PENGGUNAAN-BENIH-DAN-VARIETAS-TANAMAN-KRISAN

  • PENGGUNAAN BENIH DAN VARIETAS TANAMAN KRISAN

  • ditulis tgl : 06 Januari 2020, telah dibaca sebanyak : 160 kali

    Share On Twitter


    Penggunaan benih yang berkualitas sangat penting untuk diperhatikan dalam proses produksi tanaman krisan.  Benih yang berkualitas dalam hal ini adalah benih dengan kemurnian genetik tinggi, sehat (bebas patogen terutama penyakit sistemik), tidak mengalami gangguan fisiologis, mempunyai daya tumbuh kuat dan memiliki nilai komersial di pasaran. Benih yang sehat dan prima selain berpotensi untuk tumbuh secara optimal juga responsif terhadap agro-input yang diberikan yang selanjutnya dapat mempengaruhi performa pertumbuhan tanaman dan pada akhirnya kualitas bunga yang dihasilkan.

    Pemilihan varietas yang ditanam juga penting untuk diperhatikan pada proses produksi tanaman krisan. Selain preferensi konsumen terhadap warna, bentuk dan tipe bunga, karakter lain yang spesifik dan menguntungkan (dalam hal ini mengurangi agro input), seperti ketahanan/toleransi terhadap patogen penting, juga layak mendapat perhatian dalam pemilihan varietas yang ditanam. Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi) Segunung telah merilis beberapa varietas krisan dengan keunggulan komparatif diantaranya warna bunga yang cerah dan tahan terhadap penyakit karat, varietas-varietas tersebut diantaranya adalah Puspita Nusantara, Puspita Kencana, Sakuntala dan Dewi Ratih.
    Benih tanaman krisan dapat berupa stek pucuk tanpa akar, stek pucuk berakar, anakan maupun tanaman muda hasil aklimatisasi dari kultur jaringan.  Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan benih tanam krisan.

    Stek pucuk tanpa akar (unrooted cutting)
    Pucuk diambil dari tunas aksiler yang tumbuh dari tanaman induk yang sehat.  Pemilihan stek pucuk didasarkan pada tunas aksiler yang telah mempunyai 5 - 7 daun sempurna, mempunyai performa pertumbuhan tunas yang baik, dan tidak terserang hama penyakit penting serta tidak terdapat gejala gangguan fisiologis.  Stek dipanen dengan cara memotong tunas aksiler dengan menyisakan 2 - 3 daun pada batang tanaman induk, kemudian ditempatkan pada wadah di tempat yang lembab.  Daun stek dipotong dengan menyisakan 2 daun sempurna, dan pangkal ujung batang stek dipotong sedikit.  Stek-stek yang telah dirompes, kemudian disemprot/dicelupkan dengan larutan fungisida dan bakterisida untuk mengurangi kemungkinan serangan hama penyakit, kemudian ujung pangkal batang stek diolesi zat perangsang tumbuh akar yang sudah dibuat pasta sebelumnya.  Stek kemudian ditiriskan kira-kira 2 - 5 menit, kemudian langsung ditanam pada bedengan tanam.  Media tumbuh dijaga kelembabannya dengan cara menyiram bedengan dengan air dan selanjutnya tanaman dipelihara.

    Cara ini tidak dianjurkan pada pertanaman krisan untuk produksi bunga. Beberapa kelemahan yang mungkin terjadi bilamana penanaman menggunakan stek pucuk tidak berakar adalah :
    1. Terjadi stagnasi pertumbuhan apikal stek, karena pertumbuhan awal pucuk tanpa akar terfokus pada pertumbuhan akar terlebih dahulu.
    2. Terjadi stress pada stek, karena pucuk tanpa akar relatif lebih sensitif dan rentan terhadap kondisi lingkungan lahan yang lebih terbuka dan ekstrim.
    3. Kemungkinan serangan hama penyakit yang lebih dini.
    4. Pertumbuhan stek yang tidak seragam, hingga akhirnya berakibat pada pertumbuhan tanaman dewasa yang tidak seragam pula.
    5. Rentannya stek tanpa akar terhadap kondisi lingkungan tanam yang ekstrim, kemungkinan serangan hama penyakit serta gangguan fisiologis lainnya yang mengganggu pertumbuhan stek dapat berakibat pada kematian stek, sehingga diperlukan penyulaman.  Penyulaman dalam jumlah besar selain menambah ongkos tenaga kerja, juga akan menambah benih stek yang disiapkan untuk bahan tanam, sehingga proses produksi menjadi kurang efisien dan ekonomis.  

    Stek pucuk berakar (rooted cutting)
    Penggunaan stek berakar sebagai bahan tanam dianjurkan dalam proses budidaya krisan.  Cara ini dapat mengurangi kelemahan penggunaan stek tanpa akar diantaranya adalah:
    1. Kemungkinan stagnasi pertumbuhan apikal stek lebih kecil, karena proses adaptasi stek berakar pada lahan lebih cepat.
    2. Stek berakar relatif lebih tahan terhadap kondisi lahan yang lebih terbuka pada bedengan, sehingga toleransi tanaman muda terhadap stress akibat perubahan lingkungan tanam akan lebih besar.
    3. Kemungkinan serangan hama penyakit yang lebih dini dapat diminimalisasi.
    4. Pertumbuhan stek dan tanaman selanjutnya dapat lebih seragam.
    5. Kematian stek akibat perubahan lingkungan tanam, kemungkinan serangan hama penyakit serta gangguan fisiologis lainnya dapat tereduksi, sehingga proses produksi lebih efisien dan ekonomis.

    Stek berakar bisa didapat dari penangkar benih krisan komersial atau dengan mengakarkan stek krisan tanpa akar pada media pengakaran terlebih dahulu.  Pucuk diambil dari tunas aksiler yang tumbuh dari tanaman induk yang sehat dan tumbuh optimal.  Stek sebagai bahan tanam sangat dianjurkan berasal dari kebun tanaman induk untuk produksi stek dan bukan dari tanaman produksi bunga.  Hal ini dimaksudkan untuk menjaga kualitas stek yang dihasilkan dan tanaman muda yang ditanam.  Proses produksi dan pengelolaan kebun tanaman induk untuk produksi stek dijelaskan secara integral pada bab selanjutnya.
    Stek pucuk diambil dari tunas aksiler yang telah mempunyai 5 - 7 daun sempurna, mempunyai performa pertumbuhan apikal yang baik, dan tidak terserang hama penyakit penting serta tidak terjadi gangguan fisiologis.  Stek dipanen dengan cara memotong tunas aksiler dengan menggunakan pisau atau gunting stek steril dan menyisakan 2 - 3 daun pada batang tanaman induk. Stek kemudian ditempatkan pada wadah di tempat yang lembab.  Daun stek dipotong dengan menyisakan 2 daun sempurna, dan pangkal ujung batang stek dipotong sedikit.  Stek-stek yang telah dirompes, kemudian disemprot/dicelupkan dengan larutan fungisida dan bakterisida untuk mengurangi kemungkinan serangan hama penyakit, kemudian ujung pangkal batang stek diolesi zat perangsang tumbuh akar yang sudah dibuat berupa pasta. Stek kemudian ditiriskan kira-kira 2 - 5 menit, dan selanjutnya ditanam pada media pengakaran stek yang sudah disiapkan dengan cara membenamkan pangkal batang stek sedalam 1 - 2 cm ke dalam media tanam.

    Lingkungan pengakaran dijaga kelembabannya dengan memberikan air pada media stek 1 - 2 hari sekali dan stek dipelihara dalam kondisi hari panjang.  Stek akan berakar dan siap ditanam (transplant) pada lahan bedengan setelah melalui proses pengakaran setidaknya selama 14 hari.  Stek yang telah berakar kemudian dapat ditanam pada lahan bedengan dalam rumah lindung yang telah disiapkan sebelumnya.  Stek dipelihara dalam kondisi hari panjang dan pemeliharaan tanaman muda hingga dewasa secara lebih rinci dijelaskan pada bab selanjutnya pada panduan ini.

    Sulur anakan
    Sulur cabang anakan juga dapat digunakan sebagai bahan tanam produksi krisan.  Sulur anakan tumbuh dari batang di dalam tanah dan yang muncul ke permukaan.  Sulur anakan biasanya sudah berakar dan dapat dipotong dan langsung ditanam pada lahan bedengan.  Cara ini pun tidak dianjurkan karena pertumbuhan sulur anakan tidak seragam, sehingga pertumbuhan tanaman muda pun tidak merata.

    Kultur Jaringan (tissue culture)
    Bahan tanam lain yang dapat digunakan adalah tanaman muda teraklimatisasi dari planlet hasil kultur jaringan.  Tanaman muda hasil kultur jaringan biasanya lebih sehat, vigor dan seragam. Proses kultur jaringan membutuhkan peralatan dan bahan kimia yang relatif mahal, pelaksana yang terdidik dan terlatih serta tempat yang khusus dan terproteksi serta steril. (irm)

    Kurniawan Budiarto
    Balai Penelitian Tanaman Hias

  • BERITA TERKAIT
    • Naweswari Agrihorti Varietas Krisan Bertipe Spray

      15 Februari 2020
      Krisan Varietas Naweswari Agrihorti merupakan tanaman hias komoditas krisan yang dihasilkan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian melalui unit kerja Balai Penelitian Tanaman Hias.Varietas ini merupakan hasil silangan dari varietas Wastu Kania x Stroika dengan ciri-ciri diantraanya memiliki tinggi tanaman 99.6 - 106.6 cm, bentuk daun lonjong menjari dengan lekukan dalam dan gerigi sedang. Umur mulai berbunga varietas Naweswari Agrihorti 56-62 hari
    • Studi Penyebab Gejala Mosaik Pada Tanaman Anggrek Menggunakan Metode Deteksi Elisa

      14 Februari 2020
      Resta Patma Yanda, Erniawati Diningsih dan Indijarto Budi Rahardjo, Balai Penelitian Tanaman HiasTanaman hias Anggrek merupakan salah satu komoditas tanaman hias yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Salah satu kendala peningkatan produksi bunga anggrek adalah adanya penyakit  sistemik  yang  disebabkan  oleh  virus. Tanaman  anggrek  dapat  terinfeksi  lebih dari 25 jenis virus. Tujuan penelitian
    • Konservasi Anggrek Spesies Alam Menggunakan Eksplan Biji pada Media Vacin & Went

      12 Februari 2020
      Suskandari Kartikaningrum*, Dewi Pramanik*, Minangsari Dewanti, Rudy Soehendi, dan M. Prama Yufdy Abstrak. Konservasi anggrek spesies alam merupakan langkah penting untuk menghindari kepunahan akibat rusaknya habitat alamnya. Tujuan penelitian ialah mengetahui kemampuan tumbuh biji anggrek spesies alam pada media Vacin dan Went (VW) dan me- nentukan jenis anggrek spesies yang telah berhasil dikonservasi melalui biji. Anggrek spesies alam yang
    • Marina, Varietas dengan Kuntum Bunga Padat

      05 Februari 2020
      Krisan bunga potong varietas Marina memiliki bunga tipe standar dengan bentuk dekoratif serra berwarna bunga pita kuning cerah. Bunga pita berjumlah 300-350 helai per kuntum dalam satu tangkai. Tanaman krisan varietas Marina ini berpotensi menghasikan 60-63 tangkai bunga per meter persegi per musim tanam. Batang berpenampang bulat berwarna hijau dengan daun berbentuk bercangap menyirip.  Varietas ini mempunyai sistem perakaran serabut dengan
    • Proses Produksi Benih Mawar Potong

      30 Januari 2020
      Penyiapan batang bawahBahan tanam berupa bibit tanaman hasil okulasi dengan mawar batang bawah.  Cara penyiapan bibit tanaman hasil bawah adalah sebagai berikut :Penyiapan media tanam berupa campuran tanah dan pupuk kandang (1 : 1 v/v).Campuran media ini kemudian ditempatkan pada polybag berukuran 18 x 18 cm.  Pengisian media tanam sebaiknya hingga permukaannya berada 2-3 cm dari bibir polybag. Hal ini dimaksudkan agar media
    • Penyiapan Sarana dan Prasarana Produksi Mawar

      24 Januari 2020
      Mawar potong umumnya ditanam di dalam rumah lindung, Rumah lindung bertujuan untuk melindungi tanaman dari kondisi cuaca dan lingkungan yang ekstrim yang dapat memberikan pengaruh negatif terhadap pertumbuhan tanaman dan melindungi tanaman dari organisme pengganggu tanaman. Rumah lindung dibuat memanjang disesuaikan dengan bentuk dan luas lahan.Rangka rumah lindung dapat berupa kayu, bambu, besi, aluminium, atau beton dengan ketinggian berkisar
    • Balitbangtan Kini Memiliki Smart Greenhouse Tanaman Hias

      21 Januari 2020
      Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) saat ini memiliki Smart Greenhouse tanaman hias berlokasi di Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian (IPPTP) Tanaman Hias Serpong Jl. Situgadung - Tangerang Selatan. Sosialisasi pengoperasian smart green house ini dilaksanakan Selasa 21 Januari 2020.Hadir dalam kesempatan tersebut Prof Dr Budi Marwoto peneliti Balitbangtan yang dalam wawancaranya menyampaikan dengan