KEBUTUHAN-HIDUP-ANGGREK-TANAH-(SPATHOGLOTTIS)

  • KEBUTUHAN HIDUP ANGGREK TANAH (SPATHOGLOTTIS)

  • ditulis tgl : 04 September 2019, telah dibaca sebanyak : 98 kali

    Share On Twitter


    Tanaman anggrek tanah akan tumbuh sempurna apabila kebutuhan hidupnya tercukupi secara optimal. Seperti tanaman pada umumnya, faktor-faktor yang memepengaruhi kehidupan anggrek adalah cahaya, air, udara. suhu dan unsur hara. 

    Spathoglottis akan tumbuh baik dibawah kondisi dalam naungan maupun dibawah matahari penuh tergantung spesies. Tanaman muda atau bibit anggrek biasanya memerlukan cahaya yang lebih sedikit di banding tanaman dewasa. 

    Pertumbuhan anggrek yang kekurangan cahaya akan menyebabkan tanaman tidak mau berbunga. Jumlah cahaya yang tepat dicirikan dengan warna daun hijau muda, permukaan daun mengkilat, tanaman tumbuh segar dan rajin berbunga. 

    Air berperan sebagai alat pelarut, pengolah dan pengangkut unsur hara dari akar ke  keseluruh bagian tanaman. Kelembaban udara yang baik untuk anggrek adalah sekitar 50%-70% tergantung jenisnya. Pada kelembaban yang baik tanaman dapat mempertahankan kandungan air dalam batang dan daunnya, sehingga penyiraman air tidak boleh berlebihan karena akan terjadi pembusukan.

    Udara yang bergerak atau sirkulasi udara yang baik diperlukan tanaman untuk mengurangi panas yang disebabkan oleh terik matahari. Selain itu juga mengurangi kemungkinan adanya jamur dalam kondisi udara lembab dan diam. 

    Sebagai tanaman tropis, anggrek memerlukan suhu harian antara 27-30 derajat Celcius dan suhu malam pada kisaran 21derajat Celcius tergantung jenis. 

    Anggrek tanah memerlukan medium yang berfungsi sebagai sumber makanan  utama bagi tanaman. Fungsi sebagai sumber makanan ini dapat digantikan dengan pemberian pupuk buatan pabrik. 

    Namun ternyata media yang kaya akan bahan makanan  masih penting sebagai tempat hidup anggrek tanah dan pemberi makanan yang konvensional. Sehingga pemakaian humus, kompos dan pupuk kandang  sangat diperlukan.  

    Medium yang diinginkan Spathoglottis adalah medium dengan drainase yang baik. Sehingga apabila menggunakan media tanah, harus dicampur dengan bahan-bahan yang mudah meloloskan air. 

    Sebagai bahan campuran dapat menggunakan tanah, sekam bakar, sersah daun bambu/andam dan pasir. Untuk campuran media tanpa tanah dapat menggunakan sersah daun bambu, sekam bakar/pasir, dan pupuk kandang. 

    Tanaman ditanam dengan posisi pseudobulb bagian atas tidak terbenam, untuk menghindari kebusukan.

    Untuk tanaman golongan terestria seperti Spathoglottis, diperlukan cara pengairan yang hati-hati khsusnya untuk anggrek yang sedang berada dalam masa istirahat. Apabila diberikan air berlebihan akan berakibat  pada bagian yang berada di dalam tanah. 

    Cara yang aman adalah dengan memberi kebasahan dalam arti bukan basah kuyup pada tanaman ini pada masa pertumbuhan, sedang dalam masa istirahat air hanya boleh diberikan dalam   jumlah minimum untuk mencegah kekeringan total.

    Spathoglottis merupakan tanaman yang vigor dengan system perakaran yang cepat berkembang, sehingga apabila di tanam di pot, dipilih pot yang dalam. 

    Pertumbuhan anggreknya yang cepat memerlukan suplai hara yang lebih banyak. Pemakaian media  yang mengandung  pupuk kandang atau kompos sudah cukup, namun untuk memberikan hasil yang maksimal, pemupukan tambahan perlu dilakukan. 

    Yang harus diingat adalah bahwa fungsi pupuk tambahan ini adalah sebagai pembantu pertumbuhan, bukan penyebab pertumbuhan. 

    Pupuk organik cair dapat ditambahkan dengan cara melarutkan pupuk tersebut dengan konsentrasi 2 cc per liter, dan disiramkan dalam tanah setiap satu minggu sekali. 

    Pemangkasan daun dilakukan secara teratur dengan memotong bagian-bagian yang dapat mengganggu terutama pada daun-daun yang sudah mulai coklat dan tangkai bunga yang telah mengering. 

    Penggantian media dilakukan bersamaan dengan pemisahan anakan,  terutama pada tanaman yang telah banyak membentuk rumpun, sehingga pot tidak mampu lagi menampung tanaman.

    Pemberantasan hama dan penyakit dilakukan dengan penyemprotan pestisida sesuai kebutuhan. Biasanya hama yang sering dijumpai menyerang Spathoglottis adalah lalat putih, semut, dan laba-laba. 

    Serangan hama lalat putih yang hebat dapat menyebabkan tanaman mati, karena hama tersebut menghisap cairan dalam daun. Selain itu tanaman menjadi kotor/berwarna hitam seperti embun jelaga. 

    Sedangkan penyakit sering dijumpai adalah busuk sclerotium  yang menyerang akar, umbi semu  dan pangkal daun. Hal ini terjadi apabila tanaman dalam kondisi media terlalu basah, sehingga serangan organisme kedua seperti jamur dapat menyerang. Akibatnya tanaman menjadi busuk. (irm)

    Balai Penelitian Tanaman Hias

  • BERITA TERKAIT
    • Workshop TV Tani, Kabiro Humas: TV Tani adalah milik Kementerian Pertanian

      18 September 2019
      Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian Kuntoro Boga Andri membuka kegiatan Workshop pengelolaan konten TV Tani dengan tema "Menyiapkan Era Baru: Jurnalisme Media Sosial" pada hari Selasa 17 September 2019 di Ruang Yudhistira 2 hotel Santika Depok yang diikuti oleh kontributor TV Tani dari seluruh Unit Kerja dan Unit Pengelola Teknis lingkup Kementerian Pertanian.TV Tani adalah milik Kementerian Pertanian, jadi sebaiknya seluruh
    • UPBS Balithi Melakukan Pelatikan K3

      18 September 2019
      Kesehatan, Keselamatan dan Keamanan Kerja (K3) merupakan hal yang tidak boleh diabaikan dalam melakukan suatu pekerjaan.
    • Rencana Pembangunan Smart Green House

      17 September 2019
      Visi pertanian masa depan yaitu pertanian modern berbasis alat mesin pertanian berteknologi tinggi yang dikenal dengan istilah Smart Farming (pertanian 4.0). Smart farming adalah pertanian yang mengaplikasikan teknologi IT di dalam alat mesin pertanian sehingga dapat mensubstitusi tenaga kerja petani yang makin berkurang dan mengefesienkan sistem usaha tani.Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) dibawah
    • Teknologi Perbanyakan Krisan; Sterilisasi dan Penyiapan Eksplan

      16 September 2019
      Sterilisasi dan penyiapan eksplan Tunas pucuk dengan 1-2 daun disterilisasi menggunakan 1% larutan Tween 20 selama 30 menit sambil digojok, 1% benlate dan agrept selama 30 menit digojok dan bilas dengan air bersih berulangkali. Eksplan kemudian di rendam dalam 1% larutan natrium hipoklorida (NaOCl) yang telah ditambah 3-5 tetes Tween 20 sambil digojok selama 10 menit (perendaman eksplan dalam 0,5 % larutan NaOCl ditambah 3-5
    • Teknologi Perbanyakan Krisan secara In Vitro melalui Inisiasi dan Proliferasi Tunas Pucuk

      15 September 2019
      Benih krisan berkualitas umumnya hanya dinikmati oleh perusahaan-perusahaan bermodal kuat, namun sebagian besar petani krisan secara tradisional memperbanyak dan mempersiapkan benih krisan menggunakan tanaman induk secara berulang. Penggunaan tanaman induk secara terus menerus sebagai sumber benih tanaman produksi mengakibatkan terjadinya degenerasi. Pertumbuhan tanaman terhambat (stunting) dengan perakaran yang terbatas, daun-daun berukuran kecil
    • PENANDATANGANAN MOU KERJA SAMA ANTARA BALITHI DAN PT. CIGWA INDONESIA JAYA

      13 September 2019
      Balai Penelitian Tanaman Hias menjajaki kerjasama dengan PT CIGWA INDONESIA JAYA dalam bidang pengembangan sistem agribisnis florikultura. Direktur PT. CIGWA INDONESIA JAYA mengatakan bahwa mereka serius untuk membangun sebuah lokasi agribisnis dimana didalamnya terdapat spot khusus untuk tanaman hias. Untuk mewujudkan kerjasama tersebut pada tanggal 12 September 2019, Kepala Balai Penelitian Tanaman Hias didampingi oleh Prof. Budi Marwoto melakukan survey ke
    • Pemeliharaan Khusus dalam Budidaya Krisan

      13 September 2019
      Dalam budidaya krisan dibutuhkan pemeliharaan khusus diantaranya meliputi pinching, penjarangan rumpun dan tangkai bunga serta pemberian zat pengatur tumbuh.Pinching atau pembuangan titik tumbuh apikal muda berfungsi untuk merangsang pertumbuhan tunas aksiler untuk percabangan tanaman.  Pada pertanaman krisan untuk produksi bunga khususnya tipe krisan spray, pinching dilakukan pada saat tanaman berumur 2 - 3 minggu.