TANAMAN-HIAS-OPHIPOGON-JAPONICAS-

  • TANAMAN HIAS OPHIPOGON JAPONICAS

  • ditulis tgl : 25 Agustus 2019, telah dibaca sebanyak : 82 kali

    Share On Twitter


    Ophiopogon merupakan marga terbesar dalam tribe Ophipogoneae yang meliputi 65 jenis (Wang et al., 2013). O. japonicas merupakan tanaman hias daun yang banyak digunakan sebagai tanaman penutup tanah dan tanaman pembatas.

    O. japonicum disebut rjuno fige oleh seorang dokter Jerman yang bernama Engelbert Kaempfer, yang berarti ular jenggot atau ular berjanggut (Hume 1961). Nama umum O. japonicas ini adalah Monkey gass dan Mondo. Nama Mondo dahulunya adalah nama marga yang diberikan kepada kelompok tanaman yang sekarang dikenal sebagai Ophiopogon. 

    Ophiopogon berasal dari Asia Timur seperti China, Jepang, Korea, dan Vietnam (Broussard, 2007). Tanaman ini diperkenalkan ke wilayah barat lebih dari 200 tahun yang lalu.

    Penyebaran utama Ophiopogon adalah di Asia Utara, Asia Selatan dan China, sehingga kawasan tersebut menjadi pusat keragaman Ophiopogon.

    O. japonicas digunakan sebagai obat tradisional di China karena mengandung senyawa antibakteri dan dapat meredakan gejala penyakit seperti batuk, menghilangkan dahak, dan rasa panas di paru-paru yang disebabkan oleh infeksi akibat bakteri serta  mengendalikan penyakit diabetes mellitus (Liang et al., 2012). 

    O. japonicas dapat menghambat perkecambahan dan pertumbuhan beberapa bakteri dan jamur seperti Staphylococcus aureus. 

    Akar O. japonicas dikenal dengan sebutan Maidong digunakan sebagai obat tradisional di China, untuk menyembuhkan penyakit kardiovaskular, peradangan akut dan kronis.

    Akar tanaman tersebut mengandung senyawa homoisoflavanones, dua glikosida borneol, sapogenin steroid, ophiogenin glikosida dan bornyl glikosida (Adinolfi et al., 1990).

    Ophiopogon japonicas memiliki sedikit atau bahkan tidak ada dampak yang negatif terhadap ekosistem. Dalam industri pembibitan digunakan sebagai tanaman taman oleh assosiasi pertamanan di North Carolina. O. japonicas juga dapat digunakan sebagai bahan makanan dan obat, karena senyawa-senyawa yang terkandung dalamnya penting untuk industri makanan dan obat, sehingga memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi. (irm)

    Dedeh Kurniasih & Budi Winarto
    Balai Penelitian Tanaman Hias

  • BERITA TERKAIT
    • Workshop TV Tani, Kabiro Humas: TV Tani adalah milik Kementerian Pertanian

      18 September 2019
      Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian Kuntoro Boga Andri membuka kegiatan Workshop pengelolaan konten TV Tani dengan tema "Menyiapkan Era Baru: Jurnalisme Media Sosial" pada hari Selasa 17 September 2019 di Ruang Yudhistira 2 hotel Santika Depok yang diikuti oleh kontributor TV Tani dari seluruh Unit Kerja dan Unit Pengelola Teknis lingkup Kementerian Pertanian.TV Tani adalah milik Kementerian Pertanian, jadi sebaiknya seluruh
    • UPBS Balithi Melakukan Pelatikan K3

      18 September 2019
      Kesehatan, Keselamatan dan Keamanan Kerja (K3) merupakan hal yang tidak boleh diabaikan dalam melakukan suatu pekerjaan.
    • Rencana Pembangunan Smart Green House

      17 September 2019
      Visi pertanian masa depan yaitu pertanian modern berbasis alat mesin pertanian berteknologi tinggi yang dikenal dengan istilah Smart Farming (pertanian 4.0). Smart farming adalah pertanian yang mengaplikasikan teknologi IT di dalam alat mesin pertanian sehingga dapat mensubstitusi tenaga kerja petani yang makin berkurang dan mengefesienkan sistem usaha tani.Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) dibawah
    • Teknologi Perbanyakan Krisan; Sterilisasi dan Penyiapan Eksplan

      16 September 2019
      Sterilisasi dan penyiapan eksplan Tunas pucuk dengan 1-2 daun disterilisasi menggunakan 1% larutan Tween 20 selama 30 menit sambil digojok, 1% benlate dan agrept selama 30 menit digojok dan bilas dengan air bersih berulangkali. Eksplan kemudian di rendam dalam 1% larutan natrium hipoklorida (NaOCl) yang telah ditambah 3-5 tetes Tween 20 sambil digojok selama 10 menit (perendaman eksplan dalam 0,5 % larutan NaOCl ditambah 3-5
    • Teknologi Perbanyakan Krisan secara In Vitro melalui Inisiasi dan Proliferasi Tunas Pucuk

      15 September 2019
      Benih krisan berkualitas umumnya hanya dinikmati oleh perusahaan-perusahaan bermodal kuat, namun sebagian besar petani krisan secara tradisional memperbanyak dan mempersiapkan benih krisan menggunakan tanaman induk secara berulang. Penggunaan tanaman induk secara terus menerus sebagai sumber benih tanaman produksi mengakibatkan terjadinya degenerasi. Pertumbuhan tanaman terhambat (stunting) dengan perakaran yang terbatas, daun-daun berukuran kecil
    • PENANDATANGANAN MOU KERJA SAMA ANTARA BALITHI DAN PT. CIGWA INDONESIA JAYA

      13 September 2019
      Balai Penelitian Tanaman Hias menjajaki kerjasama dengan PT CIGWA INDONESIA JAYA dalam bidang pengembangan sistem agribisnis florikultura. Direktur PT. CIGWA INDONESIA JAYA mengatakan bahwa mereka serius untuk membangun sebuah lokasi agribisnis dimana didalamnya terdapat spot khusus untuk tanaman hias. Untuk mewujudkan kerjasama tersebut pada tanggal 12 September 2019, Kepala Balai Penelitian Tanaman Hias didampingi oleh Prof. Budi Marwoto melakukan survey ke
    • Pemeliharaan Khusus dalam Budidaya Krisan

      13 September 2019
      Dalam budidaya krisan dibutuhkan pemeliharaan khusus diantaranya meliputi pinching, penjarangan rumpun dan tangkai bunga serta pemberian zat pengatur tumbuh.Pinching atau pembuangan titik tumbuh apikal muda berfungsi untuk merangsang pertumbuhan tunas aksiler untuk percabangan tanaman.  Pada pertanaman krisan untuk produksi bunga khususnya tipe krisan spray, pinching dilakukan pada saat tanaman berumur 2 - 3 minggu.