CARA FERTIGASI TANAMAN


Ketidak seimbangan pemberian hara/nutrisi, selain tidak efisien dapat menyebabkan mutu bunga terganggu seperti vase life menjadi lebih pendek atau dapat juga mencemari lingkungan seperti polusi nitrat ke sumur-sumur penduduk. Untuk mencegah hal tersebut perlu dicari jalan keluarnya.

Analisis hara yang tersedia di tanah (media tanam) dan kebutuhan hara oleh tanaman itu  sendiri perlu dijadikan sebagai acuan dalam rekomendasi pemupukan. Dalam aplikasi pupuk buatan ke media tanah ada beberapa cara yang dapat diikuti. Secara disebar/dibenam,  menggunakan  pupuk  pelepas  lambat  (slow release) dan mengunakan larutan (liquid feeding). Penggunaaan formulasi larutan, pupuk dapat diberikan ke media tanam atau ke  daun.

Dalam prakteknya aplikasi pupuk tersebut dapat melalui pengairan (disebut fertigasi). Boleh saja larutan pupuk tersebut mengandung semua unsur hara penting sebagai cara pemberian hara. Akan tetapi menurut Handreck & Black (1984), fertigasi hanya sebagai back up dari pada pupuk dasar yang diberikan sebelumnya. Hal ini beralasan karena semua unsur makro Ca, Mg , P, sebagian K dan N serta unsur mikro dapat diperoleh dari pupuk kandang dan pupuk dasar. Pupuk cair hanya perlu untuk mensuplai Nitrogen dan Kalium serta belerang (S) jika di dalam air mengandung kurang dari 25 ppm S. Walaupun demikian unsur hara  lain dapat diikutkan jika diperlukan. 

Ada 3 cara pemberian pupuk cair, yaitu (1) terus-menerus setiap pemberian air irigasi, (2) sekali-sekali, tapi reguler (tiap minggu atau tiap 2 minggu) atau (3) kadang-kadang saja, bilamana diperlukan. Sumber hara  N dan K dapat digunakan dari berbagai jenis pupuk. aplikasinya tidak perlu dicampur ke tangki air, tetapi menggunakan proporsioner/injektor. Dengan demikian stok pupuk dapat tersedia sepanjang waktu. Jika diperlukan larutan pupuk,  maka tinggal membuka proportioner secara manual atau dapat didisain secara otomatik.

Keuntungan dari sistem fertigasi diantaranya lebih efisien dalam jumlah pupuk yang diberikan dibandingkan dengan ditabur, hara dapat selalu tersedia pada saat paling dibutuhkan. Hal-hal  yang  perlu  diperhatikan, yaitu komposisi hara, frekuensi pemberian air dan cara aplikasi (desain irigasi).

SebelumnyaInspektur III Kementan Berkunjung ke Balithi: Semakin Baik Tata Kelola Semakin Kecil Temuan
SelanjutnyaPartisipasi Balithi Dalam Temu Teknis Proliga Cabai