Biopestisida Ramah Lingkungan untuk Pengendalian Penyakit Tanaman Hias dan Sayuran


Diupload oleh : Ir. Hanudin
03 Desember 2008  |  Kategori :Info Penelitian - Dibaca 1383 kali




PENDAHULUAN

Sejauh ini petani/pengusaha tanaman hias dan sayuran sangat tergantung pada pestisida sintetik yang diimpor dari luar negeri. Bahkan sementara kalangan industri beranggapan bahwa budidaya tanaman hias harus menggunakan pestisida sintetik. Tanpa pestisida ini, produk tanaman hias tidak akan berkualitas dan tidak laku dijual ke pasar domestic maupun pasar international. Anggapan tersebut terus berkembang, sehingga penggunaan pestisida pun terus meningkat. Berdasarkan data survey usaha tani di berbagai sentra produksi menunjukkan bahwa penggunaan pestisida lebih dari 30% biaya produksi tanaman hias. Pada komoditas-komoditas yang bernilai ekonomis tinggi, penggunaan pestisida ternyata melebihi nisbi yang dilaporkan oleh tim survey tersebut. Misalnya pada krisan, biaya pembelian pestisida mencapai lebih dari 40% dari total biaya produksi.

Di sisi lain krisis ekonomi yang melanda Indonesia sejak tahun 1997 menyebabkan daya beli petani tanaman hias untuk mendapatkan pestisida menjadi rendah. Petani mulai membeli produk-produk pestisida yang berharga miring, kepanatikan terhadap suatu merek pestisida yang harganya sangat mahal, merangsang tumbuhnya praktek-praktek pemalsuan. Hal ini menyebabkan kondisi petani lebih terpuruk, karena pestisida yang dibelinya ternyata palsu dan tidak dapat diandalkan untuk mengendalikan hama dan penyakit yang menyerang tanamannya. Terlepas dari efek pemalsuan pestisida sintetik, penggunaan pestisida sintetikpun sebenarnya sudah merugikan ditinjau dari pengaruhnya terhadap lingkungan dan kesehatan manusia. Pestisida sintetik juga merangsang timbulnya resistensi dan resurgensi, dimana kondisi hama atau penyakit menjadi kebal dan lebih ganas karena pemunculan strain-strain baru.

Faktor-faktor tersebut perlu dicermati dengan cara reorientasi usaha tani tanaman hias dari yang tergantung pada pestisida sintetik menjadi usaha tani yang ramah lingkungan. Penggunaan biopestisida yang berbahan aktif microbe antagonistic menjadi alternative solusi yang paling prospektif.

 

KEUNGGULAN BIOPESTISIDA HASIL INVENSI PENULIS

Keistimewaan Teknis Biopestisida

Indonesia yang terletak didaerah tropis memiliki keaneka ragaman mikro flora yang sangat tinggi. Sebagian dari mikro flora tersebut sangat potensial untuk dikembangkan sebagai agen pengendali hayati penyakit tanaman., yaitu Bacillus subtilis dan Pseudomonas fluorescens, diformulasi dalam bentuk emulsi yang diberi nama dagang Prima-BAPF. Karakeristik formulasi biopestisida ini adalah berbentuk cair, berbahan aktif B. subtilis BHN 4 yang diisolasi dari biakan murni jamur B. bassiana isolat ulat jambu batu (Carea angulata F. atau C. subtilis Wlk.) dan P. fluorescens isolate no. 18 yang diisolasi dari risosfir tanaman krisan dari Segunung, Cianjur.

 

Zat pembawa yang berfungsi sebagai isolator antar sel bakteri bahan aktif adalah paraffin cair dan parafin hidrokarbon yang berfungsi sebagai emulsiefer, perekat dan perata (Sticker), sehinga biopestisida ini dapat menempel dan penetrasi kedalam jaringan tanaman dengan kuat dan tidak mudah tercuci oleh air hujan (leaching). Perbandingan komposisi antar bahan aktif (Suspensi BHN 4 dan Pf 9 dalam larutan paraffin cair) dan bahan pembawa (paraffin hidrokarbon) adalah 0,5 : 9,5 (v/v).

 

Prima-BAPF efektif untuk mengendalikan penyakit tanaman hias dan tanaman lainnya. Seperti mengendalikan penyakit karat putih (Puccinia horiana.) pada tanaman krisan dan mengendalikan penyakit akar bengkak yang disebabkan oleh Plasmodiophora brassicae pada tanaman kubis-kubisan, dan dapat menekan intensitas infeksi F. oxysporum f.sp. dianthi sebesar 60% pada tanaman anyelir. Viabilitas bahan aktif formulasi tersebut di atas dapat bertahan sampai 240 hari (8 bulan) dalam larutan bahan pembawa.

Mekanisme kerja setiap bagian dari formulasi ini adalah sebagai berikut: B. subtilis BHN 4 dan P. fluorescens Pf 18 efektif untuk mengendalikan penyakit tanaman dengan cara memproduksi antibiotik dan mengkolonisasi jaringan tanaman, sehingga terlindung dari infeksi patogen. Penambahan 0,01 M FeCl3 ke dalam media pertumbuhan P. fluorescens (media King’S B) dapat memicu sintensis antibiotik. Berbagai jenis antibiotik diproduksi oleh P. fluorescens, seperti pyuloteorin, oomycin, phenazine -1-carboxylic acid atau 2,4-diphloroglucinol. Produksi antibiotik ini telah dibuktikan sebagai faktor utama penghambatan perkembangan populasi dan penyakit yang ditimbulkan oleh Gaeumannomyces tritici, Thielaviopsis basicola dan Ralstonia solanacearum (Mulya et al., 1996). Di samping menekan perkembangan populasi dan aktifitas patogen tanaman,Pf dapat menginduksi ketahanan tanaman terhadap penyakit. Mulya et al (1996) menemukan bahwa Pf strain G32R dapat menginduksi aktivitas ensim phenil alanine amoliase,ensim yang terlibat dalam ekspresi ketahanan tanaman tembakau. Defago et al. (1990) mengemukakan bahwa gen Pf yang terlibat dalam produksi asam salisilat memegang peranan penting dalam menginduksi tembakau terhadap T. basicola.

 

Potensi Ekonomis Biopestisida

Penggunaan microbe antagonistic sebagai bahan aktif pembuatan biopestisida dan diproduksi skala industri di Balithi sangat dimungkinkan, mengingat teknologi isolasi, perbanyakan, dan konservasi inokulum telah dikuasi. Sementara itu, larutan MgSO4, FeCl3, dan Farafin Hidrokarbon yang merupakan bahan pembawa biopestisida. Ketiga jenis zat kimia tersebut mudah diramu dalam skala luas, serta bahan bakunya mudah diperoleh di toko kimia local, sehingga peluang industrialisasinya sangat besar.

Prima BAPF telah di Patenkan pada Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia R.I, Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual dengan Nomor Pendaftran P00200300467. Selain itu, Prima BAPF telah di launching di Bogor oleh Menteri Pertanian Republic Indonesia pada 20 Agustus 2007 yang betepatan dengan HUT Badan Litbang Pertanian ke 50. Produk ini termasuk dalam katagori 50 produk unggulan Badan Litbang Pertanian.

Studi banding tentang penggunaan Prima-BAPF dan pestisida kimiawi sintetik telah dilakukan dalam skala terbatas. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa aplikasi 1 liter biopestisida yang mengandung Bacillus dan P. fluorescens ternyata ekivalen dengan hasil aplikasi 1 liter pestisida kimiawi. Harga jual Biopestisida produk BALITHI adalah Rp 115.000,00/500 ml, sedang pestisida kimiawi sintetik (Bactocyn) dijual dengan harga Rp. 175.000,00/500ml. Dari perhitungan ekonomi tersebut dapat dinyatakan, bahwa penggunaan biopestisida dapat menekan biaya pembelian pestisida kimiawi sintetik sebanyak 35%. Tingginya selisih biaya pembelian biopestisida tersebut, sangat menarik petani untuk mengalihkan penggunaan pestisida kimiawi sintetik ke penggunaan biopestisida. Disisi lain prospek yang cerah bagi pemasaran biopestisida, menarik minat para investor untuk memproduksi biopestisida dalam skala industri. Prima-BAPF adalah berpeluang untuk diproduksi dalam skala industri karena dukungan teknologi dari team inventor dan dana dari pihak investor sudah disiapkan.

 

Aplikasi Secara Umum biopestisida “Prima BAPF” Pada Tanaman Kubis-kubisan dan Krisan

1. Aplikasi di pesemaian

  • Siapkan bedengan pesemaian yang telah dicampur dengan pupuk kandang dan tanah, kemudian biarkan 3 – 7 hari. 
  • Buatlah lubang tanam, kemudian masukan benih, siramlah dengan larutan Prima BAPF konsentrasi 2 ml/l (1 emrat berisi 10 l disimkan ke pesemaian seluas 5 – 7 m2),kemudian pesemaian ditutup dengan karung basah/daun pisang/serbuk gergaji/tanah halus. 
  • 4 hari kemudian penutup pesemaian dibuka, siramlah tanaman tersebut dengan Prima-BAPF pada dosis dan konsentrasi yang sama seperti di atas. 
  • Semprotlah tanaman dengan Prima BAPF konsentrasi 2 ml/l bersamaan dengan aplikasi insektisida/fungisida sintetik. 


2
. Aplikasi di lapangan

 
  • Siapkan bibit yang berasal dari pesemaian yang telah diberi Prima BAPF 
  • Tanamlah bibit di lahan, kemudian semprot/siramlah lahan dan jaringan tanaman dengan Prima BAPF konsentrasi 2 ml/l secara merata. 
  • Pima BAPF diaplikasikan kembali pada lahan dan jaringan tanaman saat berumur + 14 HST (pada saat tanaman lilir). 
  • Aplikasi Prima BAPF selanjutnya pada lahan dan jaringan tanaman saat berumur 21-25 HST bersamaan dengan aplikasi fungisida/insektisida. 
  • Untuk mengendalikan penyakit karat putih (P. horiana) pada krisan, semprotlah daun dan jaringan Tanaman konsentrasi 2 ml/l interval 7 hari bersamaan dengan aplikasi insektisida. 
  • Aplikasi Prima BAPF dianjurkan dilakukan pada pagi atau sore hari. 


Kemangkusan B. Subtilis dan P. fluorescens Terhadap penyakit karat putih (Puccinia horiana) pada krisan.

Percobaan dilaksanakan di laboratorium Balai Penelitian Tanaman Hias Segunung dan Kebun Petani di Desa Cihanjuang Rahayu Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung (1.200 m dpl), bekerjasama dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat,Dinas Pertanian Provinsi Jawa Barat, dan Kelompok Tani, dilaksanakan sejak Maret 2006 sampai dengan Desember 2006.Penelitian ini menggunakan Perbandingan dua harga rata-rata contoh yang berpasangan. Di dalam satu lahan percobaaan diletakan satu pasang perlakuan pestisida, yaitu Prima BAPF dan Fungisida yang biasa digunakan petani (Mancozeb 80).

Penyakit karat daun pada tanaman krisan disebabkan oleh dua spesies karat yang berbeda, yaitu karat putih (P. horiana) dan karat coklat (P chrysanthemi). Penyakit karat putih mudah menular dan lebih sulit ditanggulangi, karena sporanya dapat menembus permukaan daun tanpa harus melalui lubang alami (Rademaker & Jong, 1987). Serangan penyakit karat putih pada permukaan daun krisan menyebabkan timbulnya bintik-bintik berwarna kuning yang ditengahnya coklat tua. Apabila dilihat dari bagian bawah daun, maka terlihat pustul berwarna krem berubah menjadi merah muda, kemudian pustul ini membesar dan warnanya berubah menjadi putih. Pada pengamatan 65 HST tampak bahwa Indeks penyakit P. horiana pada tanaman krisan bervariasi, bergeser antara 26,67 dan 54,55%.

Berdasarkan analisis statistik, biopestisida Prima BaPf dan fungisida yang biasa digunakan oleh petani tanpak tidak berbeda nyata pada taraf 5%. Namun dalam kenyataannya,biopestisida Prima BaPf tampak lebih mangkus dapat menekan P. horiana sebesar 15,72% pada tanaman krisan yang dibudidayakan oleh Petani Ade, Ano, dan Tatang. Sedang pada krisan yang dibudidayakan oleh petani Dede dan Uje, justru fungisida mankozeb 80% lebih mangkus menekan P. horina sebesar 10,16% bila dibanding biopestisida Prima BaPf. Walaupun demikian, secara keseluruhan biopestisida Prima BaPf lebih unggul dapat menekan P. horina sebesar 4,89%, bila dibanding fungisida mancozeb 80%.


Kemangkusanb B. Subtilis dan P. fluorescens Terhadap Penyakit layu Fusarium Pada Krisan

Pada umumnya serangan F. o. f.sp. tracheiphilum pada tanaman krisan menunjukkan gejala luar berupa kelayuan sejumlah daun. Balio (1981) melaporkan bahwa kelayuan tanaman yang terinfeksi fusarium disebabkan oleh adanya asam fusarat.Senyawa kimia ini dapat mempengaruhi fungsi mitokondria dan menghambat enzim katalase, serta mengganggu membrane sel yang dapat mengakibatkan kebocoran ion. Selain itu, asam fusarat yang dikeluarkan oleh pathogen tersebut dapat merusak jaringan phloem (Davis, 1969). Serangan Fusarium pada tanaman krisan dapat mengakibatkan terjadinya diskolorisasi phloem. Hal tersebut disebabkan oleh enzim pektinmetilesterase, poligalakturonase, dan enzim penghancur phloem lainnya (Waggoner & Dimond, 1985).

 

Pada pengamatan 65 HST tampak bahwa JTL akibat serangan F. o. f.sp. tracheiphilum pada tanaman krisan bervariasi, bergeser antara 3,33 dan 26,67%. Berdasarkan analisis statistik, kemangkusan BaPf dan fungisida Mancozeb 80% terhadap penyakit layu Fusarium pada krisan tampak tidak berbeda nyata. Namun dalam kenyataannya, BaPf lebih mangkus dapat menekan F. oxysporum f.sp. tracheiphilum sebesar 58,71% pada tanaman krisan yang dibudidayakan oleh semua petani cooperator (Ade, Ano, Dede, Tatang, dan Uje). Mekanisme penekanan mikroba antagonis BaPf terhadap suatu patogen dapat terjadi melalui antibiosis,hiperparitisme, kompetisi ruang dan hara (Baker, 1991; Sitepu, 1993) atau kolonisasi (Shekhawat et al. 1993).

 

Semua petani kooperator yang tanaman krisannya mendapat perlakuan BaPf, pada umumnya menunjukkan kolonisasi BaPf lebih tingggi 14,95% dari pada tanaman krisan yang mendapat perlakuan fungisida sintetik. Kecuali petani Uje, populasi BaPf pada tanaman yang mendapat perlakuan BaPf ataupun tidak, populasi BaPf tetap sama yaitu 4,16 cfu / g akar.

 

Berdasarkan keterangan di atas, tampak bahwa JTL pada krisan yang dibudidayakan oleh petani Uje pada perlakuan BaPf, lebih rendah. daripada JTL krisan yang dibudidayakan oleh petani Tatang. JTL krisan pada petani dan perlakuan tersebut masing-masing adalah 6,67 dan 13,33%. Sedang JTL pada perlakuan Mancozeb yang dibudidayakan oleh kedua petani tersebut sama-sama menunjukkan nilai 26,67%. Hal ini berarti bahwa dinamika populasi BaPf pada rhizosfer krisan yang dibudidayakan oleh Uje, tidak mengalami peningkatan, baik pada perlakuan BaPf maupun Mancozeb. Populasi BaPf pada perlakuan dan petani tersebut tetap sama, yaitu menunjukkan angka 4,69 cfu x log 10/ g akar tanaman. Hal ini membuktikan bahwa BaPf dapat menekan pathogen tanaman dengan mekanisme yang lain. Mulya et al., (1996) menemukan Pf strain G 32 R dapat menginduksi aktivitas enzim phenil alanine amoliase, enzim yang terlibat dalam ekspresi ketahanan tanaman tembakau terhadap Thielaiopsis basicola. Sedang Defago et al., (1990) melaporkan bahwa gen Pf yang terlibat dalam produksi asam salisilat memegang peranan penting dalam menginduksi ketahanan tembakau terhadap pathogen tersebut di atas.


Kemangkusan BiopestisidaTerhadap Penyakit Akar bengkak Pada Sawi

Penelitian dilakukan di kebun Penelitian dan pengembangan PT. Primasid Andalan Utama Gunung Puteri Cipanas Cianjur (1.250 m dpl). sejak Januari hingga Maret 2007. Percobaan ini terdiri atas tiga perlakuan (Biopestisida Prima BAPF, Biopestisida berbahan aktif Chitosan, dan kontrol) dengan menggunakan dua ulangan. Pada percobaan ini media pertumbuhan sawi campuran tanah dan pupuk kandang matang (1 : 1 v/v)diinokulasi secara buatan. Inokulum diperoleh dari akar tanaman caisim yang terinfeksi penyakit akar bengkak berasal dari kebun petani di sekitar Gunung Puteri. Akar tanaman terinfeksi diblender, disaring ampasnya, kemudian air saringan yang mengandung spora P. brassicae dimasukan ke dalam lemari pendingin suhu 10 oC selama 24 jam. Inokulasi dilakukan dengan menyiramkan air saringan yang mengandung P. brassicae kerapatan 107 spora/g tanah

Hasil percobaan menunjukkan bahwa, tanaman sawi yang terinfeksi P. brassicae menunjukkan pertumbuhan yang kerdil sedang gejala kelayuan pada daun tidak tampak. Hal ini disebabkan oleh tanaman disiram setiap hari, sehingga pasokan air dan hara berjalan lancar. Namun tanaman yang kerdil, akarnya menunjukkan gejala bengkak dengan rataan derajat serangan berkisar antara 6,30 dan 48,80%

Pengaruh aplikasi BaPf terhadap Derajat Serangan (DS) P. brassicae pada tanaman sawi tampak jelas. Hal ini ditunjukkan oleh rendahnya jumlah tanaman terinfeksi dan DS pada perlakuan tersebut. Perlakuan Prima BAPF paling mangkus menekan patogenisitas P. brassicae di antara perlakuan lainnya. Jumlah tanaman terinfeksi dan derajat serangan pada perlakuan tersebut masing-masing adalah 3 pohon dan 6,30% dengan penekanan sebesar 87,01%

KESIMPULAN

Balai Penelitian Tanaman Hias telah menghasilkan biopestisida yang unggul untuk mengendalikan penyakit tanaman hias dan sayuran. Karakeristik formulasi biopestisida ini adalah berbentuk cair, berbahan aktif B. subtilis BHN 4 dan P. fluorescens isolate no. 18. Zat pembawa adalah paraffin cair dan parafin hidrokarbon. Biopestisida ini diberi nama Prima BAPF telah di Patenkan pada Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia R.I, Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual dengan Nomor Pendaftran P00200300467. Selain itu, Prima BAPF telah di launching di Bogor oleh Menteri Pertanian Republic Indonesia pada 20 Agustus 2007 yang betepatan dengan HUT Badan Litbang Pertanian ke 50. Produk ini termasuk dalam katagori 50 produk unggulan Badan Litbang Pertanian.

Biopestisida Prima BaPf tampak lebih mangkus dapat menekan P. horiana sebesar 15,72% pada tanaman krisan yang dibudidayakan oleh Petani Ade, Ano, dan Tatang. Secara keseluruhan biopestisida Prima BaPf lebih unggul dapat menekan P. horina sebesar 4,89%, bila dibanding fungisida mancozeb 80%.

Perlakuan Prima BAPF paling mangkus menekan patogenisitas P. brassicae di antara perlakuann lainnya. Jumlah tanaman terinfeksi dan derajat serangan pada perlakuan tersebut masing-masing adalah 3 pohon dan 6,30% dengan penekanan sebesar 87,01%.

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya Kepada Ir.Ayub Darmanto, Ir. Mathius Rahardjo, Ir. Heri Kristanto, dan asep dari P.T. Primasid Andalan Utama, yang telah bersedia memberikan saran, kritik, dan membantu dalam perencanaan, memberikan benih sawi, dan melaksanakan percobaan. Kepada Ir. Evy silvia Yusuf, Endang sutarya, Soma Mihardja, Dede Surachman, Muhidin, Ade Sulaeman, dan Dadang, yang telah membantu mengamati, mengumpulkan data dan melaksanakan Penelitian.


Berita Terkait

INFORMASI PENGUNJUNG :

AGENT : CCBot/2.0 (https://commoncrawl.org/faq/)
IP PUBLIK : 54.166.207.223

Pengumuman

Pokja Balai Penelitian Tanaman Hias, mengumumkan Perencanaan Pembangunan KP. Serpong Tahap II. Silahkan diunduh: [Perencanaan Pembangunan KP. Serpong Tahap II], Terima Kasih.

Pengumuman

Pokja Balai Penelitian Tanaman Hias, mengumumkan Perencanaan Renovasi Bangunan Guest House Segunung Balithi. Silahkan diunduh: [Perencanaan Renovasi Bangunan Guest House Segunung Balithi], Terima Kasih.

Pengumuman

Pokja Balai Penelitian Tanaman Hias, mengumumkan Pemenang Lelang Pengadaan Alat Laboratorium. Silahkan diunduh: Pengumuman Pemenang Lelang, Terima Kasih.

Informasi Publik

  • Tersedia Setiap Saat
    Informasi yang Wajib Tersedia Setiap Saat, sebagaimana tercantum dalam Undang-undang RI no 14 ... [download file]
  • Disediakan dan Diumumkan Secara Berkala
    Informasi yang Wajib Disediakan dan Diumumkan Secara Berkala sebagaimana tercantum dalam ... [download file]
  • Diumumkan Secara Serta Merta
    Informasi yang Wajib Diumumkan secara Serta-merta sebagaimana tercantum dalam Undang-undang RI ... [download file]

Sekilas info


Info Kerjasama

  • Penelitian dan Pengembangan
    Pengembangan Agribisnis dan Wisata... [detail]
  • Penelitian dan Pengembangan
    Pengembangan Varietas Tanaman... [detail]
  • Penelitian dan Pengembangan
    Pengembangan Tanaman Hias di Kabupaten... [detail]
  • Penelitian dan Pengembangan
    Pengembangan Kawasan Agribisnis dan Agrowisata di... [detail]
daftar kerjasama penelitan pertahun