TEKNOLOGI-PERBANYAKAN-ANYELIR-(DIANTHUS-CARYOPHYLLUS--L.)-SECARA-IN-VITRO-MELALUI-INISIASI-DAN-PROLIFERASI-TUNAS-ADVENTIF,-BAG.-2-(2/2)

  • TEKNOLOGI PERBANYAKAN ANYELIR (DIANTHUS CARYOPHYLLUS L.) SECARA IN VITRO MELALUI INISIASI DAN PROLIFERASI TUNAS ADVENTIF, BAG. 2 (2/2)

  • ditulis tgl : 12 Juni 2019, telah dibaca sebanyak : 106 kali

    Share On Twitter


    Tanaman donor yang digunakan adalah D. caryophyllus  ‘Maldives’ dalam bentuk stek tunas lateral yang berumur +- 6 bulan. Stek ditanam dalam polybag (diameter 20 cm) yang berisi campuran arang sekam dan humus (1:1, v/v) dan ditempatkan dalam rumah kaca.
    Tanaman donor dipelihara melalui melalui penyiraman dan pemupukan. Pupuk cair (2 g/l NPK 20:15:15) diaplikasikan setiap 3 hari sekali.
    Aplikasi pestisida untuk tujuan pengendalian hama dan penyakit diupayakan seminimal mungkin untuk mengurangi munculnya kontaminan, baik bakteri maupun jamur.
    Pemotongan tunas pucuk secara berulang dilakukan untuk mempertahankan tanaman tetap dalam vase pertumbuhan vegetatif. Tunas lateral dengan 2-3 daun dipanen dari tanaman induk dan digunakan sebagai sumber eksplan. 
      
    Tunas lateral yang dipanen diberi pra-perlakuan dengan 1% larutan sabun selama 10 menit sambil digojok, dibilas dengan air mengalir selama 30 menit. Selanjutnya eksplan disterilisasi dengan alkohol 70% selama 5 menit, 1% larutan natrium hipoklorit (NaOCl) selama 10 menit dan 2% NaOCl selama 5 menit, setelah itu dibilas dengan air destilasi steril 4-5 kali (@ 5 menit). Eksplan yang sudah steril selanjutnya ditiriskan dalam cawan petri steril dan siap digunakan. 
    Setelah sterilisasi, daun pertama (+- 1 cm, warna kuning kehijauan) yang masih muda diambil dan dipisahkan dari batang secara hati-hati menggunakan pinset dan pisau kultur.
    Daun kemudian dipotong secara memanjang menjadi dua bagian dan diambil bagian pangkalnya +- 0,5 cm. Daun dilukai dengan pisau kultur untuk meningkatkan potensi regenerasi sel membentuk kalus, selanjutnya ditanam dalam media inisiasi dengan posisi terbalik (van Altvorst et al., 1994; Perez-Tornero et al., 2000).  

    Inisiasi tunas adventif dilakukan dengan cara menanam potongan daun yang telah dipersiapkan pada medium MS yang ditambah dengan 0,1 mg/l BA dan 0,01 mg/l NAA, 30 g/l sukrosa dan 9 g/l agar Type 900. Kultur disimpan dalam ruang inkubasi di bawah kondisi terang dengan 16 jam fotoperiode di bawah lampu fluoresen dengan intensitas ~ 13 µmol/m2/s selama 6 minggu.
    Bakal tunas adventif mulai terbentuk +- 10 hari setelah kultur pada bagian pangkal potongan eksplan. 
    Jumlah dan ukuran tunas adventif makin bertambah dan terlihat jelas pada 14-16 hari setelah kultur. Tunas dengan 3-5 daun mudah diamati 6 minggu setelah kultur. 

    Perbanyakan tunas adventif dilakukan dengan cara memindahkan dan memecah eksplan dengan bakal tunas ke medium MS yang mengandung 0,1 mg/l BA dan 0,02 mg/l NAA, 30 g/l sukrosa dan 9 g/l agar Type 900. Kultur diinkunasi dengan kondisi inkubasi yang sama dengan tahap inisiasi selama 6 minggu. Subkultur tunas adventif dapat dilakukan 4 kali dengan periode subkultur setiap 6 minggu. Subkultur lebih dari 4 kali tidak disarankan karena dapat menurunkan kualitas tunas yang dihasilkan.  
         
    Penyiapan plantlets dilakukan dengan memilih dan menanam tunas yang tumbuh sehat dan vigor dengan 2-3 pasang daun dan 2-3 cm tinggi tunas pada medium ˝ MS yang ditambah 30 g/l sukrosa dan 9 g/l agar Type 900.  Kultur tunas diinkubasi pada kondisi yang sama seperti tahap sebelumnya. Bakal akar mulai terbentuk 5-7 hari setelah kultur. Jumlah dan panjang akar makin bertambah seiring dengan waktu inkubasi. Pada medium tersebut persentase pengakaran, jumlah akar dan panjang akar yang optimal dapat diamati 1 bulan setelah kultur. 

    Tunas berakar yang diperoleh setelah inkubasi selama 20 hari pada rnedia ˝ MS diambil secara hati-hati dari botol kultur, dicuci dengan air mengalir untuk menghilangkan agar yang melekat pada akar, kemudian direndam dalarn larutan Benlate 1% (50% benomil) selama 1 menit. Selanjutnya plantlet ditanam dalam pot plastik untuk semaian benih (ukuran 30 x 60 cm dengan 72 lubang) yang diisi dengan campuran humus dan arang sekam (1:1, v/v). Pot plastik selanjutnya ditutup dengan plastik transparan selama 7 hari pertama aklimatisasi. Plantlet diaklimatisasi diruang inkubasi selama 1 bulan dan dipindahkan ke polibag (diameter 20 cm) yang berisi media yang sama dan dipindahkan ke rumah kaca. 

    Teknologi perbanyakan D. caryophyllus  Maldives secara in vitro mulai tahap inisiasi hingga aklimatisasi berhasil dikembangkan dalam waktu +- 1,9 tahun.
    Titik kritis terdapat pada tahap inisiasi dan aklimatisasi plantlets. Potensi produksi benih dari 1 eksplan responsif akan menghasilkan 4-8 tunas. Jika rata-rata tunas yang dihasilkan adalah 5 tunas tiap subkultur, 4 kali subkultur dapat dilakukan, maka total tunas yang dihasilkan pada subkultur terakhir +- 3.000 tunas dari satu eksplan. 
    Jika persentase kegagalan aklimatisasi adalah 10%, maka 2.700 plantlets akan dihasilkan setelah 8 bulan. Teknologi ini berhasil diaplikasikan pada berbagai varietas anyelir hasil pemuliaan Balithi, seperti: Brenda, Laura dan Sitari.

    Potensi produksi benih yang dihasilkan dapat lebih tinggi atau lebih rendah tergantung dari respon varietas yang digunakan sebagai tanaman donor. Modifikasi komposisi medium inisiasi, proliferasi, khususnya konsentrasi ZPT (dinaikkan atau diturunkan) kadang diperlukan untuk meningkatkan keberhasilan aplikasi teknologi ini dalam perbanyakan benih anyelir. Seleksi benih pada tiap tahap perbanyakan secara in vitro diperlukan untuk meningkatkan keseragaman benih yang dihasilkan.(irm)

  • BERITA TERKAIT
    • Mengenal Istilah-istilah yang Biasa Dipakai Dalam Dunia Teknologi Benih

      23 Agustus 2019
      Dalam dunia teknologi perbenihan dikenal berbagai istilah yang sudah biasa digunakan. Tetapi masih banyak kalangan yang belum mengetahui secara detail maksud dari istilah tersebut.Kali ini dibahas rincian atau deskripsi darivpenggunaan istilah-istilah dalam dunia perbenihan terutama yang menggunakan teknologi kultur jaringan tanaman.Aklimatisasi, aklimatisasi adalah proses adaptasi dan pemindahan tanaman hasil kultur in
    • Launching Inovasi Unggulan dan Penyerahan Royalti Kepada Inventor Balitbangtan

      22 Agustus 2019
      Bertempat di Auditorium Ir. Sadikin Sumintawikarta, Jl. Tentara Pelajar No. 2 Bogor Kamis 22 Agustus 2019 dilaksanakan Launching Inovasi Unggulan Balitbangtan.Mewakili Menteri Pertanian RI, Kepala Balitbangtan Dr. Ir. Fadjry Djufry, M.Si. secara resmi membuka acara tersebut. Selain launching inovasi unggulan Balitbangtan pada kesempatan yang sama dilaksanakan pula penyerahan royalti secara simbolis kepada inventor Balitbangtan yang dilaksanakan
    • Varietas Krisan Kineta

      22 Agustus 2019
      Kineta termasuk salah satu varietas dari komoditas krisan yang telah dihasilkan Balai Penelitian Tanaman Hias, deskripsi varietas ini diantaranya memiliki tinggi Tanaman 95 - 97 cm,Bentuk penampang batang : bulat dengan jumlah ruas batang 36 - 41 ruas pertanaman.Jumlah kuntum bunga 19 - 27 kuntum dengan diameter kuntum bunga
    • Peringatan HUT RI ke74 dan HUT Balithi ke-25

      21 Agustus 2019
      Peringatan hari ulang tahun (HUT) Balithi ke-25 dilaksanakan di area Balithi pada tanggal 21 Agustus 2019.Perayaan dimeriahkan dengan lomba jalan santai yang diikuti oleh seluruh karyawan, siswa dan mahasiswa praktik, dharma wanita dan para pekarya kebun; pembagian doorprize dan hiburan lainnya.Dalam pembukaan lomba jalan santai, Kepala Balithi menyampaikan bahwa kegiatan ini dilaksanakan semata-mata untuk mempererat tali
    • Penanaman Krisan

      21 Agustus 2019
      Untuk tanaman produksi bunga potong, bahan tanam berupa stek krisan berakar dapat ditanam pada lahan bedengan dengan jarak tanam 12,5 x 12,5 cm (kerapatan tanam 64 tanaman/m2),  setelah sebelumnya dibuat lobang tanam dengan menggunakan bambu atau kayu penugal, sedangkan untuk kebun tanaman induk produksi stek, stek berakar ditanam dengan kerapatan 25 hingga 40 tanaman/m2. Faktor kelembaban media tanam perlu mendapat perhatian dalam pertanaman
    • sosialisasi peningkatan SDM Perbenihan Tanaman Hias

      20 Agustus 2019
      Sosialisasi peningkatan Kompetensi SDM Dalam Mendukung Perbenihan tanaman hias berkualitas sesuai peraturan dilaksanakan di aula Balai Penelitian Tanaman Hias pada hari selasa 20 Agustus 2019.Pertemuan tersebut dihadiri oleh Kepala Balai Penelitian Tanaman Hias, Ir, Rudy Soehendi, MP., Ph.D., Prof(R). Dr. Budi Marwoto, MS., Evi Dwi Sulistya Nugroho, SP., MSi., para peneliti Balai Penelitian Tanaman Hias serta seluruh pengelola Unit Pengelolaan Benih
    • Launching Perpustakaan dan Aplikasi SILAK BALITBANGTAN

      18 Agustus 2019
      Menurut Undang-Undang Nomor 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan, disebutkan bahwa Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesiona l dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka. Selanjutnya disebutkan pula bahwa Perpustakaan khusus adalah perpustakaan yang diperuntukkan secara terbatas bagi pemustaka di lingkungan lembaga pemerintah,