TEKNOLOGI-PERBANYAKAN-KRISAN;-STERILISASI-DAN-PENYIAPAN-EKSPLAN

  • TEKNOLOGI PERBANYAKAN KRISAN; STERILISASI DAN PENYIAPAN EKSPLAN

  • ditulis tgl : 16 September 2019, telah dibaca sebanyak : 126 kali

    Share On Twitter


    Sterilisasi dan penyiapan eksplan

    Tunas pucuk dengan 1-2 daun disterilisasi menggunakan 1% larutan Tween 20 selama 30 menit sambil digojok, 1% benlate dan agrept selama 30 menit digojok dan bilas dengan air bersih berulangkali.

    Eksplan kemudian di rendam dalam 1% larutan natrium hipoklorida (NaOCl) yang telah ditambah 3-5 tetes Tween 20 sambil digojok selama 10 menit (perendaman eksplan dalam 0,5 % larutan NaOCl ditambah 3-5 tetes Tween 20 sambil digojok selama 10 menit ditambahkan jika kontaminasi masih bermasalah), bilas dengan air steril berulangkali (2-3 kali, @ 3 menit), kemudian rendam dalam larutan 70% alcohol selama 3 menit dan bilas dengan air steril 4-5x (@ 3 menit).

    Eksplan yang telah streril di tiriskan didalam petridis yang sebelumnya telah dilapisi kertas tisu kering steril.

    Penyiapan tunas pucuk dilakukan dengan mengisolasi titik tumbuh (0,5-1 mm) dilakukan dengan meletakkan eksplan di bawah mikroskop stereo. Melakukan pembuangan tangkai daun secara berurutan hingga bakal daun yang menempel pada titik tumbuh menggunakan pinset dan pisau kultur. Setelah titik tumbuh terlihat, titik tumbuh diisolasi menggunakan pisau kultur dan ditanam pada medium inisiasi.
     
    Inisiasi tunas pucuk
    Inisiasi tunas pucuk (Tunas yang berada pada bagian titik tumbuh tanaman) dilakukan dengan menanam tunas pucuk yang disolasi pada medium MS-0 atau MS-0 yang ditambah dengan 10 ppm antiviral (misal: Ribavirin) untuk membantu eliminasi virus-viroid, diinkubasi dibawah kondisi terang 12 jam fotoperiode dari pagi hingga sore (06.00-18.00) dan 4 jam tambahan pada malam hari (10.00-02.00) di bawah lampu fluoresen dengan intensitas ~ 13  mol/m2/s selama + 1-1,5 bulan.

    Setelah tunas pucuk tumbuh dengan 1-2 daun, tunas dipindahkan ke medium 0.5 MS yang ditambah dengan 0,25-0,50 mg/l BA dan diinkubasi dengan kondisi dan waktu inkubasi yang sama untuk meningkatkan kemampuan regenerasi dan pertumbuhan eksplan.

    Tunas dibiarkan tumbuh hingga terbentuk 4 daun, setelah 4 daun baru terbentuk maka tunas harus disubkultur.

    Subkultur eksplan pada medium yang mengandung BA dapat dilakukan hingga 2-3 kali sesuai dengan peningkatan kapasitas regenerasi yang diharapkan.

    Catatan penting: subkultur tunas pada medium baru yang mengandung BA juga disertai pengelompokan jenis eksplan dari tunas pucuk, nodus 1 s/d 4 untuk meningkatkan dan menjamin kualitas benih yang dihasilkan.  

    Perbanyakan tunas pucuk
    Perbanyakan tunas hasil inisiasi dilakukan dengan memotong tunas dan mengelompokkannya dari tunas pucuk, nodus 1 s/d 4. Eksplan sesuai dengan kelompoknya ditanam pada medium 0.5 MS vitamin penuh.

    Kultur diberi label sesuai kelompoknya dan diinkubasi pada kondisi dan waktu inkubasi yang sama dengan tahap inisiasi. Setelah eksplan yang dikultur tumbuh dengan 4 daun yang baru, maka subkultur eksplan harus dilakukan dan disubkultur dengan cara yang sama.

    Periode subkultur eksplan pada tahap perbanyakan ini dapat dilakukan maksimal 8 kali subkultur. Kecepatan penggandaan eksplan = 1 menjadi 4-5 eksplan tiap 1,5 bulan.

    Aklimatisasi plantlets
    Aklimatisasi eksplan dapat dilakukan secara mudah dengan cara memotong tunas dengan 2-3 daun, kemudian menanam tunas dalam bak-bak plastik yang berisi arang sekam yang telah dibasahi dan cukup dengan air.

    Tutup bak-bak plastik dengan plastik transparan selama 5-7 hari. Letakkan bak-bak plastik dalam rumah kaca yang telah dipersiapkan. Perlakuan tambahan penyinaran lampu pada malam harinya (22.00-02.00) tetap diberlakukan pada tahap ini untuk menjaga tanaman tidak berbunga.

    Tunas mulai berakar 4-7 hari, tunas dengan akar yang berkualitas dapat dipanen 12-15 hari setelah aklimatisasi.

    Tunas berakar hasil aklimatisasi kemudian dipotkan secara individu/tunggal pada polibag/pot plastik yang berisi campuran arang sekam + sekam + pupuk organik/kandang (1:1:1, v/v/v) untuk produksi benih dan perunutan generasi yang dapat dijadikan sebagai tanaman induk untuk produksi benih berkualitas. 

    Efisiensi dan aplikasi
    Aplikasi teknologi ini terbukti dapat meningkatkan kemampuan regenerasi dan kualitas tanaman yang dihasilkan. Waktu yang dibutuhkan untuk pengembangan teknologi ini + 1 tahun. Titik kritikal adalah mendapatkan regenerasi tunas pucuk pada tahap awal kultur.

    Pada beberapa kasus, meskipun tidak ada aplikasi antiviral, benih yang dihasilkan adalah benih yang bebas virus. proses subkultur eksplan berbasis pengelompokan jenis eksplan (tunas pucuk, nodus 1 s/d 4) terbukti mampu menghasilkan benih yang berkualitas dan seragam.

    Satu sumber eksplan dapat menghasilkan + 45.000 benih berkualitas per tahun dengan kecepatan penggandaan= 1 menjadi 4-5 eksplan tiap 1,5 bulan. Teknologi ini telah diaplikasikan pada C. morifolium Puspita Kencana, Puspita Pelangi, Sakuntala. Teknologi ini juga dapat diaplikasikan pada varietas yang lain.

    Untuk jenis krisan yang kurang responsif modifikasi komposisi media terutama konsentrasi hormon dapat diubah untuk meningkatkan keberhasilannya.

    Efisiensi juga dapat dilakukan dengan mengganti komponen medium MS dengan media generik growmore, terutama pada tahap perbanyakan tunas (Shintiavira et al., 2012).

    Seleksi benih pada tiap tahap perbanyakan secara in vitro diperlukan untuk meningkatkan keseragaman benih yang dihasilkan. (irm)


    Penggunaan istilah:

    Sterilisasi: Kegiatan membebaskan bahan tanaman dari adanya mikroorganisme dalam bentuk bakteri dan jamur menggunakan disinfektan, seperti: Alkohol, HgCl2, NaOCl, dll. yang dilakukan dalam laminar air flow cabinet.

    Eksplan: Bahan tanaman dalam kultur invotro berupa potongan bagian tanaman seperti daun, batang, akar, tunas pucuk, embrio, plbs, nodus, spadik, anther, dll.

    Subkultur: menanam kembali bahan tanaman baik pada kondisi awal maupun hasil kultur pada medium yang baru, baik cair maupun semi padat.

    Tunas pucuk: Tunas yang berada pada bagian titik tumbuh tanaman

    Budi Winarto
    Balai Penelitian Tanaman Hias

  • BERITA TERKAIT
    • Efisiensi dan Aplikasi Teknologi Perbanyakan Mawar Secara In vitro

      15 Oktober 2019
      Teknologi perbanyakan R. hybrida secara in vitro melalui inisiasi dan proliferasi tunas adventif telah berhasil dikembangkan. Waktu yang dibutuhkan untuk mengembangkan teknologi adalah + 1,6 tahun.Titik kritikal teknologi ini terletak pada penyiapan eksplan pada kondisi in vitro. Potensi produksi benih dari 1 eksplan responsif akan menghasilkan 5-9 tunas. Jika rata-rata tunas yang dihasilkan adalah 6,7 tunas tiap subkultur, 6 kali subkultur dapat
    • KUNJUNGAN PUSAT PERPUSTAKAAN DAN PENYEBARAN TEKNOLOGI PERTANIAN DALAM RANGKA PERMINTAAN PENDAMPINGAN DAN BANTUAN TANAMAN ANGGREK

      14 Oktober 2019
      Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian  (Pustaka) mempunyai lokasi yang strategis dan berada di ring satu yang berdekatan dengan Istana Presiden serta Kebun raya Bogor dimana lokasi ini menjadi objek pengembangan wisata di Kota Bogor. Sehubungan hal tersebut, Pustaka Kementrian Pertanian  bermaksud untuk menata halaman dan taman pustaka sehingga dapat
    • Jejangkit Muara Menjadi Lokasi Temu Lapang Teknologi Litbang 2019

      14 Oktober 2019
      Kegiatan Temu Lapang Teknologi Litbang untuk SERASI dilaksanakan di Denfarm Jejangkit yang berlokasi di Desa Jejangkit Muara, Kec. Jejangkit, Kab. Barito Kuala, Kalimantan Selatan, pada tanggal 14 Oktober 2018 dan dibuka oleh Kepala BALITBANGTAN (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian) Dr. Fadry Djufry.Tujuan dilaksanakannya temu lapang ini untuk mengkomunikasikan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan dan teknologi hasil penelitian Badan Litbang
    • Kunjungan Badan Karantina Pertanian ke Balai Penelitian Tanaman Hias

      14 Oktober 2019
      Balai Penelitian Tanaman Hias pada tanggal 14 Oktober 2019 mendapatkan kunjungan dari perwakilan Bada Karantina kementrian Pertanian. Hal Ini sebungan dengan adanya informasi keberadaan Pseudomonas Viridiflava (OPTK A1) pada tanaman anggrek sebagaimana hasil tulisan dari peneliti Balithi yaitu Ir. hanudin dkk dalam jurnal Fitopatologi Indonesia berjudul "Evaluasi Resistensi Progeni Anggrek Phalaenopsis terhadap penyakit busuk lunak (Pseudomonas
    • Penyiapan Plantlets dan Aklimatisasi Dalam Perbanyakan Mawar

      14 Oktober 2019
      Tahapan dalam perbanyakan mawar setelah sterilisasi dan penyiapan eksplan adalah inisiasi tunas adventif. Inisiasi tunas adventif dilakukan dengan cara menanam potongan internodus pada medium MW yang ditambah dengan 1,5 mg/l TDZ dan 0,01 mg/l NAA. Kultur kemudian disimpan dalam ruang gelap selama 1,5-2,0 bulan. Inisiasi kalus mulai terlihat 9-13 hari setelah kultur pada permukaan internodus bekas potongan pisau kultur. Kalus betumbuh menjadi bentuk
    • Perbanyakan Mawar (Rosa hybrida L.): Sterilisasi dan Penyiapan Eksplan

      11 Oktober 2019
      Mawar dapat diperbanyak secara vegetatif menggunakan stek (cutting), perendukan (layering), okulasi mata tunas (budding), sambung pucuk (grafting); secara generatif menggunakan biji.Perbanyakan konvensional tersebut, meskipun dominan diaplikasikan pada perbanyakan mawar, sering diperhadapkan pada kendala keterbatasan batang bawah, berlangsung lambat, membutuhkan waktu yang lama dan tenaga yang banyak dengan hasil yang
    • Keterlibatan Balithi Dalam Bimbingan Teknis Metode Perhitungan Manfaat Penelitian dan Pengembangan Pertanian

      10 Oktober 2019
      Mengukur manfaat teknologi hasil penelitian merupakan hal yang penting dalam menghitung kontribusi kegiatan penelitian dan pengembangan pertanian terhadap pembangunan pertanian dan tingkat pengembalian investasi pada kegiatan penelitian. Sehubungan dengan hal tersebut Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian (PSEKP) menyelenggarakan bumbingan teknis menghitung mannfaat teknologi dan Return of Investment penelitian dan pengembangan pertanian.