TEKNOLOGI-PERBANYAKAN-RUSCUS-HYPOPHYLLUM-L.-SECARA-IN-VITRO-MELALUI-INISIASI-DAN-PROLIFERASI-TUNAS-ADVENTIF

  • TEKNOLOGI PERBANYAKAN RUSCUS HYPOPHYLLUM L. SECARA IN VITRO MELALUI INISIASI DAN PROLIFERASI TUNAS ADVENTIF

  • ditulis tgl : 07 Agustus 2019, telah dibaca sebanyak : 75 kali

    Share On Twitter

    Tanaman donor yang digunakan adalah R. hypophyllum yang tumbuh subur dan sehat, berumur 0,6-1,0 tahun. Tanaman donor ditanam dalam bedengan yang berisi campuran arang sekam, sekam, dan humus bambu/bahan organik (1:1:1, v/v/v) dibawah screen house. Tanaman dipelihara melalui penyiraman (2 kali seminggu) dan pempukan (15 g/tanaman, NPK, 20:15:15) setiap bulan sekali. Aplikasi pestisida untuk tujuan pengendalian hama dan penyakit diupayakan seminimal mungkin untuk mengurangi potensi munculnya kontaminan, baik bakteri maupun jamur. Tunas muda dengan 5-6 cladodes dipanen dari tanaman induk dan digunakan sebagai donor eksplan.   

    Tunas muda dengan 5-6 nodus yang telah dipanen dipotong pada tiap nodusnya dan menjadi sumber eksplan. Potongan nodus selanjutnya dicuci di bawah air mengalir selama 30 menit. Eksplan selanjutnya direndam dalam 1% larutan pestisida (50% benomyl dan 20% kanamycin sulfat) selama 30 menit sambil digojok, kemudian dibilas beberapa kali dengan air hingga bersih. Eksplan kemudian dibawa ke dalam laminar air flow cabinet dan disterilisasi dengan 1% NaOCl selama 10 menit, 2% NaOCl selama 5 menit, 80% alkohol selama 30 detik dan terakhir dibilas dengan air destilata steril 5-6x (@ 3-5 menit). Eksplan selenjutnya ditiriskan dalam cawan Petri steril yang berisi tisu steril. 

    Setelah sterilisasi, eksplan diambil dan diletakkan diatas cawan Petri steril. Bagian eksplan yang rusak akibat sterilisasi dipotong dan dibuang menggunakan pisau kultur. Pada bagian pangkal cladode dipotong mendatar hingga terlihat hampir rata dengan permukaan batang. Nodus kemudian ditanam dalam medium inisiasi.

    Tahap Inisiasi tunas adventif dilakukan dengan cara menanam nodus sebagai sumber eksplan pada medium 1/4 MS yang ditambah dengan 200 ml/l air kelapa, 0,5 mg/l BA, 0,5 mg/l IAA, 20 g/l sukrosa dan 1,8 g/l gelrite. Kultur nodus kemudian disimpan dalam ruang gelap selama 2 bulan. Kalus umumnya akan terbentuk pada semua bagian eksplan yang mengalami pelukaan, terutama pada bagian pangkal cladode 15-20 hari setelah kultur. Ukuran kalus terus bertumbuh dan berkembang dan membentuk kalus dengan ukuran 0,4 cm mudah diamati 35 hari setelah kultur. Setelah 2 bulan, jumlah bakal tunas adventif yang dihasilkan berkisar antara 10-17 bakal tunas. 

    Regfenerasi tunas adventif dilakukan dengan cara memindahkan dan memecah ukuran kalus dengan bakal tunas (jika ukuran kalus besar lebih dari 0,5 cm) dan menanamnya pada medium 3/4 WT medium yang mengandung 0,25 mg/l BA, 0,5 mg/l Kin, 0,05 mg/l IAA, 1 g/l arang aktif, 20 g/l sukrosa dan 1,8 g/l gelrite. Kultur selanjutnya diinkubasi pada kondisi terang dengan 12 jam fotoperiode di bawah lampu fluoresen dengan intensitas ~ 13 Ámol/m2/s, pada suhu 23,5 ▒ 1,1derajat Celcius dan kelembaban relative 60,6 ▒ 3,8 % selama 2 bulan. Pada tahap regenerasi dapat dihasilkan 8-9 tunas per kalus yang disubkultur. Sedangkan perbanyakan tunas adventif dilakukan dengan cara yang sama dengan tahap regenerasi dan menanam kalus dengan tunas pada medium 1/2 MS dengan vitamin penuh pada kondisi inkubasi yang sama. Pada tahap ini jumlah tunas baru yang dihasilkan dapat mencapai 9 tunas. Perbanyakan tunas ini dapat dilakukan hingga subkultur yang ke-6. Subkultur kalus dengan tunas dapat dilakukan berulang setiap 2 bulan sekali hingga 5-6 kali. Subkultur disarankan untuk dihentikan saat tunas sudah mencapai 6 kali.

    Penyiapan plantlets dilakukan dengan memilih dan menanam tunas yang tumbuh sehat dan vigor dengan 2-3 cladodes pada medium 1/2 MS vitamin penuh tanpa hormon dengan 20 g/l sukrosa dan 7 g/l agar Swallow. Kultur tunas kemudian disimpan pada kondisi inkubasi yang sama dengan tahap sebelumnya. Akar umumnya mulai terbentuk 10-15 hari setelah kultur. Jumlah akar yang terbentuk per tunas berkisar antara 2-4 akar dengan panjang yang bervariasi setelah 2 bulan masa inkubasi. 

    Budi Winarto - Balai Penelitian Tanaman Hias

    bersambung ke tahap Aklimatisasi Planlets..

  • BERITA TERKAIT
    • Mengenal Istilah-istilah yang Biasa Dipakai Dalam Dunia Teknologi Benih

      23 Agustus 2019
      Dalam dunia teknologi perbenihan dikenal berbagai istilah yang sudah biasa digunakan. Tetapi masih banyak kalangan yang belum mengetahui secara detail maksud dari istilah tersebut.Kali ini dibahas rincian atau deskripsi darivpenggunaan istilah-istilah dalam dunia perbenihan terutama yang menggunakan teknologi kultur jaringan tanaman.Aklimatisasi, aklimatisasi adalah proses adaptasi dan pemindahan tanaman hasil kultur in
    • Launching Inovasi Unggulan dan Penyerahan Royalti Kepada Inventor Balitbangtan

      22 Agustus 2019
      Bertempat di Auditorium Ir. Sadikin Sumintawikarta, Jl. Tentara Pelajar No. 2 Bogor Kamis 22 Agustus 2019 dilaksanakan Launching Inovasi Unggulan Balitbangtan.Mewakili Menteri Pertanian RI, Kepala Balitbangtan Dr. Ir. Fadjry Djufry, M.Si. secara resmi membuka acara tersebut. Selain launching inovasi unggulan Balitbangtan pada kesempatan yang sama dilaksanakan pula penyerahan royalti secara simbolis kepada inventor Balitbangtan yang dilaksanakan
    • Varietas Krisan Kineta

      22 Agustus 2019
      Kineta termasuk salah satu varietas dari komoditas krisan yang telah dihasilkan Balai Penelitian Tanaman Hias, deskripsi varietas ini diantaranya memiliki tinggi Tanaman 95 - 97 cm,Bentuk penampang batang : bulat dengan jumlah ruas batang 36 - 41 ruas pertanaman.Jumlah kuntum bunga 19 - 27 kuntum dengan diameter kuntum bunga
    • Peringatan HUT RI ke74 dan HUT Balithi ke-25

      21 Agustus 2019
      Peringatan hari ulang tahun (HUT) Balithi ke-25 dilaksanakan di area Balithi pada tanggal 21 Agustus 2019.Perayaan dimeriahkan dengan lomba jalan santai yang diikuti oleh seluruh karyawan, siswa dan mahasiswa praktik, dharma wanita dan para pekarya kebun; pembagian doorprize dan hiburan lainnya.Dalam pembukaan lomba jalan santai, Kepala Balithi menyampaikan bahwa kegiatan ini dilaksanakan semata-mata untuk mempererat tali
    • Penanaman Krisan

      21 Agustus 2019
      Untuk tanaman produksi bunga potong, bahan tanam berupa stek krisan berakar dapat ditanam pada lahan bedengan dengan jarak tanam 12,5 x 12,5 cm (kerapatan tanam 64 tanaman/m2),  setelah sebelumnya dibuat lobang tanam dengan menggunakan bambu atau kayu penugal, sedangkan untuk kebun tanaman induk produksi stek, stek berakar ditanam dengan kerapatan 25 hingga 40 tanaman/m2. Faktor kelembaban media tanam perlu mendapat perhatian dalam pertanaman
    • sosialisasi peningkatan SDM Perbenihan Tanaman Hias

      20 Agustus 2019
      Sosialisasi peningkatan Kompetensi SDM Dalam Mendukung Perbenihan tanaman hias berkualitas sesuai peraturan dilaksanakan di aula Balai Penelitian Tanaman Hias pada hari selasa 20 Agustus 2019.Pertemuan tersebut dihadiri oleh Kepala Balai Penelitian Tanaman Hias, Ir, Rudy Soehendi, MP., Ph.D., Prof(R). Dr. Budi Marwoto, MS., Evi Dwi Sulistya Nugroho, SP., MSi., para peneliti Balai Penelitian Tanaman Hias serta seluruh pengelola Unit Pengelolaan Benih
    • Launching Perpustakaan dan Aplikasi SILAK BALITBANGTAN

      18 Agustus 2019
      Menurut Undang-Undang Nomor 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan, disebutkan bahwa Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesiona l dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka. Selanjutnya disebutkan pula bahwa Perpustakaan khusus adalah perpustakaan yang diperuntukkan secara terbatas bagi pemustaka di lingkungan lembaga pemerintah,