TEKNIK-BUDIDAYA-ALPINIA-PURPURATA

  • TEKNIK BUDIDAYA ALPINIA PURPURATA

  • ditulis tgl : 11 September 2019, telah dibaca sebanyak : 73 kali

    Share On Twitter


    Alpinia purpurata memiliki lingkungan tumbuh di daerah dataran rendah hingga dataran tinggi, tanaman ini memerlukan naungan dengan kerapatan net 55%  dengan kelembaban tanah yang tinggi, kaya akan bahan organik serta penggunaan mulsa jerami sangat baik untuk budidayanya.

    Teknik budidaya Alpini purpurata dilakukan dengan cara menggemburkan lahan ditambah sekam dan kompos atau pupuk kandang, jarak tanam yang diperlukan berukuran 1 x 1 m dan pemberian pupuk NPK dilakukan setiap bulan.

    Penggunaan naungan plastik membuat tanaman tumbuh optimal, perbanyakan tanaman menggunakan cara pemotongan rimpang yaitu anakan yang tumbuh pada braktea

    Hama utama yang menyerang Alpinia purpurata diantaranya kumbang hitam, hama ini menyebabkan kerusakan pada daun. Selain kumbang hitam Aphid juga termasuk hama utama dalam budidaya Alpinia. Hama ini mengakibatkan timbulnya embun jelaga yang melapisi braktea sehingga nampak hitam dan tidak layak panen.

    Penyakit yang biasa menyeran pertanaman diantaranya Xanthomonas sp. yang dapat menyebabkan kebusukan pada rimpang  dan batang

    Alpinia purpurata berbunga sepanjang tahun, Braktea dengan kemekaran berapa pun dapat digunakan dalam rangkaian bunga. 

    Ukuran panen Alpinia minimal setelah memiliki panjang batang 90 cm dengan diameter batang 1 cm, bunga dipanen pada tingkat kemekaran braktea 50-75% dan disertai hanya 1 atau 2 helai daun.

    Setelah panen batang harus segera dimasukkan dalam air karena seringkali ada hama yang tersembunyi diantara braktea, lebih baiknya braktea dicelup dengan insektisida selama 5 menit setelah pemanenan.

    Braktea mempunyai  respon positif pada bahan pengawet bunga (preservative), penggunaan 4% gula + 200 ppm HQC dapat memperpanjang kesegaran bunga potong. (irm)

  • BERITA TERKAIT
    • Workshop TV Tani, Kabiro Humas: TV Tani adalah milik Kementerian Pertanian

      18 September 2019
      Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian Kuntoro Boga Andri membuka kegiatan Workshop pengelolaan konten TV Tani dengan tema "Menyiapkan Era Baru: Jurnalisme Media Sosial" pada hari Selasa 17 September 2019 di Ruang Yudhistira 2 hotel Santika Depok yang diikuti oleh kontributor TV Tani dari seluruh Unit Kerja dan Unit Pengelola Teknis lingkup Kementerian Pertanian.TV Tani adalah milik Kementerian Pertanian, jadi sebaiknya seluruh
    • UPBS Balithi Melakukan Pelatikan K3

      18 September 2019
      Kesehatan, Keselamatan dan Keamanan Kerja (K3) merupakan hal yang tidak boleh diabaikan dalam melakukan suatu pekerjaan.
    • Rencana Pembangunan Smart Green House

      17 September 2019
      Visi pertanian masa depan yaitu pertanian modern berbasis alat mesin pertanian berteknologi tinggi yang dikenal dengan istilah Smart Farming (pertanian 4.0). Smart farming adalah pertanian yang mengaplikasikan teknologi IT di dalam alat mesin pertanian sehingga dapat mensubstitusi tenaga kerja petani yang makin berkurang dan mengefesienkan sistem usaha tani.Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) dibawah
    • Teknologi Perbanyakan Krisan; Sterilisasi dan Penyiapan Eksplan

      16 September 2019
      Sterilisasi dan penyiapan eksplan Tunas pucuk dengan 1-2 daun disterilisasi menggunakan 1% larutan Tween 20 selama 30 menit sambil digojok, 1% benlate dan agrept selama 30 menit digojok dan bilas dengan air bersih berulangkali. Eksplan kemudian di rendam dalam 1% larutan natrium hipoklorida (NaOCl) yang telah ditambah 3-5 tetes Tween 20 sambil digojok selama 10 menit (perendaman eksplan dalam 0,5 % larutan NaOCl ditambah 3-5
    • Teknologi Perbanyakan Krisan secara In Vitro melalui Inisiasi dan Proliferasi Tunas Pucuk

      15 September 2019
      Benih krisan berkualitas umumnya hanya dinikmati oleh perusahaan-perusahaan bermodal kuat, namun sebagian besar petani krisan secara tradisional memperbanyak dan mempersiapkan benih krisan menggunakan tanaman induk secara berulang. Penggunaan tanaman induk secara terus menerus sebagai sumber benih tanaman produksi mengakibatkan terjadinya degenerasi. Pertumbuhan tanaman terhambat (stunting) dengan perakaran yang terbatas, daun-daun berukuran kecil
    • PENANDATANGANAN MOU KERJA SAMA ANTARA BALITHI DAN PT. CIGWA INDONESIA JAYA

      13 September 2019
      Balai Penelitian Tanaman Hias menjajaki kerjasama dengan PT CIGWA INDONESIA JAYA dalam bidang pengembangan sistem agribisnis florikultura. Direktur PT. CIGWA INDONESIA JAYA mengatakan bahwa mereka serius untuk membangun sebuah lokasi agribisnis dimana didalamnya terdapat spot khusus untuk tanaman hias. Untuk mewujudkan kerjasama tersebut pada tanggal 12 September 2019, Kepala Balai Penelitian Tanaman Hias didampingi oleh Prof. Budi Marwoto melakukan survey ke
    • Pemeliharaan Khusus dalam Budidaya Krisan

      13 September 2019
      Dalam budidaya krisan dibutuhkan pemeliharaan khusus diantaranya meliputi pinching, penjarangan rumpun dan tangkai bunga serta pemberian zat pengatur tumbuh.Pinching atau pembuangan titik tumbuh apikal muda berfungsi untuk merangsang pertumbuhan tunas aksiler untuk percabangan tanaman.  Pada pertanaman krisan untuk produksi bunga khususnya tipe krisan spray, pinching dilakukan pada saat tanaman berumur 2 - 3 minggu.