PERBANYAKAN GERBERA SECARA IN VITRO MENGGUNAKAN KUNCUP BUNGA MUDA SEBAGAI SUMBER EKSPLAN

Teknologi produksi benih berkualitas gerbera menggunakan kuncup bunga muda sebagai sumber eksplan merupakan teknologi produksi benih berkualitas dengan potensi yang jauh lebih besar dibanding teknologi perbanyakan konvensional melalui pemisahan rhizome yang hanya menghasilkan tanaman baru sekitar 4-7 tanaman per tahun. Aplikasi teknologi ini dimulai dari pemilihan tanaman donor hingga aklimatisasi plantlets dapat menghasilkan 14.000 – 700.000 tanaman dalam waktu 11,75 bulan atau dalam waktu 1 tahun.

Memilih dan menyiapkan tanaman donor merupakan langkah awal yang berpengaruh besar terhadap keberhasilan dan kesuksesan dalam mengaplikasikan teknologi ini. Tanaman donor yang dipilih umumnya adalah tanaman donor yang mempunyai nilai ekonomi tinggi, sangat dibutuhkan oleh pengguna. Tanaman harus tumbuh sehat, vigor dan tidak menunjukkan adanya gejala serangan hama penyakit, memiliki pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. Tanaman donor ini dapat dibeli dipetani atau grower Gerbera. Tanaman selanjutnya dijaga dan dipelihara secara maksimal melalui penyiraman, pemupukan dan pengendalian hama-penyakit. Pada tahap ini, aplikasi bakterisida dan fungisida sistemik yang disiramkan disekitar tanaman pada dosis anjuran serta pengurangan aplikasi pestisida yang disemprotkan ke daun dan bunga tanaman sangat disarankan untuk menurunkan resiko terkontaminasinya eksplan oleh bakteri dan jamur. Tanaman donor yang tumbuh sehat dan vigor dengan kuncup-kuncup bunga yang masih muda belum membuka atau sedikit membuka siap digunakan sebagai sumber eksplan untuk perbanyakan tanaman secara in vitro.

Pemanenan kuncup bunga sebaiknya dilakukan pada pagi hari sekitar jam 07.00 hingga 08.30, mengingat proses isolasi hingga kultur eksplan memerlukan waktu lebih kurang 5-7,5 jam. Kuncup bunga yang dipanen adalah kuncup bunga belum mekar, seluruh kalik/sepal masih menutup rapat seluruh bagian bunga yang lain hingga bagian bunga tabung sedikit terlihat. Pilih dan pastikan kuncup bunga yang dipanen dalam kondisi yang sehat, tumbuh baik dan tidak ada gejala serangan hama penyakit. Setelah dipanen, kuncup bunga dibawa ke laboratorium untuk menjalani tahap sterilisasi eksplan.

Proses sterilisasi dilakukan melalui 2 tahap. Tahap 1 adalah pra-sterilisasi diluar laminar air flow cabinet (LAFC). Tahap ini dilakukan dengan cara meletakkan kuncup bunga dibawah air mengalir selama 30-60 menit. Kuncup bunga kemudian direndam dalam larutan air sabun 1% (Sunlight / Mama Lemon) selama 30 menit sambil digojok secara manual / diletakkan diatas mesin penggojok (shaker, 110 rpm). Setelah itu kuncup bunga dipindahkan ke dalam larutan 1% pestisida (fungisida dan bakterisida) selama 30 menit sambil digojok. Kuncup bunga selanjutnya dibilas beberapa kali dengan air bersih hingga seluruh sisa pastisida tidak terlihat lagi.

Tahap 2 adalah sterilisasi dan berada dalam LAFC. Pada tahap ini, eksplan yang sudah dicuci bersih dimasukkan ke dalam LAFC, eksplan kemudian direndam dalam larutan Iodium (Betadine/Yodium; 20 tetes/100 ml air steril) selama 5 menit sambil digojok. Setelah itu eksplan pindahkan dalam larutan merkuri klorida (HgCl2) 0,05% selama 5 menit sambil digojok, kemudian dibilas dengan air steril 3-4 kali (@ 3 menit). Proses yang baik akan menghasilkan kuncup bunga yang tetap segar, tanpa ada kerusakan yang signifikan.

Setelah sterilisasi tahap 2 selesai, kuncup bunga selanjutnya diletakkan diatas cawan petri steril. Dengan 2 pinset, pinset panjang (15 cm) digunakan untuk memegang kuncup bunga, sementara yang pendek (7,5 cm) untuk membuang semua bagian bunga, dilakukan pembuangan semua bagian bunga (kalik / sepal; korola / petal; bunga tabung) secara bertahap hingga bersih. Setelah semua bagian bunga dibersihkan dan tinggal penyangga bunga, selanjutnya dengan pisau kultur dilakukan pemotongan bagian penyangga bunga dengan pisau kultur secara melintang menjadi 4 bagian. Setelah itu, potongan harus segera dimasukkan ke dalam air steril untuk menghindarkan terjadinya pencoklatan penyangga bunga. Setelah seluruh isolasi penyangga bunga dilakukan, sterilisasi lanjutan dilakukan. Sterilisasi ini dilakukan dengan cara membilas eksplan dengan air steril 2-3x (@ 3 menit) sambil digojok. Selanjutnya potongan eksplan direndam dalam larutan HgCl2 0,01% selama 5 menit sambal digojok. Bilas lagi eksplan dengan air steril 3-4x (@ 3 menit). Hasil isolasi yang baik ditandai dengan kondisi potongan penyangga bunga yang tetap segar tanpa adanya pencoklatan

Penanaman eksplan dilakukan dengan cara mengambil potongan penyangga bunga dengan pinset dan menampatkannya diatas cawan petri yang berisi tisu steril sambil dibolak-balik untuk menghilangkan semua film air yang menempel pada permukaan eksplan. Segera setelah itu, lakukan penanaman potongan penyangga bunga ke botol kultur yang berisi medium inisiasi. Medium inisiasi adalah medium ½ Murashige & Skoog (1962) yang ditambah dengan 0,4 mg/l TDZ, 0,25 mg/l BAP, 30 g/l sukrosa dan 7 g/l agar swallow. Penanaman eksplan dilakukan dengan memposisikan bagian potongan sebelah bawah menempel pada permukaan medium. Tiap botol ditanam 4-6 eksplan. Proses penanaman dan penyimpanan kultur eksplan pada ruang gelap harus dilakukan sesegera mungkin dan secepat mungkin untuk menghindarkan terjadinya pencoklatan eksplan. Botol kultur selanjutnya disimpan dalam tempat yang gelap selama 1 bulan. Keberhasilan tahap ini ditandai dengan tumbuhnya sisa-sisa bagian bunga, terutama potongan bunga tabung yang memanjang, berwarna putih dan etiolasi yang menyerupai bakal tunas.

Regenerasi bakal tunas menjadi tunas dilakukan dengan cara memindahkan botol kultur dari inkubasi gelap ke kondisi terang dengan 12 jam fotoperiode dibawah lampu fluoresen dengan intensitas cahaya ± 13 mmol/m2/s hingga bakal tunas teregenarasi membentuk tunas. Waktu regenerasi bakal tunas hingga menjadi tunas berkisar antara 1-1,5 bulan setelah pemindahan kultur ditempat terang. Keberhasilan regenerasi ditunjukkan oleh adannya bakal tunas yang tumbuh menjadi tunas. Jumlah bakal tunas berkisar antara 9-26 bakal tunas dan yang berhasil diregenerasi membentuk tunas berkisar antara 6-15 tunas per eksplan.

Perbanyakan tunas dilakukan dengan menanam 1-2 tunas hasil regenerasi pada medium MS yang ditambah 0,2 mg/l TDZ, 30 g/l sukrosa dan 7 g/l agar swallow hingga subkultur ke-2 atau MS yang ditambah 0,2 mg/l TDZ; 0,1 mg/l BAP, 30 g/l sukrosa dan 7 g/l agar swallow hingga subkultur ke-4, setelah itu tunas harus disubkultur pada medium MS yang ditambah 0,2 mg/l BAP; 0,02 mg/l NAA, 30 g/l sukrosa dan 7 g/l agar swallow hingga subkultur ke-5 atau 9. Satu botol kultur diisi dengan 5 tunas/kelompok tunas dan diinkubasi pada kondisi terang selama 1-1,5 bulan. Subkultur tunas untuk tujuan perbanyakan dapat dilakukan hingga 9 kali subkultur jika diawali dengan media yang mengandung TDZ; tetapi jika langsung menggunakan medium MS yang ditambah BAP dan NAA dapat dilakukan 4-7 kali. Setiap periode subkultur membutuhkan waktu 30-45 hari tergantung respon genotipe. Jumlah tunas yang dihasilkan berkisar antara 5-10 tunas, tergantung respon genotipe.

Penyiapan plantlets dilakukan dengan cara mensubkultur tunas hasil subkultur akhir pada medium ½ MS yang ditambah dengan 1,5-2,0 g/l arang aktif, 30 g/l sukrosa dan 7 g/l agar swallow. Tiap botol kultur yang berisi media pengakaran ditanam 5-7 tunas dan diinkubasi pada kondisi terang seperti kondisi inkubasi tahap sebelumnya. Akar mulai tumbuh pada 7-10 hari inkubasi. Jumlah akar berkisar 3-7 akar. Panjang akar ideal untuk aklimatisasi kurang dari 2 cm dan biasanya ditemukan pada tunas yang diinkubasi kurang dari 1 bulan.

Aklimatisasi plantlets dilakukan dengan cara mengeluarkan plantlets dari botol kultur dengan pinset secara hati-hati agar akar tidak putus dan mengalami kerusakan. Cuci akar dibawah air mengalir untuk membuang / menghilangkan agar yang menempel dipermukaan akar. Selanjutnya akar direndam dalam larutan 1% pestisida (fungisida dan bakterisida sistemik) selama 3 menit. Setelah itu plantlets ditanam dalam bak-bak/pot plastik yang berisi potongan pakis dan cocopeat (1:1, v/v) yang telah dibasahi cukup dengan air pada kedalaman 2-3 cm. Setelah semua plantlets ditanam, bak/pot plastik ditutup dengan plastik transparan selama 1 bulan. Setiap minggu plantlets diberi perlakuan penyemprotan larutan 1% pupuk majemuk N tinggi (Growmore/Rosasol/Hyponex). Frekuensi penyemprotan larutan 1% pupuk majemuk N tinggi dapat ditingkatkan menjadi 2 kali per minggu setelah tanaman berumur 1 bulan dan menyesuaikan kondisi pertumbuhan tanaman. Aklimatisasi dengan cara ini menghasilkan persentase keberhasilan aklimatisasi berkisar antara 85-100%. Plantlets tumbuh sehat dan vigor dengan pertumbuhan jumlah daun, panjang dan lebar daun lebih maksimal.

Potensi produksi benih melalui aplikasi teknologi ini dari 1 eksplan kuncup bunga muda akan dihasilkan 7-15 tunas untuk jenis yang responsif; 3-6 tunas per eksplan untuk yang kurang responsif, jika nilai rata-rata nya 4-7 tunas per eksplan dan disubkultur sebanyak 6 kali, maka dari 1 eksplan akan dihasilkan  16.384 – 823.543 tunas yang siap diakarkan dalam waktu ± 262,5 hari (8,75 bulan). Jika reduksi kehilangan hasil pengakaran tunas ± 5%, maka plantlets yang berhasil disiapkan selama 1 bulan berkisar antara 15.564 – 782.366 plantlets. Jika kehilangan hasil akibat aklimatisasi ± 10%, maka plantlets yang berhasil diaklimatisasi selama 1 bulan selanjutnya dipotkan secara individu dan teradaptasi 1 bulan kemudian yang siap dijual kepada petani berkisar antara 14.007 – 704.129 tanaman dalam waktu 11,75 bulan atau dalam waktu 1 tahun. Teknologi ini berhasil diaplikasikan untuk memperbanyak VUB dan klon-klon terseleksi Balithi seperti: Athalia, Ayudia, Neoma, Nashita, Zsofia; Klon 03.045; 11.043; 11.046; 14.028; 21.035; 28.012; 01.163; 01.092; 40.002; 25.023.

Budi Winarto

SebelumnyaTeknik Pemeliharaan Mawar Potong