KLASIFIKASI-DAN-DESKRIPSI-BOTANI-EQUISETUM-HYEMALE-L.

  • KLASIFIKASI DAN DESKRIPSI BOTANI EQUISETUM HYEMALE L.

  • ditulis tgl : 30 Juni 2019, telah dibaca sebanyak : 308 kali

    Share On Twitter


    Taksonomi dari E. hyemale berdasarkan CABI (2011) sebagai berikut: Kingdom: Plantae, Phylum: Pteridophyta, Kelas: Equisetopsida, Famili: Equisetaceae, Genus: Equisetum, Species: E. hyemale. Genus Equisetum terbagi atas dua sub genera. Pembagian ini terutama didasarkan atas posisi stomata dan percabangannya. Sub genera Equisetum terdiri atas 8 species dan memiliki karakteristik stomata yang dangkal dengan batang bercabang. Sub genera Hippochaete memiliki ciri stomata yang cekung dengan batang yang tidak bercabang.  

    E. hyemale merupakan spesies dari genus Equisetum yang termasuk dalam sub genera Hippochaete (Hauke, 1962 ; Des Marais et al., 2003). Tanaman E. hyemale merupakan tanaman perennial yang memiliki rhizoma tidak berumbi dengan batang yang berongga. 

    Tinggi tanaman berkisar antara 30 - 100 cm dengan bentuk batang bulat dan diameter 4-6 mm. Letak daun mengelilingi buku batang dalam selubung, berwarna cokelat muda-krem (Large, Blanchon, & Angus, 2006 ; Watson & Dallwitz, 2004). 

    Dalam dunia tumbuhan tanaman Equisetum memiliki kekerabatan yang paling dekat dengan pakis. Equisetum tidak menghasilkan biji, melainkan bereproduksi melalui pembentukan spora. Sporangia muncul pada peltate. Sporangiospor terdiri dari sejumlah strobilus. Sporangia besar dengan annulus, berjumlah +1000 per sporangium. Spora berwarna hijau dengan aperture melingkar dan empat buah organ seperti dayung/pemukul, dilingkari elater, berbentuk oval dengan tinggi 1-1.6 cm, diameter 0.4-0.7 cm (Smith et al., 2006). 

    Dalam penelitian Whittier (Whittier, 1996) diperoleh bahwa cone dewasa E. hyemale dapat disimpan pada suhu -70 C untuk memperpanjang kelangsungan hidup spora selama lebih dari satu tahun, dan spora yang disimpan beku selama satu tahun mampu berkecambah dan membentuk gametofit 

    Batang E. hyemale umumnya mengandung konsentrasi silika yang tinggi dan sangat bermanfaat untuk menjernihkan dan membersihkan permukaan air sehingga disebut sebagai scouring. Silika tersebut berfungsi sebagai bahan penyusun batang sehingga menjadi kokoh. Batang tanaman E. hyemale memiliki rongga sirkumpolar sphenopsid yang mencakup setidaknya dua pertiga dari diameternya (Gierlinger et al., 2008).  Batang berada di atas permukaan air, monomorfik, berwarna hijau, dengan tinggi  lebih dari 1 m. Diameter batang antara 0.5-1 cm,  pangkal batang tidak bercabang tetapi memiliki  cabang lateral dengan panjang ruas 5-8 cm. Batang umumnya memiliki gerigi dengan jumlah 16-22 gerigi tergantung diameter batang. Warna batang hijau dengan dua pita hitam di bagian sambungan rush. 

    Pada bagian atas batang terdapat spore-bearing cone berbentuk  nipplelike  (Burrill & Parker, 1994). Spora Equisetum dapat berkecambah dengan cepat pada kondisi yang sesuai dengan kelembaban tinggi (Lebkuecher, 1997).

    Teknik perbanyakan Equisetum umumnya tergantung pada pertumbuhan rhizoma bawah tanah (rimpang).  Sistem perakaran bawah tanah (rimpang) dapat mencapai kedalaman hingga 120 cm atau lebih. Pertumbuhan rimpang menjalar atau tegak, berwarna cokelat kehitaman, warna node dan akar coklat kekuningan dengan trikoma yang panjang. 

    Rimpang umumnya bercabang dan ditutupi dengan bulu-bulu akar berwarna cokelat, kadang-kadang umbi kecil diproduksi sepanjang rimpang.  Akar rimpang Equisetum berkembang sempurna tidak ada gangguan dalam tanah. Para peneliti di Kanada menemukan tingkat ekspansi akar rimpang sekitar 20 inci tiap musim tanam (Hartzler 2009).  Selain berfungsi sebagai media perbanyakan, akar rimpang juga mengandung berbagai macam protein. 

    Balbuena et al. (2012) mengidentifikasi hampir 2.000 protein yang terkandung dalam jaringan rimpang E. hyemale menggunakan kuantifikasi penghitungan spektral. Hasil penelitian ini mengungkapkan beberapa karakteristik gen dan protein rimpang yang terkait dengan pengembangan akar rimpang.(irm)

    Dedi Hutapea
    Balai Penelitian Tanaman Hias

  • BERITA TERKAIT
    • Temu Teknis Pengembangan Krisan Orientasi Ekspor

      19 Oktober 2019
      Kegiatan temu teknis pengembangan kawasan krisan orientasi ekspor dilaksanakan di aula Balai Penelitian Tanaman Hias dan dibuka secara resmi oleh Direktur Buah dan Florikultura Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian Dr. Liferdi Lukman.Dalam sambutan pembukaannya Liferdi mengatakan bahwa saat ini masih banyak benih krisan yang didatangkan dari luar negeri, sekarang kita bisa memproduksi sendiri, sumbernya dari Balithi diperbanyak oleh
    • Stek Pucuk Berakar (rooted cutting) pada Krisan

      17 Oktober 2019
      Penggunaan stek berakar sebagai bahan tanam dianjurkan dalam proses budidaya krisan.  Cara ini dapat mengurangi kelemahan penggunaan stek tanpa akar diantaranya adalah:Kemungkinan stagnasi pertumbuhan apikal stek lebih kecil, karena proses adaptasi stek berakar pada lahan lebih cepat.Stek berakar relatif lebih tahan terhadap kondisi lahan yang lebih terbuka pada bedengan, sehingga toleransi tanaman muda terhadap stress akibat perubahan
    • KUNJUNGAN PUSAT PERPUSTAKAAN DAN PENYEBARAN TEKNOLOGI PERTANIAN DALAM RANGKA PERMINTAAN PENDAMPINGAN DAN BANTUAN TANAMAN ANGGREK

      14 Oktober 2019
      Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian  (Pustaka) mempunyai lokasi yang strategis dan berada di ring satu yang berdekatan dengan Istana Presiden serta Kebun raya Bogor dimana lokasi ini menjadi objek pengembangan wisata di Kota Bogor. Sehubungan hal tersebut, Pustaka Kementrian Pertanian  bermaksud untuk menata halaman dan taman pustaka sehingga dapat
    • Jejangkit Muara Menjadi Lokasi Temu Lapang Teknologi Litbang 2019

      14 Oktober 2019
      Kegiatan Temu Lapang Teknologi Litbang untuk SERASI dilaksanakan di Denfarm Jejangkit yang berlokasi di Desa Jejangkit Muara, Kec. Jejangkit, Kab. Barito Kuala, Kalimantan Selatan, pada tanggal 14 Oktober 2018 dan dibuka oleh Kepala BALITBANGTAN (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian) Dr. Fadry Djufry.Tujuan dilaksanakannya temu lapang ini untuk mengkomunikasikan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan dan teknologi hasil penelitian Badan Litbang
    • Cara Menanam Gerbera

      08 Oktober 2019
      Gerbera merupakan tanaman hias komersial penting di dunia yang dimanfaatkan sebagai bunga potong, tanaman pot maupun tanaman hias massal (bending plant). Gerbera menempati urutan kelima dalam tanaman hias setelah mawar, anyelir, krisan dan tulip (Bhatiaa et al. 2009; Teeri et al. 2006).Saat ini jenis gerbera yang disukai konsumen sebenarnya masih tergolong umum dengan kriteria warna bunga yang jelas dan tidak pudar (bladus) seperti merah, putih, kuning,
    • PT Suryacipta Swadaya Berkunjung Ke Balithi

      03 Oktober 2019
      Kunjungan 6 staf PT.Suryacipta Swadaya ke Balai Penelitian Tanaman Hias dilaksanakan pada hari Rabu 2 Oktober 2019 Mewakili Kepala Balai Penelitian Tanaman Hias, Kasubag Tata Usaha Yadi Supriyadi beserta peneliti dan staf Jasa Penelitian secara resmi menerima kunjungan tersebut.Dalam sambutannya perwakilan PT. Suryacipta Swadaya mengatakan bahwa tujuan dilaksanakannya kunjungan ini semata-mata untuk melihat secara langsung
    • Alpinia purpurata Varietas Kusuma

      02 Oktober 2019
      Alpinia purpurata varietas Kusuma memiliki tinggi tanaman 259-285 cm, Umur berbunga 9 bulan dari pembelahan rumpun dan3 tahun dari planlet kultur in vitroUmur panen tanaman ini 104 - 114 hari dari kuncup, kesegaran bunga 6-8 hari, produksi bunga 14 tangkai/ tanaman/tahun, adaptasi baik di dataran rendah hingga tinggi dengan altitude 10-1200 meter dari permukaan laut.Tanaman Alpinia purpurata vatietas Kusuma sangat