PEMELIHARAAN-KHUSUS-DALAM-BUDIDAYA-KRISAN

  • PEMELIHARAAN KHUSUS DALAM BUDIDAYA KRISAN

  • ditulis tgl : 13 September 2019, telah dibaca sebanyak : 94 kali

    Share On Twitter


    Dalam budidaya krisan dibutuhkan pemeliharaan khusus diantaranya meliputi pinching, penjarangan rumpun dan tangkai bunga serta pemberian zat pengatur tumbuh.

    Pinching atau pembuangan titik tumbuh apikal muda berfungsi untuk merangsang pertumbuhan tunas aksiler untuk percabangan tanaman.  

    Pada pertanaman krisan untuk produksi bunga khususnya tipe krisan spray, pinching dilakukan pada saat tanaman berumur 2 - 3 minggu. Tunas aksiler baru yang kemudian tumbuh menjadi cabang baru dipelihara hingga berbunga.

    Cara ini ditempuh untuk meningkatkan jumlah bunga per tanaman sehingga bunga akan terlihat lebih banyak dan kompak dibandingkan bunga yang dipelihara dengan pertanaman tunggal (single stem).
     
    Penjarangan tanaman dan percabangan dimaksudkan untuk mengurangi kepadatan tanaman dalam lingkungan pertanaman.

    Penjarangan ini selain ditujukan untuk memberikan ruang tumbuh yang memadai pada tanaman dan meminimalkan kompetisi antar tanaman, juga dimaksudkan untuk memberikan ruang aerasi dan sirkulasi udara yang memadai, dengan demikian tanaman dapat tumbuh optimal dan mengurangi risiko serangan patogen karena terlalu lembab.

    Penjarangan percabangan juga dimaksudkan untuk membuang bagian tanaman yang rusak akibat serangan organisme pengganggu tanaman atau penyebab fisik lain yang dapat menurunkan mutu dan keragaan tanaman, yang berpeluang  menurunkan harga jual produk.

    Pemberian zat pengatur tumbuh (ZPT) dimaksudkan untuk menstimulasi kondisi fisiologis tertentu pada tanaman untuk meningkatkan kualitas dan keragaan tanaman yang diharapkan.

    Pada pertanaman bunga pot, aplikasi Alar 64 SP dan Dazide 85 dilakukan dengan selang 1 hingga 4 minggu dengan penyemprotan. Aplikasi ZPT ini akan membantu keragaan dan bentuk tanaman menjadi lebih baik, batang lebih tebal serta warna daun lebih gelap.

    ZPT akan diserap tanaman dalam durasi 1 jam setelah aplikasi, dan dalam 12 jam, ZPT telah terserap secara keseluruhan.  Penyerapan terjadi melalui daun, dan daun yang lebih muda menyerap lebih cepat dari daun yang lebih tua.  Aplikasi ZPT disesuaikan dengan kondisi lingkungan.  Pada kondisi panas dan cahaya matahari terik (> 25 derajat celcius)  atau suhu rendah (< 16 derajat celcius), aplikasi ZPT sebaiknya tidak dilakukan. (irm)

    Balai Penelitian Tanaman Hias

  • BERITA TERKAIT
    • Efisiensi dan Aplikasi Teknologi Perbanyakan Mawar Secara In vitro

      15 Oktober 2019
      Teknologi perbanyakan R. hybrida secara in vitro melalui inisiasi dan proliferasi tunas adventif telah berhasil dikembangkan. Waktu yang dibutuhkan untuk mengembangkan teknologi adalah + 1,6 tahun.Titik kritikal teknologi ini terletak pada penyiapan eksplan pada kondisi in vitro. Potensi produksi benih dari 1 eksplan responsif akan menghasilkan 5-9 tunas. Jika rata-rata tunas yang dihasilkan adalah 6,7 tunas tiap subkultur, 6 kali subkultur dapat
    • KUNJUNGAN PUSAT PERPUSTAKAAN DAN PENYEBARAN TEKNOLOGI PERTANIAN DALAM RANGKA PERMINTAAN PENDAMPINGAN DAN BANTUAN TANAMAN ANGGREK

      14 Oktober 2019
      Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian  (Pustaka) mempunyai lokasi yang strategis dan berada di ring satu yang berdekatan dengan Istana Presiden serta Kebun raya Bogor dimana lokasi ini menjadi objek pengembangan wisata di Kota Bogor. Sehubungan hal tersebut, Pustaka Kementrian Pertanian  bermaksud untuk menata halaman dan taman pustaka sehingga dapat
    • Jejangkit Muara Menjadi Lokasi Temu Lapang Teknologi Litbang 2019

      14 Oktober 2019
      Kegiatan Temu Lapang Teknologi Litbang untuk SERASI dilaksanakan di Denfarm Jejangkit yang berlokasi di Desa Jejangkit Muara, Kec. Jejangkit, Kab. Barito Kuala, Kalimantan Selatan, pada tanggal 14 Oktober 2018 dan dibuka oleh Kepala BALITBANGTAN (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian) Dr. Fadry Djufry.Tujuan dilaksanakannya temu lapang ini untuk mengkomunikasikan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan dan teknologi hasil penelitian Badan Litbang
    • Kunjungan Badan Karantina Pertanian ke Balai Penelitian Tanaman Hias

      14 Oktober 2019
      Balai Penelitian Tanaman Hias pada tanggal 14 Oktober 2019 mendapatkan kunjungan dari perwakilan Bada Karantina kementrian Pertanian. Hal Ini sebungan dengan adanya informasi keberadaan Pseudomonas Viridiflava (OPTK A1) pada tanaman anggrek sebagaimana hasil tulisan dari peneliti Balithi yaitu Ir. hanudin dkk dalam jurnal Fitopatologi Indonesia berjudul "Evaluasi Resistensi Progeni Anggrek Phalaenopsis terhadap penyakit busuk lunak (Pseudomonas
    • Penyiapan Plantlets dan Aklimatisasi Dalam Perbanyakan Mawar

      14 Oktober 2019
      Tahapan dalam perbanyakan mawar setelah sterilisasi dan penyiapan eksplan adalah inisiasi tunas adventif. Inisiasi tunas adventif dilakukan dengan cara menanam potongan internodus pada medium MW yang ditambah dengan 1,5 mg/l TDZ dan 0,01 mg/l NAA. Kultur kemudian disimpan dalam ruang gelap selama 1,5-2,0 bulan. Inisiasi kalus mulai terlihat 9-13 hari setelah kultur pada permukaan internodus bekas potongan pisau kultur. Kalus betumbuh menjadi bentuk
    • Perbanyakan Mawar (Rosa hybrida L.): Sterilisasi dan Penyiapan Eksplan

      11 Oktober 2019
      Mawar dapat diperbanyak secara vegetatif menggunakan stek (cutting), perendukan (layering), okulasi mata tunas (budding), sambung pucuk (grafting); secara generatif menggunakan biji.Perbanyakan konvensional tersebut, meskipun dominan diaplikasikan pada perbanyakan mawar, sering diperhadapkan pada kendala keterbatasan batang bawah, berlangsung lambat, membutuhkan waktu yang lama dan tenaga yang banyak dengan hasil yang
    • Keterlibatan Balithi Dalam Bimbingan Teknis Metode Perhitungan Manfaat Penelitian dan Pengembangan Pertanian

      10 Oktober 2019
      Mengukur manfaat teknologi hasil penelitian merupakan hal yang penting dalam menghitung kontribusi kegiatan penelitian dan pengembangan pertanian terhadap pembangunan pertanian dan tingkat pengembalian investasi pada kegiatan penelitian. Sehubungan dengan hal tersebut Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian (PSEKP) menyelenggarakan bumbingan teknis menghitung mannfaat teknologi dan Return of Investment penelitian dan pengembangan pertanian.