BUDIDAYA-SEDAP-MALAM

  • BUDIDAYA SEDAP MALAM

  • ditulis tgl : 30 Agustus 2019, telah dibaca sebanyak : 105 kali

    Share On Twitter


    Sedap malam (Polianthes tuberosa L.), atau Tuberose (Inggris) merupakan salah satu bunga potong dengan aroma wangi, susunan bunga menarik dan warna putih yang sering digunakan dalam rangkaian bunga. Tanaman ini sudah dibudidayakan dan dapat beradaptasi baik pada kondisi tropis seperti Indonesia.

    Sedap malam tumbuh baik pada daerah dengan ketinggian tempat 50-600 m dpl (sedap malam jenis bunga petal tunggal dan semi ganda lebih cocok ditanam pada ketinggian >50 mdpl  dan yang berjenis petal ganda berperforma lebih baik pada ketinggian 100-600 m dpl), kelembaban udara 75-90 %, suhu harian berkisar 16-27 derajat celcius, jenis tanah Andosol dan bertekstur liat hingga lempung berpasir dengan kisaran pH 5-7.

    Umbi sedap malam diambil dari tanaman produksi yang telah berumur lebih dari 2.5 tahun, umbi untuk produksi bunga diseleksi menurut diameter umbi rata-rata 1-2 cm, mulus dan sehat.

    Setelah diseleksi, umbi dipanen dan dikering anginkan selama lebih kurang 2-3 minggu, kemudian umbi ditaburi bubuk fungisida dan bakterisida untuk melindungi dari serangan penyakit selama penyimpanan.

    Penyimpanan dilakukan pada tempat terlindung dengan aerasi yang baik. Umbi akan memasuki masa istirahat, sebaiknya umbi disimpan selama 1-2 bulan agar konsentrasi penghambat tumbuh dalam umbi menurun tunas sehingga akan muncul dan siap untuk ditanam.

    Tanah diolah secara sempurna sedalam 30-40 cm, kemudian dikeringanginkan antara 15-30 hari. Selama masa pengeringan ini, sangat dianjurkan tanah tidak diberi air untuk mengurangi kemungkinan gulma tumbuh dan berkembangnya hama penyakit.

    Tanah kemudian diolah kembali dan dibentuk bedengan dengan lebar 100 cm, tinggi 30 cm, jarak antar bedengan 30-40 cm. Pemberian kapur pertanian perlu dilakukan pada tanah ber-pH rendah.

    Sumber kapur yang dapat digunakan adalah Dolomit diberikan 30 hari sebelum penanaman dengan cara disebar secara merata sambil dicampur dengan tanah.

    Satu minggu sebelum tanam, diberikan pupuk dasar berupa pupuk kandang dan urea.  Pupuk kandang yang telah matang diberikan dengan dosis 20-25 ton/ha. Pupuk urea diberikan dengan dosis 600 kg/ha.

    Pupuk kandang dan urea ditaburkan merata setelah bedengan dibuat dan ditutup dengan tanah pada saat merapikan bedengan.  Pemberian pupuk kandang berikutnya 5-6 bulan setelah pemupukan dasar.

    Parit-parit dan sekeliling lahan pertanaman juga dibuat untuk sarana pengairan dan drainase agar tanaman tidak terendam saat lahan kelebihan air. Satu hari menjelang penanaman, bedengan diberi air (dileb) hingga jenuh untuk menjaga kelembaban saat tanam dan menghidari stres tanaman pada awal masa pertumbuhan.

    Umbi yang sudah muncul tunas di tanam pada bedengan dengan jarak tanam 25 cm antar larikan dan 20 cm dalam larikan dengan satu umbi per lubang tanam dan tunas menghadap ke atas.

    Umbi yang telah ditanam kemudian ditutup tanah halus dengan ketebalan + 5 cm. Sangat dianjurkan apabila pada saat tanam juga diberikan Furadan 3G sebanyak 6-10 butir/lubang untuk mencegah serangan organisme pengganggu tanaman pada awal pertumbuhan.

    Umbi yang tidak tumbuh disulam dengan umbi bibit yang baru.  Periode penyulaman 5-15 hari setelah tanam agar pertumbuhan bibit sulaman dapat seragam dan menyusul pertumbuhan tanaman muda yang ditanam sebelumnya.

    Pada masa awal tanam, pemberian air dilakukan 1-2 hari sekali untuk menghindari kematian tanaman yang tinggi. Seiring dengan pertumbuhan tanaman, frekuensi pemberian air dapat dikurangi dua atau sekali seminggu tergantung kondisi tanah.

    Selain pupuk dasar, dilakukan pemupukan susulan N sebesar 75 kg/ha,  50 kg/ha P2O5 dan 50 kg/ha K2O diberikan tiga bulan setelah tanam.  Pemberian pupuk susulan dengan dosis yang sama dapat diberikan setiap 3 bulan setelah pemupukan susulan pertama. (irm)

    bersambung...

  • BERITA TERKAIT
    • Workshop TV Tani, Kabiro Humas: TV Tani adalah milik Kementerian Pertanian

      18 September 2019
      Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian Kuntoro Boga Andri membuka kegiatan Workshop pengelolaan konten TV Tani dengan tema "Menyiapkan Era Baru: Jurnalisme Media Sosial" pada hari Selasa 17 September 2019 di Ruang Yudhistira 2 hotel Santika Depok yang diikuti oleh kontributor TV Tani dari seluruh Unit Kerja dan Unit Pengelola Teknis lingkup Kementerian Pertanian.TV Tani adalah milik Kementerian Pertanian, jadi sebaiknya seluruh
    • UPBS Balithi Melakukan Pelatikan K3

      18 September 2019
      Kesehatan, Keselamatan dan Keamanan Kerja (K3) merupakan hal yang tidak boleh diabaikan dalam melakukan suatu pekerjaan.
    • Rencana Pembangunan Smart Green House

      17 September 2019
      Visi pertanian masa depan yaitu pertanian modern berbasis alat mesin pertanian berteknologi tinggi yang dikenal dengan istilah Smart Farming (pertanian 4.0). Smart farming adalah pertanian yang mengaplikasikan teknologi IT di dalam alat mesin pertanian sehingga dapat mensubstitusi tenaga kerja petani yang makin berkurang dan mengefesienkan sistem usaha tani.Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) dibawah
    • Teknologi Perbanyakan Krisan; Sterilisasi dan Penyiapan Eksplan

      16 September 2019
      Sterilisasi dan penyiapan eksplan Tunas pucuk dengan 1-2 daun disterilisasi menggunakan 1% larutan Tween 20 selama 30 menit sambil digojok, 1% benlate dan agrept selama 30 menit digojok dan bilas dengan air bersih berulangkali. Eksplan kemudian di rendam dalam 1% larutan natrium hipoklorida (NaOCl) yang telah ditambah 3-5 tetes Tween 20 sambil digojok selama 10 menit (perendaman eksplan dalam 0,5 % larutan NaOCl ditambah 3-5
    • Teknologi Perbanyakan Krisan secara In Vitro melalui Inisiasi dan Proliferasi Tunas Pucuk

      15 September 2019
      Benih krisan berkualitas umumnya hanya dinikmati oleh perusahaan-perusahaan bermodal kuat, namun sebagian besar petani krisan secara tradisional memperbanyak dan mempersiapkan benih krisan menggunakan tanaman induk secara berulang. Penggunaan tanaman induk secara terus menerus sebagai sumber benih tanaman produksi mengakibatkan terjadinya degenerasi. Pertumbuhan tanaman terhambat (stunting) dengan perakaran yang terbatas, daun-daun berukuran kecil
    • PENANDATANGANAN MOU KERJA SAMA ANTARA BALITHI DAN PT. CIGWA INDONESIA JAYA

      13 September 2019
      Balai Penelitian Tanaman Hias menjajaki kerjasama dengan PT CIGWA INDONESIA JAYA dalam bidang pengembangan sistem agribisnis florikultura. Direktur PT. CIGWA INDONESIA JAYA mengatakan bahwa mereka serius untuk membangun sebuah lokasi agribisnis dimana didalamnya terdapat spot khusus untuk tanaman hias. Untuk mewujudkan kerjasama tersebut pada tanggal 12 September 2019, Kepala Balai Penelitian Tanaman Hias didampingi oleh Prof. Budi Marwoto melakukan survey ke
    • Pemeliharaan Khusus dalam Budidaya Krisan

      13 September 2019
      Dalam budidaya krisan dibutuhkan pemeliharaan khusus diantaranya meliputi pinching, penjarangan rumpun dan tangkai bunga serta pemberian zat pengatur tumbuh.Pinching atau pembuangan titik tumbuh apikal muda berfungsi untuk merangsang pertumbuhan tunas aksiler untuk percabangan tanaman.  Pada pertanaman krisan untuk produksi bunga khususnya tipe krisan spray, pinching dilakukan pada saat tanaman berumur 2 - 3 minggu.