Website-Resmi-Balai-Penelitian-Tanaman-Hias-Kementerian-Pertanian

  • JURNAL HORTIKULTURA NO. 21 VOL. 4
  • Jurnal Hortikultura No. 21 Vol. 4
    No. Judul Artikel Tahun Penulis Download
    1 Pengaruh Glutamin dan Serin terhadap Kultur Anter Anthurium andraeanum cv. Tropical

    Kultur anter merupakan salah satu teknologi haploid penting dalam produksi tanaman haploid ganda dan berhasil diaplikasikan pada berbagai jenis tanaman, namun aplikasi pada Anthurium belum pernah dilaporkan. Penelitian dan pengembangan kultur anter Anthurium yang difokuskan untuk mempelajari pengaruh glutamin dan serin terhadap induksi, pertumbuhan, dan regenerasi kalus dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan Balai Penelitian Tanaman Hias dari bulan Januari sampai dengan September 2008. Tujuan penelitian ialah mengetahui pengaruh kombinasi konsentrasi glutamin dan serin terhadap induksi, pertumbuhan, dan regenerasi kalus pada kultur anter Anthurium. Spadik Anthurium andraeanum cv. Tropical, kalus hasil kultur anter serta medium Winarto dan Teixeira digunakan dalam studi ini. Glutamin dan serin pada konsentrasi 0, 250, 500, dan 750 mg/l diuji dalam percobaan ini. Percobaan disusun menggunakan rancangan acak lengkap pola faktorial dengan empat ulangan. Hasil studi menunjukkan bahwa penambahan glutamin dan serin pada medium terseleksi belum memberikan pengaruh yang signifikan terhadap induksi, pertumbuhan, dan regenerasi kalus. Glutamin pada konsentrasi 250 mg/l menginduksi potensi tumbuh anter hingga 48% dengan 21% anter beregenerasi dan 1,3 anter per perlakuan membentuk kalus. Sementara serin pada 500 mg/l merupakan konsentrasi yang paling potensial dalam induksi kalus dengan 55% potensi tumbuh anter, 24% anter beregenerasi, dan 1,4 anter per perlakuan membentuk kalus. Glutamin 250 mg/l merupakan konsentrasi terbaik dibanding konsentrasi yang lain dalam mendukung pertumbuhan dan regenerasi kalus. Perlakuan tersebut tanpa serin mampu menginduksi potensi pertumbuhan kalus hingga 77% dengan volume kalus mencapai 237 mm3 dan empat tunas dihasilkan per eksplan. Sementara perlakuan serin justru mereduksi pertumbuhan dan regenerasi kalus dan menstimulasi senesensi kalus yang berdampak pada pencoklatan dan kematiannya. Dari hasil penelitian ini dapat disarankan penggunaan glutamin dibanding serin dalam meningkatkan keberhasilan kultur anter Anthurium. Katakunci: Anthurium andraeanum Linden ex Andre cv. Tropical; Kultur anter; Glutamin; Serin; Kalus; Regenerasi;

    2011 Winarto, B.
    2 Cara Aplikasi dan Takaran Pupuk terhadap Pertumbuhan dan Produksi Krisan

    Krisan merupakan salah satu tanaman hias penting dalam industri florikultura di Indonesia. Dalam budidayanya, pertumbuhan dan produktivitas krisan sangat dipengaruhi oleh pemberian pupuk yang sesuai dan optimal. Pupuk N, P, dan K sering diaplikasikan tanpa memperhatikan cara aplikasi dan takaran yang tepat. Penelitian bertujuan untuk mengetahui cara aplikasi dan takaran pupuk terhadap pertumbuhan dan produksi bunga krisan. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaaan Balai Penelitian Tanaman Hias Segunung 1.100 m dpl. dari bulan Januari sampai dengan Desember 2007. Bahan tanaman yang digunakan adalah krisan varietas Puspita Nusantara. Pupuk yang digunakan yaitu Urea, KNO3, dan SP-36. Percobaan menggunakan rancangan petak terpisah dengan tiga ulangan. Petak utama ialah cara aplikasi pupuk butiran dan fertigasi. Sebagai anak petak ialah takaran pupuk, yaitu tanpa pupuk, takaran anjuran, 1 takaran anjuran, dan 1 takaran anjuran. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pemberian pupuk dengan cara ditabur dan fertigasi memberikan pengaruh yang sama, sedangkan takaran pupuk 1 takaran anjuran menunjukkan pertumbuhan vegetatif dan jumlah bunga lebih tinggi dibandingkan perlakuan lainnya (diameter batang terbesar 5,90 mm, panjang daun 8,41 cm, jumlah daun/tanaman tertinggi 37,5 helai, dan 10,5 kuntum/tanaman). Katakunci : Dendranthema grandiflora; Cara aplikasi; akaran; Pupuk

    2011 1) Tedjasarwana, R. , 1) E.D.S. Nugroho, dan 2) Y. Hilman
    3 Pengendalian Layu Fusarium Menggunakan Mikrobe Antagonis dan Tanaman Resisten pada Lili

    Lili merupakan tanaman hias penting dan bernilai ekonomi tinggi. Budidaya lili di Indonesia menghadapi kendala utama yaitu penyakit layu Fusarium. Aplikasi bahan kimia sintetik untuk mengendalikan penyakit ini berdampak negatif terhadap kerusakan lingkungan. Aplikasi organisme antagonis dan kultivar resisten merupakan alternatif pengendalian penyakit ramah lingkungan, berdampak positif terhadap kelestariannya, dan meningkatkan produktivitas lili. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan informasi mikrobe antagonis, mikrobe nonpatogenik, dan klon lili yang dapat menekan penyakit layu Fusarium. Penelitian dilakukan di Laboratorium Biokontrol dan Rumah Sere, Balai Penelitian Tanaman Hias pada bulan Januari sampai dengan Desember 2007. Tata letak percobaan disusun berdasarkan rancangan acak kelompok pola faktorial denga tiga ulangan. Faktor pertama ialah klon lili yang terdiri dari klon No.1, No 2, No.3 (tahan), dan No.4 (rentan). Faktor kedua ialah perlakuan mikrobe antagonis (1) Gliocladium sp. 107 spora/ml, (2). Trichoderma sp. 107 sel/ml, (3) Fusarium a virulen 107 spora/ml dan, (4) kontrol (tanpa mikrobe antagonis). Hasil percobaan menunjukkan bahwa penggunaan mikrobe antagonis Gliocladium sp. dan klon resisten paling efektif mengendalikan penyakit busuk umbi Fusarium pada lili. Hal ini dibuktikan dari persentase tanaman layu pada perlakuan aplikasi mikrobe dan penggunaan tanaman resistant dibandingkan dengan tanpa perlakuan. Penanaman tanaman resisten diikuti dengan aplikasi Gliocladium paling efektif menekan layu Fusarium dibanding perlakuan lainnya. Katakunci: Lilium longiflorum; Pengendalian; Fusarium oxysporum f sp. lilii; Gliocladium sp.; Trichoderma sp.; Fusarium nonpatogenik; Tanaman resisten.

    2011 Nuryani, W., E. Silvia Yusuf, Hanudin, I Djatnika, dan B. Marwoto
    4 Preferensi Konsumen terhadap Anggrek Phalaenopsis, Vanda, dan Dendrobium

    Penelitian preferensi konsumen dapat membantu pemulia dalam menentukan arah dan tujuan penelitian pemuliaan terkait dengan pemenuhan kebutuhan konsumen terhadap varietas unggul baru yang akan dihasilkan. Tujuan penelitian ialah untuk mengidentifikasi preferensi konsumen terhadap anggrek Phalaenopsis, Vanda, dan Dendrobium. Survei dilakukan terhadap 21 responden Phalaenopsis dan 32 responden Vanda, serta uji preferensi konsumen (100 panelis) anggrek Phalaenopsis, Vanda, dan Dendrobium dalam peragaan di arena Pameran Hortikultura Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta pada Juli-November 2006. Hasil penelitian menunjukkan bahwa preferensi konsumen terhadap atribut kualitas anggrek Phalaenopsis, Vanda, dan Dendrobium ialah bunga berbentuk bulat, warna putih untuk Phalaenopsis dan Vanda, serta warna hijau untuk Dendrobium, diameter bunga berukuran sedang, motif bunga tidak berpola (polos), jumlah kuntum bunga sedang (10-15 kuntum), serta jumlah kuntum bunga yang mekar 70-80%. Selain itu ketahanan simpan bunga lebih dari 10 hari. Implikasi dari penelitian ini ialah bahwa untuk merakit varietasvarietas baru yang diinginkan konsumen, perlu memperhatikan atribut-atribut preferensi yang diinginkan konsumen, seperti bentuk, warna, diameter, motif, jumlah kuntum per tangkai, serta ketahanan simpan bunga yang lebih lama. Katakunci: Phalaenopsis; Vanda; Dendrobium; Preferensi konsumen.

    2011 Nurmalinda, S. Kartikaningrum, N. Q. Hayati, dan D. Widyastoety