PANDUAN-PEMBIBITAN-DALAM-BUDIDAYA-MAWAR

  • PANDUAN PEMBIBITAN DALAM BUDIDAYA MAWAR

  • ditulis tgl : 31 Agustus 2019, telah dibaca sebanyak : 133 kali

    Share On Twitter


    Media tanam yang digunakan untuk pembibitan adalah tanah dan pupuk kandang yang sudah matang dengan per bandingan 1:1. Bahan tanaman yang digunakan adalah stek batang bawah yang berasal dari pohon induk varietas Rosa multic, Rosa multiflora, Rosa natal brior, atau varietas mawar pagar lainnya.

    Batang bawah yang baik digunakan adalah yang berumur cukup tua, berwarna hijau kecoklatan karena jika batang terlalu muda akan mudah mati. Ukuran batang bawah sekitar panjang 15-20 cm. 

    Sebagian tangkai daun dibuang sehingga hanya menyisakan dua tangkai saja di bagian atasnya. Bagian pangkal setek batang bawah direndam ke dalam larutan Rootone F selama 5 menit bila diperlukan. 

    Masing-masing setek ditanam ke dalam polybag yang sudah disiapkan sebelumnya, satu batang setek per polybag. Polybag yang sudah ditanami setek diletakkan di tempat yang rata dan diberi plastik mulsa agar pada saat akan diokulasi akar yang menembus polybag tidak patah atau rusak. 

    Setelah setek ditanam maka hal yang dilakukan selanjutnya adalah melakukan pemeliharaan setek batang bawah.

    Pemeliharaan tersebut meliputi penyiraman air pengairan 1-2 kali sehari, penyulaman apabila ada setek yang mati, pengendalian gulma, hama dan penyakit. Akar dan tunas tumbuh sekitar 2-6 minggu setelah tanam, hal ini tergantung pada musim dan kondisi lingkungan. 

    Setelah setek berumur 2-3 bulan atau setelah tunas mencapai tinggi 15 cm, setek siap untuk diokulasi. Seminggu sebelum okulasi, tanaman diberi pupuk urea sekitar 0,5-1 g/tanaman agar kulit 
    mudah mengelupas. 

    Cara mengokulasi batang bawah dimulai dengan menyiapkan setek batang bawah yang sudah berumur 2-3 bulan. Menyiapkan entries (batang atas). Umur batang atas dan bawah diusahakan sama, hal ini dimaksudkan agar keberhasilan okulasi lebih besar. 

    Kulit batang bawah disayat berbentuk jendela dengan arah vertikal sepanjang 1-2 cm pada ketinggian 7-8 cm dari permukaan media tanam.

    Satu mata tunas entries yang sudah terlihat muncul dan besar (bukan tunas tidur yangakan lama tumbuhnya) diambil dengan cara menyayat dari arah bawah ke atas. Lalu buang kayu yang terbawa dalam mata tunas. Sisipkan mata tunas tadi ke dalam celah sayatan pada batang bawah. 

    Mata tunas diikat erat dengan tali plastik pada bidang penyambungan mulai dari bagian bawah, ke atas lalu ke bawah lagi dengan satu ikatan tali mati, tanpa menutupi ujung mata tunas. 

    Setelah melakukan okulasi, pemeliharaan tanaman dilakukan dengan penyiraman air pengairan 1-2 kali sehari atau menyesuaikan dengan kondisi media tanam.

    Setelah 2-3 minggu okulasi, terlihat tunas mulai tumbuh dengan ciri warna hijau segar, maka dilakukan pemberian pupuk NPK sebesar 1 g/polybag. 

    Setelah mata tunas tumbuh dengan muncul daun, batang bawah bagian atas dipotong sekitar 2-3 cm di bagian atas bidang okulasi.

    Hal ini agar pertumbuhan mata tunas berlangsung lebih cepat. Pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan menggunakan pestisida secara selektif yaitu Decis dan Dithane M-45.

    Sedangkan untuk pengendalian gulma dilakukan secara manual. Jika mata tunas berwarna kecoklatan dan  mengering, hal itu berarti pengokulasian tidak berhasil. 

    Setelah bibit okulasi berumur 1-2 bulan, bibit siap untuk dipindah ke lahan yang sudah disiapkan.(irm)

    Rahayu Tedjasarwana
    Balai Penelitian Tanaman Hias

  • BERITA TERKAIT
    • Workshop TV Tani, Kabiro Humas: TV Tani adalah milik Kementerian Pertanian

      18 September 2019
      Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian Kuntoro Boga Andri membuka kegiatan Workshop pengelolaan konten TV Tani dengan tema "Menyiapkan Era Baru: Jurnalisme Media Sosial" pada hari Selasa 17 September 2019 di Ruang Yudhistira 2 hotel Santika Depok yang diikuti oleh kontributor TV Tani dari seluruh Unit Kerja dan Unit Pengelola Teknis lingkup Kementerian Pertanian.TV Tani adalah milik Kementerian Pertanian, jadi sebaiknya seluruh
    • UPBS Balithi Melakukan Pelatikan K3

      18 September 2019
      Kesehatan, Keselamatan dan Keamanan Kerja (K3) merupakan hal yang tidak boleh diabaikan dalam melakukan suatu pekerjaan.
    • Rencana Pembangunan Smart Green House

      17 September 2019
      Visi pertanian masa depan yaitu pertanian modern berbasis alat mesin pertanian berteknologi tinggi yang dikenal dengan istilah Smart Farming (pertanian 4.0). Smart farming adalah pertanian yang mengaplikasikan teknologi IT di dalam alat mesin pertanian sehingga dapat mensubstitusi tenaga kerja petani yang makin berkurang dan mengefesienkan sistem usaha tani.Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) dibawah
    • Teknologi Perbanyakan Krisan; Sterilisasi dan Penyiapan Eksplan

      16 September 2019
      Sterilisasi dan penyiapan eksplan Tunas pucuk dengan 1-2 daun disterilisasi menggunakan 1% larutan Tween 20 selama 30 menit sambil digojok, 1% benlate dan agrept selama 30 menit digojok dan bilas dengan air bersih berulangkali. Eksplan kemudian di rendam dalam 1% larutan natrium hipoklorida (NaOCl) yang telah ditambah 3-5 tetes Tween 20 sambil digojok selama 10 menit (perendaman eksplan dalam 0,5 % larutan NaOCl ditambah 3-5
    • Teknologi Perbanyakan Krisan secara In Vitro melalui Inisiasi dan Proliferasi Tunas Pucuk

      15 September 2019
      Benih krisan berkualitas umumnya hanya dinikmati oleh perusahaan-perusahaan bermodal kuat, namun sebagian besar petani krisan secara tradisional memperbanyak dan mempersiapkan benih krisan menggunakan tanaman induk secara berulang. Penggunaan tanaman induk secara terus menerus sebagai sumber benih tanaman produksi mengakibatkan terjadinya degenerasi. Pertumbuhan tanaman terhambat (stunting) dengan perakaran yang terbatas, daun-daun berukuran kecil
    • PENANDATANGANAN MOU KERJA SAMA ANTARA BALITHI DAN PT. CIGWA INDONESIA JAYA

      13 September 2019
      Balai Penelitian Tanaman Hias menjajaki kerjasama dengan PT CIGWA INDONESIA JAYA dalam bidang pengembangan sistem agribisnis florikultura. Direktur PT. CIGWA INDONESIA JAYA mengatakan bahwa mereka serius untuk membangun sebuah lokasi agribisnis dimana didalamnya terdapat spot khusus untuk tanaman hias. Untuk mewujudkan kerjasama tersebut pada tanggal 12 September 2019, Kepala Balai Penelitian Tanaman Hias didampingi oleh Prof. Budi Marwoto melakukan survey ke
    • Pemeliharaan Khusus dalam Budidaya Krisan

      13 September 2019
      Dalam budidaya krisan dibutuhkan pemeliharaan khusus diantaranya meliputi pinching, penjarangan rumpun dan tangkai bunga serta pemberian zat pengatur tumbuh.Pinching atau pembuangan titik tumbuh apikal muda berfungsi untuk merangsang pertumbuhan tunas aksiler untuk percabangan tanaman.  Pada pertanaman krisan untuk produksi bunga khususnya tipe krisan spray, pinching dilakukan pada saat tanaman berumur 2 - 3 minggu.