• KLASIFIKASI DAN DESKRIPSI BOTANI EQUISETUM HYEMALE L.
  • ditulis tgl : 30 Juni 2019, telah dibaca sebanyak : 96 kali



    Taksonomi dari E. hyemale berdasarkan CABI (2011) sebagai berikut: Kingdom: Plantae, Phylum: Pteridophyta, Kelas: Equisetopsida, Famili: Equisetaceae, Genus: Equisetum, Species: E. hyemale. Genus Equisetum terbagi atas dua sub genera. Pembagian ini terutama didasarkan atas posisi stomata dan percabangannya. Sub genera Equisetum terdiri atas 8 species dan memiliki karakteristik stomata yang dangkal dengan batang bercabang. Sub genera Hippochaete memiliki ciri stomata yang cekung dengan batang yang tidak bercabang.  

    E. hyemale merupakan spesies dari genus Equisetum yang termasuk dalam sub genera Hippochaete (Hauke, 1962 ; Des Marais et al., 2003). Tanaman E. hyemale merupakan tanaman perennial yang memiliki rhizoma tidak berumbi dengan batang yang berongga. 

    Tinggi tanaman berkisar antara 30 - 100 cm dengan bentuk batang bulat dan diameter 4-6 mm. Letak daun mengelilingi buku batang dalam selubung, berwarna cokelat muda-krem (Large, Blanchon, & Angus, 2006 ; Watson & Dallwitz, 2004). 

    Dalam dunia tumbuhan tanaman Equisetum memiliki kekerabatan yang paling dekat dengan pakis. Equisetum tidak menghasilkan biji, melainkan bereproduksi melalui pembentukan spora. Sporangia muncul pada peltate. Sporangiospor terdiri dari sejumlah strobilus. Sporangia besar dengan annulus, berjumlah +1000 per sporangium. Spora berwarna hijau dengan aperture melingkar dan empat buah organ seperti dayung/pemukul, dilingkari elater, berbentuk oval dengan tinggi 1-1.6 cm, diameter 0.4-0.7 cm (Smith et al., 2006). 

    Dalam penelitian Whittier (Whittier, 1996) diperoleh bahwa cone dewasa E. hyemale dapat disimpan pada suhu -70 C untuk memperpanjang kelangsungan hidup spora selama lebih dari satu tahun, dan spora yang disimpan beku selama satu tahun mampu berkecambah dan membentuk gametofit 

    Batang E. hyemale umumnya mengandung konsentrasi silika yang tinggi dan sangat bermanfaat untuk menjernihkan dan membersihkan permukaan air sehingga disebut sebagai scouring. Silika tersebut berfungsi sebagai bahan penyusun batang sehingga menjadi kokoh. Batang tanaman E. hyemale memiliki rongga sirkumpolar sphenopsid yang mencakup setidaknya dua pertiga dari diameternya (Gierlinger et al., 2008).  Batang berada di atas permukaan air, monomorfik, berwarna hijau, dengan tinggi  lebih dari 1 m. Diameter batang antara 0.5-1 cm,  pangkal batang tidak bercabang tetapi memiliki  cabang lateral dengan panjang ruas 5-8 cm. Batang umumnya memiliki gerigi dengan jumlah 16-22 gerigi tergantung diameter batang. Warna batang hijau dengan dua pita hitam di bagian sambungan rush. 

    Pada bagian atas batang terdapat spore-bearing cone berbentuk  nipplelike  (Burrill & Parker, 1994). Spora Equisetum dapat berkecambah dengan cepat pada kondisi yang sesuai dengan kelembaban tinggi (Lebkuecher, 1997).

    Teknik perbanyakan Equisetum umumnya tergantung pada pertumbuhan rhizoma bawah tanah (rimpang).  Sistem perakaran bawah tanah (rimpang) dapat mencapai kedalaman hingga 120 cm atau lebih. Pertumbuhan rimpang menjalar atau tegak, berwarna cokelat kehitaman, warna node dan akar coklat kekuningan dengan trikoma yang panjang. 

    Rimpang umumnya bercabang dan ditutupi dengan bulu-bulu akar berwarna cokelat, kadang-kadang umbi kecil diproduksi sepanjang rimpang.  Akar rimpang Equisetum berkembang sempurna tidak ada gangguan dalam tanah. Para peneliti di Kanada menemukan tingkat ekspansi akar rimpang sekitar 20 inci tiap musim tanam (Hartzler 2009).  Selain berfungsi sebagai media perbanyakan, akar rimpang juga mengandung berbagai macam protein. 

    Balbuena et al. (2012) mengidentifikasi hampir 2.000 protein yang terkandung dalam jaringan rimpang E. hyemale menggunakan kuantifikasi penghitungan spektral. Hasil penelitian ini mengungkapkan beberapa karakteristik gen dan protein rimpang yang terkait dengan pengembangan akar rimpang.(irm)

    Dedi Hutapea
    Balai Penelitian Tanaman Hias
    • 18 Juli 2019

      Kegunaan serta potensi ekonomi Polyscias guilfoylei


      P. guilfoylei dan beberapa jenis dari Polyscias telah lama digunakan sebagai tanaman hias, baik sebagai tanaman hias taman, tanaman pot dan daun potong. Bentuk dan corak daun yang variatif serta ketahanan hidup pada semua musim menyebabkan tanaman tersebut banyak disukai oleh konsumen tanaman hias, baik di daerah tropis maupun subtropis.  Tinggi tanaman ini dapat mencapai lebih dari 5 m, dan sering digunakan sebagai penahan tiupan angin kencang (Thaman et al.,
    • 16 Juli 2019

      Polyscias guilfoylei


      Polyscias guilfoylei merupakan salah satu anggota jenis dari marga Polyscias yang merupakan marga terbesar suku Araliaceae.  Suku ini beranggotakan sekitar 200 jenis (Lowry & Plunkett, 2010).  Kata Polyscias berasal dari bahasa Yunani yaitu Poly berarti banyak dan skias berarti terlindung, ini merujuk pada golongan tanaman yang rimbun karena banyak daunnya.  

      Nama guilfoylei diambil dari William
    • 14 Juli 2019

      Yucca gloriosa L


      Yucca gloriosa L termasuk kedalan family Agavaceae, memiliki nama umum Yuka ( Indonesia),  Sea-Island Yucca dan Spanis daggan (Inggris )

      Tanaman ini memiliki daerah sebaran geografis yang berasal dari bagian Selatan Mexico, Teksas, Alabama dan Florida bagian Selatan, penyebarannya  sampai ke Indonesia.

      Deskripsi Yucca gloriosa L diantaranya
    • 13 Juli 2019

      Asal dan Distribusi Geografis Schefflera actinophylla


      Schefflera actinophylla tumbuh baik dengan naungan atau tanpa naungan. Jenis ini ditemukan tumbuh di dataran rendah tropis atau hutan hujan monsun (Grubb & Metcalfe, 1996; Russell-Smith, 1991). 

      Di kawasan Queensland bagian selatan, S. actinophylla banyak ditemukan tumbuh di hutan alami atau semak-semak pada daerah bukit pasir, pantai, hutan pantai, daerah pinggiran sungai, dan hutan sekunder, terutama pada
    • 12 Juli 2019

      agriVaganza 2019


      Dalam rangka memperingati hari Krida Pertanian ke 47, Kementerian Pertanian (Kementan) RI menggelar acara agriVagansa 2019 dengan tema "SDM dan Infrastruktur menuju pertanian berdaya saing" bertempat di halaman gedung Pusat Informasi Agribisnis (PIA) Agri Bahamas 2019 dilaksanakan pada tanggal 11 - 13 Juli 2019 dibuka secara resmi oleh plt. Sekretariat Jendral Kementerian Pertanian Dr. Ir. Momon Rusmini, MS.

      Adanya
    • 12 Juli 2019

      Kerjasama Balithi dengan Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur


      Berlangsung pada hari Kamis 11 Juli 2019 di ruang rapat kecil Balai Penelitian Tanaman Hias dilaksanakan penandatanganan MoU kerjasama antara Kepala Balai Penelitian Tanaman Hias, Ir. Rudy Soehendi, MP., Ph.D. dengan Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan, Pangan dan Hortikultura Kabuipaten Cianjur, MAmad Nano, SP., MP.

      Tujuan dilaksanakannya kerjasama ini adalah untuk mengembangkan perbenihan tanaman hias di Kabupaten Cianjur sehingga dapat membangun
    • 11 Juli 2019

      Sosialisasi pupuk dan pestisida hayati


      Sosialisasi sekaligus meninjau  penggunaan Gliocompost pd tanaman bawang merah di lahan endemik Penyakit Fusarium di Balitsa, Lembang dilaksanakan pada tanggal 10 Juli 2019. Hasilnya menunjukan bahwa tanaman terlihat sehat dan tidak terserang Penyakit Layu Fusarium pada hari ke 48 setelah tanam. Dengan demikian, Gliocompost dpt menekan perkembangan cendawan patogen Fusarium oxysporum, sehingga pertanaman bawang merah tumbuh normal.