MEDIA-TUMBUH-DAN-BAHAN-TANAM-KRISAN

  • MEDIA TUMBUH DAN BAHAN TANAM KRISAN

  • ditulis tgl : 16 Agustus 2019, telah dibaca sebanyak : 74 kali

    Share On Twitter


    Penyiapan Media Tumbuh dalam Bedengan
    Krisan adalah tanaman yang menghendaki media tanam dengan persyaratan kondisi tertentu yang tetap terjaga selama proses produksi. Media tanam yang digunakan selain untuk tempat tumbuh dan tegaknya tanaman, juga berfungsi sesuai dengan persyaratan tumbuh tanaman krisan dan dapat memberikan kondisi fisik, kimia dan biologi yang kondusif sehingga dapat mendukung pertumbuhan akar khususnya dan tanaman secara keseluruhan. 

    Secara umum media tanam harus mempunyai kapasitas menahan air yang besar dan mempunyai aerasi dan drainase yang baik serta bebas hama dan penyakit. Pembentukan bedengan dapat dilakukan setelah lahan dibersihkan dari sisa gulma yang ada. Pembersihan gulma dapat dilakukan secara mekanis maupun dengan aplikasi herbisida.

    Tanah kemudian digemburkan dan dibentuk bedengan pertanaman setinggi 25 - 30 cm dengan lebar 1 - 1,2 meter dan jarak antar bedengan 50 - 75 cm, memanjang disesuaikan dengan bentuk lahan dan rumah lindung produksi. Setelah bedengan terbentuk, untuk memperbaiki sifat fisik tanah, dapat ditambahkan pupuk kandang kuda yang sudah matang dengan dosis setara 30 ton/ha dan humus bambu dengan dosis 10 ton/ha. 

    Bersamaan dengan itu, pupuk kimia buatan sebagai pupuk dasar juga diberikan setara dengan dosis 200 kg/ha Urea dan 350 kg/ha KCl dan 300 kg/ha SP 36 secara merata dan kemudian lahan pertanaman disterilisasi.  Sterilisasi lahan pertanaman dapat dilakukan dengan menggunakan Basamid sesuai dosis prosedur anjuran, fumigasi, solarisasi dan pemanasan/ pasteurisasi

    Tanah yang memiliki tingkat kemasaman tinggi hingga pH < 5,5 perlu ditambahkan kapur pertanian untuk memperbaiki pH tanah.  Sumber kapur dapat berupa dolomit, kalsit atau zeagro. Dosis pemberian kapur disesuaikan dengan kemasaman tanah, sebagai contoh untuk dolomit pada tanah dengan pH sekitar 5, dapat diberikan kapur sebanyak 5,02 ton/ha, pH = 5,2 diberikan 4.08 ton/ha, pH = 5,3 sebanyak 3,6 ton/ha dan pH = 5,4 sebanyak 3,12 ton/ha (Marwoto, et. al., 2000).

    Pemberian kapur dilakukan dengan menamburkan kapur pada permukaan media bedengan dan diaduk dengan merata.  Selanjutnya, 1 hingga 2 hari sebelum tanam, bedengan diberi air hingga kapasitas lapang dan dipasang jaring penegak tanaman yang sesuai serta dibuat lobang tanam sesuai jarak tanam.

    Penyiapan Bahan Tanam (Planting Material)
    Penggunaan benih yang berkualitas sangat penting untuk diperhatikan dalam proses produksi tanaman krisan.  Benih yang berkualitas dalam hal ini adalah benih dengan kemurnian genetik tinggi, sehat (bebas patogen terutama penyakit sistemik), tidak mengalami gangguan fisiologis, mempunyai daya tumbuh kuat dan memiliki nilai komersial di pasaran.  Benih yang sehat dan prima berpotensi untuk menghasilkan tanaman yang tumbuh secara optimal dan responsif terhadap agro-input, selanjutnya dapat menghasilkan kualitas bunga yang memadai.
    Pemilihan varietas yang ditanam juga penting untuk diperhatikan pada proses produksi tanaman krisan. Selain preferensi konsumen terhadap warna, bentuk dan tipe bunga, karakter lain yang spesifik dan menguntungkan (low input varieties), seperti ketahanan/toleransi terhadap patogen penting, juga layak mendapat perhatian dalam pemilihan varietas yang ditanam.  Benih tanaman krisan dapat berupa stek pucuk tanpa akar, stek pucuk berakar, anakan maupun tanaman muda hasil aklimatisasi dari kultur jaringan.

    Untuk pertanaman krisan produksi bunga, umumnya digunakan benih berupa stek pucuk berakar.  Stek berakar dapat diperoleh dari penangkar benih krisan komersial yang dapat memberikan jaminan mutu benih berkaitan dengan kebenaran varietas dan kesehatan benih, atau dengan mengakarkan stek krisan tanpa akar pada Untuk pengakaran stek, beberapa protokol/hal berikut perlu mendapat perhatian.

    Pertama, pucuk diambil dari tunas aksiler yang tumbuh dari tanaman induk yang sehat dan tumbuh optimal.  Stek sebagai bahan tanam sangat dianjurkan berasal dari kebun tanaman induk untuk produksi stek dan bukan dari tanaman produksi bunga. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga kualitas stek yang dihasilkan dan tanaman muda yang ditanam. Proses produksi dan pengelolaan kebun tanaman induk untuk produksi stek dijelaskan secara integral pada bab selanjutnya.

    Kedua, stek pucuk diambil dari tunas aksiler yang telah mempunyai 5 - 7 daun sempurna, mempunyai keragaan pertumbuhan apikal yang baik, dan tidak terserang hama penyakit penting serta tidak terjadi gangguan fisiologis. Stek dipanen dengan cara memotong tunas aksiler dengan menggunakan pemotong steril, dan kemudian stek ditempatkan pada wadah di tempat yang lembab.


    Ketiga, stek tanpa akar ini kemudian diseleksi keseragamannya.  Stek-stek kecil dan tidak seragam sangat dianjurkan untuk tidak digunakan sebagai bahan tanam.  Pangkal batang stek-stek hasil seleksi ini kemudian diberikan larutan hormon pemacu pertumbuhan/inisiasi akar seperti IBA 0,5 % atau yang lainnya dan selanjutnya ditanam pada media pengakaran stek (Spethmann dan Hamzah, 1988).

    Keempat, setelah stek ditanam pada media pengakaran, stek disungkup/ditutup dengan menggunakan plastik atau bahan lain seperti koran,  untuk mengurangi evapotranspirasi yang berlebihan hingga inisiasi akar (+ 10 hari), dan selanjutnya sungkup dibuka.  Proses pengakaran berlangsung kurang lebih 14 hari.  Tata cara pengakaran stek disajikan pada gambar 7.  Selama proses pengakaran, stek juga diberikan kondisi hari panjang dengan penambahan cahaya pada malam hari (Borowski et. al., 1981). Setelah melalui proses pengakaran selama 14 hari, stek-stek tersebut dapat dibawa ke areal pertanaman dan siap untuk ditanam. Stek ditanam dalam bedengan setelah diberi lubang tanam dan jaring penegak tanaman (untuk bunga potong). 

    Bilamana lahan pertanaman belum siap atau stek akan dikirim ke suatu tempat yang membutuhkan waktu, maka stek dapat disimpan untuk sementara waktu. Stek belum berakar dapat disimpan selama seminggu bila ditempatkan dalam plastik pada suhu 5 derajat celcius. Bila stek telah melalui proses pengakaran, stek dapat disimpan dalam bak pengakaran  selama 3 hari pada suhu 5 - 8 derajat Celcius. (irm)

  • BERITA TERKAIT
    • Uji Preferensi Konsumen Tanaman Hias Impatien

      25 Agustus 2019
      Uji preferensi konsumen calon varietas impatien dilakukan saat pelaksanaan Agro Inovasi Fair 2019 di halaman Kantor Balai Pengelola Alih Teknologi Pertanian, Jalan Salak Kota Bogor tangga 24-25 Agustus 2019.Tujuan dari preferensi konsumen ini adalah untuk memperoleh data akurat dari masyarakat mengenai calon varietas impatien yang banyak diminati sehingga dapat dijadikan salah satu acuan diusulkannya calon varietas tersebut menjadi
    • Tanaman Hias Ophipogon japonicas

      25 Agustus 2019
      Ophiopogon merupakan marga terbesar dalam tribe Ophipogoneae yang meliputi 65 jenis (Wang et al., 2013). O. japonicas merupakan tanaman hias daun yang banyak digunakan sebagai tanaman penutup tanah dan tanaman pembatas.O. japonicum disebut rjuno fige oleh seorang dokter Jerman yang bernama Engelbert Kaempfer, yang berarti ular jenggot atau ular berjanggut (Hume 1961). Nama umum O. japonicas ini adalah Monkey gass dan Mondo. Nama Mondo
    • Agro Inovasi Fair 2019

      24 Agustus 2019
      Agro Inovasi Fair 2019 dilaksanakan di halaman gedung Balai Pengelola Alih Teknologi Pertanian dan dibuka secara resmi oleh Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Dr. Ir. Fadjry Djufry, MSi. sabtu 24 Agustus 2019.Acara yang mengambil tema "Membumikan hasil riset pertanian Indonesia" dihadiri oleh kepala UK dan UPT Lingkup Badan Litbang Pertanian dan diikuti oleh para pelaku industri agribisnis.Tujuan dilaksanakannya
    • Mengenal Tanaman Hias Krisan Varietas Selena

      24 Agustus 2019
      Krisan varietas Selena termasuk golongan Varietas Klon dengan tinggi Tanaman 92,0 - 98,5 cm panjang ruas batang 2,5 - 3,0 cm, umur mulai berbunga 50 - 55 hari setelah tanam, diameter kuntum bunga 8,9 - 10,5 cm. Lama kesegaran bunga 15 - 18 hariPenciri utama dari varietas Selena diantaranya bentuk bunga dekoratif, tipe bunga standart dengan warna kuntum bunga merah orange serta ukuran bunga yang relative besar sehingga sangat cocok dijadikan rangkaian
    • Kunjungan BBTPH Wilayah Semarang ke Balithi

      24 Agustus 2019
      Kunjungan Kepala Balai Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BBTPH) wilayah Semarang beserta 80 stafnya dilaksanakan pada hari Jumat, 23 Agustus 2019.Dalam pembukaannya Kepala BBTPH wilayah Semarang, Ir. Rini Budiningsih, MSi. mengatakan "kami ajak semua karyawan dari BBPTPH berkunjung ke Balithi, harapannya dengan kita semua belajar ke balithi kita bisa aplikasikan ilmu yang diperoleh di kebun masing-masing, monggo kesempatan ini dimanfaatkan
    • PERSIAPAN TRAINING ON FLORICULTURE INDUSTRI DEVELOPMENT IN TIMOR LESTE

      23 Agustus 2019
      Dalam rangka pengembangan tanaman hias khususnya mawar di Timor leste, JICA Partnership program menjalin kerjasama dengan Badan Litbang Kementrian pertanian untuk mensuport pembangunan sumber Daya manusia di Timor Leste. JICA Partnership Program (JPP) atau Program Kemitraan JICA sendiri merupakan suatu program dukungan Japan International Cooperation Agency(JICA) yang bertujuan mendorong pelaksanaan berbagai proyek pembangunan pada tingkat masyarakat akar rumput di berbagai negara
    • Mengenal Istilah-istilah yang Biasa Dipakai Dalam Dunia Teknologi Benih

      23 Agustus 2019
      Dalam dunia teknologi perbenihan dikenal berbagai istilah yang sudah biasa digunakan. Tetapi masih banyak kalangan yang belum mengetahui secara detail maksud dari istilah tersebut.Kali ini dibahas rincian atau deskripsi darivpenggunaan istilah-istilah dalam dunia perbenihan terutama yang menggunakan teknologi kultur jaringan tanaman.Aklimatisasi, aklimatisasi adalah proses adaptasi dan pemindahan tanaman hasil kultur in