BIOPF:-BIOPESTISIDA-PENGENDALI-LAYU-BAKTERI-DAN-CENDAWAN

  • BIOPF: BIOPESTISIDA PENGENDALI LAYU BAKTERI DAN CENDAWAN

  • ditulis tgl : 28 September 2019, telah dibaca sebanyak : 85 kali

    Share On Twitter


    BIOPF adalah perpaduan fungisida hayati dan pupuk hayati yang efektif dapat mengendalikan penyakit layu bakteri dan cendawan, rebah kecambah (talieun-sunda, lanas-jawa) dan bercak daun yang disebabkan oleh Fusarium sp., Pythium sp. Verticilliumalbo-atrum, Alternaria sp. dan Rhizoctonia solani, serta meningkatkan pertumbuhan tanaman.

    BIOPF berbahan aktif bakteri Pseudomonas fluorescens yang ditambah bakteri penambat N (Azotobacter sp. dan Azosprillium) dapat digunakan untuk berbagai jenis tanaman sayuran, palawija, tanaman hias, pembibitan (nursery)  tanaman buah-buahan, tanaman perkebunan, tanaman kehutanan, dan berbagai jenis tanaman obat.

    BIOPF tidak meninggalkan sisa-sisa racun seperti kimia, karena terdiri atas mikrob hidup. BIOPF+ dapat mengkelat Fe di alam (Fe kelat) dari bentuk yang sulit dimanfaatkan oleh tanaman menjadi Fe yang mudah dimanfaatkan oleh tanaman. Sebaiknya Fe tersebut menjadi tidak tersedia bagi mikrob patogen (kompetisi).

    BIOPF secara alami dapat menghasilkan antibioka alamiah, seperti phenazine 1-carboxcylik acid, yang dapat mengendalikan mikroba lain  yang merugikan tanaman. Sebaiknya BIOPF+ disimpan ditempat sejuk yang tidak terkena sinar matahari secara langsung.

    Perlakuan benih
    10 ml BIOPF+ dilarutkan dengan 1 liter air, kemudian benih direndam selama 20 menit dalam produk BIOPF+. Sisa perendaman benih di siramkan pada pesemaian.

    Perlakuan di Pertanaman
    Setengah dosis pupuk anorganik. 10 ml BIOPF+ dilarutkan dengan 1 liter air, kemudian disemprotkan pada pangkal batang tanaman di permukaan tanah saat tanaman berumur 15 dan 30 hari setelah tanam. Sebaiknya aplikasi BIOPF+ digunakan pada pagi hari sebelum matahari terbit atau sore hari setelah matahari terbenam. (irm)

    informasi lengkap mengenai BIOPF:
    Lab. biocontrol Balai Penelitian Tanaman Hias.

  • BERITA TERKAIT
    • Efisiensi dan Aplikasi Teknologi Perbanyakan Mawar Secara In vitro

      15 Oktober 2019
      Teknologi perbanyakan R. hybrida secara in vitro melalui inisiasi dan proliferasi tunas adventif telah berhasil dikembangkan. Waktu yang dibutuhkan untuk mengembangkan teknologi adalah + 1,6 tahun.Titik kritikal teknologi ini terletak pada penyiapan eksplan pada kondisi in vitro. Potensi produksi benih dari 1 eksplan responsif akan menghasilkan 5-9 tunas. Jika rata-rata tunas yang dihasilkan adalah 6,7 tunas tiap subkultur, 6 kali subkultur dapat
    • KUNJUNGAN PUSAT PERPUSTAKAAN DAN PENYEBARAN TEKNOLOGI PERTANIAN DALAM RANGKA PERMINTAAN PENDAMPINGAN DAN BANTUAN TANAMAN ANGGREK

      14 Oktober 2019
      Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian  (Pustaka) mempunyai lokasi yang strategis dan berada di ring satu yang berdekatan dengan Istana Presiden serta Kebun raya Bogor dimana lokasi ini menjadi objek pengembangan wisata di Kota Bogor. Sehubungan hal tersebut, Pustaka Kementrian Pertanian  bermaksud untuk menata halaman dan taman pustaka sehingga dapat
    • Jejangkit Muara Menjadi Lokasi Temu Lapang Teknologi Litbang 2019

      14 Oktober 2019
      Kegiatan Temu Lapang Teknologi Litbang untuk SERASI dilaksanakan di Denfarm Jejangkit yang berlokasi di Desa Jejangkit Muara, Kec. Jejangkit, Kab. Barito Kuala, Kalimantan Selatan, pada tanggal 14 Oktober 2018 dan dibuka oleh Kepala BALITBANGTAN (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian) Dr. Fadry Djufry.Tujuan dilaksanakannya temu lapang ini untuk mengkomunikasikan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan dan teknologi hasil penelitian Badan Litbang
    • Kunjungan Badan Karantina Pertanian ke Balai Penelitian Tanaman Hias

      14 Oktober 2019
      Balai Penelitian Tanaman Hias pada tanggal 14 Oktober 2019 mendapatkan kunjungan dari perwakilan Bada Karantina kementrian Pertanian. Hal Ini sebungan dengan adanya informasi keberadaan Pseudomonas Viridiflava (OPTK A1) pada tanaman anggrek sebagaimana hasil tulisan dari peneliti Balithi yaitu Ir. hanudin dkk dalam jurnal Fitopatologi Indonesia berjudul "Evaluasi Resistensi Progeni Anggrek Phalaenopsis terhadap penyakit busuk lunak (Pseudomonas
    • Penyiapan Plantlets dan Aklimatisasi Dalam Perbanyakan Mawar

      14 Oktober 2019
      Tahapan dalam perbanyakan mawar setelah sterilisasi dan penyiapan eksplan adalah inisiasi tunas adventif. Inisiasi tunas adventif dilakukan dengan cara menanam potongan internodus pada medium MW yang ditambah dengan 1,5 mg/l TDZ dan 0,01 mg/l NAA. Kultur kemudian disimpan dalam ruang gelap selama 1,5-2,0 bulan. Inisiasi kalus mulai terlihat 9-13 hari setelah kultur pada permukaan internodus bekas potongan pisau kultur. Kalus betumbuh menjadi bentuk
    • Perbanyakan Mawar (Rosa hybrida L.): Sterilisasi dan Penyiapan Eksplan

      11 Oktober 2019
      Mawar dapat diperbanyak secara vegetatif menggunakan stek (cutting), perendukan (layering), okulasi mata tunas (budding), sambung pucuk (grafting); secara generatif menggunakan biji.Perbanyakan konvensional tersebut, meskipun dominan diaplikasikan pada perbanyakan mawar, sering diperhadapkan pada kendala keterbatasan batang bawah, berlangsung lambat, membutuhkan waktu yang lama dan tenaga yang banyak dengan hasil yang
    • Keterlibatan Balithi Dalam Bimbingan Teknis Metode Perhitungan Manfaat Penelitian dan Pengembangan Pertanian

      10 Oktober 2019
      Mengukur manfaat teknologi hasil penelitian merupakan hal yang penting dalam menghitung kontribusi kegiatan penelitian dan pengembangan pertanian terhadap pembangunan pertanian dan tingkat pengembalian investasi pada kegiatan penelitian. Sehubungan dengan hal tersebut Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian (PSEKP) menyelenggarakan bumbingan teknis menghitung mannfaat teknologi dan Return of Investment penelitian dan pengembangan pertanian.