Website-Resmi-Balai-Penelitian-Tanaman-Hias-Kementerian-Pertanian

  • JURNAL HORTIKULTURA NO. 23 VOL. 3
  • Jurnal Hortikultura No. 23 Vol. 3
    No. Judul Artikel Tahun Penulis Download
    1 Studi Penyiapan Akar Berkualitas untuk Uji Kromosom dan Penggandaan Kromosom Planlet Hasil Kultur Anter Anthurium (Anthurium andraeanum Linden ex André) cv. Tropical

    ABSTRAK. Pengakaran berkualitas yang sesuai untuk uji kromosom dan penggandaan kromosom merupakan masalah kritikal dalam pengembangan teknologi kultur anter Anthurium. Penelitian bertujuan untuk mengetahui (1) pengaruh media dan arang aktif dalam mempersiapkan akar berkualitas yang sesuai untuk uji kromosom dan (2) pengaruh konsentrasi dan waktu aplikasi kolkisin terhadap keberhasilan penggandaan kromosom. Studi penyiapan akar berualitas dan penggandaan kromosom planlet hasil kultur anter Anthurium telah dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan dan Rumah Kaca, Balai Penelitian Tanaman Hias Segunung dari Bulan Februari sampai September 2009. Pembentukan akar berkualitas yang sesuai untuk uji kromosom dipengaruhi oleh media pengakaran dan penambahan arang aktif. MP-7 [medium Winarto-Teixeira (WT) tanpa hormon yang ditambah 1% arang aktif] merupakan medium induksi pembentukan jumlah dan kualitas akar terbaik dengan 4,5 akar per tunas dan 83% nya ialah akar yang sesuai untuk uji kromosom. MPH-1 [Murashige dan Skoog (MS) yang ditambah 0,2 mg/l N6-benzylaminopurin (BAP) dan 0,02 mg/l asam asetat naftalen (NAA)] merupakan medium pengakaran tunas haploid yang sesuai untuk induksi pembentukan akar hingga 2,5 akar per tunas. Konsentrasi kolkisin 0,25% dengan 7 hari waktu aplikasi dan 0,05% dengan 10 hari periode aplikasi merupakan perlakuan yang sesuai untuk mendapatkan tanaman haploid ganda dengan persentase yang tinggi yaitu 80 dan 76,5% secara berurutan. Ini berarti 19-20 tanaman haploid ganda diperoleh dengan perlakuan tersebut. Hasil penelitian ini sangat bermanfaat terutama dalam mempersiapkan akar berkualitas yang sesuai untuk uji kromosom dan mendapatkan tanaman haploid ganda yang optimal melalui perlakuan kolkisin.

    Katakunci: Planlet; Penggandaan kromosom; Kultur anter; Anthurium andraeanum Linden ex André cv. Tropical

    2013 Winarto, B
    2 Komposisi Formula Biobakterisida Berbahan Aktif Rizobakteri untuk Pengendalian Penyakit Busuk Lunak pada Anggrek Phalaenopsis

    ABSTRAK. Penyakit busuk lunak (PBL) yang disebabkan oleh Pectobacterium carotovorum subsp. carotovorum atau Pseudomonas viridiflava merupakan kendala utama dalam budidaya anggrek. Serangan patogen tersebut sangat merugikan petani, mengingat biaya investasi produksi anggrek tergolong tinggi. Oleh karena itu patogen tersebut harus dikendalikan menggunakan metode pengendalian yang ramah lingkungan, yaitu dengan mengaplikasikan biobakterisida berbahan aktif rizobakteri, seperti Bacillus subtilis dan Pseudomonas fluorescens. Tujuan penelitian ini ialah (1) mendapatkan komposisi bahan aktif dan bahan pembawa biobakterisida yang efektif mengendalikan penyakit busuk lunak pada anggrek Phalaenopsis, (2) mengetahui perubahan reaksi kimia formula biobakterisida dan pertumbuhan populasi bahan aktif (rizobakteri B. subtilis dan P. fluorescens) pada kondisi sebelum dan setelah difermentasikan, dan (3) mengetahui kompatibilitas antara B. subtilis, P. fluorescens, dan bahan pembawa biobakterisida. Percobaan dilaksanakan mulai Bulan Mei sampai dengan Desember 2009 di Laboratorium Bakteriologi Departemen Proteksi Tanaman, Institut Pertanian Bogor, dan Laboratorium Bakteriologi serta Rumah Kaca, Balai Penelitian Tanaman Hias, di Segunung, Cianjur, Jawa Barat. Ruang lingkup penelitian meliputi pembuatan propagul rizobakteri sebagai bahan aktif biobakterisida, pembuatan formula biobakterisida, uji viabilitas bahan aktif, dan uji kemangkusan biobakterisida pada tanaman anggrek di rumah kaca. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) perlakuan gabungan antara B. subtilis B12 dan P. fluorescens Pf10 yang difermentasikan dalam media ekstrak kotoran cacing (kascing) dan molase, merupakan perlakuan yang konsisten dapat menekan PBL pada anggrek Phalaenopsis dengan persentase penekanan sebesar 80%, (2) reaksi kimia formula biopestisida pada kondisi sebelum dan setelah fermentasi diindikasikan dengan perubahan pH basal medium yang sebelum fermentasi menunjukkan pH 3,75 dan berubah menjadi pH 3,50 setelah difermentasikan. Pertumbuhan populasi mikrob antagonis setelah fermentasi meningkat secara signifikan bila dibandingkan pada kondisi sebelum difermentasikan, dan (3) isolat bahan aktif (B. subtilis dan P. fluorescens) bersifat kompatibel dengan bahan pembawanya (ekstrak kascing dan molase).

    Katakunci: Phalaenopsis; Biobakterisida; Rizobakteri; Bacillus subtilis; Pseudomonas fluorescens; Pengendalian; Busuk lunak; Pseudomonas viridiflava

    2013 Hanudin 1), Nawangsih, AA 2), Marwoto, B 1), dan Tjahjono, B 2)
    3 Kepentingan Relatif Atribut Produk dan Preferensi Kios/Toko Bunga terhadap Anthurium, Lily, dan Anggrek Dendrobium

    ABSTRAK. Preferensi kios/toko bunga pada dasarnya merupakan refleksi preferensi konsumen akhir. Penelitian diarahkan untuk menghimpun informasi menyangkut preferensi kios/toko bunga/tanaman hias terhadap Anthurium, lily, dan anggrek Dendrobium. Kegiatan penelitian dilaksanakan pada Bulan Agustus-Oktober 2009 di dua kota besar konsumen bunga/tanaman hias, yaitu Jakarta (DKI Jakarta) dan Bandung (Jawa Barat). Penelitian survai menggunakan kuesioner terstruktur dilaksanakan untuk mewawancarai 99 responden yang dipilih secara acak di kedua kota tersebut. Preferensi konsumen diidentifikasi menggunakan analisis konjoin -salah satu modul dalam program statistika SPSS (statistical program for social sciences). Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden mengekspresikan preferensinya terhadap Anthurium yang bunganya berwarna bukan putih, berukuran besar, tahan disimpan 11-20 hari, dan harganya Rp. 1.000,00-Rp. 1.999,00 per kuntum. Responden menganggap bahwa harga per kuntum merupakan faktor terpenting dalam menilai atau membeli Anthurium dan secara berturut-turut diikuti oleh faktor warna bunga, ukuran bunga, dan ketahanan simpan/pajang. Sementara itu, lily yang paling disukai responden ialah lily yang warna bunganya putih, berukuran > empat bunga per tangkai, tahan disimpan/dipajang 2 minggu, dan harganya Rp. 10.000,00-Rp. 14.999,00 per kuntum. Urutan kepentingan atribut lily menurut persepsi responden secara berturut-turut ialah harga per kuntum, warna bunga, ketahanan simpan/pajang, dan ukuran bunga. Responden lebih menyukai anggrek Dendrobium yang warna bunganya putih, berukuran > 10 kuntumper tangkai, tahan disimpan/dipajang > 1 minggu, dan harganya Rp. 100,00-Rp. 199,00 per kuntum. Dalam konteks atribut produk anggrek Dendrobium yang digunakan untuk mengukur preferensi, faktor terpenting yang berpengaruh dalam proses pengambilan keputusan ialah ketahanan simpan/pajang, harga per kuntum, jumlah kuntum per tangkai, dan warna bunga. Informasi preferensi konsumen terhadap atribut produk dapat digunakan sebagai acuan pengembangan varietas yang lebih berorientasi pasar.

    Katakunci: Anthurium; Lily; Anggrek Dendrobium; Preferensi konsumen; Atribut produk; Analisis konjoin

    2013 Adiyoga, W 1) dan Nurmalinda 2)