Website-Resmi-Balai-Penelitian-Tanaman-Hias-Kementerian-Pertanian

  • JURNAL HORTIKULTURA NO. 19 VOL. 2
  • Jurnal Hortikultura No. 19 Vol. 2
    No. Judul Artikel Tahun Penulis Download
    1 Pendekatan Fenetik Taksonomi dalam Identifikasi Kekerabatan Spesies Anthurium

    Identifikasi kekerabatan Anthurium koleksi Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika dilakukan menggunakan pendekatan fenetik. Hasil identifikasi kekerabatan ini akan sangat bermanfaat dalam kegiatan pemuliaan Anthurium untuk menghasilkan varietas baru. Sumber data yang digunakan adalah parameter morfologi, organ vegetatif, organ reproduksi, dan polen. Penentuan hubungan kekerabatan Anthurium dilakukan mengikuti petunjuk Sokal dan Michener (1958). Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Pemuliaan Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika, Tlekung Batu dan Laboratoriurn Biologi Universitas Negeri Malang dari bulan Juni 2005 hingga Januari 2006. Dari hasil penelitian diperoleh ciri-ciri urnum dan khusus dari masing-masing spesies Anthurium yang selanjutnya ciri-ciri tersebut dianalisis dan disusun dalam bentuk matriks jumlah pasangan satuan taxonomi operasional (STO). Fenogram dibentuk dari perhitungan koefisien asosiasi matriks. Berdasarkan fenogram diperoleh 5 kelompok kekerabatan berturut-turut dari yang terdekat sampai yang terjauh. Spesies yang tergabung dalam kelompok pertama (A.ferriense dan A.macrolobim) dan kedua (A. amnicola Dressler. dan A. andraeanum Linden) termasuk berkerabat dekat di mana indeks kesamaannya masing-masing 65 dan 57,1%, Kelompok 3 (A. halmoreii Croat. dan A. jenmanii Engl.), dan kelompok 4 (A. crystallinum Linden & Andre dan A, andicola Liebm.) merupakan pasangan-pasangan yang berkerabat jauh, yaitu dengan indeks kesamaan 53,7 dan 47,8%. Kelompok kelima (A, superburn Madison dan A. correa Croat) merupakan pasangan yang berkerabat paling jauh dengan indeks kesamaan 32,8%. Lndeks kesamaan antara kelompok 1 dan kelompok 2 sebesar 29%, kelompok 3 dan kelompok 4 sebesar 26%, dan indeks kesamaan kelompok 5 terhadap keempat lainnya adalah sebesar 25,3 %. Katakunci: Anthurium sp.; Kekerabatan; Fenetik; Morfologi; Organ vegetatif; Organ reproduksi; Polen.

    2009 Martasari, C.1, A. Sugiyatno1, H.M.Yusuf’, dan D. L. Rahayu2
    2 Kultivar dan Formula Pupuk pada Pertumbuhan Bunga Potong Anthurium

    Bunga potong Anthurium (Anthurium andraeanum Lind.) mempunyai bentuk bunga yang khas seperti topi, terdiri dari spathe dan spadix dengan warna spathenya yang sangat beragam, dikenal mempunyai kesegaran bunga dalam vas yang lama. Penelitian bertujuan untuk memperoleh formula pupuk yang tepat dan kultivar yang baik untuk pertumbuhan dan produksi bunga potong Anthurium. Penelitian dilakukan di Rumah Sere Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi) dengan ketinggian 1.100 m dpl dari bulan Januari sampai Desember 2006. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok pola faktorial dengan 3 ulangan. Faktor pertama 2 kultivar, yaitu kultivar Tropical dan Avo Orange, sedangkan faktor kedua formula pupuk, yaitu (1) formula anthura sebagai kontrol, (2) formula Balithi 1, (3). formula Balithi 2, (4) formula Balithi 3, dan (5) formula Balithi 4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah klorofil, panjang dan diameter spadik, serta diameter tangkai bunga kultivar Tropical nilainya lebih besar dibandingkan kultivar Avo Orange, yaitu berturut-turut 63,96 unit; 5,81; 6,77 cm; dan 4,86 mm. Sedangkan kultivar Avo Orange lebih cepat inisiasi bunganya, tangkai bunga lebih panjang dengan produksi bunga lebih tinggi, yaitu masing-masing 45,19 hari, 46,27 cm, dan 19,13 tangkai/petak. Formula pupuk 4 menghasilkan tanaman dengan inisiasi bunga tercepat, yaitu 49,36 hari, sedangkan formula pupuk 3 menghasilkan bunga tinggi sebesar 18,0 tangkai/petak. Hasil penelitian memberikan informasi tentang adanya kultivar Anthurium yang produktif dan bermutu baik serta formula nutrisi yang mudah diperoleh. Katakunci: Anthurium andraeanum; Formula pupuk; Kultivar; Pertumbuhan; Produksi.

    2009 Tedjasarwana, R. dan S. Wuryaningsih
    3 Penekanan Hayati Penyakit Layu Fusariumpada Subang Gladiol

    Penelitian bertujuan untuk mengetahui dan mendapatkan agensia hayati terbaik dalam menekan intensitas serangan Fusarium oxysporum f.sp. gladioli in planta melalui perlakuan subang gladiol. Penelitian dilakukan di Rumah Kasa Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, dari bulan Agustus 2005 sampai Januari 2006. Antibiotika 2,4-diasetilfloroglusinol (Phl), Bacillus subtilis, serta Trichoderma harzianum isolat jahe dan ginseng digunakan dalam penelitian ini, dengan kontrol fungisida benomil dan air hangat. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok dengan 8 perlakuan dan 4 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa antagonis yang paling baik dalam menekan penyakit layu Fusarium in planta adalah T. harzianum isolat jahe dengan masa inkubasi, intensitas penyakit, dan jumlah populasi, masing-masing sebesar 64,13 HSI, 15,55%, dan 20 upk/g tanah atau berpotensi menurunkan intensitas penyakit 83,34%. Selain itu, T. harzianum isolat jahe paling baik memengaruhi tinggi tanaman, jumlah daun, bobot basah subang dan akar, bobot basah batang dan daun, bobot kering batang dan daun, masing-masing 111,950 cm, 6,625 helai, 31,963 g, 39,338g, dan 6,075g. Panjang tangkai bunga dan jumlah floret per tangkai bunga paling baik ditunjukkan oleh perlakuan antibiotika Phl, yaitu masing-masing 83,33 cm dan 6,13 floret per tangkai bunga. Katakunci: Gladiolus hybridus; Subang; Fusarium oxysporum f.sp. gladioli; Trichoderma harzianum isolat jahe; Penekanan hayati; Antibiotika 2,4-diasetilfloroglusinol.

    2009 Wardhana, D.W., L. Soesanto, dan D.S. Utami
    4 Sumber Inokulum, Respons Varietas, dan Efektivitas Fungisida terhadap Penyakit Karat Putih pada Tanaman Krisan

    Penelitian untuk mengetahui peranan bibit sebagai sumber inokulum, respons varietas krisan, serta interval penyemprotan fungisida dilakukan di Balai Penelitian Tanaman Hias. Survai kesehatan bibit dilakukan di lahan petani penghasil bibit krisan pada bulan Juli 2002. Penelitian di rumah plastik untuk mengetahui respons varietas krisan serta efektivitas penyemprotan fungisida, dilakukan dari bulan Juli-September 2002. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bibit merupakan sumber inokulum bagi penyakit karat pada tanaman krisan. Pada tanaman individual, baik di rumah plastik maupun rumah kaca, perkembangan penyakit karat tertekan. Kultivar Phuma White relatif lebih tahan dibanding cv. Reagent Ungu dan cv. Town Talk. Fungisida benomil (benzimidazol) belum menunjukkan keefektifan untuk pengendalian penyakit karat pada tanaman krisan (Puccinia horiana). Katakunci: Dendranthema grandiflora; Penyakit karat putih; Puccinia horiana; Sumber inokulum; Resistensi varietas; Efikasi fungisida.

    2009 Suhardi
    5 Adaptasi Agronomis dan Kelayakan Finansial Usahatani Krisan di Daerah Yogyakarta

    Krisan merupakan salah satu tanaman hias yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan sangat populer di kalangan masyarakat Yogyakarta. Akan tetapi kebutuhan bunga potong ini, di Yogyakarta, justru didatangkan dari luar daerah, seperti Bandungan (Jawa Tengah) dan Batu, Malang (Jawa Timur). Pengkajian yang dilakukan BPTP Yogyakarta sejak Juli 2005 sampai Februari 2007 di Dusun Wonokerso, Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem,Kabupaten Sleman, ditujukan untuk membuktikan bahwa tanaman krisan dapat beradaptasi dan dibudidayakan dengan baik di Daerah Istimewa Yogyakarta. Berbagai varietas bunga krisan dapat tumbuh subur dan terbukti budidaya tanaman hias ini dapat meningkatkan kesejahteraan petani. Analisis ekonomi usahatani budidaya bunga krisan menunjukkan B/C rasio = 1,05 dan R/C rasio = 2,05 pada tahun 2005. Dengan meningkatnya pengalaman petani maka B/C rasio dan R/C rasio berturut-turut menjadi 1,47 dan 2,47 pada tahun 2006, dan kemudian lebih meningkat lagi pada awal tahun 2007 dengan B/C rasio= 2,12 dan R/C rasio= 3,12. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa budidaya tanaman bunga potong krisan sangat menguntungkan dan layak untuk dikembangkan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Katakunci: Dendranthema grandiflora; Bunga potong; Adaptasi; Analisis ekonomi.

    2009 Masyhudi, M.F.1) dan Suhardi2)