Website-Resmi-Balai-Penelitian-Tanaman-Hias-Kementerian-Pertanian

  • DAFTAR JURNAL PENELITIAN TAHUN
    • ABSTRAK. Penyakit karat yang disebabkan oleh Puccinia horiana merupakan penyakit yang paling penting pada tanaman krisan. Pengendalian penyakit menggunakan fungisida terbentur masalah timbulnya pencemaran lingkungan dan resistensi terhadap fungisida. Penggunaan varietas resisten terkendala dengan timbulnya ras fisiologi baru yang dapat mematahkan sifat resistensi tanaman. Oleh karena itu perlu dilakukan pengendalian terpadu. Salah satu komponen pengendalian terpadu ialah pemanfaatan mikoparasit. Penelitian bertujuan mengumpulkan dan mengidentifikasi mikoparasit serta menyaring isolat yang efektif dalam menekan penyakit karat pada tanaman krisan. Percobaan dilakukan dari Bulan Januari sampai Desember 2011. Kegiatan penelitian meliputi: (a) survei dan (b) percobaan. Survei dilakukan di Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Bandung Barat, sedangkan percobaan dilakukan di Laboratorium dan Rumah Kaca Balai Penelitian Tanaman Hias. Hasil penelitian menunjukkan: (1) ditemukan empat genus cendawan sebagai mikoparasit penyakit karat (P. horiana) pada tanaman krisan di Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Bandung, (2) dari 55 isolat mikoparasit, 92,7% merupakan genus Cladosporium. Selebihnya terdiri atas genus Fusarium, Trichoderma, dan Penicillium, dan (3) dari 20 isolat yang diuji efektivitasnya sebagai mikoparasit, hanya 11 isolat Cladosporium sp. yang mempunyai efektivitas > 50% dan sebagai pengendali hayati karat potensial. Hasil penelitian dapat dijadikan sebagai acuan untuk mendapatkan biofungisida potensial untuk mengendalikan penyakit karat putih pada krisan.

      Katakunci: Krisan; Penyakit karat; Puccinia horiana; Pengendalian; Mikoparasit
    • ABSTRAK. Ketersediaan protokol perbanyakan massa anggrek Dendrobium secara in vitro memiliki peranan penting dalam mendukung pengembangan industri benih di dalam negeri. Penelitian ini bertujuan mendapatkan teknologi perbanyakan massa Dendrobium Gradita 10 melalui embriogenesis somatik. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan dan Rumah Kaca Anggrek Balai Penelitian Tanaman Hias Segunung, Pacet, Cianjur, mulai bulan Maret sampai dengan Desember 2012. Penelitian disusun menggunakan rancangan acak kelompok dengan lima ulangan. Jenis eksplan, media, periode subkultur, dan kepadatan kalus diujicobakan dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daun planlet dan media ½ Murashige & Skoog (MS) + 1 mg/l Thidiazuron (TDZ) + 0,5 mg/l N6-benzyladenine (BA) merupakan jenis eksplan dan media terbaik untuk induksi kalus embriogenik hingga 80% dengan waktu pembentukan kalus tercepat (26,3 hari setelah kultur). Proliferasi kalus embriogenik terbaik terdapat pada media ½ MS + 0,3 mg/l TDZ + 0,1 mg/l ?-naphthalene acetic acid (NAA) dengan kepadatan kalus 2-3 g kalus/25 ml medium. Pertumbuhan kalus embriogenik teroptimal terdapat pada periode subkultur yang ke-2. Konversi kalus embriogenik menjadi embrio somatik mencapai 79% pada subkultur ke-3 ditemukan pada media ½ MS + 0,05 mg/l BA. Perkecambahan embrio maksimal dengan 21,7 planlet per gerombol embrio ditemukan pada media ½ MS + 0,05 mg/l BA. Keberhasilan pengembangan teknologi perbanyakan massa anggrek Dendrobium Gradita 10 secara in vitro melalui embriogenesis somatik diharapkan memiliki dampak besar terhadap pengembangan teknologi perbanyakan massa benih untuk jenis Dendrobium yang lain.

      Katakunci: Dendrobium Gradita 10; Embriogenesis somatik; Eksplan; Kepadatan kalus; Media dan periode subkultur
    • ABSTRAK. Aplikasi media generik yang lebih murah menggantikan media Murashige dan Skoog (MS) yang mahal dan tetap mampu menghasilkan bibit krisan berkualitas secara masal memiliki pengaruh yang besar terhadap efisiensi produksi benih secara in vitro. Tujuan penelitian adalah mendapatkan media generik yang optimal untuk produksi benih berkualitas pada beberapa varietas krisan secara in vitro. Penelitian dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan, Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Hias Cipanas pada bulan Januari sampai dengan Desember 2011. Perlakuan varietas dan media disusun menggunakan rancangan acak kelompok pola faktorial dengan tiga ulangan. Faktor pertama varietas krisan yaitu Ratnahapsari, Kusumapatria, Cintamani, Sasikirana, dan Kusumaswasti. Faktor kedua adalah modifikasi media generik yaitu (1) ½ MS + 0,1 mg/l IAA sebagai kontrol, (2) 3 g/l Hyponex (20N:20K:20P) + vitamin MS + 0,1 mg/l IAA, (3) 3 g/l Hyponex (20N:20K:20P) dengan 50% air kelapa, (4) 3 g/l Hyponex (20N:20K:20P) + 0,1 mg/l vitamin B kompleks teknis + 0,1 mg/l IAA, (5) 2 g/l Gandasil D + vitamin MS + 0,1 mg/l IAA, (6) 2 g/l Gandasil D dengan 50% air kelapa, (7) 2 g/l Gandasil D + 0,1 mg/l vitamin B kompleks teknis + 0,1 mg/l IAA, dan (8) ½ MS dengan bahan teknis + 0,1 mg/l vitamin B kompleks teknis + 0,1 mg/l IAA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ratnahapsari merupakan varietas yang paling responsif dalam kultur in vitro dan memiliki tinggi tunas hingga 7,2 cm dengan 7,5 jumlah daun per tunas, 4,0 akar per tunas dan 4,6 cm panjang akar, sementara 3 g/ l Hyponex + 0,1 mg/l vitamin B kompleks teknis + 0,1 mg/l IAA (M63) merupakan media generik yang paling sesuai untuk menggantikan media MS yang menghasilkan planlet dengan tinggi tunas hingga 7,0 cm, 8,8 jumlah daun per tunas, 3,5 akar per tunas, dan 6,9 cm panjang akar dengan efisiensi biaya sebesar 52,38%. Pada tahap aklimatisasi Sasikirana memberikan hasil yang baik dengan tinggi tanaman mencapai 9,2 cm, 10 daun per tanaman, 5,5 akar per tanaman, dan 7,9 cm panjang akar. Media kultur in vitro krisan menggunakan MG3 merupakan media pertumbuhan terbaik ketika diaklimatisasi menggunakan arang sekam dengan tinggi tanaman mencapai 10,2 cm, 10,4 daun per tanaman, 6,8 akar per tanaman, dan 6,1 cm panjang akar. Keberhasilan aklimatisasi planlet krisan pada kondisi ex vitro berkisar antara 74-99%.

      Katakunci: Media generik; Benih berkualitas; In vitro; Dendranthema grandiflora Tzvelev
    • ABSTRAK. Mokara merupakan salah satu jenis anggrek yang disukai konsumen. Pada umumnya budidaya anggrek komersial menggunakan benih berasal dari kultur jaringan. Optimasi media dalam kultur jaringan sangat diperlukan untuk mempercepat penyediaan benih. Salah satu cara untuk mengoptimasi media kultur jaringan yaitu dengan perlakuan zat pengatur tumbuh. Penelitian bertujuan mendapatkan komposisi zat pengatur tumbuh yang tepat dalam mempercepat pertumbuhan planlet. Penelitian dimulai pada bulan Mei sampai dengan November 2013, di Laboratorium Kultur Jaringan Pasar Minggu Jakarta. Bahan penelitian yang digunakan ialah planlet anggrek Mokara ditumbuhkan dalam media Vacin dan Went (VW) yang diberi sitokinin dan auksin. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dengan enam perlakuan dan empat ulangan. Perlakuan terdiri atas (1) kontrol, (2) BAP 1ppm + NAA 1 ppm, (3) BAP 1 ppm + NAA 1 ppm + 2.4-D 0,1 ppm, (4) BAP 1 ppm, (5) NAA 1 ppm, dan (6) 2.4-D 0,1 ppm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan media VW + air kelapa 15% + gula pasir 20 g/l + pisang 75 g/l + charcoal 2 g/l + BAP 1 ppm + NAA 1 ppm + 2.4-D 0,1 ppm memberikan hasil terbaik dibandingkan perlakuan lainnya dan kontrol dalam meningkatkan pertumbuhan tinggi planlet, jumlah daun, panjang daun, dan jumlah akar.

      Katakunci: Anggrek Mokara; Zat pengatur tumbuh; In vitro
    • ABSTRAK. Krisan merupakan salah satu jenis bunga potong yang banyak diminati pasar dan konsumen. Permintaan produk tersebut dari tahun ke tahun terus meningkat dan tahun 2012 produksinya mencapai 384.215.341 tangkai. Peningkatan tersebut ternyata juga dipengaruhi oleh adanya perubahan preferensi pasar dan konsumen terhadap produk krisan yang dihasilkan oleh petani dan pengusaha. Untuk mengetahui perubahan preferensi konsumen terhadap produk krisan dilakukan penelitian preferensi pasar dan konsumen terhadap krisan bunga potong dan pot. Tujuan penelitian adalah mengetahui preferensi pasar dan konsumen terhadap bunga krisan potong dan pot. Penelitian dilakukan di DKI Jakarta pada bulan Januari-Desember 2010. Pengumpulan data dilakukan dengan metode survei. Jenis data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder. Responden dipilih secara sengaja sebanyak 20 floris dan dekorator sebagai konsumen antara untuk bunga potong dan 40 konsumen rumah tangga untuk bunga pot di DKI Jakarta. Data dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa yang menjadi pertimbangan utama konsumen floris dekorator dalam pembelian bunga potong krisan adalah jenis bunga, kemudian baru warna bunga, ukuran bunga, bentuk bunga, ketegaran tangkai bunga, ketahanan bunga, dan terakhir baru harga. Berbeda untuk krisan pot, yang menjadi pertimbangan utama konsumen dalam membeli bunga adalah selain warna, juga bentuk bunga, vaselife, ukuran bunga, ketegaran tangkai bunga, dan harga. Krisan potong jenis standar, warna putih, bentuk double, ukuran besar (6-8 cm) untuk standar dan ukuran kecil (2 cm) untuk tipe spray, daya simpan 5–7 hari, tegar, harga Rp. 1.200,00–Rp. 1.500,00 per tangkai untuk standar dan Rp. 1.000,00–Rp. 1.200,00 per tangkai untuk jenis spray merupakan krisan yang disukai/diminati oleh floris. Untuk krisan pot, jenis standar, warna putih, bentuk double, ukuran sedang (4 cm), daya simpan lebih dari 7 hari, tegar, harga kurang dari Rp 15.000,00 per ikat merupakan krisan yang sangat disukai konsumen. Hasil studi preferensi ini selanjutnya dapat dijadikan dasar oleh petani, pengusaha, dan pemulia untuk menghasilkan produk-produk yang sesuai dengan permintaan pasar dan konsumen.

      Katakunci: Krisan; Bunga potong; Bunga pot; Preferensi konsumen