Website-Resmi-Balai-Penelitian-Tanaman-Hias-Kementerian-Pertanian

  • JURNAL HORTIKULTURA NO. 18 VOL. 3
  • Jurnal Hortikultura No. 18 Vol. 3
    No. Judul Artikel Tahun Penulis Download
    1 Seleksi Ketahanan Klon-klon HarapanKrisan terhadap Penyakit Karat

    Sifat ketahanan terhadap penyakit merupakan salah satu kriteria dalam seleksi progeni hasil persilangan untuk pelepasan varietas baru krisan. Untuk mendapatkan klon-klon unggul krisan tahan karat, sejumlah progeni telah dievaluasi ketahanannya. Penelitian dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Hias (1.100 m dpl) dari bulan Oktober 2002 hingga September 2003 untuk mengevaluasi 13 aksesi yang terdiri dari 12 klon krisan, yaitu nomor 151.13, 159.79, 162.7, 164.28, 164.37, 164.64, 164.82, 164.88, 164.97, 164.102, 164.156,165.12, dan 1 varietas kontrol (cv. White Reagent) terhadap penyakit karat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa awal terjadinya gejala dan insidensi penyakit bervariasi pada klon-klon yang dicoba. Berdasarkan kriteria tingkat ketahanan, terdapat 2 klon, yaitu No.151.13 dan 164.64, dikategorikan sangat tahan terhadap penyakit karat. Selain itu terdapat 2 klon yang termasuk kriteria tahan dan 7 klon yang dikategorikan agak tahan. Sedangkan cv. White Reagent dan klon No. 164.37 termasuk dalam kategori agak rentan terhadap penyakit karat. Kata kunci: Dendranthema grandiflora; Ketahanan; Penyakit karat; Puccinia horiana.

    2008 Budiarto, K., I. B. Rahardjo, dan Suhardi
    2 Pengaruh KNO3 dan (NH4)2SO4 terhadap Pertumbuhan Bibit Anggrek Vanda

    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh sumber nitrogen antara KNO3 dan (NH4)2SO4 terhadap pertumbuhan bibit anggrek Vanda. Unsur N diperlukan untuk pertumbuhan vegetatif. Penelitian dilaksanakan di Rumah Sere Balai Penelitian Tanaman Hias di Pasarminggu, mulai bulan November 2006 sampai dengan Mei 2007. Bahan penelitian yang digunakan adalah bibit anggrek Vanda dengan ukuran tinggi 3 cm dan jumlah daun 5 helai. Media tumbuh yang digunakan adalah arang dan sabut kelapa. Metodologi penelitian yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan 7 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah 0 (kontrol), 0,4%, 0,5%, dan 0,6% KNO3, 0,4%, 0,5%, dan 0,6% (NH4)2SO4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan KNO3 0,5% memperlihatkan pertumbuhan tinggi bibit, panjang daun, lebar daun, luas daun, jumlah daun, dan jumlah akar paling baik dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Penggunaan KNO3 sebagai sumber nitrogen lebih baik bila dibandingkan dengan (NH4)2SO4 pada pertumbuhan anggrek Vanda. Katakunci: Anggrek; Vanda; Benih; KNO3; (NH4)2SO4.

    2008 Widiastoety, D.
    3 Insidensi dan Intensitas Serangan Penyakit Karat Putih pada Beberapa Klon Krisan

    Penyakit karat putih adalah salah satu kendala dalam meningkatkan produksi bunga krisan. Penyakit karat putih pada tanaman krisan disebabkan oleh cendawan Puccinia horiana. Salah satu alternatif pengendalian adalah menggunakan varietas resisten. Tujuan penelitian adalah mengetahui insidensi dan intensitas penyakit karat putih pada klon-klon krisan. Penelitian dilakukan di Rumah Plastik Balai Penelitian Tanaman Hias di Segunung (1.100 m dpl.), sejak bulan September 2002 sampai Februari 2003. Pada penelitian ini dievaluasi sebanyak 13 klon harapan krisan hasil seleksi tahun 2000. Perlakuan terdiri 13 klon harapan krisan yaitu klon nomor 116.44, 116.53, 116.57, 125.14, 130.8, 131.1, 133.59, 133.7, 133.95, 135.6, 136.1, 136.11, 150.4, var. Saraswati, dan var. White Reagent, menggunakan rancangan acak kelompok dengan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa klon nomor 136.10 adalah klon yang memiliki sifat baik, paling lambat terinfeksi penyakit karat (133 HST), pada 15 MST paling rendah insiden penyakitnya (12,67%). Intensitas serangan kedua terendah (5,08%) setelah klon nomor 133.95 (4,6%), dan intensitas penyakit waktu panen juga rendah (4,44%). Katakunci: Dendranthema grandiflora;, Puccinia horiana; Insidensi penyakit; Intensitas penyakit.

    2008 Rahardjo, I.B. dan Suhardi
    4 Uji Kepekaan Antiserum Poliklonal untuk Deteksi Cepat CMV dengan Metode ELISA Tidak Langsung pada Tanaman Anthurium

    Virus mosaik ketimun (CMV) merupakan salah satu patogen penting pada berbagai tanaman hortikultura, termasuk tanaman anthurium. Untuk mengetahui secara dini infeksi virus pada tanaman, maka perlu dikembangkan metode deteksi cepat. Salah satu metode serologi yang paling banyak digunakan dewasa ini untuk deteksi virus secara cepat adalah ELISA. Penelitian ini bertujuan mengetahui konsentrasi optimal dari antiserum CMV untuk deteksi cepat pada tanaman anthurium. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Virologi, Balai Penelitian Tanaman Hias, Segunung (1.100 m dpl.), dari bulan April sampai Juli 2005. Antiserum diproduksi dengan cara penyuntikan virus murni CMV secara bertahap pada kelinci dengan konsentrasi setiap penyuntikan sebesar 1 mg/ml yang dilakukan pada penelitian sebelumnya. Konsentrasi antiserum diukur dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 280 nm. Pengujian kepekaan antiserum terhadap antigen dilakukan dengan metode ELISA tidak langsung. Hasil pengujian menunjukkan konsentrasi antiserum CMV dan pengenceran sampel yang optimal untuk deteksi CMV pada tanaman anthurium yang terinfeksi adalah masing-masing sebesar 1/1.000 dan 1/5, 1/1.000 dan 1/10. Katakunci: Anthurium sp.; Cucumber mosaic virus; Antiserum poliklonal; ELISA tidak langsung; Sensitivitas antiserum.

    2008 Rahardjo I.B., E. Diningsih, dan Y. Sulyo
    5 Tingkat Efisiensi Usahatani Bunga Potong Mawar dalam Pengembangan Agribisnis di Indonesia

    Penelitian efisiensi usahatani bunga potong mawar telah dilakukan di Kecamatan Parompong (Lembang) dan Kecamatan Cipanas (Cianjur) Jawa Barat dari bulan Juli-Desember 2003. Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi potensi dan kelemahan dari sistem budidaya bunga potong mawar dengan dan tanpa naungan dan mencari alternatif perbaikan yang dapat meningkatkan efisiensi dan pendapatan petani. Data primer diperoleh melalui wawancara terstruktur dengan petani dan pedagang. Analisis data kualitatif dilakukan secara deskriptif, sedangkan analisis biaya dan pendapatan dilakukan dengan metode analisis finansial statik. Analisis kekuatan dan kelemahan dari sistem usahatani yang ada menghasilkan alternatif pengembangan usahatani bunga potong mawar. Permasalahan utama usahatani bunga potong mawar adalah kurang efisiennya penggunaan pestisida, tenaga kerja intensif, dan biaya pemasaran tinggi. Produktivitas bunga potong mawar di tingkat petani hanya berkisar (2-10) tangkai/m2, sedangkan potensinya dapat 18 tangkai/m2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usahatani bunga potong mawar cukup menguntungkan dengan rerata pendapatan bersih petani dengan sistem naungan sebesar Rp. 125 juta/ha, sedangkan tanpa naungan menghasilkan Rp. 109 juta/ha. Kenyataan menunjukkan bahwa kedua tingkat efisiensi usahatani kedua sistem budidaya relatif masih rendah, yaitu B/C = 0,90 (sistem naungan) dan B/C = 0,91 (sistem tanpa naungan). Kesimpulan menunjukkan bahwa pada usahatani dengan dan tanpa sistem naungan, efisiensi perlu ditingkatkan terutama untuk menekan biaya penggunaan pestisida, tenaga kerja, irigasi, dan biaya pemasaran. Pada sistem naungan, biaya konstruksi naungan dan kebergantungan bibit impor juga perlu diperhatikan. Secara umum dapat dikatakan bahwa usahatani bunga potong mawar yang efisien dan menguntungkan memenuhi kriteria produksi dan frekuensi panen tinggi, produk berkualitas dengan nilai tinggi sesuai permintaan pasar, banyak alternatif varietas, biaya produksi rendah, dan serangan hama/penyakit rendah. Katakunci: Bunga potong mawar; Sistem naungan; Efisiensi usahatani; Pengembangan usahatani.

    2008 Supriadi, H.1, Nurmalinda2, dan H. Ridwan3