pada media pembesaran tunas yaitu ½ MS + 0,5 BAP hingga tunas memanjang berukuran 8-10 mm dan diinkubasikan di ruang gelap. Kegiatan selama 6 bulan pertama dalam menghasilkan tunas yang akan digunakan sebagai materi awal perbanyakan melalui pembentukan plb dan kalus. Dalam gambar 1 dan 2, menunjukkan hasil inisiasi tunas menggunakan media ½ MS + 0,75 mg/l Tdz + 0,5 mg/l BAP

B. Inisiasi dan proliferasi plb Dendrobium tanaman model menggunakan metode TCL

Kegiatan ini menggunakan 2 macam metode yaitu inisiasi plb menggunakan eksplan tunas pucuk dan inisiasi menggunakan irisan horizontal tunas (metode TCL).
B.1. Inisiasi plb Dendrobium varietas Dian menggunakan metode thin cell layer (TCL)
Metode irisan horizontal tunas pucuk Dendrobium varietas Dian diterapkan untuk menginisiasi plb menggunakan media ½ MS+ 0,5 mg/lBAP+ 0,5 mg/lNAA merupakan media yang tepat, baik persentase, jumlah dan ukuran plb. Secara visual plb yang tumbuh dari ke empat media tidak berbeda
B.2. Inisiasi plb Dendrobium varietas Dian menggunakan eksplan tunas pucuk
Pada inisiasi plb Dendrobium menggunakan eksplan tunas pucuk dengan menggunakan media ½ MS+0,1 mg/l TDZ + 0,5 mg/l BAP + 20 g/l sukrosa merupakan media yang tepat. Media yang mengandung thidiazuron dan 2,4-D lebih banyak menghasilkan kalus dan tunas.C. Inisiasi dan perbanyakan plb Dendrobium dengan menggunakan media cair Plb yang berasal dari proses inisiasi dipindahkan pada media cair, untuk inisiasi plb dan proliferasi plb Dendrobium menggunakan media cair dengan media ½ MS+ 0,5 mg/l BAP+ 0,5 mg/lNAA merupakan media yang tepat.

D. Regenerasi Planlet Dendrobium varietas Dian
Regenerasi planlet Dendrobium varietas Dian menggunakan media VW + 100 g/l pisang + 100 ml/l air kelapa merupakan media yang tepat.

Dari rangkaian kegiatan di atas dapat diambil suatu metode terbaik untuk perbanyakan masal anggrek Dendrobium yaitu mata tunas ditanam pada media ½ MS +0,75 mg/l+ 0,5 mg/l BAP, selanjutnya inisiasi kalus dan plb menggunakan metode TCL dan media ½ MS +0,5 mg/l BAP + 0,5 mg/l NAA atau menggunakan tunas pucuk yang ditanam pada media ½ MS + 0,5 mg/l thidiazuron+ 0,5 mg/l BAP+sukrosa 2%. Kemudian untuk proliferasi plb di media cair dapat digunakan media ½ MS +0,5 mg/l BAP+ 0,5 mg/l NAA. Plb dapat diregenerasikan dengan baik pada media VW + 100 g/l pisang + 100 ml/l air kelapa.
KESIMPULAN
    1. Materi genetik Dendrobium varietas Dian yang diperoleh adalah kalus berjumlah 70 botol dan plb 7 erlenmeyer, plantlet sebanyak 3700 dan kompot 10 tray. Untuk varietas Syifa dicapai 350 plantlet, dan pada varietas Almira, kalus 15 botol dan plb 5 dalam 2 erlenmeyer serta plantlet 200.
    2. Metode inisiasi plb dan proliferasi plb Dendrobium tanaman model menggunakan metode TCL dengan media ½ MS+0,5mg/lBAP + 0,5 mg/l N
    3. Metode inisiasi plb dan proliferasi plb Dendrobium tanaman model menggunakan metode tunas pucuk pada media ½ MS +0,5 mg/l Thidiazuron + 0,5 mg/l BAP.
    4. Metode inisiasi plb dan proliferasi plb Dendrobium menggunakan media cair dengan media ½ MS+ 0,5 mg/l BAP+ 0,5 mg/lNAA.
photo

Perbanyakan Gerbera Secara In Vitro Menggunakan Kuncup Bunga Muda Sebagai Sumber Eksplan (2016)

TIM PENELITI
STATUS 
DESKRIPSI TEKNOLOGI
Tahapan perbanyakan gerbera secara In vitro dengan menggunakan kuncup bunga muda sebagai sumber eksplan dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:

1. Pemanenan kuncup bunga
    Kuncup bunga yang digunakan adalah kuncup bunga belum mekar, seluruh kalik/sepal masih menutup rapat seluruh bagian bunga yang lain hingga bagian bunga tabung sedikit terlihat, Pilih dan pastikan kuncup bunga yang dipilih berasal dari tanaman yang sehat, tumbuh baik dan tidak ada gejala serangan hama penyakit.
2. Sterilisasi kuncup bunga
    Proses sterilisasi dilakukan melalui 2 tahap. Tahap 1 adalah pra-sterilisasi yang dengan cara meletakkan kuncup bunga dibawah air mengalir selama 30-60 menit, kemudian direndam dalam larutan air sabun 1% (Sunlight / Mama Lemon) selama 30 menit sambil digojok secara manual / diletakkan diatas mesin penggojok (shaker, 110 rpm); pindahkan kuncup bunga dalam larutan 1% pestisida (fungisida dan bakterisida) selama 30 menit sambil digojok; kuncup bunga selanjutnya dibilas dengan air bersih hingga sisa pastisida tidak terlihat lagi. Tahap 2 adalah sterilisasi yang dilakukan dengan cara merendam kuncup bunga dalam larutan Iodium (Betadine/Yodium; 20 tetes/100 ml air steril) selama 5 menit sambil digojok, setelah itu pindahkan dalam larutan merkuri klorida (HgCl2) 0,05% selama 5 menit sambil digojok, kemudian bilas dengan air steril 3-4 kali (@ 3 menit)
3. Isolasi penyangga bunga
    Setelah sterilisasi tahap 2 selesai, kuncup bunga selanjutnya diletakkan diatas cawan petri steril. Dengan 2 pinset (Panjang 15 cm untuk memegang kuncup bunga & pendek 7,5 cm untuk membuang semua bagian bunga) dilakukan pembuangan semua bagian bunga (kalik / sepal; korola / petal; bunga tabung). Setelah semua bagian bunga dibersihkan dan tinggal penyangga bunga, selanjutnya dengan pisau kultur dilakukan pemotongan bagian penyangga bunga dengan pisau kultur secara melintang. Setelah pemotongan panyangga bunga, potongan harus segera dimasukkan kedalam air steril untuk menghindarkan terjadinya pencoklatan penyangga bunga
4. Sterilisasi Eksplan
    Setelah seluruh isolasi penyangga bunga dilakukan, sterilisasi lanjutan dilakukan. Sterilisasi dilakukan dengan cara membilas eksplan dengan air steril 2-3x (@ 3 menit) sambil digojok. Selanjutnya rendam eksplan dalam larutan HgCl2 0,01% selama 5 menit. Bilas lagi eksplan dengan air steril 3-4x (@ 3 menit)
5. Penyiapan dan penanaman eksplan dan kultur gelap
    Penyiapan eksplan dilakukan dengan cara mengambil potongan penyangga bunga dengan pinset dan menampatkannya diatas cawan petri yang berisi tisu steril sambil dibolak-balik untuk menghilangkan semua film air yang menempel pada eksplan. Setelah itu lakukan pemotongan potongan penyangga bunga dengan pisau kultur menjadi 4 bagian. Segera setelah itu, lakukan penanaman potongan penyangga bunga ke botol kultur yang berisi medium inisiasi (Medium ½ MS yang ditambah dengan 0,4 mg/l TDZ, 0,25 mg/l BAP, 30 g/l sukrosa dan 7 g/l agar swallow). Penanaman eksplan dilakukan dengan memposisikan bagian potongan menempel pada permukaan medium. Tiap botol ditanam 4-6 eksplan dan penanaman dilakukan sesegera mungkin dan segera mungkin disimpan dalam tempat gelap untuk menghindarkan terjadinya pencoklatan eksplan. Botol kultur selanjutnya disimpan dalam tempat yang gelap selama 1 bulan.
6. Regenerasi bakal tunas dan tunas
    Regenerasi bakal tunas dan tunas dilakukan dengan cara memindahkan botol kultur dibawah kondisi terang dengan 12 jam fotoperiode dibawah lapu fluoresen dengan intensitas cahaya ± 13 mmol/m2/s hingga bakal tunas dan tunas teregenerasi. Waktu regenerasi bakal tunas hingga tunas berkisar antara 1-1,5 bulan setelah pemindahan kultur ditempat terang
7. Perbanyakan tunas
    Perbanyakan tunas dilakukan dengan menanam 1-2 bakal tunas hasil tahap inisiasi pada medium MS yang ditambah 0,2 mg/l TDZ, 30 g/l sukrosa dan 7 g/l agar swallow hingga subkultur ke-2 atau MS yang ditambah 0,2 mg/l TDZ; 0,1 mg/l BAP, 30 g/l sukrosa dan 7 g/l agar swallow hingga subkultur ke-4, setelah itu tunas harus disubkultur pada medium MS yang ditambah 0,2 mg/l BAP; 0,02 mg/l NAA, 30 g/l sukrosa dan 7 g/l agar swallow. Satu botol kultur diisi dengan 5 tunas dan diinkubasi pada kondisi terang selama 1-1,5 bulan
8. Penyiapan plantlets
    Penyiapan plantlets dilakukan dengan mensubkultur tunas hasil subkultur akhir pada medium ½ MS yang ditambah dengan 1,5-2,0 g/l arang aktif, 30 g/l sukrosa dan 7 g/l agar swallow. Tiap botol kultur yang berisi media pengakaran ditanam 5-7 tunas dan diinkubasi pada kondisi terang seperti kondisi inkubasi tahap sebelumnya
9. Aklimatisasi plantlets
    Aklimatisasi plantlets dilakukan dengan cara mengeluarkan plantlets dari botol kultur dengan pinset dengan hati-hati agar akar tidak putus dan mengalami banyak kerusakan. Cuci akar dibawah air mengalir untuk membuang / menghilangkan agar yang menempel dipermukaan akar. Selanjutnya rendam akar dalam larutan 1% pestisida (Fungisida dan bakterisida) selama 3 menit. Setelah itu tanam plantlets dalam bak-bak/pot plastik yang berisi potongan pakis dan cocopeat (1:1, v/v) yang telah dibasahi cukup dengan air pada kedalaman 2-3 cm. Setelah semua plantlets ditanam, bak/pot plastik ditutup dengan plastik transparan selama 1 bulan. Setiap minggu plantlets diberi perlakuan penyemprotan larutan 1% pupuk majemuk N tinggi (Growmore/Rosasol/Hyponex). Frekuensi penyemprotan larutan 1% pupuk majemuk N tinggi dapat ditingkatkan menjadi 2 kali per minggu sesuai respon pertumbuhan plantlets.
10. Potensi Produksi Benih
    Potensi produksi benih melalui aplikasi teknologi ini dari 1 eksplan kuncup bunga muda akan dihasilkan 7-15 tunas untuk jenis yang responsif; 3-6 tunas per eksplan untuk yang kurang responsif, jika nilai rata-rata nya 4-7 tunas per eksplan dan disubkultur sebanyak 6 kali, maka dari 1 eksplan akan dihasilkan 16.384 – 823.543 tunas yang siap diakarkan dalam waktu ± 262,5 hari (8,75 bulan). Jika reduksi kehilangan hasil pengakaran tunas ± 5%, maka plantlets yang berhasil disiapkan selama 1 bulan berkisar antara 15.564 – 782.366 plantlets. Jika kehilangan hasil akibat aklimatisasi ± 10%, maka plantlets yang berhasil diaklimatisasi selama 1 bulan selanjutnya dipotkan secara individu dan teradaptasi 1 bulan kemudian yang siap dijual kepada petani berkisar antara 14.007 – 704.129 tanaman dalam waktu 11,75 bulan atau dalam waktu 1 tahun.
photo

Bakteri Perakaran Pemicu Pertumbuhan Tanaman (BP3T) (2014)

TIM PENELITI
STATUS 
DESKRIPSI TEKNOLOGI
Bakteri perakaran pemicu pertumbuhan tanaman (BP3T) atau Plant Growth Promoting Rhizobactreria (PGPR) adalah bakteri yang mengkoloni perakaran tanaman dan bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman. Bakteri ini hidup dan berkembang dengan memanfaatkan eksudat yang dikeluarkan oleh perakaran tanaman.
Manfaat BP3T bagi tanaman adalah:
  1. menghasilkan fitohormon, diantaranya indole acetic acid (IAA), sitokinin, giberelin, dan senyawa penghambat produksi etilen
  2. sebagai pupuk hayati, BP3T dapat membuat unsur hara yang ada di dalam tanah mudah diserap oleh tanaman melalui proses mineralisasi dan transformasi. Sebagai contoh, PGPR dapat melarutkan fosfat dan meningkatkan kemampuan pengambilan unsur besi (Fe3+) oleh tanaman
  3. sebagai biopestisida, yaitu kemampuan untuk mengendalikan hama dan penyakit dengan cara menghasilkan antibiotik, mengkolonisasi jaringan dan menginduksi tanaman untuk memproduksi senyawa ketahanan dalam jumlah yang cukup untuk menjaga kesehatan tanaman.

photo

Fertigasi Otomatis Berbasis Tensiometer dan Sensor EC Untuk Budidaya Tanaman Hias (2012)

TIM PENELITI
STATUS 
DESKRIPSI TEKNOLOGI
Pemberian hara melalui sistem irigasi menjadi cara yang umum dilakukan pada pertanian modern. Cara ini disebut dengan istilah fertigasi. Dengan fertigasi, hara dalam bentuk larutan pupuk dapat mengantisipasi sebagian besar kebutuhan tanaman sesuai dengan stadia pertumbuhannya.
Penjadwalan pengairan diartikan sebagai frekuensi dan banyaknya air yang diberikan pada setiap pengairan. Ada beberapa pendekatan dalam penjadwalan, salah satunya berdasarkan tensiometer. Penjadwalan pengairan dapat menghemat air, mencegah tanaman stres, mencegah tercucinya pupuk dan mengemat biaya energi. Penjadwalan pengairan yang baik artinya pemberian dalam jumlah air dan waktu yang benar, agar memperoleh kelembaban tanah yang sesuai, sehingga air tersedia bagi tanaman pada saat diperlukan. Interval antara pengairan akan tergantung kepada konsumsi air oleh tanaman. "Tensiometer" artinya pengukur tegangan/gaya. Untuk menyerap air dari dalam tanah, tanaman perlu mengatasi gaya isap dari tanah, gaya ini diukur dengan sebuah tensiometer. Satuannya kilo Pascal (kPa) atau sentibar (cBar). Tensiometer ini terbuat dari tabung akrilik yang salah satu ujungnya dipasangi cawan keramik berpori dan pada ujung lainnya dipasangi vakum meter. Cawan keramik mensimulasikan aliran air melalui tanah. Jika tanah sekitar cawan keramik tensiometer kering, air diisap keluar dari tabung, sehingga terjadi hampa udara di dalam tabung yang akhirnya angka di vakum meter terbaca. Makin kering tanah, makin tinggi pembacaan tensiometer. Kalau tanah menjadi basah, maka air masuk ke tabung, sehingga pembacaan vakum meter mendekati nol. Pembacaan tensiometer yang sama pada tanah yang berbeda menunjukkan kandungan air yang berbeda. Hal ini disebabkan karena setiap jenis tanah memiliki karakteristik daya memegang air yang berlainan. Pada nilai tensi yang sama, jenis tanah yang berbeda akan mengandung air yang berbeda. Jadi tanah yang berat mengandung air lebih banyak daripada tanah pasir. Oleh karena itu tanah berpasir memerlukan frekuensi pengairan yang lebih sering dibandingkan tanah yang bertekstur lebih berat. Untuk kebanyakan tanah, nilai tensiometer di atas 50 kPa artinya tanah kering dan di bawah 10 Kpa menunjukkan tanah basah. Otomatisasi penyiraman akan menyesuaikan kebutuhan air dengan stadia pertumbuhan tanaman. Pengairan yang diberikan bersamaan dengan pemupukan berpeluang untuk menyebabkan kandungan hara di dalam media tanaman menjadi terlalu tinggi, sehingga dapat meracuni tanaman. Dengan otomatisasi, maka dapat mempertahankan level hara yang tepat di dalam media tanam.

INFORMASI PENGUNJUNG :

AGENT : CCBot/2.0 (https://commoncrawl.org/faq/)
IP PUBLIK : 34.228.41.66

Pengumuman

Pokja Balai Penelitian Tanaman Hias, mengumumkan Perencanaan Pembangunan KP. Serpong Tahap II. Silahkan diunduh: [Perencanaan Pembangunan KP. Serpong Tahap II], Terima Kasih.

Pengumuman

Pokja Balai Penelitian Tanaman Hias, mengumumkan Perencanaan Renovasi Bangunan Guest House Segunung Balithi. Silahkan diunduh: [Perencanaan Renovasi Bangunan Guest House Segunung Balithi], Terima Kasih.

Pengumuman

Pokja Balai Penelitian Tanaman Hias, mengumumkan Pemenang Lelang Pengadaan Alat Laboratorium. Silahkan diunduh: Pengumuman Pemenang Lelang, Terima Kasih.

Informasi Publik

  • Tersedia Setiap Saat
    Informasi yang Wajib Tersedia Setiap Saat, sebagaimana tercantum dalam Undang-undang RI no 14 ... [download file]
  • Disediakan dan Diumumkan Secara Berkala
    Informasi yang Wajib Disediakan dan Diumumkan Secara Berkala sebagaimana tercantum dalam ... [download file]
  • Diumumkan Secara Serta Merta
    Informasi yang Wajib Diumumkan secara Serta-merta sebagaimana tercantum dalam Undang-undang RI ... [download file]

Sekilas info


Info Kerjasama

  • Penelitian dan Pengembangan
    Pengembangan Agribisnis dan Wisata... [detail]
  • Penelitian dan Pengembangan
    Pengembangan Varietas Tanaman... [detail]
  • Penelitian dan Pengembangan
    Pengembangan Tanaman Hias di Kabupaten... [detail]
  • Penelitian dan Pengembangan
    Pengembangan Kawasan Agribisnis dan Agrowisata di... [detail]
daftar kerjasama penelitan pertahun