FORMULA CAIR PSEUDOMONAS FLUORESCENS UNTUK PENGENDALIAN PENYAKIT LAYU FUSARIUM PADA ANYELIR

Sejauh ini penggunaan pestisida sintetis di sentra produksi tanaman hias sudah tergolong tinggi. Salah satu alternatif pestisida yang paling prospektif adalah mengaplikasikan pseudomonas fluorescens yang diisolasi dari alam Indonesia. Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium dan rumahkaca Balithi Segunung, sejak April sampai Desember 2002. Tujuan penelitian adalah mendapatkan formula biopestisida P.fluorescens yang efektif untuk mengendalikan fusarium pada anyelir.Sepuluh isolat P.flourescens koleksi laboratorium Bakteriologi Balithi, Segunung akan diuji antagonistik dan antibiosisnya terhadap fusarium oxysforum f sp.dianthi secara in vitro. Rancangan yang digunakan pada percobaan ini adalah acak lengkap dengan 10 perlakuan, jenis mikroba antagonis P.fluorescens dengan tiga ulangan. Untuk uji formulasi, isolat Pf 18 dibiakkan pada media agar kings B yang mengandung 0,01 M fe Cl3, setelah berumur 24 jam dipanen kemudian disuspensikan ke dalam 0,1 M MgSO4 setelah suspensi terbentuk kemudian diambil 100 ml dan dituangkan ke dalam 400 ml larutan 0,01 M MgSO4.7 H2O yang mengandung perlakuan, masing-masing 0,1 % pepton, atau monosodium glutamat (MSG) sebagai formulasi. Rancangan yang digunakan adalah acak kelompok dengan 14 perlakuan tiga ulangan.Hasil penelitian menunjukan bahwa Pf 18 dan MR 96 yang masing-masing diisolasi dari biakan murni fusarium segunung dan melrimba puncak menunjukan area hambatan yang paling luas (rataan 0,95 cm). Sel hidup isolasi Pf 18 yang dipelihara dalam media mengandung Mg SO4 dan ditambah 1 % pepton, paling efektif menekan patogenesitas F.o.f.sp dianthi. Kemangkusan perlakuan tersebut setara dengan propineb 70 WP dan dapat menekan patogen sebesar 63,63%.Implementasi hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan untuk pengendalian penyakit tersebut pada tanaman anyelir. Kata kunci; Dianthus caryophyllus; Pseudomonas fluorescens; Pengendalian hayati; Formula biopestisida.

SebelumnyaResistensi Genotip Anggrek Phalaenopsis terhadap Penyakit Busuk Lunak
SelanjutnyaPengaruh Antiviral dalam Media Kultur terhadap Keberadaan Chysanthemum virus B pada 4 Varietas Krisan Terinfeksi