KASTURI (TAPEINOCHILOS ANANASSAE): MORFOLOGI TANAMAN


Tapeinochilus ananassae mempunyai nama daerah bunga kasturi, di pasaran dunia dikenal dengan nama Indonesian Wax Ginger merupakan salah satu spesies dari famili Costaceae.

Kasturi atau Tapeinochilos ananassae termasuk herba perenial yang mempunyai rhizoma tidak aromatik. Tinggi tanaman bisa mencapai 2 - 4 m. Rhizoma berdaging. Daun tersusun spiral, dengan lamina tunggal, berbentuk lonjong dengan permukaan daun licin. 

Cabang udara sekunder muncul dari ketiak daun dan selanjutnya akan muncul pula cabang udara tersier dari cabang sekunder dan akan berakhir dengan cabang udara kwarter yang muncul dari cabang  tersier. Daun terkonsentrasi pada batang bagian atas. 

Rangkaian bunga berbentuk seperti cone terletak terminal pada tunas atau terpisah dari batang berasal dari rhizoma. Braktea mempunyai lapisan lilin dan kaku, berbentuk seperti nenas, berukuran besar dan berwarna merah darah atau merah oranye, bunga berwarna kuning terang muncul dari basal braktea, terdiri dari calyc dan corolla, satu stamen dengan filament yang lebar, anther dilengkapi dengan anther crest. Panjang bibir atau labelum sama atau lebih panjang dari corolla.

Apa yang dimanfaatkan sebagai bunga potong pada tanaman ini sebenarnya adalah susunan braktea. Braktea ini tidak kenal musim dan muncul sepanjang tahun, berukuran panjang tangkai yang sangat bervariasi, kurang  dari 20 cm sampai lebih dari 1,5 m. Diameter tangkai bunga berkisar 1,5 cm, kokoh dan kuat. 

Rangkaian bunga yang terdiri dari susunan braktea berawal dari kuncup berukuran diameter berkisar 2,5 cm dengan panjang kira-kira 4 cm berwarna kemerahan. Adanya warna merah pada tunas generatif inilah yang dapat dibedakan dengan tunas vegetatif yang muncul dalam waktu bersamaan sepanjang musim. Kuncup ini terus berkembang dengan ukuran diameter makin membesar. 

Ukuran bunga yang ideal yaitu mempunyai lebar dan panjang braktea yang hampir sama lebih kurang 9 cm. Bunga biologi akan muncul di setiap braktea, dalam satu rangkaian braktea yang berjumlah sampai 189 helai. 

Perkembangan braktea ini meliputi perkembangan ukuran diameter maupun panjang rangkaian. Bila rangkaian braktea ini kita biarkan berkembang terus akan memanjang dan berbentuk seperti nenas.  Pemanjangan ukuran braktea akan berakhir dengan habisnya bunga pada ujung braktea. 

Setelah bunga habis maka braktea menua dan membusuk. Sepanjang umur perkembangan braktea ini, braktea dapat dimanfaatkan sebagai bunga potong yang mempunyai ukuran yang bervariasi dalam diameter maupun panjang braktea. Hal ini menguntungkan para penanam karena masa layu yang cukup lama dilapang juga untuk para perangkai dengan kreasi bentuk rangkaiannya. (irm)

Debora Herlina Adriani
Balai Penelitian Tanaman Hias

SebelumnyaPerbanyakan Angrek Dendrobium: Protocom Like Bodies
SelanjutnyaCara Menanam Gerbera