Website-Resmi-Balai-Penelitian-Tanaman-Hias-Kementerian-Pertanian

  • JURNAL HORTIKULTURA NO. 14 EDISI KHUSUS
  • Jurnal Hortikultura No. 14 Edisi Khusus
    No. Judul Artikel Tahun Penulis Download
    1 Hibridisasi Krisan dan karakterisasi Tanaman F1 yang Novel

    Penyediaan varietas baru krisan yang novel secara periodic sangat penting untuk mengimbangi preferensi konsumen.penelitian ini berlangsung dari bulan januari 2000 sampai Februari 2002, dengan tujuan untuk mendapatkan klon-klon harapan krisan dengan bunga novel dan memiliki ketahanan yang tinggi terhadap penyakit karat. Dalam Penelitian ini, 54 dari 100 persilangan antar varietas terpilih, telah menghasilkan populasi biji F1, 16 tanaman F1 telah terseleksi sebagai kandidat varietas unggul baru dengan warna bunga novel, dan 1 diantaranya imun terhadap penyakit karat. Persentasi keberhasilan persilangan berkisar 2,8-64,1%. Bergantung pada kombinasi persilangan, Persentasi keberhasilan tertinggi terjadi antara persilangan town talk x saraswati dan saraswati x candra kirana. Jumlah biji yang dihasilkan bervariasi antar kombinasi persilangan. Jumlah biji F1 terbanyak dihasilkan dari persilangan town talk x sekartaji, diikuti oleh persilangan purbasari x candra kirana dan stroika x sekartaji. Diantara tetua betina yang digunakan, varietas kartini dan reagen putih merupakan yang digunakan, varietas kartini dan reagen putih merupakan penghasil biji F1 paling produktif.

    2004 Sanjaya,L, B.Marwoto dan K.Yuniarto download
    2 Hibridisasi Anyelir dan Karakterisasi Tanaman F1 yang Novel

    Profil komoditas Tanaman hias mirip dunia fashion, sehingga penyediaan varietas unggul anyelir merupakan hal yang penting untuk mengimbangi preferensi konsumen. Pemuliaan anyelir yang novel dan tahan terhadap penyakit layu telah dilaksanakan Instalasi Penelitian Tanaman Hias Cipanas menggunakan kultivar-kultivar modern sebagai tetua persilangan selama bulan Januari 2000 hingga Pebruari 2002. Sebanyak 33 persilangan telah dilakukan dari tetua betina tipe standard ( domingo dan aicardy) sereta tetua jantan tipe spray (kelompok no.17, 23, dan 49) yang menghasilkan 954 biji F1, biji tersebut dihasilkan oleh 114 bunga dari 447 bunga yang disilangkan. Sebanyak 333 bunga yang dipolinisasi ternyata tidak menghasikan biji F1. Seleksi Tanaman F1 yang ditumbuhkan dari biji diperoleh 15 klon terpilih yang selanjutnya dikarakterisasi. 4 dari 15 klon tersebut berbunga tipe spray dan sisanya tipe standar. Semua klon terpilih sangat potensial untuk keperluan komersial dengan karakter moderat tahan terhadap penyakit layu fusarium.

    2004 Sanjaya L, B. Marwoto dan M.Dewanti download
    3 Keragaan Hasil dan Kualitas Bunga Klon-Klon Mawar Potong

    Mawar( rose hybrida ) merupakan salah satu bunga potong yang banyak diminati masyarakat dan permintaannya sangat dipengaruhi oleh selera konsumen. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Cipanas dengan tinggi 1.100 m dpl, berlangsung dari bulan Januari sampai dengan Desember 2001.Tujuan Penelitian ini ialah untuk mengetahui hasil dan kualitas bunga klon-klon mawar potong. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok,dengan tiga ulangan. Klon-klon mawar bunga potong yang di gunakan yaitu NI.97.029-82, NI.97.029-51, NI.97.032-9,NI.97.025-14, NI.97.026-13, NI.97.002-1, NI.97.007-6, NI. 97.028-15,NI.97.004-1, NI.97.027-71, dan tineke (pembanding). Hasil Penelitian menunjukan bahwa dari sepuluh klon yang di uji diperoleh empat klon (NI. 97.032-9, NI.97.025-14,NI.97.002-1, dan NI.97.027-71) yang memenuhiharapan, mempunyai tangkai bunga kelas super-ekstra super (>60 cm) berbunga ganda dengan jumlah petalum> 20 helai, berbunga besar (diameter bunga >9,5 cm) dan intensitas serangan embun tepung 2,7-6,0% Panjang tangkai dan diameter bunga keempat klon tersebut tidak berbeda dengan pembanding. Kata kunci ; Rose hybrida; Klon; hasil; kualitas; mawar potong.

    2004 Darliah, W.Handayati, Maryam ABN., dan D.Kurniasih download
    4 Pengaruh Ukuran Umbi dan Umur Simpan Bibit terhadap Produktivitas Tanaman Sedap Malam

    Tanaman Sedap Malam secara Komersial diperbanyak dengan umbi. Ukuran umbi dan umur simpan menentukan pertumbuhan, inisiasi bunga, produktivitas, dan kualitas bunga. Tujuan Penelitian adalah mendapatkan informasi produktivitas bunga sedap malam menurut ukuran umbi dan umur simpan bibit. Percobaan lapang diselenggarakan di sentra produksi bunga sedap malam di Cianjur (600 m dpl) dari bulan Juni 2002 sampai Mei 2003. Petak-petak percobaan disusun menurut rancangan petak terpisah dengan tiga ulangan. Ukuran umbi bibit digunakan sebagai petak utama yaitu >0,5-1,5 cm, >1,5-2,5 cm, dan >2,5-3,5 cm. Sedangkan umur simpan umbi digunakan sebagai anak petak meliputi empat tingkatan, yaitu 0,1,2, dan 3 bulan setelah panen umbi.Bibit ditanam dengan jarak 20x25 cm dalam bedengan ukuran 1,25 x 2,0 m. Hasil Penelitian menunjukan bahwa ukuran ukuran umbi bibit besar,>2,5-3,5 cm,memberikan hasil bunga tinggi, 58,5 tangkai/ petak atau 23,4 tangkai/ m2. Ukuran umbi bibit kecil >0,5-1,5 cm memberikan tangkai bunga terpanjang, 70,36 cm, diameter tangkai bunga terlebar 10,64 mm, malai bunga terpanjang 42,0 cm, diameter malai bunga terlebar 3,42 cm, diameter bunga mekar terlebar 4,89 cm, dan jumlah kuntum terbanyak sebesar 60,43 kuntum/malai, umur simpan umbi 2 bulan memberikan hasil bunga terbanyak 58,22 tangkai/petak atau 23,29 tangkai/m2, umur simpan umbi 2 bulan memberikan diameter malai terlebar 3,37 cm. Penelitian ini berguna bagi petani untuk memilih ukuran umbi dan umur simpan bibit yang sesuai dengan potensi hasil bunga dan kualitas yang diinginkan. Kata kunci; Polianthes tuberrosa; Ukuran Umbi; Umur simpan; produktivitas bunga.

    2004 Tejasarwana,R .A.Wasito, dan W. Prasetio. download
    5 Hasil Bunga Mawar Potong pada Tiga Formula Nutrisi Cair

    Budidaya Mawar potong dengan teknologi tinggi memerlukan penggunaan kultivar unggul dan formula pupuk cair yang tepat. Tujuan percobaan ini adalh mendapat formula hara yang tepa t untuk memperoleh hasil mawar sebagai bunga potong berkualitas super. Percobaan dilaksanakan di kebun percobaan Segunung, Balai Penelitian Tanaman Hias, di ketinggian 1.100 dpl, pada musim tanam 2002-2003. Petak-petak percobaan disusun menurut rancangan petak terpisah dengan ulangan tiga kali. Media tanam menggunakan tanah dicampur pupuk kandang dan kompos daun bamboo dengan perbandingan volume 4:1:1. Petak utama adalah empat kultivar mawar introduksi yaitu first red, black magic, akito, dan grand gala. Tiga formula hara cair digunakan sebagai anak petak yaitu joro sebagai formula hara komersial, formula cipanas A1 dan formula cipanas A2 Hasil.percobaan menunjukanbahwa varietas black magic dan grand gala memiliki keunggulan penampilan terbaik. Kultivar black magic memiliki keunggulan penampilan dibandingkan varietas lainnya. Keuanggulan tersebut meliputi panjang tangkai bunga, diameter tangkai bunga, bobot bunga segar, diameter bunga kuncup, diameter bunga mekar dan jumlah duri. Kultivar akito mempunyai potensi produksi bunga potong tertinggi sebesar 109,3 tangkai bunga/m2. Formula nutrisi cipanas A1 memiliki keunggulan dalm diameter bunga mekar tertinggi, sedangkan cipanas A2 memiliki keunggulan untuk diameter bunga kuncup dan jumlah petal/kuntum tertinggi. Oleh karena itu formula cipanas A1 dan Cipanas A2 dapat digunakan sebagai alternative pengganti formula pupuk komersial. Hasil Penelitian menginformasikan tentang adanya kultivar mawar potong yang produktif, berkualitas dan formula nutrisi yang mudah di peroleh. Kata kunci ; Rosa hybrida; Kultivar; Bunga potong; Hasil; Formula; Nutrisi cair.

    2004 Tejasarwana,R., P.K.Utami, dan B.Ginting download
    6 Penampilan Empat Kultivar Mawar Potong pada Media Tanam Organik dalam Kultur Agregat Hidroponik

    Media tanamkultur agregat hidroponik pada Tanaman mawar adalah rockwool. Media tanam alternative yang berasal dari limbah pertanian diperlukan karena rockwool mahal.Tujuan Penelitian ini adalah mendapatkan informasi tentang media tanam alternative untuk kultur agregat hidroponik Tanaman mawar potong. Percobaan dilaksanakan dikebun percobaan Balai Penelitian Tanaman Hias Segunung dengan ketinggian 1.100 m dpl, pada April 2001-2002.Percobaan disusun menurut rancangan petak terpisah dengan tiga ulangan. Perlakuan petak utama kultivar mawar yaitu, first red, grand gala, balck magic, dan chery brandy. Sedangkan perlakuan anak petak adalah media tanam rockwool, arang sekam dan serat sabut kelapa. Hasil percobaan menunjukan bahwa tidak terjadi interaksi yang berbeda nyata antara kultivar mawar dan media tanam terhadap seluruh peubah yang diamati.Chery brandy dan black magic memberikan hasil bunga yang terbanyak 38,8-32,1 tangkai/petak atau rataan 2,88-3,21 tangkai/Tanaman selama 6 bulan dan panjang tangkai bunga antara 76,8-81,8 cm. Media tanam rockwool dan arang sekam memberikan panjang tangkai bunga terpanjang antara 73,4-80,39 cm, diameter tangkai bunga terlebar 6,53-7,29mm, diameter bunga mekar terlebar75,58-80,39 mm dan bobot bunga/tangkai tertinggi 36,73-46,73 g. hasil bunga terbanyak diperoleh media tanam rockwool sebesar 39,8 tangkai/petak atau empat tangkai/petak atau empat tangkai/Tanaman selama 6 bulan. Arang sekam dapat digunakan sebagai media tanam alternative pada budidaya mawar kultur agregat hidroponik. Kata kunci; Rosa hybrida; Kultivar; Media Tanam;Kultur agregat;Hidroponik; Hasil; Kualitas.

    2004 Tejasarwana,R. S.Wuryaningsih, J.Prasetya, dan P.K. Utami download
    7 Hasil dan Kualitas Mawar pada Dua Formula Nutrisi Cair dan Frekuensi Pemberian

    Frekuensi pemberian nutrisi cair dan formula hara mempengaruhi hasil bunga kultivar mawar, baik kualitas maupun kuantitas. Tujuan percobaan untuk mengetahui hasil terbaik aplikasi formula nutrisi cair dan frekuensinya pada dua kultivar mawar. Percobaan rancangan petak-petak terpisah dengan tiga ulangan telah dilaksanakan mulai bulan April 2001 hingga Pebruari 2002 di Rumah plastic Kebun Percobaan Segunung, Balali Penelitian Tanaman Hias, terletak 1.100 m dpl. Perlakuan frekuensi pemberian nutrisi cair sebagai petak utama.Kultivar mawar sebagai anak petak, sedangkan formula hara digunakan sebagai anak-anak petak yang terdiri atas formula komersial dan formula cipanas A1.Hasil percobaan menunjukan tidak ada pengaruh interaksi yang nyata antara frekuensi pemberian nutrisi cair, kultivar mawar dan formula hara terhadap seluruh peubah yang diamati. Frekuensi pemberian nutrisi dua kali/minggu lebih baik daripada satu kali/minggu dan hasil bunga dan bobot bunga segar lebih tinggi.Kualitas bunga (panjang tangkai,diameter tangkai, diameter bunga kuncup dan diameter bunga mekar) juga lebih baik. Kultivar black magic memberikan hasil bunga 51 tangkai/m2 dan bobot bunga segar 33,24 g/tangkai yang cenderung lebih tinggi dibandingkan grand gala. Formula nutrisi cipanas A1 lebih baik dari formula nutrisi komersial. Hasil Penelitian memberi informasi tentang frekuensi yang lebih baik dari formula nutrisi yang diberikan pada kultivar mawar. Kata kunci; Rosa hybrida; Kultivar;Formula nutrisi;frekuensi aplikasi Hasil; Kualitas.

    2004 Tejasarwana,R. S.Andyantoro, dan P.K.Utami download
    8 Media Tumbuh, Kultivar dan Daya Hantar Listrik Pupuk untuk Bunga Anthurium Potong

    Banyak bahan yang terdapat disekitar kita yang dapat dimanfaatkan sebagai media tumbuh seperti sabut kelapa, baik seratnya maupun serbuknya. Taraf daya hantar listrik pupk dalam media tumbuh dipengaruhi oleh beberapa factor, antara lain jenis media dan Tanaman yang digunakan. Penellitian ini dilakukan dengan tujuan memperoleh media tumbuh dan taraf daya hantar listrik untuk pertumbuhan bunga anthurium potong dengan bahan yang mudah didapat, murah dan ramah lingkungan. Penelitian dilaksanakan di Rumahkaca/plastic sejak bulan Mei 2000-Februari 2001.Rancangan percobaan menggunkan acak kelompok berpola factorial dan tiga ulangan. Faktor pertama dua macam media (1) serbuk sabut kelapa+zeolit dan (2) serbuk sabut kelapa +serat sabut kelapa+zeolit (serat sabut kelapa sebagai penutup media), factor kedua tiga kultivar bunga anthurium potong (tropical, yose, dan fantasia), factor ketiga yaitu 3 taraf EC yang dikendalikan oleh pemberian pupuk lengkap. Hasil Penelitian menunjukan bahwa media serbuk sabut kelapa + zeolit menghasilkan daun, tinggi Tanaman, ukuran daun, jumlah bunga dan bobot Tanaman tidak berbeda nyata dengan media serbuk sabut kelapa + serat sabut kelapa + zeolit. Kultivar tropical mempunyai jumlah daun, tinggi,bunga dan bobot Tanaman tertinggi. Penambahan bobot tanaman kultivar tropical 10,76 kali, selanjutnya diikuti fantasia dan yose, yaitu masing-masing 8,25 dan 7,69 kali. Pemberian pupk dengan daya hantar listrik 1,0 dapat meningkatkan jumlah bunga 2,69 kali dibandingkan control. Hasil Penelitian ini merupakan salah satu usaha untuk memanfaatkan bahan yang ramah lingkungan dan mudah didapat. Kata kunci : Anthurium andreanum; Kultivar Media tumbuh:Daya hantar listrik: Pertumbuhan; Hasil.

    2004 Wuryaningsih,S., S. Andyantoro, dan A. Abdurahman.
    9 Peran Giberelin, Pupuk, dan Paklobutrazol pada Pembesaran Subang Gladiol Asal Biji

    Waktu antara terbentuknya biji sampai menghasilkan subang yang mampu berbunga sebagai salah satu tahapan seleksi bunga gladiol membutuhkan 2-4 tahun. Hal ini disebabkan oleh subang yang terbentuk dari biji terlalu kecil. Sedangkan untuk menghasilkan bunga dengan kualitas yang baik ukuran subang bibit yang digunakan sebaiknya berdiameter lebih dari 3 cm atau minimum 2,5 cm. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan teknik pembesaran subang yang berasal dari biji dilakukan di Balai Penelitian Tanaman Hias dari bulan Maret sampai Desember 2001.Percobaan terdiri atas dua tahapan yaitu tahap pertama melakukan persilangan untuk mendapatkan biji sedangkan tahap kedua adalah perlakuan pada biji yang dihasilkan pada tahapan pertama.Percobaan perlakuan pada biji (GA3) yaitu 0, 100, dan 200 ppm. Faktor kedua taraf aplikasi pemberian hara yaitu (1) penyiraman pupuk NPK+mikro =15:15:15 dengan dosis 1g/l pada media seminggu sekali, (2) penyemprotan pupk NPK+ mikro seminggu sekali pada umur 20 hari sesudah tanam disemprot paklobutrazol 10 ppm (3) penyemprotan pupuk NPK+ mikro seminggu dua kali pada umur 20 dan 40 hari, sesudah tanam disemprot paklobutrazol 10 ppm. Hasil penelitian menunjukan bahwa perendaman biji gladiol dalam larutan 100 ppm GA3 menghasilkan subang dengan diameter > 1 cm nyata 2,38 kali lebih banyak dengan bobot subang 2,3 lebih besar dibandingkan tanpa perlakuan GA3. Dengan diperolehnya subang gladiol yang berdiameter lebih besar 1 cm pada pertanaman pertama dapat menghemat waktu satu periode tanam yang lamanya kurang lebih 8 bulan. Implikasi dari hasil penelitian ini adalah proses seleksi bunga gladiol dapat dipercepat satu periode tanam. Kata kunci: Gladiolus hybridus: Biji: Giberelin:Pupuk; Paklobutrazol :Subang.

    2004 Wuryaningsih,S. S.Soejono, D.S.Badriah, dan A.Abdurahman
    10 Media Tumbuh, Tingkat Daya Hantar Listrik, dan Pencucian Media untuk Kualitas Anthurium Pot

    Daya hantar listrik dalam media tumbuh tanpa tanah merupakan salah satu tolok ukur dalam pemberian hara, dimana akumulasinya di dalam media perlu pencucian agar dapat memberikan lingkungan yang sesuai bagi pertumbuhan tanaman.Percobaan dengan tujuan untuk mendapatkan media tumbuh dengan taraf daya hantar listrik dan pencucian media untuk pertumbuhan tanaman anthurium pot dilakukan dari bulan Agustus 2001 sampai Maret 2002. Lokasi percobaan dirumahplastik Balai Penalitian Tanaman Hias Segunung dengan rancangan acak kelompok pola faktorial dengan tiga ulangan.Faktor pertama adalah komposisi media terdiri atas: (1) serbuk sabut kelapa dan (2) serbuk sabut kelapa + 200 g zeolit/pot. Faktor kedua adalah tiga taraf daya hantar listrik yang dikendalikan oleh pemberian pupuk lengkap, yaitu tanpa pupuk; 1 dan1,5 dS/m. Faktor ketiga adalah tiga interval pencucian media, yaitu 3;5 dan 7 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media serbuk sabut kelapa + zeolit dengan pemberian pupuk 1 dS/m dan interval pencucian media sesudah 7 minggu menghasilkan bobot tanaman terberat yaitu 84,78 g/pot. Pada awal maupun selama percobaan nilai daya hantar listrik pada media serbuk sabut kelapa berkisar antara 0,34-0,45 dS/m nyata lebih tinggi dibandingkan media serbuk sabut kelapa+zeolit yang berkisar antara 0,22-028 dS/m.Nilai daya hantar listrik 1 dS/m dan 1,5 dS/m menghasilkan jumlah klorofil, jumlah bunga, dan jumlah anakan yang tidak berbeda nyata. Penggunaan bahan serbuk sabut kelapa dengan daya hantar listrik pupuk 1 dS/m dan interval pencucian media 7 Minggu dapat digunakan sebagai salah satu acuan dalam budidaya anthurium pot. Kata kunci; Anthurium andreanum; Media tumbuh; Konsentrasi garam terlarut; Pencucian media; Kualitas hasil.

    2004 Wuryaningsih,S., J.Prasetyo, R. Tedjasarawana, dan A.Mintarsih
    11 Daya Hasil Beberapa Klon Gladiol Terpilih

    Pertumbuhan dan perkembangan bunga potong gladiol dipengaruhi dan dikendalikan oleh interaksi antara faktor genetik dan lingkungan.Lokasi penanaman merupakan salah satu faktor lingkungan yang perlu diperhatikan. Tujuan penelitian untuk mengevaluasi daya hasil dari beberapa klon gladiol terpilih dan berpenampilan lebih baik dari kultivar gladiol yang ada di petani. Tiga belas nomor klon gladiol terpilih diuji daya hasilnya di dua lokasi yaitu Cipanas dan Sukabumi pada dua tahun tanam yaitu pada tahun 1999 dan tahun 2000 dengan kultivar queen occer sebagai pembanding. Rancangan yang digunakan acak kelompok dengan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukan bahwa dengan mempertimbangkan keenam peubah pengamatan yaitu diameter bunga, jumlah bunga, panjang tangkai bunga, panjang malai, kesegaran bunga dan diameter batang diperoleh 2 nomor (96.221.22 dan 96.201.2) yang mempunyai nilai lebih baik dibandingkan kultivar queen occer sebagai pembanding. Pertamanan gladiol di Sukabumi menghasilkan tangkai dan malai bunga lebih panjang dibandingkan di Cipanas. Sebaliknya pertanaman gladiol di Sukabumi berbatang lebih kecil dibandingkan di Cipanas.Sedangkan pertanaman di Cipanas menghasilkan bunga lebih banyak dan lebih besar dibandingkan di Sukabumi. Pertanaman gladiol pada tahun 2000 menghasilkan bunga lebih banyak dan lebih besar dibandingkan pertanaman tahun 1999.Kajian preferensi konsumen masih diperlukan apakah klon-klon tersebut dapat dikembngkan ke petani. Kata kunci ; Gladiolus hybridus; Klon gladiol; daya hasil.

    2004 Wuryaningsih,S .D.S.Badriah, dan R.S Rahayu
    12 Daya Hasil dan Adaptasi Klon-klon Harapan Krisan di Tiga Zone Elevasi

    Daya hasil klon krisan diketahui terkait dengan materi genetik dan lingkungan.Tujuan penelitian adalah untuk meperoleh klon-klon krisan yang berdaya hasil tinggi dan adaftif untuk persiapan pelepasan varietas baru. Lima belas klon harapan krisan ditanamkan di tiga lokasi dengan ketinggian 700,1.100, dan 1.200 m dpl dari bulan Agustus 2001 sampai dengan Januari 2002. Rancangan penelitian menggunakan acak kelompok dengan tiga pengulangan.Luaran yang diharapkan adalah menghasilkan klon-klon krisan yang berdaya hasil tinggi dan adaptif terhadap terhadap kondisi lingkungan di sentra-sentra produksi krisan. Klon-klon krisan nomor 110.5,110,6,dan 111,3 cukup adptif dan berdaya hasil tinggi pada elevasi 700 m dpl, klon-klon nomor 110,2, 111,3, 111,4 dan 111,6 cukup adaptif dan berdaya hasil tinggi pada elevasi 1.100 m dpl, dan klon nomor 110,2 cukup adaptif dan berdaya hasil tinggi pada elevasi 1.200 m dpl. Kata kunci; Dendranthema grandiflora; Klon: Adaptasi; Hasil; Mutu.

    2004 Wasito,A dan B. Marwoto download
    13 Resistensi Genotip Anggrek Phalaenopsis terhadap Penyakit Busuk Lunak

    Penyakit busuk lunak yang disebabkan oleh bakteri Erwinia carotovora merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman phalaenopsis.Untuk mengevaluasi genotip-genotip yang resisten terhadap penyakit busuk lunak, suatu percobaan telah dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Hias sejak bulan April sampai Desember 2002. Pada percobaan telah diuji sebanyak delapan genotif hibrida dan satu genotip pembanding. Hasil percobaan menunjukan bahwa genotip P.6505 dan P.503 merupakan genotip yang paling resisten terhadap penyakit busuk lunak. Teknik inokulasi dengan cara suntik dapat mempercepat proses skrining resistensi pada tanaman phalaenopsis. Penggunaan kultivar yang resisten akan dapat menekan penggunaan bakterisida. Kultivar yang resisten juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber gen dalam rangka merakit baru tanaman phalaenopsis yang memiliki resistensi terhadap penyakit busuk lunak. Kata kunci; Phalaenopsis; Erwinia caroptovora ssp.carotovora; Resistensi.

    2004 Handayati,W., Hanudin, dan S.Soejono download
    14 Formula Cair Pseudomonas Fluorescens untuk Pengendalian Penyakit Layu Fusarium pada Anyelir

    Sejauh ini penggunaan pestisida sintetis di sentra produksi tanaman hias sudah tergolong tinggi. Salah satu alternatif pestisida yang paling prospektif adalah mengaplikasikan pseudomonas fluorescens yang diisolasi dari alam Indonesia. Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium dan rumahkaca Balithi Segunung, sejak April sampai Desember 2002. Tujuan penelitian adalah mendapatkan formula biopestisida P.fluorescens yang efektif untuk mengendalikan fusarium pada anyelir.Sepuluh isolat P.flourescens koleksi laboratorium Bakteriologi Balithi, Segunung akan diuji antagonistik dan antibiosisnya terhadap fusarium oxysforum f sp.dianthi secara in vitro. Rancangan yang digunakan pada percobaan ini adalah acak lengkap dengan 10 perlakuan, jenis mikroba antagonis P.fluorescens dengan tiga ulangan. Untuk uji formulasi, isolat Pf 18 dibiakkan pada media agar kings B yang mengandung 0,01 M fe Cl3, setelah berumur 24 jam dipanen kemudian disuspensikan ke dalam 0,1 M MgSO4 setelah suspensi terbentuk kemudian diambil 100 ml dan dituangkan ke dalam 400 ml larutan 0,01 M MgSO4.7 H2O yang mengandung perlakuan, masing-masing 0,1 % pepton, atau monosodium glutamat (MSG) sebagai formulasi. Rancangan yang digunakan adalah acak kelompok dengan 14 perlakuan tiga ulangan.Hasil penelitian menunjukan bahwa Pf 18 dan MR 96 yang masing-masing diisolasi dari biakan murni fusarium segunung dan melrimba puncak menunjukan area hambatan yang paling luas (rataan 0,95 cm). Sel hidup isolasi Pf 18 yang dipelihara dalam media mengandung Mg SO4 dan ditambah 1 % pepton, paling efektif menekan patogenesitas F.o.f.sp dianthi. Kemangkusan perlakuan tersebut setara dengan propineb 70 WP dan dapat menekan patogen sebesar 63,63%.Implementasi hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan untuk pengendalian penyakit tersebut pada tanaman anyelir. Kata kunci; Dianthus caryophyllus; Pseudomonas fluorescens; Pengendalian hayati; Formula biopestisida.

    2004 Hanudin, B.Marwoto, A.Saepuloh, K.Mulya dan M.machmud download
    15 Pengaruh Antiviral dalam Media Kultur terhadap Keberadaan Chysanthemum virus B pada 4 Varietas Krisan Terinfeksi

    Kendala utama dalam budidaya krisan didalam negeri adalah degenerasi benih akibat infeksi virus sistemik. Chysanthemum virus B.Salah satu cara yang paling effektif untuk mengeliminasi virus adalah aplikasi kultur meristem apikal secara in vitro dengan eksplan meristem apikal dari empat varietas telah dilakukan di laboratorium kultur jaringan Instalasi Penelitian Tanaman Hias dari bulan Maret 2001 sampai dengan April 2002. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan teknik eliminasi virus melalui kultur meristem dan aplikasi antiviral.Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap pola faktorial dengan lima ulangan. Faktor pertama adalah media in vitro dengan dua taraf, yaitu MS+0,1 mg/l lAA dan MS+0,1 mg/l lAA+antiviral sintetik (ribavirin 40 ppm). Faktor kedua adalah empat varietas krisan yang terinfeksi Chrysantemum virus B, dewi sartika, saraswati, yellow fiji dan yellow puma. Hasil penelitian menunjukan bahwa infeksi Chrysanthemum virus B nyata menekan kemampuan regenerasi meristem apikal. Pemberian ribavirin dapat memulihkan kemampuan regenerasi meristem pucuk yang di tandai dengan percepatan waktu regenerasi meristem apikal. Varietas yellow fiji dan yellow puma ternyata lebih rentan terhadap infeksi Chrysanthemum virus B dibandingkan kedua varietas lainnya. Partikel virus di dalam jaringan daun dua varietas tersebut sangat persisten. Pertumbuhan planlet dari tanaman yang terjangkit virus ternyata sangat rendah. Jumlah ruas planlet meningkat seiring dengan frekuensi aplikasi ribavirin maupun sub kultur berulang. Hasil analisis kandungan virus dengan menggunakan metode ELISA menunjukan bahwa planlet dari meristem apikal yang dikulturkan sebanyak tiga kali dalam media yang mengandung ribavirin ternyata bebas virus. Kata kunci: Dendranthema grandifolia; Kultur meristem; Bebas virus: Antiviral:Chrysanthemum virus B.

    2004 Marwoto,B. L.Sanjaya, K. Budiarto dan I.B.Rahardjo. download
    16 Telaah Bioekologi Penyakit Embun Tepung pada Tanaman Mawar

    Embun tepung merupakan penyakit yang paling penting di rumahplastik. Penelitian bertujuan untuk mengetahui peranan kleistotesum (fase seksual) dalam siklus penyakit, inang alternatif, pengaruh sistem pengairan, dan lingkungan tumbuh terhadap embun tepung pada tanaman mawar dilakukan di laboratorium, rumahkaca, rumahplastik dan lapangan Balai Penelitian Tanaman Hias, Segunung sejak April-Oktober 2000. Hasil penelitian menunjukan bahwa (a0 tidak dijumpai adanya kleistotesium embun tepung pada tanaman mawar. Fase aseksual (konidium) merupakan satu-satunya stadium yang ditemukan; (b) patogenisitas embun tepung pada tanaman mawar bersifat spesifik hanya pada tanaman mawar, tidak ada tanaman inang alternatif; (c) pada pertanaman mawar di rumahplastik intensitas embun tepung lebih besar dibandingkan dengan intensitasnya di lapangan; (d) perlakuan fungisida triademefon-propineb-benzimidazol dengan interval 7 hari belum dapat menekan embun tepung yang efektif dan efisien di bawah rumahplastik. Kata kunci; Rosa hybrida;Mawar; Embun tepung; Kleistotesium; Inang alternatif; Sistem pengairan; Lingkungan tanam.

    2004 Suhardi dan A.Saepuloh download
    17 Deteksi Virus pada Koleksi Tanaman Mawar yang telah Direjuvinasi Menggunakan Batang Bawah kultivar Multic

    Rejuvinasi perlu dilakukan pada tanaman mawar yang sudah tidak produktif lagi akibat terinfeksi vius. Tujuan penelitian ini adalah mengadakan deteksi virus pada kultivar mawar koleksi yang telah direjuvinasi dengan batang bawah kultivar multic, agar didapat benih pemulia mawar yang sehat. Penelitian dilaksanakan di laboratorium dan kebun Balai Penelitian Tanaman Hias Segunung dari Juli 2000 sampai dengan Maret 2001. Deteksi virus telah dilakukan terhadap 15 kultivar mawar yang telah direjuvinasi dengan batang bawah multic, satu kultivar matador asal biji dan satu kultivar batang bawah multic asal kultur meristem dan asal lapangan. Kelimabelas kultivar mawar yang digunakan ditanam dalam rumahkasa, satu biji, satu kultivar batang kultivar matador asal bawah multic asal kultur meristem ditanam di rumahkasa bebas serangga. Pada semua kultivar dilakukan pengujian PNRSV dengan metode ELISA. Hasil penelitian menunjukan bahwa 89% kultivar dan aksessi mawar terinfeksi oleh PNRSV dan hanya 11% yang bebas virus, yaitu kultivar multic asal kultur meristem dan kultivar matador yang ditanam di rumahkasa. Kata kunci; Rosa spp; Virus;Deteksi; rejuvinasi.

    2004 Herlina,D., Y.Sulyo, I.B.Rahardjo, dan Darliah download
    18 Evaluasi Ketahanan Klon-Klon Krisan terhadap Penyakit Karat putih

    Penyakit karat putih yang disebabkan oleh Puccinia horiana, merupakan salah satu kendala utama dalam budidaya tanaman krisan. Patogen ini dapat menimbulkan kerusakan tanaman yang mencapai 100% sehingga tanaman itu tidak menghasikan bunga, karena cendawan ini telah menginfeksi sejak tenaman berumur 30 HST. Salah satu cara untuk mengendalikan patogen ini adalah menggunakan tanaman yang esisten. Namun informasi dan materi tanaman krisan yang resisten masih jarang, sehingga perlu dilakukan pengujian resistensi terhadappenyaki karat putih pada varietas yang ada. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui klon-klon harapan krisan yang tahan terhadap penyakit karat putih. Percobaan dilakukan di bawah naungan plastik di kebun Percobaan Instalasi Penelitian Tanaman Hias Segunung, yang terletak pada 1.100 m dpl. Percobaan dimulai sejak Juni s/d Desember 2001. Sebelas klon harapan krisan hasil hibridisasi dan perbanyakan bagian pemuliaan Balithi dijadikan sebagai perlakuan, ditambah dengan dua varietas yang bertindak sebagai kontrol resisten (var.saraswati/klon no.13.10) dan kontrol rentan (varietas lokal cipanas atau klon no.13.19). Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok, dengan 13 perlakuan klon harapan krisan dan tiga kali ulangan. Hasil penelitian menunjukan bahwa klon-klon 00.02 dan 00.07 menunjukan reaksi resisten pada 4 MST, klon 00.01, 00.03, 00.04, 00.05, 00.06, 00.08, 00.09, 00.10 dan yellow fiji menunjukan reaksi agak resisten, serta varietas lokal cipanas menunjukan reaksi sangat rentan terhadap P.horiania. Klon nomor 00.07 menunjukan tinggi tanaman yang paling tinggi bila dibandingkan dengan klon lain yang diuji (rataan 85,37 cm), dengan warna petal dan tabung berturut-turut adalah white group 155 C dan yellow green group 151B. Klon-klon unggul hasil penelitian, dapat menjadi sumber genetik untuk dikembangkan melalui pemuliaan tanaman. Kata kunci; Dendranthema grandiflora, Klon; Puccinia horiana; Ketahanan.

    2004 Hanudin, K.Kardin, dan Suhardi download
    19 Studi Bioekologi Tungau pada Tanaman Mawar dan Pengendaliannya

    Informasi tentang bioekologi suatu hama merupakan dasar penting bagi upaya mencari komponen pengendalian hama tersebut.Suatu penelitian untuk mengetahui biologi hama tungau pada tanaman mawar pada beberapa kondisi lingkungan serta pengaruhnya terhadap pengendalian hama dan biologi tungau Tetranychus urticae Koch dilaksanakan di laboratorium Entomologi Segunung sejak Januari sampai dengan Desember 2000. Penelitian dilakukan di laboratorium Entomologi yang mengamati pengaruh perbedaan varietas tanaman inang, yang merupakan salah satu komponen lingkungan hama sebagai sumber makanan tungau terhadap biologinya. Selain itu diamati juga pengaruh ekstrak tanaman sebagai bahan insektisida nabati terhadap terhadap biologi tungau. Metode residu dilakukan untuk mengetahui efek kontak, sedangkan metode tanpa pilihan dilakukan untuk mengetahui efek antifeedant dari insektisida yang akan di uji. Hasil penelitian menunjukan bahwa siklus hidup tungau tidak dipengaruhi secara signifikan oleh varietas mawar sebagai tanaman inangnya. Meskipun demikian varietas holland asal Cihideung, kabupaten Bandung, memperlihatkan kecenderungan perpanjangan masa nimfa instar 1. Varietas pertiwi terlilat cenderung mempersingkat masa nimfa instar 2. Perbedaan lingkungan kimiawi habitat tungau sangat mempengaruhi populasi tungau. Efikasi ekstrak daun nimba (Azadirachta indica), biji sirsak (Annona muricata) dan biji srikaya (Annona squamosa) berpengaruh paling nyata terhadap mortalitas tungau mawar, diikuti oleh biji buah nona (Annona reticulata) yang berpengaruh nyata, dan ekstrak daun mindi (Melia azedarch) serta daun culan (Aglaia odorata) yang efikasinya lebih rendah dibandingkan dengan ekstrak biji buah nona. Semua insektisida botani yang diuji memperlihatkan efek kontak dan antifeedani dengan keefektifan yang bervariasi. Untuk mempunyai nilai terapan yang tinggi, hasil penelitian ini perlu ditindak lanjuti dengan penelitian skala lapang, agar diperoleh data yang lebih mendekati kondisi sebenarnya di alam. Kata kunci; Rosa sp; Tetranychus urticae; Bioekologi; Insektisida nabati; Azadirachta indica; Annona muricata; Annona squamosa;Annosa reticulata :Melia azedarach; Aglaia odorata.

    2004 Maryam Abn, Purbadi, Suryanah dan T. Mulyana download
    20 Studi Diagnostik Eksploratif Perkembangan Tanaman Hias Potensial

    Perkembangan agribisnis florikultura sangat kompleks, sehingga tidak mudah untuk menentukan dari aspek mana informasi perkembangan agribisnis florikultura tersebut harus dimulai secara tepat, karena masing-masing aspek sama-sama pentingnya. Selain itu, setiap aspek mempunyai permasalahan yang perlu dikaji lebih lanjut.terlepas dari itu semua, penelitian ini diarahkan untuk,(1) melukukan studi diagnostik eksploratif perkembngan tanaman hias dan (2) melakukan praevaluasi potensi tanaman hias terkoleksi terpilih berdasarkan keunggulan keragaan tanaman dan komponennya sebagai bahan evaluasi, perencanaan penelitian pemuliaan dan disiplin ilmu lainnya. Penelitian dilakukan pada bulan Juli-November 2002 di DKI Jakarta dan Jawa Barat. Data dikumpulkan melalui wawancara tingkat konsumen (hotel) produsen dan Florist, serta melalui pengamatan langsung terhadap jenis bunga dan tanaman hias yang ada dipasar serta yang digunakan oleh para konsumen. Responden penelitian dipilih secara purposive. Hasil penelitian menunjukan bahwa sampai saat ini jenis tanaman hias yang potensial untuk dikembangkan, antara lain; Pandanaceae. Sebagian dari jenis/spesies tersebut telah dikoleksi, seperti kultivar-kultivar dari famili Orchidaceae, Zingeberaceae, Araceae, Euphorbeaceae, Palmae, dan Oleceae. Selanjutnya dari hasil penelitian, khusus tanaman hias tropis, kulivar terpilih yang cukup potensial untuk dikembangkan adalah Tapeinochillos anannaceae, Calathea crotalifera, Costus sp.(braktea warna coklat tua kemerahan) dan Zingeber spectabile. Kata kunci; Tanaman hias; Diagnostik eksploratif; Potensi; Agribisnis.

    2004 Nurmalinda, D. Herlina dan Satsijati download