• EQUISETUM HYEMALE L (EQUISETACEAE)
  • ditulis tgl : 28 Juni 2019, telah dibaca sebanyak : 75 kali



    Equisetum adalah genus yang secara kolektif dikenal sebagai ekor kuda (horse tail) dan merupakan keturunan tanaman purba prasejarah yang pernah mendominasi bumi (Knowlton, 2012). Hal ini dapat diketahui dari fosil spesies Equisetum yang muncul pertama kali pada periode Cretaceous, dan diduga menjadi garis keturunan tertua tumbuhan vaskular yang masih ada (Gierlinger, Sapei, & Paris, 2008). 

    Nama Equisetum berasal dari bahasa Latin equus yang berarti kuda dan seta yang berarti bulu (Morgan, 2005). Equisetum memiliki 15 spesies yang termasuk dalam famili Equisetaceae. Spesies dengan tunas bercabang yang biasa dikenal sebagai scouring rushes, karena sebelumnya digunakan sebagai pot scrubber yang efektif oleh adanya silika amorf, SiO2.nH2O di permukaan batang (Lacy & Kaufman, 2006). 

    Tanaman ini masuk ke dalam ordo Equisetales, yang merupakan salah satu ordo paling tua dengan ciri khas tanaman berpembuluh (vascular) berdasarkan catatan fosil yang melimpah (Stanich, Rothwell, & Stockey, 2009). Tanaman dari famili Equisetaceae merupakan salah satu famili tertua dan memiliki akumulasi silika sampai 25% berat kering (Gierlinger et al., 2008). 

    Secara alami genus Equisetum tumbuh di daerah seperti rawa, padang rumput, di pinggiran sungai, di pinggiran kolam dan danau. Namun tanaman ini dianggap menjadi masalah ketika tumbuh di areal pertanian seperti di padang rumput, ladang pertanian, dan daerah perairan yang dikendalikan. Tanaman ini memiliki rhizoma, membentuk koloni padat dan dianggap berbahaya di padang rumput dan penggembalaan, karena beberapa spesies mengandung alkaloid yang beracun untuk hewan ternak (Kyser & diTomaso, 2013). 

    Pada tanaman kelompok paku-pakuan terdapat 4 kelas yaitu Psilotopsida, Equisetopsida, Marrattiopsida dan Polypodiopsida. Genus Equisetum merupakan tanaman yang termasuk dalam kelas Equisetopsida atau disebut juga Sphenopsida, dan termasuk famili Equisetaceae (Smith et al., 2006).  Equisetum adalah genus dari 15 spesies yang masih ada saat ini dari kelas Sphenopsida (Guillon, 2004). Adapun genus Equisetum terdiri dari 2 sub genera yaitu sub genera Equisetum yang terdiri dari 8 spesies dan sub genera Hippochaete yang terdiri dari 7 spesies. Equisetum hyemale merupakan spesies dari genus Equisetum yang termasuk dalam sub genera Hippochaete bersama dengan E. giganteum L., E. laevigatum, E. myriochaetum, E. ramosissimum, E. scirpoides dan E. variegatum (Des Marais, Smith, Britton, & Pryer, 2003).(irm)

    Dedi Hutapea & Rika Meilani
    Balai Penelitian Tanaman Hias
    • 18 Juli 2019

      Kegunaan serta potensi ekonomi Polyscias guilfoylei


      P. guilfoylei dan beberapa jenis dari Polyscias telah lama digunakan sebagai tanaman hias, baik sebagai tanaman hias taman, tanaman pot dan daun potong. Bentuk dan corak daun yang variatif serta ketahanan hidup pada semua musim menyebabkan tanaman tersebut banyak disukai oleh konsumen tanaman hias, baik di daerah tropis maupun subtropis.  Tinggi tanaman ini dapat mencapai lebih dari 5 m, dan sering digunakan sebagai penahan tiupan angin kencang (Thaman et al.,
    • 16 Juli 2019

      Polyscias guilfoylei


      Polyscias guilfoylei merupakan salah satu anggota jenis dari marga Polyscias yang merupakan marga terbesar suku Araliaceae.  Suku ini beranggotakan sekitar 200 jenis (Lowry & Plunkett, 2010).  Kata Polyscias berasal dari bahasa Yunani yaitu Poly berarti banyak dan skias berarti terlindung, ini merujuk pada golongan tanaman yang rimbun karena banyak daunnya.  

      Nama guilfoylei diambil dari William
    • 14 Juli 2019

      Yucca gloriosa L


      Yucca gloriosa L termasuk kedalan family Agavaceae, memiliki nama umum Yuka ( Indonesia),  Sea-Island Yucca dan Spanis daggan (Inggris )

      Tanaman ini memiliki daerah sebaran geografis yang berasal dari bagian Selatan Mexico, Teksas, Alabama dan Florida bagian Selatan, penyebarannya  sampai ke Indonesia.

      Deskripsi Yucca gloriosa L diantaranya
    • 13 Juli 2019

      Asal dan Distribusi Geografis Schefflera actinophylla


      Schefflera actinophylla tumbuh baik dengan naungan atau tanpa naungan. Jenis ini ditemukan tumbuh di dataran rendah tropis atau hutan hujan monsun (Grubb & Metcalfe, 1996; Russell-Smith, 1991). 

      Di kawasan Queensland bagian selatan, S. actinophylla banyak ditemukan tumbuh di hutan alami atau semak-semak pada daerah bukit pasir, pantai, hutan pantai, daerah pinggiran sungai, dan hutan sekunder, terutama pada
    • 12 Juli 2019

      agriVaganza 2019


      Dalam rangka memperingati hari Krida Pertanian ke 47, Kementerian Pertanian (Kementan) RI menggelar acara agriVagansa 2019 dengan tema "SDM dan Infrastruktur menuju pertanian berdaya saing" bertempat di halaman gedung Pusat Informasi Agribisnis (PIA) Agri Bahamas 2019 dilaksanakan pada tanggal 11 - 13 Juli 2019 dibuka secara resmi oleh plt. Sekretariat Jendral Kementerian Pertanian Dr. Ir. Momon Rusmini, MS.

      Adanya
    • 12 Juli 2019

      Kerjasama Balithi dengan Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur


      Berlangsung pada hari Kamis 11 Juli 2019 di ruang rapat kecil Balai Penelitian Tanaman Hias dilaksanakan penandatanganan MoU kerjasama antara Kepala Balai Penelitian Tanaman Hias, Ir. Rudy Soehendi, MP., Ph.D. dengan Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan, Pangan dan Hortikultura Kabuipaten Cianjur, MAmad Nano, SP., MP.

      Tujuan dilaksanakannya kerjasama ini adalah untuk mengembangkan perbenihan tanaman hias di Kabupaten Cianjur sehingga dapat membangun
    • 11 Juli 2019

      Sosialisasi pupuk dan pestisida hayati


      Sosialisasi sekaligus meninjau  penggunaan Gliocompost pd tanaman bawang merah di lahan endemik Penyakit Fusarium di Balitsa, Lembang dilaksanakan pada tanggal 10 Juli 2019. Hasilnya menunjukan bahwa tanaman terlihat sehat dan tidak terserang Penyakit Layu Fusarium pada hari ke 48 setelah tanam. Dengan demikian, Gliocompost dpt menekan perkembangan cendawan patogen Fusarium oxysporum, sehingga pertanaman bawang merah tumbuh normal.