MEDIA-TUMBUH-DAN-BAHAN-TANAM-KRISAN

  • MEDIA TUMBUH DAN BAHAN TANAM KRISAN

  • ditulis tgl : 16 Agustus 2019, telah dibaca sebanyak : 420 kali

    Share On Twitter


    Penyiapan Media Tumbuh dalam Bedengan
    Krisan adalah tanaman yang menghendaki media tanam dengan persyaratan kondisi tertentu yang tetap terjaga selama proses produksi. Media tanam yang digunakan selain untuk tempat tumbuh dan tegaknya tanaman, juga berfungsi sesuai dengan persyaratan tumbuh tanaman krisan dan dapat memberikan kondisi fisik, kimia dan biologi yang kondusif sehingga dapat mendukung pertumbuhan akar khususnya dan tanaman secara keseluruhan. 

    Secara umum media tanam harus mempunyai kapasitas menahan air yang besar dan mempunyai aerasi dan drainase yang baik serta bebas hama dan penyakit. Pembentukan bedengan dapat dilakukan setelah lahan dibersihkan dari sisa gulma yang ada. Pembersihan gulma dapat dilakukan secara mekanis maupun dengan aplikasi herbisida.

    Tanah kemudian digemburkan dan dibentuk bedengan pertanaman setinggi 25 - 30 cm dengan lebar 1 - 1,2 meter dan jarak antar bedengan 50 - 75 cm, memanjang disesuaikan dengan bentuk lahan dan rumah lindung produksi. Setelah bedengan terbentuk, untuk memperbaiki sifat fisik tanah, dapat ditambahkan pupuk kandang kuda yang sudah matang dengan dosis setara 30 ton/ha dan humus bambu dengan dosis 10 ton/ha. 

    Bersamaan dengan itu, pupuk kimia buatan sebagai pupuk dasar juga diberikan setara dengan dosis 200 kg/ha Urea dan 350 kg/ha KCl dan 300 kg/ha SP 36 secara merata dan kemudian lahan pertanaman disterilisasi.  Sterilisasi lahan pertanaman dapat dilakukan dengan menggunakan Basamid sesuai dosis prosedur anjuran, fumigasi, solarisasi dan pemanasan/ pasteurisasi

    Tanah yang memiliki tingkat kemasaman tinggi hingga pH < 5,5 perlu ditambahkan kapur pertanian untuk memperbaiki pH tanah.  Sumber kapur dapat berupa dolomit, kalsit atau zeagro. Dosis pemberian kapur disesuaikan dengan kemasaman tanah, sebagai contoh untuk dolomit pada tanah dengan pH sekitar 5, dapat diberikan kapur sebanyak 5,02 ton/ha, pH = 5,2 diberikan 4.08 ton/ha, pH = 5,3 sebanyak 3,6 ton/ha dan pH = 5,4 sebanyak 3,12 ton/ha (Marwoto, et. al., 2000).

    Pemberian kapur dilakukan dengan menamburkan kapur pada permukaan media bedengan dan diaduk dengan merata.  Selanjutnya, 1 hingga 2 hari sebelum tanam, bedengan diberi air hingga kapasitas lapang dan dipasang jaring penegak tanaman yang sesuai serta dibuat lobang tanam sesuai jarak tanam.

    Penyiapan Bahan Tanam (Planting Material)
    Penggunaan benih yang berkualitas sangat penting untuk diperhatikan dalam proses produksi tanaman krisan.  Benih yang berkualitas dalam hal ini adalah benih dengan kemurnian genetik tinggi, sehat (bebas patogen terutama penyakit sistemik), tidak mengalami gangguan fisiologis, mempunyai daya tumbuh kuat dan memiliki nilai komersial di pasaran.  Benih yang sehat dan prima berpotensi untuk menghasilkan tanaman yang tumbuh secara optimal dan responsif terhadap agro-input, selanjutnya dapat menghasilkan kualitas bunga yang memadai.
    Pemilihan varietas yang ditanam juga penting untuk diperhatikan pada proses produksi tanaman krisan. Selain preferensi konsumen terhadap warna, bentuk dan tipe bunga, karakter lain yang spesifik dan menguntungkan (low input varieties), seperti ketahanan/toleransi terhadap patogen penting, juga layak mendapat perhatian dalam pemilihan varietas yang ditanam.  Benih tanaman krisan dapat berupa stek pucuk tanpa akar, stek pucuk berakar, anakan maupun tanaman muda hasil aklimatisasi dari kultur jaringan.

    Untuk pertanaman krisan produksi bunga, umumnya digunakan benih berupa stek pucuk berakar.  Stek berakar dapat diperoleh dari penangkar benih krisan komersial yang dapat memberikan jaminan mutu benih berkaitan dengan kebenaran varietas dan kesehatan benih, atau dengan mengakarkan stek krisan tanpa akar pada Untuk pengakaran stek, beberapa protokol/hal berikut perlu mendapat perhatian.

    Pertama, pucuk diambil dari tunas aksiler yang tumbuh dari tanaman induk yang sehat dan tumbuh optimal.  Stek sebagai bahan tanam sangat dianjurkan berasal dari kebun tanaman induk untuk produksi stek dan bukan dari tanaman produksi bunga. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga kualitas stek yang dihasilkan dan tanaman muda yang ditanam. Proses produksi dan pengelolaan kebun tanaman induk untuk produksi stek dijelaskan secara integral pada bab selanjutnya.

    Kedua, stek pucuk diambil dari tunas aksiler yang telah mempunyai 5 - 7 daun sempurna, mempunyai keragaan pertumbuhan apikal yang baik, dan tidak terserang hama penyakit penting serta tidak terjadi gangguan fisiologis. Stek dipanen dengan cara memotong tunas aksiler dengan menggunakan pemotong steril, dan kemudian stek ditempatkan pada wadah di tempat yang lembab.


    Ketiga, stek tanpa akar ini kemudian diseleksi keseragamannya.  Stek-stek kecil dan tidak seragam sangat dianjurkan untuk tidak digunakan sebagai bahan tanam.  Pangkal batang stek-stek hasil seleksi ini kemudian diberikan larutan hormon pemacu pertumbuhan/inisiasi akar seperti IBA 0,5 % atau yang lainnya dan selanjutnya ditanam pada media pengakaran stek (Spethmann dan Hamzah, 1988).

    Keempat, setelah stek ditanam pada media pengakaran, stek disungkup/ditutup dengan menggunakan plastik atau bahan lain seperti koran,  untuk mengurangi evapotranspirasi yang berlebihan hingga inisiasi akar (+ 10 hari), dan selanjutnya sungkup dibuka.  Proses pengakaran berlangsung kurang lebih 14 hari.  Tata cara pengakaran stek disajikan pada gambar 7.  Selama proses pengakaran, stek juga diberikan kondisi hari panjang dengan penambahan cahaya pada malam hari (Borowski et. al., 1981). Setelah melalui proses pengakaran selama 14 hari, stek-stek tersebut dapat dibawa ke areal pertanaman dan siap untuk ditanam. Stek ditanam dalam bedengan setelah diberi lubang tanam dan jaring penegak tanaman (untuk bunga potong). 

    Bilamana lahan pertanaman belum siap atau stek akan dikirim ke suatu tempat yang membutuhkan waktu, maka stek dapat disimpan untuk sementara waktu. Stek belum berakar dapat disimpan selama seminggu bila ditempatkan dalam plastik pada suhu 5 derajat celcius. Bila stek telah melalui proses pengakaran, stek dapat disimpan dalam bak pengakaran  selama 3 hari pada suhu 5 - 8 derajat Celcius. (irm)

  • BERITA TERKAIT
    • Haryanti Krisan Potong Hasil Mutasi Sinar Gamma

      17 Januari 2020
      Krisan bunga potong varietas Haryanti Agrihorti merupakan bunga tipe spray
    • Seminar Proposal ROPP RODHP Balithi 2020

      16 Januari 2020
      Bertempat di Aula Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi) diselenggarakan Seminar Proposal Rencana Operasional Penelitian Pertanian (ROPP) dan Rencana Operasional Diseminasi Hasil Penelitian (RODHP) Tahun Anggaran 2020 yang diikuti oleh seluruh penanggungjawab kegiatan penelitian dan diseminasi Balithi.Kegiatan Seminar proposal ROPP RODHP ini dilaksanakan selama tiga hari mulai tanggal 15 sampai dengan 17 Januari 2020 dengan materi yang disajikan terdiri
    • Suciono Krisan Standar Produk BALITBANGTAN

      15 Januari 2020
      Krisan varietas Suciono merupakan salah satu produk yang dihasilkan Badan Penelitian dan pengembangan Pertanian pada tahun 2014. Mempunyai bunga bertipe standar dekoratif berwarna putih bersih, cakram bunga berbentuk kubah dengan diameter bunga berukuran 12-14 cm. Bentuk daun bercangap menyirip, tebal dengan warna hijau gelap, umur berbunga 58-63 hari setelah tanam dengan respon time 8-9 minggu setelah periode hari panjang.Krisan Suciono memiliki
    • UPN Veteran Yogyakarta Berkunjung ke Balithi

      10 Januari 2020
      Kunjungan ilmiah PRODI MAGISTER AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UPN VETERAN YOGYAKARTA dilaksanakan Jumat 10 Januari 2020   yang terdiri 6 orang dosen dan 2 admisi. Peserta disambut langsung oleh Ir. Rudy Soehendi, Ph.D selaku Kepala Balai Penelitian Tanaman Hias (BALITHI), Dr. Dedeh Kurniasih selaku Koordinator program dan Ronald Bunga Mayang, SP., M.Si selaku kasi Pelayanan Teknis, serta perwakilan peneliti Balithi. Nanik Dara
    • Penggunaan Benih dan Varietas Tanaman Krisan

      06 Januari 2020
      Penggunaan benih yang berkualitas sangat penting untuk diperhatikan dalam proses produksi tanaman krisan.  Benih yang berkualitas dalam hal ini adalah benih dengan kemurnian genetik tinggi, sehat (bebas patogen terutama penyakit sistemik), tidak mengalami gangguan fisiologis, mempunyai daya tumbuh kuat dan memiliki nilai komersial di pasaran. Benih yang sehat dan prima selain berpotensi untuk tumbuh secara optimal juga responsif terhadap agro-input yang diberikan yang
    • Budidaya Sedap Malam

      03 Januari 2020
      Sedap malam cocok dibudidayakan pada tanah lempung (sawah) dengan elevasi dataran rendah sampai sedang (50 s/d 600 m dpl) serta tersedia air irigasi jika dibutuhkan terutama pada musim kemarau. Tempat penanaman harus terbuka dan tidak dinaungi oleh pepohonanBibit Berasal dari tanaman sedap malam yang telah berumur lebih dari 1 (satu tahun).  Ukuran (diameter) rata-rata 1,5 - 2,5 cm dan telah dikeringkan selama lebih kurang 2 -
    • Aspek Lingkungan Dalam Budidaya Aglaonema

      01 Januari 2020
      Lingkungan pertanaman merupakan faktor penting yang harus diperhatikan dan dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman secara keseluruhan.  Faktor-faktor ini meliputi faktor abiotik bagian atas media tumbuh (lingkungan sekitar pertanaman) yang meliputi :Ketinggian tempatAglaonema dapat tumbuh pada ketinggian sedang hingga rendah dan tempat tumbuh ideal tanaman agloanema berkisar antara 300 - 500 meter di atas