Website-Resmi-Balai-Penelitian-Tanaman-Hias-Kementerian-Pertanian

  • JURNAL HORTIKULTURA NO. 21 VOL. 3
  • Jurnal Hortikultura No. 21 Vol. 3
    No. Judul Artikel Tahun Penulis Download
    1 Fenologi Rhododendron spp. (Subgenus Vireya) Koleksi Kebun Raya Eka Karya Bali

    Hingga saat ini belum banyak data hasil penelitian tentang fenologi Rhododendrom spp. Penelitian fenologi Rhododendrom spp. Sangat dibutuhkan untuk upaya pengembangan pemanfaatan koleksi. Studi fenologi Rhododendrom spp. (Subgenus Vireya) telah dilakukan di pembibitan Kebun Raya Eka Karya Bali dari bulan Januari 2008 sampai dengan Desember 2012. Penelitian bertujuan untuk mengetahui fenologi Rhododendrom spp. (Subgenus Vireya). Metode yang digunakan ialah model kelas/grading. Dari hasil pengamatan masa berbunga dan berbuah 14 jenis Rhododendrom spp. Yang dipelajari diketahui bahwa Rhododendrom dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu : (1). Rhododendrom yang berbunga pada bulan-bulan tertentu saja. (2) Rhododendrom yang berbunga sepanjang tahun, dan (3). Rhododendrom yang belum atau tidak berbunga. Faktor lingkungan seperti suhu dan kelembaban udara juga mempengaruhi jumlah jenis Rhododendrom yang dapat berbunga dan berubah. Bulan mei merupakan bulan di mana paling banyak jenis Rhododendrom yang berbunga, sedangkan untuk masa buah siap panen bervariasi tiap tahunnya. Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan jumlah koleksi Rhododendrom spp. Koleksi Kebun Raya Eka Karya Bali, dasar untuk penelitian kawin silang ( breeding ), dan pengolesian biji (seed bank). Kata Kunci : Rhododendrom; Kebun Raya Eka Bali; Masa berbunga; Masa berbuah.

    2011 Putri, D.MS
    2 Uji Efektivitas Bioinsektisida Berbahan Aktif Beauveria bassiana (Balsamo) Vuillemin terhadap Kutudaun Macrosiphoniela sanborni pada Krisan

    Kutudaun Macrosiphoniela sanborni merupakan salah satu hama penting yang menimbulkan kerugian yang cukup serius pada budidaya krisan. Untuk mengendalikannya petani biasa menggunakan pestisida kimia sintetis. Selain itu pengendalian hayati berpotensi dapat menekan hama. Beauveria bassiana merupakan agens pengendali hayati yang memiliki potensi besar untuk mengendalikan beberapa hama penting tanaman hias. Biorama 1, 2, dan 3 merupakan bioinsektisida berbahan aktif B. bassiana dengan kepadatan1010 konidia per g bahan pembawa dengan bahan pembawa yang berbeda (tepung jagung, sekam, dan talk) yang dibuat di Laboratorium Biokontrol, Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi). Bioinsektisida tersebut terbukti efektif mengendalikan trips pada tanaman krisan. Penelitian bertujuan mengetahui efektivitas bioinsektisida Biorama 1, 2, dan 3 dalam mengendalikan kutudaun krisan. Penelitian dilaksanakan di Rumah Plastik Balithi Segunung sejak bulan Juli hingga November 2008. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini ialah Dendranthema grandiflora kultivar Sakuntala. Perlakuan yang diuji yaitu Biorama 1 (1010 konidia/g tepung jagung), Biorama 2 (1010 konidia/g arang sekam), dan Biorama 3 (1010 konidia/g talk) masing-masing dengan konsentrasi aplikasi 5 g/l, suspensi B. bassiana dengan kepadatan 1010 konidia/ml, Natural BVR adalah bioinsektisida komersial berbahan aktif B. bassiana (1010 konidia/g bahan pembawa) dengan konsentrasi aplikasi 5 g/l sebagai kontrol positif dan air sebagai kontrol negatif. Penelitian disusun menggunakan rancangan acak kelompok terdiri atas enam perlakuan dan lima ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bioinsektisida Biorama 1, 2, dan 3 efektif mengendalikan kutudaun M. sanborni dan efektivitasnya tidak berbeda nyata dibandingkan dengan Natural BVR dan suspensi Beauveria. Perlakuan tersebut mampu menekan serangan M. sanborni, masing-masing dengan 68,58, 60,59, dan 54,37 % secara berurutan. Bioinsektisida memberikan pengaruh nyata terhadap mortalitas kutudaun. Biorama 1 dan 2 menunjukkan keefektifan yang paling tinggi (22,30 dan 24,20%) dalam menekan kerusakan bunga dibandingkan dengan perlakuan lain dan kontrol. Implikasi dari penelitian ini ialah Biorama memiliki potensi yang besar diaplikasikan sebagai pestisida hayati ramah lingkungan pada budidaya krisan. Katakunci: Macrosiphoniela sanborni; Beauveria bassiana; Dendranthema grandiflora; Formulasi; Bioinsektisida

    2011 1) Silvia Yusuf, E., 2) D. Sihombing, 2) W. Handayati, 1) W. Nuryani, dan 1) Saepuloh
    3 Pengawet untuk Menjaga Kualitas Bunga Potong Mawar Selama Penyimpanan

    Bunga mawar yang dikenal saat ini merupakan hibrida yang berasal dari hasil pemuliaan tanaman selama puluhan tahun. Bunga mawar yang beredar di floris dewasa ini mempunyai variasi bentuk dan warna bunga yang menakjubkan seolah-olah tidak ada habis-habisnya kebaruannya. Varietas mawar Pergiwati dan Pergiwa merupakan salah satu produk nasional yang mempunyai warna menawan, namun sebagai bunga potong daya tahan kesegarannya masih terbatas dan perlu upaya untuk meningkatkan kesegarannya, khususnya dengan penggunaan pengawet. Keuntungan dari larutan pengawet ialah dapat mempertahankan mutu dan memperpanjang kesegaran bunga potong. Penelitian dilakukan pada bulan September 2006 sampai dengan Januari 2007 di Laboratorium Fisiologi Hasil Balai Penelitian Tanaman Hias Pasarminggu. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan pengawet yang tepat dalam upaya mempertahankan masa kesegaran bunga mawar potong varietas baru yaitu Pergiwati dan Pergiwa. Penelitian menggunakan dua jenis larutan pengawet, yaitu 2,5% sukrose dengan dan tanpa 100 ppm asam benzoat. Suhu penyimpanan yaitu suhu ruang (27-31oC), 20-23oC, dan 5-10oC. Penelitian dilaksanakan menggunakan rancangan acak lengkap pola faktorial dengan lima ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan larutan 2,5% sucrose + 100 ppm asam benzoat pada bunga mawar Pergiwati mempunyai masa kesegaran bunga 28 hari bila disimpan pada suhu 5-10oC dengan persentase bunga mekar mencapai 100%. Implementasi hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan untuk mengatur suplai bunga potong ke pasar. Katakunci: Bunga mawar potong; Larutan pengawet; Suhu penyimpanan; Ketahanan segar.

    2011 1) Amiarsi, D. dan 2) R. Tejasarwana