• KLASIFIKASI DAN DESKKRIPSI BOTANI CORDYLINE FRUTICOSA (L.) A. CHEV. (ASPARAGACEAE)
  • ditulis tgl : 01 Juli 2019, telah dibaca sebanyak : 104 kali



    Cordyline fruticosa merupakan tanaman hias daun yang banyak digunakan sebagai dekorasi indoor atau komponen taman indoor (Ray et al., 2006).  Tanaman ini di Asia Tenggara banyak digunakan sebagai tanaman pot indoor dengan daun yang beraneka warna. Pada umumnya ditemukan di wilayah Asia tropis, Australia, dan Kepulauan Pasifik (Kobayashi et al., 2007).

    Penempatan Cordyline dalam system klasifikasi taksonomi seringkali mengalami perubahan. Cordyline pernah ditempatkan dalam suku Liliaceae, Asparagaceae, Agavaceae (IPNI, 2016), dan 20 jenis yang terdaftar dalam suku Agavaceae (Kobayashi et al., 2007).

    Klasifikasi yang menempatkan Cordyline pada suku Agavaceae terbantahkan dengan adanya hasil penelitian dari Bogler & Simpson (1995). Dari hasil analisis dengan cpDNA, tanaman Cordyline tidak memiliki hubungan yang dekat dengan marga lain dalam suku yang sama, meskipun secara morfologi mereka memiliki kemiripan. Untuk saat ini, penempatan Cordyline pada suku Asparagaceae dianggap paling tepat berdasarkan pada IPNI (International Plant Names Index).

    Tanaman Cordyline dapat tumbuh di daerah dengan tanah yang miskin hara (Merlin, 1989). Tanaman dapat menyebar dan tumbuh dengan mudah meskipun tanpa perawatan dan sistem budidaya yang tepat. Tanaman ini dapat diperbanyak secara vegetatif dari potongan batang atau akarnya (Handy & Handy, 1972) dan generatif dari bijinya (Hinkle, 2004). 

    Tanaman C. fruticosa merupakan tanaman semak evergreen yang tumbuh tegak dengan bentuk batang ramping atau bercabang, batangnya berkayu dengan akar tunggang, tinggi tanaman dapat mencapai sekitar 3 meter dan lebar kanopi sekitar 0,9 1,2 meter (Kobayashi et al., 2007). Daun berbentuk melanset atau mata lembing, oblong atau lonjong, ujung meruncing dengan panjang sekitar 30 cm, dan lebar sekitar 10 cm (Kemp & Robb, 1962). Klaster daun tersusun secara spiral yang tumbuh dekat percabangan. Tekstur daun halus, lentur, dan mengkilap, warna daun hijau atau variegata dengan kombinasi warna yang bervariasi seperti merah, pink, ungu, merah marun, rose, kuning, dan oranye.  Warna daun sejati pada bibit yang berasal dari biji dan stek, akan muncul saat tanaman mulai menghasilkan daun dewasa (Kobayashi et al., 2007). 

    Tanaman ini memiliki kambium terdiri atas satu jenis sel yang berbentuk persegi panjang, menggelendong atau bersudut-sudut (polygonal). Sepeti pada tanaman monokotil lainnya, kambium berasal dari penebalan meristem primer. Meskipun memiliki kambium, tanaman Cordyline tidak membentuk pertumbmuhan cincin tahunan, sehingga sulit untuk menghitung jumlah jaringan sekunder yang dibentuk (Jura-Morawiec et al., 2015).

    Ronald Bunga Mayang, Dedi Hutapea dan Mega Wegadara
    Balai Penelitian Tanaman Hias
    • 18 Juli 2019

      Kegunaan serta potensi ekonomi Polyscias guilfoylei


      P. guilfoylei dan beberapa jenis dari Polyscias telah lama digunakan sebagai tanaman hias, baik sebagai tanaman hias taman, tanaman pot dan daun potong. Bentuk dan corak daun yang variatif serta ketahanan hidup pada semua musim menyebabkan tanaman tersebut banyak disukai oleh konsumen tanaman hias, baik di daerah tropis maupun subtropis.  Tinggi tanaman ini dapat mencapai lebih dari 5 m, dan sering digunakan sebagai penahan tiupan angin kencang (Thaman et al.,
    • 16 Juli 2019

      Polyscias guilfoylei


      Polyscias guilfoylei merupakan salah satu anggota jenis dari marga Polyscias yang merupakan marga terbesar suku Araliaceae.  Suku ini beranggotakan sekitar 200 jenis (Lowry & Plunkett, 2010).  Kata Polyscias berasal dari bahasa Yunani yaitu Poly berarti banyak dan skias berarti terlindung, ini merujuk pada golongan tanaman yang rimbun karena banyak daunnya.  

      Nama guilfoylei diambil dari William
    • 14 Juli 2019

      Yucca gloriosa L


      Yucca gloriosa L termasuk kedalan family Agavaceae, memiliki nama umum Yuka ( Indonesia),  Sea-Island Yucca dan Spanis daggan (Inggris )

      Tanaman ini memiliki daerah sebaran geografis yang berasal dari bagian Selatan Mexico, Teksas, Alabama dan Florida bagian Selatan, penyebarannya  sampai ke Indonesia.

      Deskripsi Yucca gloriosa L diantaranya
    • 13 Juli 2019

      Asal dan Distribusi Geografis Schefflera actinophylla


      Schefflera actinophylla tumbuh baik dengan naungan atau tanpa naungan. Jenis ini ditemukan tumbuh di dataran rendah tropis atau hutan hujan monsun (Grubb & Metcalfe, 1996; Russell-Smith, 1991). 

      Di kawasan Queensland bagian selatan, S. actinophylla banyak ditemukan tumbuh di hutan alami atau semak-semak pada daerah bukit pasir, pantai, hutan pantai, daerah pinggiran sungai, dan hutan sekunder, terutama pada
    • 12 Juli 2019

      agriVaganza 2019


      Dalam rangka memperingati hari Krida Pertanian ke 47, Kementerian Pertanian (Kementan) RI menggelar acara agriVagansa 2019 dengan tema "SDM dan Infrastruktur menuju pertanian berdaya saing" bertempat di halaman gedung Pusat Informasi Agribisnis (PIA) Agri Bahamas 2019 dilaksanakan pada tanggal 11 - 13 Juli 2019 dibuka secara resmi oleh plt. Sekretariat Jendral Kementerian Pertanian Dr. Ir. Momon Rusmini, MS.

      Adanya
    • 12 Juli 2019

      Kerjasama Balithi dengan Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur


      Berlangsung pada hari Kamis 11 Juli 2019 di ruang rapat kecil Balai Penelitian Tanaman Hias dilaksanakan penandatanganan MoU kerjasama antara Kepala Balai Penelitian Tanaman Hias, Ir. Rudy Soehendi, MP., Ph.D. dengan Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan, Pangan dan Hortikultura Kabuipaten Cianjur, MAmad Nano, SP., MP.

      Tujuan dilaksanakannya kerjasama ini adalah untuk mengembangkan perbenihan tanaman hias di Kabupaten Cianjur sehingga dapat membangun
    • 11 Juli 2019

      Sosialisasi pupuk dan pestisida hayati


      Sosialisasi sekaligus meninjau  penggunaan Gliocompost pd tanaman bawang merah di lahan endemik Penyakit Fusarium di Balitsa, Lembang dilaksanakan pada tanggal 10 Juli 2019. Hasilnya menunjukan bahwa tanaman terlihat sehat dan tidak terserang Penyakit Layu Fusarium pada hari ke 48 setelah tanam. Dengan demikian, Gliocompost dpt menekan perkembangan cendawan patogen Fusarium oxysporum, sehingga pertanaman bawang merah tumbuh normal.