TANAMAN-HIAS-OPHIPOGON-JAPONICAS-

  • TANAMAN HIAS OPHIPOGON JAPONICAS

  • ditulis tgl : 25 Agustus 2019, telah dibaca sebanyak : 138 kali

    Share On Twitter


    Ophiopogon merupakan marga terbesar dalam tribe Ophipogoneae yang meliputi 65 jenis (Wang et al., 2013). O. japonicas merupakan tanaman hias daun yang banyak digunakan sebagai tanaman penutup tanah dan tanaman pembatas.

    O. japonicum disebut rjuno fige oleh seorang dokter Jerman yang bernama Engelbert Kaempfer, yang berarti ular jenggot atau ular berjanggut (Hume 1961). Nama umum O. japonicas ini adalah Monkey gass dan Mondo. Nama Mondo dahulunya adalah nama marga yang diberikan kepada kelompok tanaman yang sekarang dikenal sebagai Ophiopogon. 

    Ophiopogon berasal dari Asia Timur seperti China, Jepang, Korea, dan Vietnam (Broussard, 2007). Tanaman ini diperkenalkan ke wilayah barat lebih dari 200 tahun yang lalu.

    Penyebaran utama Ophiopogon adalah di Asia Utara, Asia Selatan dan China, sehingga kawasan tersebut menjadi pusat keragaman Ophiopogon.

    O. japonicas digunakan sebagai obat tradisional di China karena mengandung senyawa antibakteri dan dapat meredakan gejala penyakit seperti batuk, menghilangkan dahak, dan rasa panas di paru-paru yang disebabkan oleh infeksi akibat bakteri serta  mengendalikan penyakit diabetes mellitus (Liang et al., 2012). 

    O. japonicas dapat menghambat perkecambahan dan pertumbuhan beberapa bakteri dan jamur seperti Staphylococcus aureus. 

    Akar O. japonicas dikenal dengan sebutan Maidong digunakan sebagai obat tradisional di China, untuk menyembuhkan penyakit kardiovaskular, peradangan akut dan kronis.

    Akar tanaman tersebut mengandung senyawa homoisoflavanones, dua glikosida borneol, sapogenin steroid, ophiogenin glikosida dan bornyl glikosida (Adinolfi et al., 1990).

    Ophiopogon japonicas memiliki sedikit atau bahkan tidak ada dampak yang negatif terhadap ekosistem. Dalam industri pembibitan digunakan sebagai tanaman taman oleh assosiasi pertamanan di North Carolina. O. japonicas juga dapat digunakan sebagai bahan makanan dan obat, karena senyawa-senyawa yang terkandung dalamnya penting untuk industri makanan dan obat, sehingga memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi. (irm)

    Dedeh Kurniasih & Budi Winarto
    Balai Penelitian Tanaman Hias

  • BERITA TERKAIT
    • FGD Evaluasi Kinerja Lembaga PUI: Nilai Kinerja Balithi Cukup Tinggi

      17 November 2019
      Focus Group Discussion (FGD) Evaluasi Kinerja Lembaga PUI Pemuliaan Tanaman Hias dilaksanakan di aula Balai Penelitian Tanaman Hias Sabtu 16 November 2019 dengan tim penilai Prof. Sudarsono sebagai Dewan Pakar PUI dan Dr. Lelya Narsi Koordinator PUI Pusat Kemenristek DIKTI.FGD Evaluasi Kinerja PUI Pemuliaan Tanaman hias ini dihadiri oleh pengelola PUI Pemuliaan Tanaman Hias Balithi, acara dipandu oleh Dr. Dedeh Kuniasih dan presentasi capaian kinerja 2019
    • Bimtek Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur

      14 November 2019
      Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur menyelenggarakan kegiatan Bimbingan Teknis Perbenihan Tanaman Buah dan Tanaman Hias pada tanggal 13-15 November 2019 dengan peserta sekitar 90 orang dari berbagai daerah di Jawa Timur.Salah satu agenda yang disajikan dalam kegiatan tersebut yaitu bimbingan teknis (Bimtek) budidaya, perbenihan serta pemanfaatan anggrek dendrobium dan krisan pot yang dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Hias Kamis 14 November
    • Bupati Cianjur Menghadiri Panen Perdana Krisan Dataran Rendah

      12 November 2019
      Panen perdana krisan dataran rendah dilaksanakan Selasa 12 Nopember 2019 di kampung Tipar Desa Hegarmanah Kecamatan Karangtengah Cianjur dan dibuka secara resmi oleh Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) yang dalam kesempatan tersebut diwakili oleh Plt. Sekretaris Balitbangtan Dr. Hardiyanto.Dr. Hardiyanto dalam sambutannya mengatakan bahwa teknologi ini hanya trial bagaimana krisan yang biasanya adaptif di tanaman pada dataran tinggi
    • BIMTEK KRISAN DATARAN RENDAH, KADISTAN CIANJUR: INI KESEMPATAN BUAT KITA

      11 November 2019
      Kegiatan bimbingan teknis dengan tema pengembangan rantai nilai perbenihan krisan dataran rendah inovasi terobosan untuk mendukung peningkatan daya saing industri florikultura berbasis sumber daya nasional dilaksanakan di Aula Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi) Senin 11 Nopember 2091 dan dibuka secara resmi oleh Kepala Balithi Ir. Rudy Soehendi, MP., Ph.D.Hadir dan turut memberikan sambutan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur Mamad Nano, SP.,
    • Bimtek dan Temu Lapang Pengembangan Rantai Nilai Perbenihan Krisan Dataran Rendah

      10 November 2019
      Guna mendiseminasikan inovasi teknologi yang telah dihasilkan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (BALITBANGTAN) akan mengelar kegiatan bimbingan teknis dan temu lapang dengan tema Pengembangan Rantai Nilai Perbenihan Krisan Dataran Rendah: Inovasi Terobosan yang Mendukung Peningkatan Daya Saing Industri Florikultura Berbasis Sumber Daya Nasional.Kegiatan bimbingan teknis akan diselenggarakan di aula Balai Penelitian Tanaman Hias pada Senin 11
    • PEMUPUKAN YANG TEPAT UNTUK TANAMAN HIAS

      08 November 2019
      Setiap tanaman untuk kebutuhan hidupnya memerlukan sejumlah unsur hara (22 jenis) yang dapat diperoleh dari udara , tanah/media tanam, air, dan bahan organik . Berdasarkan banyaknya jumlah yang dibutuhkan, ke 22 jenis unsur hara tadi digolongkan ke dalam unsur hara makro (C, H, O, N, P, K, Ca, Mg, S) dan mikro (Fe, Mn, B, Co, Mo, Mn, Zn dll). Unsur C , H dan O dapat diperoleh dari udara dan air. Sedangkan unsur hara lain diperoleh dari tanah atau
    • Seminar Internasional di Balithi Tema: The Use of Mutation and Molecular Techniques to Produce Superior Varieties of Ornamental Plants

      07 November 2019
      Balai Penelitian Tanaman Hias (BALITHI) bekerjasama dengan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) dan International Atomic Energy Agency (IAEA) menyelenggarakan seminar Internasional dengan tema THE USE OF MUTATION AND MOLECULAR TECHNIQUES TO PRODUCE SUPERIOR VARIETIES OF ORNAMENTAL PLANTS Kamis 7 Nopember 2019.Acara ini diikuti oleh 164 peserta dan 26 peserta dari negara anggota IAEA, seperti Bangladesh, Srilanka, India, Srilanka,