• TEKNOLOGI PERBANYAKAN ANYELIR (DIANTHUS CARYOPHYLLUS L.) SECARA IN VITRO MELALUI INISIASI DAN PROLIFERASI TUNAS ADVENTIF, BAG. 2 (2/2)
  • ditulis tgl : 12 Juni 2019, telah dibaca sebanyak : 83 kali


    Gambar malas ngoding

    Tanaman donor yang digunakan adalah D. caryophyllus  ‘Maldives’ dalam bentuk stek tunas lateral yang berumur +- 6 bulan. Stek ditanam dalam polybag (diameter 20 cm) yang berisi campuran arang sekam dan humus (1:1, v/v) dan ditempatkan dalam rumah kaca.
    Tanaman donor dipelihara melalui melalui penyiraman dan pemupukan. Pupuk cair (2 g/l NPK 20:15:15) diaplikasikan setiap 3 hari sekali.
    Aplikasi pestisida untuk tujuan pengendalian hama dan penyakit diupayakan seminimal mungkin untuk mengurangi munculnya kontaminan, baik bakteri maupun jamur.
    Pemotongan tunas pucuk secara berulang dilakukan untuk mempertahankan tanaman tetap dalam vase pertumbuhan vegetatif. Tunas lateral dengan 2-3 daun dipanen dari tanaman induk dan digunakan sebagai sumber eksplan. 
      
    Tunas lateral yang dipanen diberi pra-perlakuan dengan 1% larutan sabun selama 10 menit sambil digojok, dibilas dengan air mengalir selama 30 menit. Selanjutnya eksplan disterilisasi dengan alkohol 70% selama 5 menit, 1% larutan natrium hipoklorit (NaOCl) selama 10 menit dan 2% NaOCl selama 5 menit, setelah itu dibilas dengan air destilasi steril 4-5 kali (@ 5 menit). Eksplan yang sudah steril selanjutnya ditiriskan dalam cawan petri steril dan siap digunakan. 
    Setelah sterilisasi, daun pertama (+- 1 cm, warna kuning kehijauan) yang masih muda diambil dan dipisahkan dari batang secara hati-hati menggunakan pinset dan pisau kultur.
    Daun kemudian dipotong secara memanjang menjadi dua bagian dan diambil bagian pangkalnya +- 0,5 cm. Daun dilukai dengan pisau kultur untuk meningkatkan potensi regenerasi sel membentuk kalus, selanjutnya ditanam dalam media inisiasi dengan posisi terbalik (van Altvorst et al., 1994; Perez-Tornero et al., 2000).  

    Inisiasi tunas adventif dilakukan dengan cara menanam potongan daun yang telah dipersiapkan pada medium MS yang ditambah dengan 0,1 mg/l BA dan 0,01 mg/l NAA, 30 g/l sukrosa dan 9 g/l agar Type 900. Kultur disimpan dalam ruang inkubasi di bawah kondisi terang dengan 16 jam fotoperiode di bawah lampu fluoresen dengan intensitas ~ 13 µmol/m2/s selama 6 minggu.
    Bakal tunas adventif mulai terbentuk +- 10 hari setelah kultur pada bagian pangkal potongan eksplan. 
    Jumlah dan ukuran tunas adventif makin bertambah dan terlihat jelas pada 14-16 hari setelah kultur. Tunas dengan 3-5 daun mudah diamati 6 minggu setelah kultur. 

    Perbanyakan tunas adventif dilakukan dengan cara memindahkan dan memecah eksplan dengan bakal tunas ke medium MS yang mengandung 0,1 mg/l BA dan 0,02 mg/l NAA, 30 g/l sukrosa dan 9 g/l agar Type 900. Kultur diinkunasi dengan kondisi inkubasi yang sama dengan tahap inisiasi selama 6 minggu. Subkultur tunas adventif dapat dilakukan 4 kali dengan periode subkultur setiap 6 minggu. Subkultur lebih dari 4 kali tidak disarankan karena dapat menurunkan kualitas tunas yang dihasilkan.  
         
    Penyiapan plantlets dilakukan dengan memilih dan menanam tunas yang tumbuh sehat dan vigor dengan 2-3 pasang daun dan 2-3 cm tinggi tunas pada medium ˝ MS yang ditambah 30 g/l sukrosa dan 9 g/l agar Type 900.  Kultur tunas diinkubasi pada kondisi yang sama seperti tahap sebelumnya. Bakal akar mulai terbentuk 5-7 hari setelah kultur. Jumlah dan panjang akar makin bertambah seiring dengan waktu inkubasi. Pada medium tersebut persentase pengakaran, jumlah akar dan panjang akar yang optimal dapat diamati 1 bulan setelah kultur. 

    Tunas berakar yang diperoleh setelah inkubasi selama 20 hari pada rnedia ˝ MS diambil secara hati-hati dari botol kultur, dicuci dengan air mengalir untuk menghilangkan agar yang melekat pada akar, kemudian direndam dalarn larutan Benlate 1% (50% benomil) selama 1 menit. Selanjutnya plantlet ditanam dalam pot plastik untuk semaian benih (ukuran 30 x 60 cm dengan 72 lubang) yang diisi dengan campuran humus dan arang sekam (1:1, v/v). Pot plastik selanjutnya ditutup dengan plastik transparan selama 7 hari pertama aklimatisasi. Plantlet diaklimatisasi diruang inkubasi selama 1 bulan dan dipindahkan ke polibag (diameter 20 cm) yang berisi media yang sama dan dipindahkan ke rumah kaca. 

    Teknologi perbanyakan D. caryophyllus  Maldives secara in vitro mulai tahap inisiasi hingga aklimatisasi berhasil dikembangkan dalam waktu +- 1,9 tahun.
    Titik kritis terdapat pada tahap inisiasi dan aklimatisasi plantlets. Potensi produksi benih dari 1 eksplan responsif akan menghasilkan 4-8 tunas. Jika rata-rata tunas yang dihasilkan adalah 5 tunas tiap subkultur, 4 kali subkultur dapat dilakukan, maka total tunas yang dihasilkan pada subkultur terakhir +- 3.000 tunas dari satu eksplan. 
    Jika persentase kegagalan aklimatisasi adalah 10%, maka 2.700 plantlets akan dihasilkan setelah 8 bulan. Teknologi ini berhasil diaplikasikan pada berbagai varietas anyelir hasil pemuliaan Balithi, seperti: Brenda, Laura dan Sitari.

    Potensi produksi benih yang dihasilkan dapat lebih tinggi atau lebih rendah tergantung dari respon varietas yang digunakan sebagai tanaman donor. Modifikasi komposisi medium inisiasi, proliferasi, khususnya konsentrasi ZPT (dinaikkan atau diturunkan) kadang diperlukan untuk meningkatkan keberhasilan aplikasi teknologi ini dalam perbanyakan benih anyelir. Seleksi benih pada tiap tahap perbanyakan secara in vitro diperlukan untuk meningkatkan keseragaman benih yang dihasilkan.(irm)
    • 18 Juni 2019

      Gliocompost


      GLIOCOMPOST memilik bahan Aktif Gliocladium sp dan Mikrob penambat unsur hara, Pupuk hayati ini berfungsi sebagai biopestisida yang dapat membantu petani dalam meningkatkan produktivitas dan menanggulangi berbagai penyakit tanaman diantaranya mampu mengendalikan Layu Fusarium sp., Phomopsis sclerotioides, Pythium, Rhizoctonia solani dan Sclerotinia sclerotiorum pada tanaman hias, sayuran dan buah.

      Keunggulan pupuk ini
    • 17 Juni 2019

      Tapeinochilos ananassae


      Tanaman ini termasuk herba perenial yang mempunyai rhizoma tidak aromatik. Tinggi tanaman bisa mencapai 2 - 4 m Rhizoma berdaging. Daun tersusun spiral, dengan lamina tunggal, berbentuk lonjong dengan permukaan daun licin. Cabang udara sekunder muncul dari ketiak daun dan selanjutnya akan muncul pula cabang udara tersier dari cabang sekunder dan akan berakhir dengan cabang udara kwarter yang muncul dari cabang  tersier. Daun terkonsentrasi pada batang bagian
    • 16 Juni 2019

      Anthurium reflexinervum


      Anthurium reflexinervum termasuk kedalam famili Araceae, sebaran geografis tanaman hias ini mencakup Negara Peru dan Ecuador, kondisi saat ini sudah termasuk langka.

      Tumbuhan ini merupakan herba semi perennial. Tinggi tanaman bisa mencapai  50-60 cm dengan batang yang relatif sangat pendek. Spesies ini unik karena memiliki daun yang sangat dramatik, kerutannya kuat dan indah. Tumbuhan ini langka sehingga sangat
    • 14 Juni 2019

      Krisan Pot, bag. 2 (2/2)


      Penananan
      Untuk pot berdiameter 15 cm, tiap pot ditanam 5-6 setek Setek ditanam dangkal pada media, sehingga akar tanaman hanya sedikit tertutup tanah. Bentuk tanaman yang baik diperoleh jika setek ditanam menyudut, sehingga tanaman dapat tumbuh menyandar dan keluar dari pinggiran pot.

      Pemupukan
      Pemupukan harus segera diberikan pada media tanam  setelah setek dipindah ke pot. Pemupukan dapat dilakukan bersama air
    • 13 Juni 2019

      Krisan Pot, bag. 1 (1/2)


      Krisan pot merupakan tanaman pot yang paling populer diantara tanaman pot berbunga lain.Tanaman ini mempunyai keunggulan antara lain dapat diproduksi sepanjang tahun, waktu produksi dan pembungaan dapat diatur, penanganan tanaman dan kontrol kualitas  relatif mudah sebab mempunyai umur keragaan yang cukup lama.
      11 Juni 2019

      Teknologi Perbanyakan Anyelir (Dianthus caryophyllus L.) secara In Vitro melalui Inisiasi dan Proliferasi Tunas Adventif, bag. 1 (1/2)


      Anyelir (Dianthus caryophyllus L.) merupakan salah satu bunga potong penting yang dibudidayakan di seluruh dunia dan masuk dalam peringkat puncak bunga potong dunia (Duhoky et al., 2009). 
      Bunga anyelir memiliki bentuk yang menarik, variasi ukuran, kaya warna baik tunggal maupun banyak warna (multicolors) dengan daya simpan yang cukup lama (Danial et al., 2009), namun pengembangan tanaman ini, termasuk di Indonesia sering diperhadapkan pada masalah keterbatasan
    • 10 Juni 2019

      TEKNOLOGI PERBANYAKAN ANTHURIUM (ANTHURIUM ANDREANUM LINDEN EX ANDRE) SECARA IN VITRO MELALUI INISIASI DAN PROLIFERASI TUNAS ADVENTIF BAG. 2 (2/2)


      Regenerasi tunas adventif dilakukan dengan cara memindahkan dan memecah ukuran kalus (jika ukuran +- 1 cm panjang, lebar dan tinggi) dan menanam kembali kalus tersebut pada media yang sama dengan media inisiasi. Kultur disimpan di bawah kondisi terang 12 jam fotoperiode di bawah lampu fluoresen dengan intensitas ~ 13 µmol/m2/s selama 2 bulan. Regenerasi kalus membentuk tunas adventif biasanya dimulai dengan munculnya bakal tunas 10-15 hari setelah kultur. Bakal tunas akan terus