PEMANFAATAN PSEUDOMONAS FLOURESCENS, GLIOCLADIUM DAN TRICHODERMA UNTUK MENGENDALIKAN PENYAKIT LAYU FUSARIUM PADA KRISAN

Salah satu masalah pada budidaya tanaman krisan, yaitu penyakit tular tanah yang disebabkan oleh fusarium. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efektivitas formulasi P.fluorescens, Gliocladium dan Trichoderma terhadap penyakit layu Fusarium pada krisan. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium, dan di rumah plastik Balai Penelitian Tanaman Hias Segunung. Sejak Juni sampai Desember 2002. Isolat Pf 4a, Pf 9 dan MR 96 diperbanyak secara masal pada media King, B kemudian dipanen dan dituangkan kedalam media perlakuan komposisi formulasi (a). Air steril + Mg SO4, dan (b). Kontrol (air steril tanpa mikroba antagonis). Untuk Gliocladium sp dan Trichoderma sp. Dibiakan pada media PDA deramkan pada suhu kamar selama 5 hari, kemudian dipanen dan larutkan kedalam air steril. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok 12 perlakuan formulasi, dengan 3 buah ulangan. Akar krisan var. Yellow fiji sebanyak 20 pohon/ perlakuan, direndam selama 15 menit didalam suspensi mikrobe antagonis. Aplikasi Pf diulang setiap 7 hari sekali, dituangkan pada pangkal batang dan permukaan tanah sekitar batang tanaman. Hasil penelitian menunjukan bahwa semua isolat Pf yang ditumbuhkan pada media King B berwarna fluorescens bila disinari Ultra violet (UV). Berdasarkan reaksi gram, Pf 01, dan 02, menunjukan reaksi positif dan yang lainnya memperlihatkan reaksi negatif. Pf 4a menunjukan areal zone yang paling luas Pf 4a yang dibiakkan pada media King B yang mengandung 0,01 M FeCl3 kemudian disuspensi ke dalam larutan 0,1M MgSO4, secara nyata konsisten dapat menekan serangan F.oxysporum f.sp tracheiphilum pada krisan sebanyak 72,51%. Kata kunci: Dendranthema grandiflora; Pseudomonas fluorescens; Gliocladium; Trichoderma; pengendali hayati; Fusarium oxysporum f.sp. tracheiphilum.

SebelumnyaAnalisis Kandungan Escherichia coli dan Salmonella sp. dalam Sabut Kelapa sebagai Media Tumbuh Tanaman Hias
SelanjutnyaPerbanyakan Anyelir Secara In Vitro Melalui Induksi Pembentukan Tunas Adventif