TEKNOLOGI-PERBANYAKAN-RUSCUS-HYPOPHYLLUM-L.-SECARA-IN-VITRO-MELALUI-INISIASI-DAN-PROLIFERASI-TUNAS-ADVENTIF

  • TEKNOLOGI PERBANYAKAN RUSCUS HYPOPHYLLUM L. SECARA IN VITRO MELALUI INISIASI DAN PROLIFERASI TUNAS ADVENTIF

  • ditulis tgl : 07 Agustus 2019, telah dibaca sebanyak : 374 kali

    Share On Twitter

    Tanaman donor yang digunakan adalah R. hypophyllum yang tumbuh subur dan sehat, berumur 0,6-1,0 tahun. Tanaman donor ditanam dalam bedengan yang berisi campuran arang sekam, sekam, dan humus bambu/bahan organik (1:1:1, v/v/v) dibawah screen house. Tanaman dipelihara melalui penyiraman (2 kali seminggu) dan pempukan (15 g/tanaman, NPK, 20:15:15) setiap bulan sekali. Aplikasi pestisida untuk tujuan pengendalian hama dan penyakit diupayakan seminimal mungkin untuk mengurangi potensi munculnya kontaminan, baik bakteri maupun jamur. Tunas muda dengan 5-6 cladodes dipanen dari tanaman induk dan digunakan sebagai donor eksplan.   

    Tunas muda dengan 5-6 nodus yang telah dipanen dipotong pada tiap nodusnya dan menjadi sumber eksplan. Potongan nodus selanjutnya dicuci di bawah air mengalir selama 30 menit. Eksplan selanjutnya direndam dalam 1% larutan pestisida (50% benomyl dan 20% kanamycin sulfat) selama 30 menit sambil digojok, kemudian dibilas beberapa kali dengan air hingga bersih. Eksplan kemudian dibawa ke dalam laminar air flow cabinet dan disterilisasi dengan 1% NaOCl selama 10 menit, 2% NaOCl selama 5 menit, 80% alkohol selama 30 detik dan terakhir dibilas dengan air destilata steril 5-6x (@ 3-5 menit). Eksplan selenjutnya ditiriskan dalam cawan Petri steril yang berisi tisu steril. 

    Setelah sterilisasi, eksplan diambil dan diletakkan diatas cawan Petri steril. Bagian eksplan yang rusak akibat sterilisasi dipotong dan dibuang menggunakan pisau kultur. Pada bagian pangkal cladode dipotong mendatar hingga terlihat hampir rata dengan permukaan batang. Nodus kemudian ditanam dalam medium inisiasi.

    Tahap Inisiasi tunas adventif dilakukan dengan cara menanam nodus sebagai sumber eksplan pada medium 1/4 MS yang ditambah dengan 200 ml/l air kelapa, 0,5 mg/l BA, 0,5 mg/l IAA, 20 g/l sukrosa dan 1,8 g/l gelrite. Kultur nodus kemudian disimpan dalam ruang gelap selama 2 bulan. Kalus umumnya akan terbentuk pada semua bagian eksplan yang mengalami pelukaan, terutama pada bagian pangkal cladode 15-20 hari setelah kultur. Ukuran kalus terus bertumbuh dan berkembang dan membentuk kalus dengan ukuran 0,4 cm mudah diamati 35 hari setelah kultur. Setelah 2 bulan, jumlah bakal tunas adventif yang dihasilkan berkisar antara 10-17 bakal tunas. 

    Regfenerasi tunas adventif dilakukan dengan cara memindahkan dan memecah ukuran kalus dengan bakal tunas (jika ukuran kalus besar lebih dari 0,5 cm) dan menanamnya pada medium 3/4 WT medium yang mengandung 0,25 mg/l BA, 0,5 mg/l Kin, 0,05 mg/l IAA, 1 g/l arang aktif, 20 g/l sukrosa dan 1,8 g/l gelrite. Kultur selanjutnya diinkubasi pada kondisi terang dengan 12 jam fotoperiode di bawah lampu fluoresen dengan intensitas ~ 13 Ámol/m2/s, pada suhu 23,5 ▒ 1,1derajat Celcius dan kelembaban relative 60,6 ▒ 3,8 % selama 2 bulan. Pada tahap regenerasi dapat dihasilkan 8-9 tunas per kalus yang disubkultur. Sedangkan perbanyakan tunas adventif dilakukan dengan cara yang sama dengan tahap regenerasi dan menanam kalus dengan tunas pada medium 1/2 MS dengan vitamin penuh pada kondisi inkubasi yang sama. Pada tahap ini jumlah tunas baru yang dihasilkan dapat mencapai 9 tunas. Perbanyakan tunas ini dapat dilakukan hingga subkultur yang ke-6. Subkultur kalus dengan tunas dapat dilakukan berulang setiap 2 bulan sekali hingga 5-6 kali. Subkultur disarankan untuk dihentikan saat tunas sudah mencapai 6 kali.

    Penyiapan plantlets dilakukan dengan memilih dan menanam tunas yang tumbuh sehat dan vigor dengan 2-3 cladodes pada medium 1/2 MS vitamin penuh tanpa hormon dengan 20 g/l sukrosa dan 7 g/l agar Swallow. Kultur tunas kemudian disimpan pada kondisi inkubasi yang sama dengan tahap sebelumnya. Akar umumnya mulai terbentuk 10-15 hari setelah kultur. Jumlah akar yang terbentuk per tunas berkisar antara 2-4 akar dengan panjang yang bervariasi setelah 2 bulan masa inkubasi. 

    Budi Winarto - Balai Penelitian Tanaman Hias

    bersambung ke tahap Aklimatisasi Planlets..

  • BERITA TERKAIT
    • Seminar Proposal ROPP RODHP Balithi 2020

      16 Januari 2020
      Bertempat di Aula Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi) diselenggarakan Seminar Proposal Rencana Operasional Penelitian Pertanian (ROPP) dan Rencana Operasional Diseminasi Hasil Penelitian (RODHP) Tahun Anggaran 2020 yang diikuti oleh seluruh penanggungjawab kegiatan penelitian dan diseminasi Balithi.Kegiatan Seminar proposal ROPP RODHP ini dilaksanakan selama tiga hari mulai tanggal 15 sampai dengan 17 Januari 2020 dengan materi yang disajikan terdiri
    • Budidaya Sedap Malam

      03 Januari 2020
      Sedap malam cocok dibudidayakan pada tanah lempung (sawah) dengan elevasi dataran rendah sampai sedang (50 s/d 600 m dpl) serta tersedia air irigasi jika dibutuhkan terutama pada musim kemarau. Tempat penanaman harus terbuka dan tidak dinaungi oleh pepohonanBibit Berasal dari tanaman sedap malam yang telah berumur lebih dari 1 (satu tahun).  Ukuran (diameter) rata-rata 1,5 - 2,5 cm dan telah dikeringkan selama lebih kurang 2 -
    • Budidaya Mawar Potong

      23 Desember 2019
      Untuk mendapatkan hasil yang baik, budidaya mawar dilakukan di dalam rumah naungan tanaman. Rumah naungan ini biasa dibuat sebagai rumah kaca, rumah plastik yang sederhana dari bambu, kayu hingga yang berkerangka besi.Hal ini selain melindungi tanaman mawar dari curah hujan yang dapat mengakibatkan tanaman mudah terkena penyakit, juga menjaga mikroklimat lingkungan hidup tanaman ini seperti mempertahankan suhu lingkungan pada temperatur optimum
    • Wakil Ketua DPRD Ingin Tangsel Menjadi Kota Anggrek

      20 Desember 2019
      Bertempat di Aula Balai Penelitian Tanaman Hias, Kepala Balithi Rudy Soehendi, Ph.D. menerima kunjungan wakil ketua DPRD Kota Telangerang Selatan Mustofa, S.Sos. beserta rengrengan Jumat 20 Desember 2019Dalam sambutannya Mustofa menyampaikan tujuan dilaksanakannya kunjungan ini adalah untuk mengetahui secara langsung apa saja yang ad di Balithi dan berharap Kota Tangerang Selatan dapat menjadi kota Anggrek. Diskusi yang
    • Partisipasi Balitbangtan Dalam Pekan Perlindungan Varietas Tanaman

      18 Desember 2019
      Menteri Pertanian Dr. Syahrul Yasin Limpo menghadiri Pekan Perlindungan Varietas Tanaman yang diselenggarakan di Auditorium Kementerian Pertanian pada Rabu 18 Desember 2019.Dalam arahannya Dr. Syahrul menekankan akan pentingnya menjaga keberadaan varietas-varietas unggul terutama yang telah dihasilkan Kementerian Pertanian karena produk-produk Kementerian Pertanian berhubungan langsung dengan urusan hajat orang banyak.Dalam acara
    • Seminar Hasil Kegiatan Balithi

      12 Desember 2019
      Seminar hasil RPTP dan RDHP kegiatan 2019 dilaksanakan Kamis 12 Desember 2019 di Aula Balai Penelitian Tanaman Hias.Hadir sebagai evaluator dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura Dr. M. Prama Yufdy yang dalam pemaparannya menjelaskan pentingnya seminar hasil dilaksanakan.Pada sesi presentasi kegiatan Diseminasi Dr. Prama Yufdy menyarankan agar kedepan dampak serta hasil kegiatan diseminasi agar lebih diperjelas dalam
    • Partisipasi Balithi Dalam Temu Teknis Proliga Cabai

      07 Desember 2019
      Balithi turut berpartisipasi dalam gelaran Bimtek dan Temu Lapang Teknologi dan Inovasi Proliga Cabai yang diselenggarakan di kampung Pasirmuncang Sukaraja Sukabumi Jumat 6 Desember 2019.Dalam gelaran tersebut Balithi menampilkan display produk tanaman hias dari mulai perbenihan hingga bunga yang siap dipasarkan.Dalam pembukaannya Kepala Badan Litbang Pertanian yang dalam kesempatan tersebut diwakili oleh Plt. Sekretaris