TEKNOLOGI-PERBANYAKAN-KRISAN;-STERILISASI-DAN-PENYIAPAN-EKSPLAN

  • TEKNOLOGI PERBANYAKAN KRISAN; STERILISASI DAN PENYIAPAN EKSPLAN

  • ditulis tgl : 16 September 2019, telah dibaca sebanyak : 423 kali

    Share On Twitter


    Sterilisasi dan penyiapan eksplan

    Tunas pucuk dengan 1-2 daun disterilisasi menggunakan 1% larutan Tween 20 selama 30 menit sambil digojok, 1% benlate dan agrept selama 30 menit digojok dan bilas dengan air bersih berulangkali.

    Eksplan kemudian di rendam dalam 1% larutan natrium hipoklorida (NaOCl) yang telah ditambah 3-5 tetes Tween 20 sambil digojok selama 10 menit (perendaman eksplan dalam 0,5 % larutan NaOCl ditambah 3-5 tetes Tween 20 sambil digojok selama 10 menit ditambahkan jika kontaminasi masih bermasalah), bilas dengan air steril berulangkali (2-3 kali, @ 3 menit), kemudian rendam dalam larutan 70% alcohol selama 3 menit dan bilas dengan air steril 4-5x (@ 3 menit).

    Eksplan yang telah streril di tiriskan didalam petridis yang sebelumnya telah dilapisi kertas tisu kering steril.

    Penyiapan tunas pucuk dilakukan dengan mengisolasi titik tumbuh (0,5-1 mm) dilakukan dengan meletakkan eksplan di bawah mikroskop stereo. Melakukan pembuangan tangkai daun secara berurutan hingga bakal daun yang menempel pada titik tumbuh menggunakan pinset dan pisau kultur. Setelah titik tumbuh terlihat, titik tumbuh diisolasi menggunakan pisau kultur dan ditanam pada medium inisiasi.
     
    Inisiasi tunas pucuk
    Inisiasi tunas pucuk (Tunas yang berada pada bagian titik tumbuh tanaman) dilakukan dengan menanam tunas pucuk yang disolasi pada medium MS-0 atau MS-0 yang ditambah dengan 10 ppm antiviral (misal: Ribavirin) untuk membantu eliminasi virus-viroid, diinkubasi dibawah kondisi terang 12 jam fotoperiode dari pagi hingga sore (06.00-18.00) dan 4 jam tambahan pada malam hari (10.00-02.00) di bawah lampu fluoresen dengan intensitas ~ 13  mol/m2/s selama + 1-1,5 bulan.

    Setelah tunas pucuk tumbuh dengan 1-2 daun, tunas dipindahkan ke medium 0.5 MS yang ditambah dengan 0,25-0,50 mg/l BA dan diinkubasi dengan kondisi dan waktu inkubasi yang sama untuk meningkatkan kemampuan regenerasi dan pertumbuhan eksplan.

    Tunas dibiarkan tumbuh hingga terbentuk 4 daun, setelah 4 daun baru terbentuk maka tunas harus disubkultur.

    Subkultur eksplan pada medium yang mengandung BA dapat dilakukan hingga 2-3 kali sesuai dengan peningkatan kapasitas regenerasi yang diharapkan.

    Catatan penting: subkultur tunas pada medium baru yang mengandung BA juga disertai pengelompokan jenis eksplan dari tunas pucuk, nodus 1 s/d 4 untuk meningkatkan dan menjamin kualitas benih yang dihasilkan.  

    Perbanyakan tunas pucuk
    Perbanyakan tunas hasil inisiasi dilakukan dengan memotong tunas dan mengelompokkannya dari tunas pucuk, nodus 1 s/d 4. Eksplan sesuai dengan kelompoknya ditanam pada medium 0.5 MS vitamin penuh.

    Kultur diberi label sesuai kelompoknya dan diinkubasi pada kondisi dan waktu inkubasi yang sama dengan tahap inisiasi. Setelah eksplan yang dikultur tumbuh dengan 4 daun yang baru, maka subkultur eksplan harus dilakukan dan disubkultur dengan cara yang sama.

    Periode subkultur eksplan pada tahap perbanyakan ini dapat dilakukan maksimal 8 kali subkultur. Kecepatan penggandaan eksplan = 1 menjadi 4-5 eksplan tiap 1,5 bulan.

    Aklimatisasi plantlets
    Aklimatisasi eksplan dapat dilakukan secara mudah dengan cara memotong tunas dengan 2-3 daun, kemudian menanam tunas dalam bak-bak plastik yang berisi arang sekam yang telah dibasahi dan cukup dengan air.

    Tutup bak-bak plastik dengan plastik transparan selama 5-7 hari. Letakkan bak-bak plastik dalam rumah kaca yang telah dipersiapkan. Perlakuan tambahan penyinaran lampu pada malam harinya (22.00-02.00) tetap diberlakukan pada tahap ini untuk menjaga tanaman tidak berbunga.

    Tunas mulai berakar 4-7 hari, tunas dengan akar yang berkualitas dapat dipanen 12-15 hari setelah aklimatisasi.

    Tunas berakar hasil aklimatisasi kemudian dipotkan secara individu/tunggal pada polibag/pot plastik yang berisi campuran arang sekam + sekam + pupuk organik/kandang (1:1:1, v/v/v) untuk produksi benih dan perunutan generasi yang dapat dijadikan sebagai tanaman induk untuk produksi benih berkualitas. 

    Efisiensi dan aplikasi
    Aplikasi teknologi ini terbukti dapat meningkatkan kemampuan regenerasi dan kualitas tanaman yang dihasilkan. Waktu yang dibutuhkan untuk pengembangan teknologi ini + 1 tahun. Titik kritikal adalah mendapatkan regenerasi tunas pucuk pada tahap awal kultur.

    Pada beberapa kasus, meskipun tidak ada aplikasi antiviral, benih yang dihasilkan adalah benih yang bebas virus. proses subkultur eksplan berbasis pengelompokan jenis eksplan (tunas pucuk, nodus 1 s/d 4) terbukti mampu menghasilkan benih yang berkualitas dan seragam.

    Satu sumber eksplan dapat menghasilkan + 45.000 benih berkualitas per tahun dengan kecepatan penggandaan= 1 menjadi 4-5 eksplan tiap 1,5 bulan. Teknologi ini telah diaplikasikan pada C. morifolium Puspita Kencana, Puspita Pelangi, Sakuntala. Teknologi ini juga dapat diaplikasikan pada varietas yang lain.

    Untuk jenis krisan yang kurang responsif modifikasi komposisi media terutama konsentrasi hormon dapat diubah untuk meningkatkan keberhasilannya.

    Efisiensi juga dapat dilakukan dengan mengganti komponen medium MS dengan media generik growmore, terutama pada tahap perbanyakan tunas (Shintiavira et al., 2012).

    Seleksi benih pada tiap tahap perbanyakan secara in vitro diperlukan untuk meningkatkan keseragaman benih yang dihasilkan. (irm)


    Penggunaan istilah:

    Sterilisasi: Kegiatan membebaskan bahan tanaman dari adanya mikroorganisme dalam bentuk bakteri dan jamur menggunakan disinfektan, seperti: Alkohol, HgCl2, NaOCl, dll. yang dilakukan dalam laminar air flow cabinet.

    Eksplan: Bahan tanaman dalam kultur invotro berupa potongan bagian tanaman seperti daun, batang, akar, tunas pucuk, embrio, plbs, nodus, spadik, anther, dll.

    Subkultur: menanam kembali bahan tanaman baik pada kondisi awal maupun hasil kultur pada medium yang baru, baik cair maupun semi padat.

    Tunas pucuk: Tunas yang berada pada bagian titik tumbuh tanaman

    Budi Winarto
    Balai Penelitian Tanaman Hias

  • BERITA TERKAIT
    • Suryandhari Agrihorti, Krisan Potong Penghias Ruang dan Panggung

      04 Juni 2020
      Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) *telah* berhasil melepas labih dari 70 varietas krisan bunga potong yang memiliki karakter dan keunggulan yang berbeda-beda pa setiap varietasnya.Suryandhari Agrihorti adalah salah satu varietas unggul krisan yang dihasilkan Balitbangtan pada 2019 lalu, memiliki bunga tipe spray berbentuk ganda serta berwarna bunga pita kuning menjadikan Suryandhari Agrihorti ini sangat cocok untuk dijadikan
    • Kurangi Ketergantungan Produk Luar, Balitbangtan Produksi Mandiri Anggrek Vanda

      02 Juni 2020
      Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang sangat besar, termasuk didalamnya adalah tanaman anggrek. Sejauh ini telah teridentifikasi bahwa Indonesia sekurangnya memiliki 5.000 spesies anggrek dari 43.000 spesies, dan 35.000 varietas hibrida anggrek di seluruh penjuru dunia. Seperti diketahui anggrek merupakan tanaman hias yang memiliki nilai estetika tinggi dengan warna dan bentuk bunga indah dan menarik. Tanaman Anggrek di Indonesia
    • Krisan Balitbangtan Hiasi Kawasan Agrowisata Payo di Kota Solok

      29 Mei 2020
      Krisan merupakan salah satu komoditas yang dikembangkan di kawasan agrowisata Payo di Kota Solok, Sumatera Barat. Awal mula adanya komoditas krisan di kawasan ini tak lepas dari andil Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) yang sejak dua tahun lalu melalui Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi) bekerjasama dengan Pemerintah Kota Solok berupaya secara berkesinambungan dalam pengembangan krisan di agrowisata ini. Pada Maret 2020 telah
    • TANAM VARIETAS KRISAN BALITHI, PETANI MASIH TETAP RAUP KEUNTUNGAN

      27 Mei 2020
      Bukan sebuah rahasia lagi bahwa  pandemi covid 19 sangat berdampak ke beberapa sektor di negri ini , salah satunya adalah sektor pertanian. Semakin terbatasnya ruang untuk berkegiatan membuat sebagian petani memilih untuk mengurangi kegiatan mereka di luar rumah. Namun ditengah hebohnya pandemi covid 19, ternyata para petani bunga di Kabupaten Cianjur masih berproduksi, dan salah satu varietas yang diproduksi adalah varietas Balithi
    • Perbanyakan Masal Anggrek Dendrobium Secara In Vitro

      26 Mei 2020
      Perbanyakan Masal Anggrek Dendrobium Secara In Vitro dilakukan melalui beberapa tahapan, diantaranya (1) Penyediaan bahan tanaman sebagai sumber eksplan Dendrobium.Telah dilakukan penyediaan materi awal dari beberapa varietas antara lain adalah Varietas Dian Agrihorti, Varietas Almira, Varietas Syifa.  Tunas yang berasal dari tunas anakan Dendrobium ditanam pada media pembesaran tunas yaitu  1/2 MS + 0,5 BAP hingga tunas memanjang 
    • KRISAN POT MULAI BERMEKARAN, PT CIGWA INDONESIA JAYA SEMAKIN BERWARNA

      19 Mei 2020
      Sejak ditanam pada tanggal 13 Maret lalu, ke lima varietas Krisan Pot milik Balithi yaitu Avanthe, Armita, Anindita, Zwena dan Naura mulai bermekaran di Green House milik PT Cigwa Indonesia Jaya. Ditengah pandemi Covid 19 yang masih melanda di Indonesia, kegiatan monitoring sejauh ini dilakukan secara jarak jauh. Namun pada kesempatan kali ini dengan tetap memperhatikan protocol keamanan dari pemerintah, tim dari Balithi mengunjungi langsung PT. Cigwa Indonesia
    • Dukung Kemandirian Benih Anggrek Dendrobium, Balithi Kembangkan Teknologi Embriogenesis Somatik Berbasis Bioreaktor

      11 Mei 2020
      Dendrobium merupakan salah satu jenis anggrek yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan banyak diminati pasar