BRIDAL CREEPER TANAMAN HIAS BERBUNGA MUNGIL BIASA DIGUNAKAN SEBAGAI KARANGAN BUNGA

Asparagus (Asparagaceae) adalah genus besar yang tersebar luas di daerah kering dan subarid dari dunia lama.  A. myrtifolia/A. myrtifolia/A. asparagoides “Myrtifolia” merupakan tanaman herba yang memanjat dari family Asparagaceae yang berasal dari Afrika Timur dan Selatan. Tanaman tersebut kadang-kadang tumbuh sebagai tanaman hias, namun di Australia dan New Zealand merupakan gulma yang dianggap sangat serius 

A. asparagoides memiliki beberapa nama umum, diantaranya adalah Bridal creeper. Bridal creeper adalah gulma yang memiliki nilai signifikan secara nasional karena memiliki potensi untuk mendominasi vegetasi alami baik di atas maupun bawah permukaan tanah. Di Australia, gulma ini diangap sebagai gulma terburuk karena sifatnya yang invasive, mudah menyebar, dan memiliki dampak terhadap perekonomian dan lingkungan. 

Bridal creeper memasuki negara tersebut sebagai tanaman taman, dan sekarang menjadi gulma semak utama di Australia, karena batangnya yang memanjat dan daunnya yang berukuran sangat kecil. Gulma ini membentuk suatu umbi bawah tanah yang tebal yang menghambat pertumbuhan akar dan sering mencegah pertumbuhan bibit tanaman lainnya 

Tanaman dapat menyebar sebagai sistem akar yang secara perlahan berkembang di suatu area. Gerakan tanah yang mengandung akar (misalnya dengan gradasi) akan menyebarkan tanaman lebih jauh. Penimbunan sampah-sampah taman yang mengandung biji atau akar Bridel creeper juga menyebarkan gulma. Burung memakan buah dan kemudian mengeluarkan biji-biji di tempat bertengger, biasanya dalam 100 m dari tanaman sumber. 

Namun, benih yang disebarkan burung telah membantu menyebarkan gulma di sepanjang pinggir jalan dan ke vegetasi asli lebih jauh. Kelinci dan rubah juga makan buah dan menyebarkan benih. 

A. asparagoides tumbuh seperti pohon anggur herba dengan kebiasaan memanjat yang bisa mencapai 3 m tingginya, memiliki struktur hijau daun yang mengkilap (phylloclades). Bunga putih liontin muncul selama musim dingin dan musim semi, dari Juli hingga September 

Peningkatan fragmentasi vegetasi alami merupakan faktor utama yang memungkinkan gulma (A. asparagoides) untuk membangun dan mendominasi dan dengan demikian lebih jauh mengancam kelangsungan spesies tanaman asli dan ekosistem Australia di mana mereka terjadi. Belum terdapat laporan kepunahan tanaman ini selain potensinya sebagai gulma yang invasif.

Di Australia Selatan dan Barat Daya Australia, Bridal creeper dianggap gulma terpenting yang mengancam biodiversity. Tanaman ini juga menyebabkan kerugian bagi industry primer (misalnya dengan menaungi tanaman jeruk dan alpukat dan mengganggu pengepakan buah, terutama di daerah irigasi sungai Murray. Pengendalian hayati terhadap Bridal creeper (A. asparagoides) di Australia, telah dilepas tiga agen asal Afrika Selatan, yaitu wereng Zygina sp. pada tahun 1999, jamur karat Puccinia myrsiphylli pada tahun 2000 dan kumbang daun Crioceris sp. pada tahun 2002. Jamur karat merupakan agen yang paling efektif dan telah menunjukkan kemampuannya untuk mengurangi populasi spesies invasif ini, terutama di daerah pesisir. Hasil penelitian lain menunjukkan bahwa Zygina sp. memiliki potensi sebagai agen pengendali hayati untuk A. asparagoides di Australia.

Bridal creeper pertama kali dilaporkan di katalog kebun bibit pada tahun 1857. Dengan bunga putih mungil dan batang ditutupi dengan daun hijau berbentuk hati, terbukti sangat populer dalam karangan bunga, terutama karangan bunga pengantin, dan sebagai tanaman untuk keranjang gantung. A. asparagoides, sering disebut smilax, secara umum digunakan dalam karangan bunga atau dekorasi rumah.

Erniawati D & Hardiyanto

SebelumnyaRPIK Krisan Adaptif Dataran Rendah Balithi dengan BPTP Bali
SelanjutnyaBupati Cianjur Berkunjung Ke Balithi, Kita sebagai tuan rumah di Kabupaten Cianjur ini tentunya harus mempersiapkan segala sesuatunya