Website-Resmi-Balai-Penelitian-Tanaman-Hias-Kementerian-Pertanian

  • JURNAL HORTIKULTURA NO. 15 VOL. 1
  • Jurnal Hortikultura No. 15 Vol. 1
    No. Judul Artikel Tahun Penulis Download
    1 Perbanyakan Anyelir Secara In Vitro Melalui Induksi Pembentukan Tunas Adventif

    Perbanyakan anyelir secara in vitro melalui induksi pembentukan tunas adventif sangat potensial untuk produksi masal bahan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan teknik perbanyakan secara in vitro yang sesuai untuk D.caryophyllus L.cv. Maldives melaui pembentukan tunas adventif, penggandaan tunas, pengakaran, dan aklimatisasinya. Penelitian dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan, dan rumahkaca IPPT,UPM, Malaysia dari bulan Mei 2000 hingga November 2001. tiga jenis eksplan (daun muda pertama, kedua dan internodus muda) dan media MS dengan lima konsentrasi BA dan NAA yang berbeda (2,0 mg/l+0,9 mg/l, 0,9mg/l+ 0,3mg/l,3,0mg/l+0,9mg/l, 0,1mg/l BA+ 0,1mg/l, dan0,1mg/l+0,01 mg/l) diseleksi, diikuti dengan perbanyakan tunas pada media terseleksi, pengakaran dan diaklimatisasi pada media yang berbeda. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok pola faktorial dengan empat ulangan. Hasil penelitian menunjukan bahwa daun muda pertama yang berkembang penuh dan media MS yang mengandung 0,1mg/l BA dan 0,01mg/l NAA merupakan eksplan dan konsentrasi hormon yang sesuai untuk induksi pembentukan tunas adventif. Konsentrasi tersebut juga sesuai untuk mempersiapkan tunas yang diakarkan. Tunas mudah diakarkan pada media setengan MS. Plantlet mudah diaklimatisasikan pada media campuran antara humus dan arang sekam (1;1v/v) dengan ketahanan hidup hingga 100%.Media tersebut juga menghasilkan plantlet yang vigor dan tumbuh cepat. Abnormalitas tanaman adalah 6% dari total plantlet yang diaktiklimatisasikan. Tanaman berbunga pada 4,5 hingga 5 bulan setelah aklimatisasi. Hasil studi ini diharapkan dapat digunakan sebagai salah satu acuan dalam perbanyakan masal anyelir melalui induksi tunas adventif Kata kunci: Dianthus caryophillus; Perbanyakan in vitro; Induksi tunas adventif

    2005 Winarto,B.,M.A.Aziz A.A.Rashid, dan M.R. Ismail download
    2 Perbedaan Botol Kultur terhadap Pertumbuhan Eksplan Anyelir Hiperhidrisitas

    Hiperhidrisitas merupakan masalah penting dalam kultur jaringan anyelir. Kegagalan dalam mengatasi masalah ini akan mempengaruhi keberhasilan aklimatisasi. Planlet yang dihasilkan sulit diaklimatisasi, planlet mudah layu, dan mati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan botol kultur yang berbeda jenis dan ukurannya dalam mengatasi hiperhidrisitas. Percobaan dilakukan dilaboratorium Kultur Jaringan IPPT, fakultas pertanian, Universitas Putra Malaysia dari bulan Juni hingga Nopember 2002. Enam jenis botol kultur yang berbeda ukuran yang digunakan dalam percobaan ini adalah tabung, erlenmeyer 100,150, 250, 500 ml, dan tabung GA7.Percobaan disusun menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat ulangan. Hasil penelitian menunjukan bahwa tabung kultur merupakan botol kultur yang paling sesuai untuk menumbuhkan eksplan hiperhidrisitas kembali ke pertumbuhan yang lebih normal. Pertumbuhan normal eksplan hiperhidrisitas yang dikultur dalam botol tersebut ditunjukan melalui persentase hiperhidrisitas terendah (42%), kandungan klorofil yang tertinggi (0,1377 mg/mg) kandungan air terendah (89%), dan bobot kering biomasa tertinggi (11%) dengan kualitas tunas yang lebih baik dibandingkan perlakuan yang lain. Kata kunci; Anyelir; Hiperhidrisitas;Botol kultur.

    2005 Winarto, B download
    3 Pengaruh ph Media terhadap Pertumbuhan Plantlet Anggrek dendrubium

    Media sangat berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman anggrek. Media dasar yang umum digunakan dalam kultur jaringan adalah yang mengandung unsur hara makro dan mikro, sukrosa, vitamin, asam Amino, zat pengatur tumbuh dan persenyawaan organik lainnya. Penyerapan bahan-bahan yang terdapat dalam media tersebut ke dalam sel tanaman dipengaruhi oleh konsentrasi dan pH media. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kisaran pH media pada pertumbuhan plantlet anggrek denrobium. Metodologi yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan delapan perlakuan pH dan empat ulangan. Tingkat pH yang diteliti adalah 4,6; 4,8; 5,0; 5,2; 5,4; 5,6; 5,8; dan 6,0. Hasil penelitian menunjukan bahwa kisaran pH terbaik terhadap pada kisaran 4,8-5,2 untuk pertumbuhan tinggi palntlet, luas daun, jumlah daun, jumlah tunas anakan, panjang akar, dan jumlah akar. Aplikasi dari penelitin ini dapat meningkatkan pertumbuhan plantlet anggrek dendrobium. Kata kunci; Anggrek;Dendrobium; pH;Media; Plantlet.

    2005 Widiastoety, D., S.Kartikaningrum, dan Purbadi download
    4 Seleksi Ketahanan Klon-Klon harapan Gladiol terhadap Fusarium oxysporum f.sp.gladiol

    Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan klon harapan gladiol yang tahan terhadap layu fusarium. Rnacangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok pola faktorial. Faktor (1) klon-klon harapan gladiol, terdiri dari 96212/168, 96210.2/20; 96215/49; 96203.2/14; 96215/202; 96215/122; 96204/69; 96213/109; 96210.1/170; holland merah; dan 621-1. faktor (2). Kerapatan inokulum F.oxysporum, terdiri dari 0 sel konidia/g tanah; 104 sel konidia/g tanah; 108 sel konidia/tanah. Hasil percobaan menunjukan bahwa gladiol dengan nomor klon 96215/49; 623-1 dan 96213/109 merupakanklon harapan gladiol yang paling tahan terhadap layu F.oxysporum f.sp. dan klon 9612/168 merupakan klon yang paling rentan. Kata kunci : Gladiolus hybridus; Klon; Fusarium oxysporum f.sp. gladioli; Resistensi.

    2005 Nuryani,W., D.S.Badriah, T.Sutater, E.Silvia, dan Muhidin. download