TEKNOLOGI-PERBANYAKAN-KRISAN-SECARA-IN-VITRO-MELALUI-INISIASI-DAN-PROLIFERASI-TUNAS-PUCUK

  • TEKNOLOGI PERBANYAKAN KRISAN SECARA IN VITRO MELALUI INISIASI DAN PROLIFERASI TUNAS PUCUK

  • ditulis tgl : 15 September 2019, telah dibaca sebanyak : 95 kali

    Share On Twitter


    Benih krisan berkualitas umumnya hanya dinikmati oleh perusahaan-perusahaan bermodal kuat, namun sebagian besar petani krisan secara tradisional memperbanyak dan mempersiapkan benih krisan menggunakan tanaman induk secara berulang. 

    Penggunaan tanaman induk secara terus menerus sebagai sumber benih tanaman produksi mengakibatkan terjadinya degenerasi. Pertumbuhan tanaman terhambat (stunting) dengan perakaran yang terbatas, daun-daun berukuran kecil dan berwarna hijau pucat, dan jika dibandingkan dengan tanaman sehat, bunga yang dihasilkan berukuran sangat kecil dengan warna yang pudar.

    Penyebab utama terjadinya degenerasi pada tanaman krisan ialah adanya Chrysanthemum virus B (CVB) dan chrysanthemum stunt viroid (CSVd) yang terbawa dalam saat penyetekan (Diningsih et al., 2013). 

    Oleh karena itu untuk membebaskan CVB dan CSVd dan meningkatkan kapasitas pertumbuhan tanaman diperlukan teknologi perbanyakan krisan secara in vitro yang mampu membebaskan kedua penyakit sistemik tersebut. 

    Metode perbanyakan krisan secara in vitro melalui inisiasi dan proliferasi tunas pucuk telah berhasil dikembangkan. Teknologi ini terdiri atas (1) tanaman donor dan pemanenan eksplan, (2) sterilisasi eksplan, (3) inisiasi tunas pucuk, (4) perbanyakan tunas pucuk, dan (5) aklimatisasi plantlets

    Tanaman donor dan pemanenan eksplan
    Tanaman donor yang digunakan adalah C. morifolium yang tumbuh subur, sehat dan tidak ada indikasi infeksi virus-viroid (jika memungkinkan adalah tanaman hasil pembebasan virus), berumur 1-5 bulan. Tanaman donor ditanam dalam polybag/pot plastik (diameter 30 cm, berisi campuran arang sekam, sekam, dan humus bambu/bahan organik (1:1:1, v/v/v)). 

    Tanaman donor ditempatkan dalam rumah kaca/rumah plastik yang bebas virus dan dipelihara melalui melalui penyiraman, pemupukan dan pelampuan pada malam hari. 

    Penyiraman dilakukan 1-2 hari sekali tergantung kondisi cuaca, pupuk cair (2 g/l NPK 20:15:15) diaplikasikan setiap 3 hari sekali dan pelampuan dari jam 22.00-02.00 WIB. Aplikasi pestisida untuk tujuan pengendalian hama dan penyakit diupayakan seminimal mungkin untuk mengurangi munculnya kontaminan, baik bakteri maupun jamur. 

    Penyetekan berulang dilakukan untuk menjaga tanaman tetap berada pada tahap pertumbuhan vegetatif. Stek pucuk dengan 1-2 daun muda dipanen dari tanaman induk dan digunakan sebagai sumber eksplan. (irm)

     bersambung ke sterilisasi eksplan..

    Budi Winarto
    Balai Penelitian Tanaman Hias

  • BERITA TERKAIT
    • Efisiensi dan Aplikasi Teknologi Perbanyakan Mawar Secara In vitro

      15 Oktober 2019
      Teknologi perbanyakan R. hybrida secara in vitro melalui inisiasi dan proliferasi tunas adventif telah berhasil dikembangkan. Waktu yang dibutuhkan untuk mengembangkan teknologi adalah + 1,6 tahun.Titik kritikal teknologi ini terletak pada penyiapan eksplan pada kondisi in vitro. Potensi produksi benih dari 1 eksplan responsif akan menghasilkan 5-9 tunas. Jika rata-rata tunas yang dihasilkan adalah 6,7 tunas tiap subkultur, 6 kali subkultur dapat
    • KUNJUNGAN PUSAT PERPUSTAKAAN DAN PENYEBARAN TEKNOLOGI PERTANIAN DALAM RANGKA PERMINTAAN PENDAMPINGAN DAN BANTUAN TANAMAN ANGGREK

      14 Oktober 2019
      Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian  (Pustaka) mempunyai lokasi yang strategis dan berada di ring satu yang berdekatan dengan Istana Presiden serta Kebun raya Bogor dimana lokasi ini menjadi objek pengembangan wisata di Kota Bogor. Sehubungan hal tersebut, Pustaka Kementrian Pertanian  bermaksud untuk menata halaman dan taman pustaka sehingga dapat
    • Jejangkit Muara Menjadi Lokasi Temu Lapang Teknologi Litbang 2019

      14 Oktober 2019
      Kegiatan Temu Lapang Teknologi Litbang untuk SERASI dilaksanakan di Denfarm Jejangkit yang berlokasi di Desa Jejangkit Muara, Kec. Jejangkit, Kab. Barito Kuala, Kalimantan Selatan, pada tanggal 14 Oktober 2018 dan dibuka oleh Kepala BALITBANGTAN (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian) Dr. Fadry Djufry.Tujuan dilaksanakannya temu lapang ini untuk mengkomunikasikan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan dan teknologi hasil penelitian Badan Litbang
    • Kunjungan Badan Karantina Pertanian ke Balai Penelitian Tanaman Hias

      14 Oktober 2019
      Balai Penelitian Tanaman Hias pada tanggal 14 Oktober 2019 mendapatkan kunjungan dari perwakilan Bada Karantina kementrian Pertanian. Hal Ini sebungan dengan adanya informasi keberadaan Pseudomonas Viridiflava (OPTK A1) pada tanaman anggrek sebagaimana hasil tulisan dari peneliti Balithi yaitu Ir. hanudin dkk dalam jurnal Fitopatologi Indonesia berjudul "Evaluasi Resistensi Progeni Anggrek Phalaenopsis terhadap penyakit busuk lunak (Pseudomonas
    • Penyiapan Plantlets dan Aklimatisasi Dalam Perbanyakan Mawar

      14 Oktober 2019
      Tahapan dalam perbanyakan mawar setelah sterilisasi dan penyiapan eksplan adalah inisiasi tunas adventif. Inisiasi tunas adventif dilakukan dengan cara menanam potongan internodus pada medium MW yang ditambah dengan 1,5 mg/l TDZ dan 0,01 mg/l NAA. Kultur kemudian disimpan dalam ruang gelap selama 1,5-2,0 bulan. Inisiasi kalus mulai terlihat 9-13 hari setelah kultur pada permukaan internodus bekas potongan pisau kultur. Kalus betumbuh menjadi bentuk
    • Perbanyakan Mawar (Rosa hybrida L.): Sterilisasi dan Penyiapan Eksplan

      11 Oktober 2019
      Mawar dapat diperbanyak secara vegetatif menggunakan stek (cutting), perendukan (layering), okulasi mata tunas (budding), sambung pucuk (grafting); secara generatif menggunakan biji.Perbanyakan konvensional tersebut, meskipun dominan diaplikasikan pada perbanyakan mawar, sering diperhadapkan pada kendala keterbatasan batang bawah, berlangsung lambat, membutuhkan waktu yang lama dan tenaga yang banyak dengan hasil yang
    • Keterlibatan Balithi Dalam Bimbingan Teknis Metode Perhitungan Manfaat Penelitian dan Pengembangan Pertanian

      10 Oktober 2019
      Mengukur manfaat teknologi hasil penelitian merupakan hal yang penting dalam menghitung kontribusi kegiatan penelitian dan pengembangan pertanian terhadap pembangunan pertanian dan tingkat pengembalian investasi pada kegiatan penelitian. Sehubungan dengan hal tersebut Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian (PSEKP) menyelenggarakan bumbingan teknis menghitung mannfaat teknologi dan Return of Investment penelitian dan pengembangan pertanian.