APLIKASI THIN CELL LAYER (TCL) DAN ADENINE SULFAT PADA PERBANYAKAN GERBERA JAMESONII BOLUS SECARA IN VITRO, BAG -2 (2/2)


Regenerasi tunas dilakukan dengan cara menanam tunas pucuk hasil tTCL pada medium ˝ MS yang ditambah dengan 0,2 mg/l BA dan 0,02 mg/l NAA, 60 mg/l adenine sulfat, 20 g/l sukrosa dan 7 g/l agar Swallow. Kultur selanjutnya disimpan dibawah kondisi gelap selama 1 bulan kemudian dipindahkan di bawah kondisi terang 16 jam fotoperiode di bawah lampu fluoresen dengan intensitas ~13 µmol/m2/s selama +- 1 bulan. Bakal tunas akan tumbuh, berkembang dan membentuk tunas-tunas dengan 1-2 daun pada akhir inkubasi gelap. Setelah dipindahkan dalam kondisi terang tunas akan terus bertumbuh dan berkembang dan menghasilkan tunas dengan 3-5 daun diakhir inkubasi terang. Perbanyakan tunas dilakukan dengan melakukan isolasi tunas secara tunggal, kemudian menanam kembali (subkultur) tunas tunggal pada medium, kondisi dan waktu inkubasi yang sama.  Subkultur tunas dapat dilakukan setiap 2 bulan sekali hingga 6 kali. Setelah subkultur ke-6, perbanyakan tunas disarankan untuk dihentikan seiring dengan penurunan kualitas tunas yang terjadi.
    
Penyiapan plantlets dilakukan dengan memilih dan menanam tunas yang tumbuh sehat dan vigor dengan 2-3 daun secara tunggal hasil subkultur ke-6. Tunas terpilih kemudian ditanam ke medium ˝ MS vitamin penuh tanpa hormon yang ditambah dengan 20 g/l sukrosa, 1,5 g/l arang aktif dan 7 g/l agar Swallow. Kultur tunas kemudian disimpan dalam kondisi terang 16 jam fotoperiode di bawah lampu fluoresen dengan intensitas ~ 13 µmol/m2/s selama +- 1 bulan. Akar umumnya mulai terbentuk 4-7 hari setelah kultur. Jumlah akar yang terbentuk per tunas berkisar antara 2-7 akar dengan panjang bervariasi (0,5 - 3,0 cm) setelah 1 bulan masa inkubasi. Plantlets inilah yang kemudian diaklimatisasi.

Aklimatisasi plantlet dilakukan dengan mengeluarkan plantlet yang sehat dan tumbuh vigor dengan 2-3 daun dan 2-6 akar diambil dan dikeluarkan dari dalam botol kultur. Akar plantlets selanjutnya dibersihkan dari sisa-sisa agar yang melekat pada akar dengan cara mencuci akar dibawah air yang mengalir. Akar plantlets yang telah bersih direndam dalam 1% larutan pestisida (1% fungisida dan 1% bakterisida) selama 3 menit, kemudian ditiriskan diatas kertas koran atau tisu. Plantlets kemudian ditanam dalam bak-bak plastik yang berisi arang sekam atau arang sekam dan bahan organik (1:1, v/v) yang telah dibasahi dan cukup dengan air. Tutup bak plastik dengan plastik transparan, letakkan ditempat yang agak teduh di rumah kaca/plastik selama 7-10 hari. Buka plastik dan biarkan tanaman tetap pada tempat teduh. Lakukan penyiraman dengan NPK yang dicairkan (1 g/l 20:15:15) setiap 3 hari sekali. Setelah 1,5-2 bulan masa aklimatisasi, tanaman dapat dipindah dalam polybag (diameter 10 cm) yang berisi media campuran arang sekam dan pupuk organik (1:1, v/v). Keberhasilan aklimatisasi berkisar antara 80-100%.

Aplikasi tTCL dan adenine sulfat pada perbanyakan masa G. jamesonii  secara in vitro telah berhasil dikembangkan dengan waktu +- 2,5 tahun. Titik kritis terdapat pada inisiasi kultur tunas pucuk sebagai sumber eksplan, tahap inisiasi dan aklimatisasi. Potensi produksi benih dari 1 tunas pucuk menghasilkan 5-8 tunas pada tahap inisiasi dan regenerasi dan 5-12 tunas pada tahap perbanyakan. Jika rata-rata tunas yang dihasilkan adalah 6,5 tunas tiap subkultur, 6 kali subkultur dapat dilakukan, maka total tunas yang dihasilkan pada subkultur terakhir +- 75.000 tunas dari satu tunas pucuk. Jika persentase kegagalan aklimatisasi adalah 10%, maka 67.500 plantlets akan dihasilkan setelah 15 bulan. Teknologi ini telah diaplikasikan pada G. jamesonii  Black Jack, Carambol, Diabolo, Samson, Violente, klon 11.46, 01.098, 06.078 dan 04.03. Potensi produksi dapat lebih tinggi atau lebih rendah tergantung dari respon varietas yang digunakan sebagai tanaman donor. Response produksi benih berkualitas yang tinggi ditunjukkan oleh Carambol dan klon 01.098, sementara hasil yang lebih rendah ditunjukkan oleh Nuance, Black Jack, Diabolo, Samson, Violente, klon 11.46, 06.78 dan 04.03. Modifikasi komposisi medium inisiasi, regenerasi dan proliferasi, khususnya konsentrasi hormon dan adenine sulfat (dinaikkan atau diturunkan) kadang diperlukan untuk meningkatkan keberhasilan aplikasi teknologi ini dalam perbanyakan benih berkualitas jika diaplikasikan pada varietas atau klon lain. Seleksi benih pada tiap tahap perbanyakan secara in vitro diperlukan untuk meningkatkan keseragaman benih yang dihasilkan.(irm)(bwinarto).

SebelumnyaDIKLAT PERAKITAN VARIETAS UNGGUL BARU TANAMAN MELALUI TEKNIK PEMULIAAN KONVENSIONAL DAN IRADIASI
SelanjutnyaMengenal Klasifikasi dan Deskripsi Botani Monstera deliciosa Liemb