KASTURI-(TAPEINOCHILOS-ANANASSAE):-MORFOLOGI-TANAMAN

  • KASTURI (TAPEINOCHILOS ANANASSAE): MORFOLOGI TANAMAN

  • ditulis tgl : 07 Oktober 2019, telah dibaca sebanyak : 85 kali

    Share On Twitter


    Tapeinochilus ananassae mempunyai nama daerah bunga kasturi, di pasaran dunia dikenal dengan nama Indonesian Wax Ginger merupakan salah satu spesies dari famili Costaceae.

    Kasturi atau Tapeinochilos ananassae termasuk herba perenial yang mempunyai rhizoma tidak aromatik. Tinggi tanaman bisa mencapai 2 - 4 m. Rhizoma berdaging. Daun tersusun spiral, dengan lamina tunggal, berbentuk lonjong dengan permukaan daun licin. 

    Cabang udara sekunder muncul dari ketiak daun dan selanjutnya akan muncul pula cabang udara tersier dari cabang sekunder dan akan berakhir dengan cabang udara kwarter yang muncul dari cabang  tersier. Daun terkonsentrasi pada batang bagian atas. 

    Rangkaian bunga berbentuk seperti cone terletak terminal pada tunas atau terpisah dari batang berasal dari rhizoma. Braktea mempunyai lapisan lilin dan kaku, berbentuk seperti nenas, berukuran besar dan berwarna merah darah atau merah oranye, bunga berwarna kuning terang muncul dari basal braktea, terdiri dari calyc dan corolla, satu stamen dengan filament yang lebar, anther dilengkapi dengan anther crest. Panjang bibir atau labelum sama atau lebih panjang dari corolla.

    Apa yang dimanfaatkan sebagai bunga potong pada tanaman ini sebenarnya adalah susunan braktea. Braktea ini tidak kenal musim dan muncul sepanjang tahun, berukuran panjang tangkai yang sangat bervariasi, kurang  dari 20 cm sampai lebih dari 1,5 m. Diameter tangkai bunga berkisar 1,5 cm, kokoh dan kuat. 

    Rangkaian bunga yang terdiri dari susunan braktea berawal dari kuncup berukuran diameter berkisar 2,5 cm dengan panjang kira-kira 4 cm berwarna kemerahan. Adanya warna merah pada tunas generatif inilah yang dapat dibedakan dengan tunas vegetatif yang muncul dalam waktu bersamaan sepanjang musim. Kuncup ini terus berkembang dengan ukuran diameter makin membesar. 

    Ukuran bunga yang ideal yaitu mempunyai lebar dan panjang braktea yang hampir sama lebih kurang 9 cm. Bunga biologi akan muncul di setiap braktea, dalam satu rangkaian braktea yang berjumlah sampai 189 helai. 

    Perkembangan braktea ini meliputi perkembangan ukuran diameter maupun panjang rangkaian. Bila rangkaian braktea ini kita biarkan berkembang terus akan memanjang dan berbentuk seperti nenas.  Pemanjangan ukuran braktea akan berakhir dengan habisnya bunga pada ujung braktea. 

    Setelah bunga habis maka braktea menua dan membusuk. Sepanjang umur perkembangan braktea ini, braktea dapat dimanfaatkan sebagai bunga potong yang mempunyai ukuran yang bervariasi dalam diameter maupun panjang braktea. Hal ini menguntungkan para penanam karena masa layu yang cukup lama dilapang juga untuk para perangkai dengan kreasi bentuk rangkaiannya. (irm)

    Debora Herlina Adriani
    Balai Penelitian Tanaman Hias

  • BERITA TERKAIT
    • Efisiensi dan Aplikasi Teknologi Perbanyakan Mawar Secara In vitro

      15 Oktober 2019
      Teknologi perbanyakan R. hybrida secara in vitro melalui inisiasi dan proliferasi tunas adventif telah berhasil dikembangkan. Waktu yang dibutuhkan untuk mengembangkan teknologi adalah + 1,6 tahun.Titik kritikal teknologi ini terletak pada penyiapan eksplan pada kondisi in vitro. Potensi produksi benih dari 1 eksplan responsif akan menghasilkan 5-9 tunas. Jika rata-rata tunas yang dihasilkan adalah 6,7 tunas tiap subkultur, 6 kali subkultur dapat
    • KUNJUNGAN PUSAT PERPUSTAKAAN DAN PENYEBARAN TEKNOLOGI PERTANIAN DALAM RANGKA PERMINTAAN PENDAMPINGAN DAN BANTUAN TANAMAN ANGGREK

      14 Oktober 2019
      Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian  (Pustaka) mempunyai lokasi yang strategis dan berada di ring satu yang berdekatan dengan Istana Presiden serta Kebun raya Bogor dimana lokasi ini menjadi objek pengembangan wisata di Kota Bogor. Sehubungan hal tersebut, Pustaka Kementrian Pertanian  bermaksud untuk menata halaman dan taman pustaka sehingga dapat
    • Jejangkit Muara Menjadi Lokasi Temu Lapang Teknologi Litbang 2019

      14 Oktober 2019
      Kegiatan Temu Lapang Teknologi Litbang untuk SERASI dilaksanakan di Denfarm Jejangkit yang berlokasi di Desa Jejangkit Muara, Kec. Jejangkit, Kab. Barito Kuala, Kalimantan Selatan, pada tanggal 14 Oktober 2018 dan dibuka oleh Kepala BALITBANGTAN (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian) Dr. Fadry Djufry.Tujuan dilaksanakannya temu lapang ini untuk mengkomunikasikan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan dan teknologi hasil penelitian Badan Litbang
    • Kunjungan Badan Karantina Pertanian ke Balai Penelitian Tanaman Hias

      14 Oktober 2019
      Balai Penelitian Tanaman Hias pada tanggal 14 Oktober 2019 mendapatkan kunjungan dari perwakilan Bada Karantina kementrian Pertanian. Hal Ini sebungan dengan adanya informasi keberadaan Pseudomonas Viridiflava (OPTK A1) pada tanaman anggrek sebagaimana hasil tulisan dari peneliti Balithi yaitu Ir. hanudin dkk dalam jurnal Fitopatologi Indonesia berjudul "Evaluasi Resistensi Progeni Anggrek Phalaenopsis terhadap penyakit busuk lunak (Pseudomonas
    • Penyiapan Plantlets dan Aklimatisasi Dalam Perbanyakan Mawar

      14 Oktober 2019
      Tahapan dalam perbanyakan mawar setelah sterilisasi dan penyiapan eksplan adalah inisiasi tunas adventif. Inisiasi tunas adventif dilakukan dengan cara menanam potongan internodus pada medium MW yang ditambah dengan 1,5 mg/l TDZ dan 0,01 mg/l NAA. Kultur kemudian disimpan dalam ruang gelap selama 1,5-2,0 bulan. Inisiasi kalus mulai terlihat 9-13 hari setelah kultur pada permukaan internodus bekas potongan pisau kultur. Kalus betumbuh menjadi bentuk
    • Perbanyakan Mawar (Rosa hybrida L.): Sterilisasi dan Penyiapan Eksplan

      11 Oktober 2019
      Mawar dapat diperbanyak secara vegetatif menggunakan stek (cutting), perendukan (layering), okulasi mata tunas (budding), sambung pucuk (grafting); secara generatif menggunakan biji.Perbanyakan konvensional tersebut, meskipun dominan diaplikasikan pada perbanyakan mawar, sering diperhadapkan pada kendala keterbatasan batang bawah, berlangsung lambat, membutuhkan waktu yang lama dan tenaga yang banyak dengan hasil yang
    • Keterlibatan Balithi Dalam Bimbingan Teknis Metode Perhitungan Manfaat Penelitian dan Pengembangan Pertanian

      10 Oktober 2019
      Mengukur manfaat teknologi hasil penelitian merupakan hal yang penting dalam menghitung kontribusi kegiatan penelitian dan pengembangan pertanian terhadap pembangunan pertanian dan tingkat pengembalian investasi pada kegiatan penelitian. Sehubungan dengan hal tersebut Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian (PSEKP) menyelenggarakan bumbingan teknis menghitung mannfaat teknologi dan Return of Investment penelitian dan pengembangan pertanian.