KUTUDAUN-MAWAR-(ROSE-APHID)-MACROSIPHUM-ROSAE-L.

  • KUTUDAUN MAWAR (ROSE APHID) MACROSIPHUM ROSAE L.

  • ditulis tgl : 26 September 2019, telah dibaca sebanyak : 68 kali

    Share On Twitter


    Kutu daun mawar umum dijumpai di setiap daerah pertanaman mawar di seluruh dunia (kosmopolitan). 

    Hama ini menusukkan alat mulutnya yang halus tajam dan runcing yang 
    dinamakan stylet ke dalam jaringan tanaman yang lunak, seperti pucuk, daun muda bakal bunga dan bunga), lalu menghisap cairan tanaman untuk mendapatkan nutrisi sebagai 
    makanannya.

    Dengan terisapnya cairan dari jaringan tanaman, pertumbuhan tanaman menjadi terganggu dan tanaman menjadi layu. 

    Kutu daun biasanya hidup berkoloni terutama pada permukaan bawah daun yang masih muda, pada pucuk, dan pada bakal bunga. Karena itu kahadiran kutu daun M. rosae pada tanaman mawar selain menyebabkan kerusakan pada tanaman, juga menurunkan kualitas penampilan bunga yang 
    mengakibatkan penurunan harga jual bunga. 

    Biologi Macrosiphum rosae. Kutu daun mawar bertubuh lunak, berbentuk lonjong, bagian ekor lebih lebar dan lebih gemuk dibandingkan bagian depan (kepala). Panjang tubuh rata-rata 2-5 mm. 

    M.rosae tubuhnya berwarna hijau, hijau muda atau kuning kehijauan. Di daerah tropis kutudaun umumnya berkembang biak dengan melahirkan serangga muda (nimfa) tanpa melalui perkawinan (asexual). 

    Cara berkembang biak tersebut biasanya dinamakan partenogenetik. Di laboratorium seekor betina mampu 
    melahirkan nimfa lebih dari 24 ekor dengan lama hidup rata-rata 18,9 hari, sedangkan di rumah kaca lebih dari 19 ekor dengan lama hidup rata-rata 21,1 hari. 

    Siklus hidup hama ini di laboraturium rata-rata 11,3 hari, sedangkan di rumah kaca rata-rata 13,2 hari (Maryam et al., 2000). Hama menyebar dari satu tanaman ke tanaman lain dengan 
    berjalan, terbang (yang sudah bersayap) dengan bantuan angin dan atau bantuan aktivitas manusia (peralatan kebun penularan melalui bibit/stek, dsb). 

    Pengendalian
    Pada populasi rendah kutu daun dapat dikendalikan dengan menyemprotkan air melalui selang bernozel dengan tekanan agak kuat. Pada keadaan 
    populasi lebih tinggi pengendalian hama ini dapat dilakukan dengan menggunakan insektisida sintetik, insektisida botani dan insektisida hayati 

    Tidak kurang dari 40 jenis insektisida sintetik dilaporkan mampu menekan populasi kutudaun (Anonim, 2000), di 
    antaranya adalah yang berbahan aktif betasilfutrin, deltametrin, diafentiuron, fosalon, imidakloprid, klorfenafir, klorfluazuron, metidation, profenopos dan sipermetrin. 

    Insektisida botani dapat disiapkan sendiri dengan teknologi yang sangat sederhana atau dengan menggunakan ekstrak dari bahan tumbuhan yang bersifat insektisida.

    Insektisida botani yang berasal dari ekstrak biji atau daun perasannya dari tanaman-tanaman dari famili Annonaceae (sirsak, srikaya, buah nona) dan Meliaceae (neem/nimba, mindi, culan, mahoni) dilaporkan efektif menekan populasi beberapa jenis hama.

    Insektisida agens hayati, yaitu cendawan musuh alaminya Beauveria bassiana, dilaporkan efektif untuk mengendalikan kutu daun.

    Parasit nimfa kutu daun di Indonesia seperti pada tanaman kubis adalah Aphidius sp, di negeri Belanda parasit kutu daun dapat digunakan Encarsia formosa. Di kebun percobaan Segunung sering ditemukan predator kutu daun, diantaranya Coccinella sp, Syrphidae. (irm)

    Balai Penelitian Tanaman Hias

  • BERITA TERKAIT
    • Efisiensi dan Aplikasi Teknologi Perbanyakan Mawar Secara In vitro

      15 Oktober 2019
      Teknologi perbanyakan R. hybrida secara in vitro melalui inisiasi dan proliferasi tunas adventif telah berhasil dikembangkan. Waktu yang dibutuhkan untuk mengembangkan teknologi adalah + 1,6 tahun.Titik kritikal teknologi ini terletak pada penyiapan eksplan pada kondisi in vitro. Potensi produksi benih dari 1 eksplan responsif akan menghasilkan 5-9 tunas. Jika rata-rata tunas yang dihasilkan adalah 6,7 tunas tiap subkultur, 6 kali subkultur dapat
    • KUNJUNGAN PUSAT PERPUSTAKAAN DAN PENYEBARAN TEKNOLOGI PERTANIAN DALAM RANGKA PERMINTAAN PENDAMPINGAN DAN BANTUAN TANAMAN ANGGREK

      14 Oktober 2019
      Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian  (Pustaka) mempunyai lokasi yang strategis dan berada di ring satu yang berdekatan dengan Istana Presiden serta Kebun raya Bogor dimana lokasi ini menjadi objek pengembangan wisata di Kota Bogor. Sehubungan hal tersebut, Pustaka Kementrian Pertanian  bermaksud untuk menata halaman dan taman pustaka sehingga dapat
    • Jejangkit Muara Menjadi Lokasi Temu Lapang Teknologi Litbang 2019

      14 Oktober 2019
      Kegiatan Temu Lapang Teknologi Litbang untuk SERASI dilaksanakan di Denfarm Jejangkit yang berlokasi di Desa Jejangkit Muara, Kec. Jejangkit, Kab. Barito Kuala, Kalimantan Selatan, pada tanggal 14 Oktober 2018 dan dibuka oleh Kepala BALITBANGTAN (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian) Dr. Fadry Djufry.Tujuan dilaksanakannya temu lapang ini untuk mengkomunikasikan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan dan teknologi hasil penelitian Badan Litbang
    • Kunjungan Badan Karantina Pertanian ke Balai Penelitian Tanaman Hias

      14 Oktober 2019
      Balai Penelitian Tanaman Hias pada tanggal 14 Oktober 2019 mendapatkan kunjungan dari perwakilan Bada Karantina kementrian Pertanian. Hal Ini sebungan dengan adanya informasi keberadaan Pseudomonas Viridiflava (OPTK A1) pada tanaman anggrek sebagaimana hasil tulisan dari peneliti Balithi yaitu Ir. hanudin dkk dalam jurnal Fitopatologi Indonesia berjudul "Evaluasi Resistensi Progeni Anggrek Phalaenopsis terhadap penyakit busuk lunak (Pseudomonas
    • Penyiapan Plantlets dan Aklimatisasi Dalam Perbanyakan Mawar

      14 Oktober 2019
      Tahapan dalam perbanyakan mawar setelah sterilisasi dan penyiapan eksplan adalah inisiasi tunas adventif. Inisiasi tunas adventif dilakukan dengan cara menanam potongan internodus pada medium MW yang ditambah dengan 1,5 mg/l TDZ dan 0,01 mg/l NAA. Kultur kemudian disimpan dalam ruang gelap selama 1,5-2,0 bulan. Inisiasi kalus mulai terlihat 9-13 hari setelah kultur pada permukaan internodus bekas potongan pisau kultur. Kalus betumbuh menjadi bentuk
    • Perbanyakan Mawar (Rosa hybrida L.): Sterilisasi dan Penyiapan Eksplan

      11 Oktober 2019
      Mawar dapat diperbanyak secara vegetatif menggunakan stek (cutting), perendukan (layering), okulasi mata tunas (budding), sambung pucuk (grafting); secara generatif menggunakan biji.Perbanyakan konvensional tersebut, meskipun dominan diaplikasikan pada perbanyakan mawar, sering diperhadapkan pada kendala keterbatasan batang bawah, berlangsung lambat, membutuhkan waktu yang lama dan tenaga yang banyak dengan hasil yang
    • Keterlibatan Balithi Dalam Bimbingan Teknis Metode Perhitungan Manfaat Penelitian dan Pengembangan Pertanian

      10 Oktober 2019
      Mengukur manfaat teknologi hasil penelitian merupakan hal yang penting dalam menghitung kontribusi kegiatan penelitian dan pengembangan pertanian terhadap pembangunan pertanian dan tingkat pengembalian investasi pada kegiatan penelitian. Sehubungan dengan hal tersebut Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian (PSEKP) menyelenggarakan bumbingan teknis menghitung mannfaat teknologi dan Return of Investment penelitian dan pengembangan pertanian.