Website-Resmi-Balai-Penelitian-Tanaman-Hias-Kementerian-Pertanian

  • JURNAL HORTIKULTURA NO. 14 VOL. 2
  • Jurnal Hortikultura No. 14 Vol. 2
    No. Judul Artikel Tahun Penulis Download
    1 Uji Kepekaan Gamma-Globulin Antiserum Poliklonal Cucumber Mosaic Virus untuk Deteksi Cepat CMV dengan Metode Elisa Tidak Langsung pada Tanaman Tapak Dara

    Virus mosaik ketimun merupakan salah satu patogen penting pada berbagai tanaman hortikultura, termasuk tanaman tapak dara. Untuk dapat mengetahui secara dini infeksi virus pada tanaman, perlu dikembangkan metode deteksi cepat. Salah satu metode serologi yang paling banyak digunakan dewasa ini untuk deteksi virus secara cepat adalah enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Penelitian ini bertujuan memperoleh gamma-globulin murni dari antiserum poliklonal cucumber mosaic virus (CMV) dan mengetahui konsentrasi optimalnya untuk deteksi cepat. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Virologi, Balai Penelitian Tanaman Hias, Segunung, dari bulan Januari sampai Desember 2001. Antiserum diproduksi dengan cara penyuntikan virus murni CMV secara bertahap pada kelinci dengan konsentrasi setiap penyuntikan sebesar 1 mg/ml yang dilakukan pada penelitian sebelumnya. Pemurnian gamma-globulin mengikuti metode Clark & Adam. Konsentrasi gamma-globulin diukur dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 280 nm.Pengujian kepekaan gamma-globulin terhadap antigen dilakukan dengan metode ELISA tidak langsung. Hasil pengujian menunjukkan konsentrasi gamma-globulin sebesar 1 mg/ml dengan uji ELISA tidak langsung, konsentrasi gamma-globulin yang optimal untuk deteksi CMV adalah sebesar 1 mg/ml dengan pengenceran enzim conjugated goat antirabbit dan sampel, masing-masing sebesar 1/25.000 dan 1/10 atau konsentrasi gamma-globulin sebesar 1mg/ml dengan pengenceran enzim conjugated goat antirabbit dan sampel,masing-masing sebesar 1/10.000 dan 1/100. Kata kunci : Vinca sp.; Cucumber mosaic virus; Antiserum poliklonal; Gamma-globulin; ELISA tidak langsung.

    2004 Rahardjo, I.B., Y. Sulyo, dan E. Diningsih download
    2 Karakterisasi Fisiko-Kimia Bunga Melati Putih

    Bunga melati putih dari Tegal, Jawa Tengah dipanen pada tingkat ketuaan M-1 atau 1 hari menjelang mekar, M-2 atau 2 hari menjelang mekar, dan mekar penuh. Bunga setelah dipanen diamati sifat fisik, meliputi berat kuntum, ukuran kuntum, warna bunga, keharuman, dan kandungan minyak atsirinya. Tujuan penelitian untuk mendapatkan sifat fisik dan kimia bunga melati putih pada berbagai tingkat ketuaan panen dan sesuai penggunaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bunga yang dipanen pada tingkat ketuaan M-2 berwarna putih kekuningan, tidak harum, dan tidak dapat mekar. Tingkat ketuaan panen M-1 ukuran kuntum bunga telah optimal, berwarna putih, dapat mekar, dan berbau harum sedangkan bunga mekar penuh, warna bunga putih,dan kurang harum. Bunga dengan tingkat ketuaan M-2 hanya cocok untuk hiasan sanggul dengan bentuk tertentu. Tingkat ketuaan bunga M-1 dapat digunakan untuk rangkaian bunga, hiasan sanggul, industri teh, dan atsiri, sedangkan tingkat kemekaran penuh hanya cocok untuk bunga tabur. Komponen dominan keharuman bunga adalah linalol, benzil asetat, metil salisilat, z-jasmone, neurol idol, dan indol. Persentase tertinggi adalah z-jasmone (34,133%), disusul oleh neurol idol (19,955%), metil salisilat (15,762%), linalol (10,133%), benzil alkohol (9,233%), benzil asetat (6,734%), dan indol (4,049%). Kata kunci: Melati putih; Karakteristik fisiko-kimia; Aroma

    2004 Suyanti, S. Prabawati, dan Sjaifullah download
    3 Standar Mutu Bunga Melati Segar dan untuk Bahan Baku Industri

    Bunga melati putih digunakan untuk rangkaian bunga segar, bahan baku industri teh dan minyak atsiri, serta komoditas ekspor ke Singapura. Penelitian bertujuan untuk menyusun konsep standar mutu bunga melati segar dan untuk bahan baku industri. Standar mutu bunga melati segar dan bahan baku industri sangat diperlukan sebagai patokan dalam pengembangan agribisnis bunga melati. Mutu bunga melati segar sangat ditentukan oleh ukuran kuntum bunga, warna, dan kesegaran bunga. Bunga melati asal daerah Tegal, Tangerang, Cirebon, dan Bogor untuk rangkaian bunga, dan bahan ekspor diamati karakteristik fisiknya (total panjang bunga, diameter kuntum bunga, panjang kuntum bunga, dan warna). Bunga melati untuk pabrik teh juga diamati fisik dan residu pestisidanya. Standar mutu bunga melati untuk rangkaian yaitu bunga kuncup berwarna putih, segar, dan berukuran besar (diameter kuntum 6,58 0,733 mm, panjang kuntum 11,76 1,389 mm). Standar melati untuk ekspor adalah kuncup berwarna putih, segar, dan berukuran besar (diameter kuntum 6,8640 0,5858 mm, panjang kuntum 12,454 1,040 mm). Standar mutu bunga untuk pewangi teh, kuntum bunga kuncup berwarna putih, tidak ada kotoran, dan jumlah bunga tidak dapat mekar terikut maksimum 10%. Standar bunga melati untuk minyak atsiri adalah, kuncup, segar, berwarna putih, dan tanpa tangkai. Kadar residu pestisida masih di bawah ketentuan dan residu pestisida pada tehnya adalah tidak ada. Kata kunci : Melati; Grading; Standar mutu.

    2004 Suyanti, S. Prabawati, dan Sjaifullah download