PEMUPUKAN PADA KRISAN POT

Bunga krisan (Dendranthema grandiflora Tzvelev Syn Chrysanthemum morifolium Ramat.) merupakan salah satu tanaman hias yang populer di Indonesia. Ada dua jenis krisan, yaitu krisan potong dan krisan pot. Krisan potong ditanam di bedengan lahan, sedangkan krisan pot ditanam di pot. Penggunaan krisan sebagai bunga potong telah lama dibudidayakan, sedangkan krisan sebagai bunga pot berkembang kemudian. 

Dewasa ini, bunga krisan pot mulai banyak diminati oleh masyarakat, dengan daya tarik bentuk, warna bunga, dan variasi warna, harga yang relatif terjangkau, mempunyai masa kesegaran bunga (vaselife) yang cukup lama, serta dapat ditanam sepanjang tahun, karena krisan ditanam di dalam rumah plastik yang terlindung dari hembusan angin kencang, terpaan air hujan, dan sinar matahari yang menyengat. Penggunaan krisan pot antara lain untuk dekorasi perhelatan, pajangan di lobi hotel, restoran, kantor-kantor, dan untuk rumah tangga.

Faktor penting yang perlu diperhatikan dalam budidaya krisan pot adalah pemupukan. Tanaman krisan pot memerlukan pupuk agar tanaman tumbuh dengan maksimal dan dapat berproduksi dengan baik. Sumber unsur hara dapat diperoleh dari pupuk organik ataupun pupuk anorganik. Unsur yang paling dominan pada pupuk an-organik, yaitu N, P, dan K. 

Beberapa jenis pupuk nitrogen yang digunakan oleh petani tanaman hias adalah pupuk NPK dan KNO3. Pupuk NPK mengandung unsur hara yang lebih lengkap, yaitu nitrogen, phosphor, dan kalium, biasanya mempunyai persentase kandungan unsur hara yang seimbang, misalnya 16-16-16. Pupuk NPK banyak dijual di toko pertanian. 

Berbagai macam merk dagang jenis pupuk NPK, dari harga murah hingga mahal, tetapi umumnya pedagang akan menyediakan pupuk yang banyak dibeli oleh petani. Pupuk anorganik bersifat praktis, lebih mudah diperoleh dan efek untuk pertumbuhan tanaman akan lebih cepat terlihat. 

Pupuk KNO3 jarang digunakan, karena harganya yang relatif lebih mahal daripada pupuk NPK. Kandungan pupuk KNO3 yang utama adalah unsur N (14%) dan K (39%). Pupuk ini bersifat larut dengan baik dan higroskopis). Kandungan nitrogen pada KNO3 lebih kecil dari nitrogen pada NPK. Unsur NO3 atau disebut dengan nitrat merupakan salah satu bentuk N mineral yang bersifat labil dan mudah tercuci, tetapi walaupun demikian, nitrat lebih mudah diserap oleh akar tanaman. Dari persentase tersebut diketahui bahwa kandungan kalium pada KNO3 dalam persentase yang jauh besar daripada kalium pada pupuk NPK.

Ika Rahmawati

SebelumnyaVarietas Potensial Untuk Perakitan Varietas Unggul Baru Mawar
SelanjutnyaKoordinasi Pengelolaan TIK Lingkup Balitbangtan