• TEKNOLOGI PERBANYAKAN ANYELIR (DIANTHUS CARYOPHYLLUS L.) SECARA IN VITRO MELALUI INISIASI DAN PROLIFERASI TUNAS ADVENTIF, BAG. 1 (1/2)
  • ditulis tgl : 11 Juni 2019, telah dibaca sebanyak : 104 kali


    Gambar malas ngoding

    Anyelir (Dianthus caryophyllus L.) merupakan salah satu bunga potong penting yang dibudidayakan di seluruh dunia dan masuk dalam peringkat puncak bunga potong dunia (Duhoky et al., 2009). 
    Bunga anyelir memiliki bentuk yang menarik, variasi ukuran, kaya warna baik tunggal maupun banyak warna (multicolors) dengan daya simpan yang cukup lama (Danial et al., 2009), namun pengembangan tanaman ini, termasuk di Indonesia sering diperhadapkan pada masalah keterbatasan benih yang berkualitas.

    Secara tradisional tanaman ini diperbanyak secara vegetatif dengan cara penyetekan. Cara ini tidak efisien untuk pengembangan tanaman skala komersial karena rendahnya kualitas dan jumlah benih yang dihasilkan (Onamu et al., 2003). Di samping itu penyiapan benih dengan cara ini sering diperhadapkan pada masalah penurunan kualitas, vigoritas dan ukuran bunga akibat infeksi virus yang menyerang tanaman induk yang digunakan dalam penyediaan benih (Onamu et al., 2003; Danial et al., 2009).
    Oleh karena teknologi perbanyakan benih yang berkualitas menjadi kebutuhan penting dalam pengembangan tanaman anyelir pada skala komersial.

    Beberapa teknologi perbanyakan anyelir secara in vitro telah berhasil dikembangkan dan dilaporkan. 
    Teknologi tersebut diaplikasikan menggunakan variasi sumber eksplan seperti: tunas pucuk, nodus daun, sepal, petal, reseptakel dan tangkai stilus pada medium Murashige dan Skoog (MS) dan modifikasinya, serta penambahan hormon BA (0,2-4 mg/l) (Ali et al., 2008; Karami, 2008; Danial et al., 2009; Duhoky et al., 2009; Hassan et al., 2011). Teknologi tersebut berhasil diaplikasikan pada D. caryophyllus Nelson, Sagres, Spirit and Impulse (Karami, 2008), namun belum dilaporkan pada D. caryophyllus Maldives. 
    Teknologi tersebut umumnya menggunakan metode proliferasi tunas aksiler, sementara yang menggunakan metode proliferasi tunas adventif hanya dilaporkan oleh Kantia dan Kothari (2002) pada D. chinensis dan Kanwar dan Kumar (2009) pada D. caryophyllus Indios.

    Metode perbanyakan D. caryophyllus Maldives secara in vitro melalui inisiasi dan proliferasi tunas adventif berhasil dikembangkan dan dipublikasikan (Winarto et al., 2005). Teknologi ini terdiri atas (1) tanaman donor dan pemanenan eksplan, (2) sterilisasi eksplan, (3) inisiasi tunas adventif, (4) perbanyakan tunas adventif, (5) penyiapan plantlets dan (5) aklimatisasi plantlets.

    Bahan: D. caryophyllus var. Maldives; Medium Murashige dan Skoog (1962) (Merck); N6-benzyladenine (BA= 0,1 mg/l) dan α-naphthalene acetic acid (NAA= 0,01-0,02 mg/l) (Sigma); Agar Type 900 (Selangor, Malaysia); 1% dan 2% (5,25% NaOCl); Sukrosa (30 g/l) (Merck); Alkohol 70%; Air destilasi steril; Tisu steril; Benlate (1%, 50% benomil); Media pot (arang sekam dan humus); NPK (20:15:15)

    Alat: Laminar air flow cabinet; Botol kultur (Erlenmeyer 100 ml); Botol sterilisasi (Erlenmeyer 1000 ml); Pinset (25 cm); Scalpel; Pisau kultur; Cawan petri (diameter 9 cm); Polibag (diameter 30 cm)

    bersambung...
    • 18 Juni 2019

      Gliocompost


      GLIOCOMPOST memilik bahan Aktif Gliocladium sp dan Mikrob penambat unsur hara, Pupuk hayati ini berfungsi sebagai biopestisida yang dapat membantu petani dalam meningkatkan produktivitas dan menanggulangi berbagai penyakit tanaman diantaranya mampu mengendalikan Layu Fusarium sp., Phomopsis sclerotioides, Pythium, Rhizoctonia solani dan Sclerotinia sclerotiorum pada tanaman hias, sayuran dan buah.

      Keunggulan pupuk ini
    • 17 Juni 2019

      Tapeinochilos ananassae


      Tanaman ini termasuk herba perenial yang mempunyai rhizoma tidak aromatik. Tinggi tanaman bisa mencapai 2 - 4 m Rhizoma berdaging. Daun tersusun spiral, dengan lamina tunggal, berbentuk lonjong dengan permukaan daun licin. Cabang udara sekunder muncul dari ketiak daun dan selanjutnya akan muncul pula cabang udara tersier dari cabang sekunder dan akan berakhir dengan cabang udara kwarter yang muncul dari cabang  tersier. Daun terkonsentrasi pada batang bagian
    • 16 Juni 2019

      Anthurium reflexinervum


      Anthurium reflexinervum termasuk kedalam famili Araceae, sebaran geografis tanaman hias ini mencakup Negara Peru dan Ecuador, kondisi saat ini sudah termasuk langka.

      Tumbuhan ini merupakan herba semi perennial. Tinggi tanaman bisa mencapai  50-60 cm dengan batang yang relatif sangat pendek. Spesies ini unik karena memiliki daun yang sangat dramatik, kerutannya kuat dan indah. Tumbuhan ini langka sehingga sangat
    • 14 Juni 2019

      Krisan Pot, bag. 2 (2/2)


      Penananan
      Untuk pot berdiameter 15 cm, tiap pot ditanam 5-6 setek Setek ditanam dangkal pada media, sehingga akar tanaman hanya sedikit tertutup tanah. Bentuk tanaman yang baik diperoleh jika setek ditanam menyudut, sehingga tanaman dapat tumbuh menyandar dan keluar dari pinggiran pot.

      Pemupukan
      Pemupukan harus segera diberikan pada media tanam  setelah setek dipindah ke pot. Pemupukan dapat dilakukan bersama air
    • 13 Juni 2019

      Krisan Pot, bag. 1 (1/2)


      Krisan pot merupakan tanaman pot yang paling populer diantara tanaman pot berbunga lain.Tanaman ini mempunyai keunggulan antara lain dapat diproduksi sepanjang tahun, waktu produksi dan pembungaan dapat diatur, penanganan tanaman dan kontrol kualitas  relatif mudah sebab mempunyai umur keragaan yang cukup lama.
      12 Juni 2019

      Teknologi Perbanyakan Anyelir (Dianthus caryophyllus L.) secara In Vitro melalui Inisiasi dan Proliferasi Tunas Adventif, bag. 2 (2/2)


      Tanaman donor yang digunakan adalah D. caryophyllus  ‘Maldives’ dalam bentuk stek tunas lateral yang berumur +- 6 bulan. Stek ditanam dalam polybag (diameter 20 cm) yang berisi campuran arang sekam dan humus (1:1, v/v) dan ditempatkan dalam rumah kaca.
      Tanaman donor dipelihara melalui melalui penyiraman dan pemupukan. Pupuk cair (2 g/l NPK 20:15:15) diaplikasikan setiap 3 hari sekali.
      Aplikasi pestisida untuk tujuan pengendalian hama dan penyakit
    • 10 Juni 2019

      TEKNOLOGI PERBANYAKAN ANTHURIUM (ANTHURIUM ANDREANUM LINDEN EX ANDRE) SECARA IN VITRO MELALUI INISIASI DAN PROLIFERASI TUNAS ADVENTIF BAG. 2 (2/2)


      Regenerasi tunas adventif dilakukan dengan cara memindahkan dan memecah ukuran kalus (jika ukuran +- 1 cm panjang, lebar dan tinggi) dan menanam kembali kalus tersebut pada media yang sama dengan media inisiasi. Kultur disimpan di bawah kondisi terang 12 jam fotoperiode di bawah lampu fluoresen dengan intensitas ~ 13 µmol/m2/s selama 2 bulan. Regenerasi kalus membentuk tunas adventif biasanya dimulai dengan munculnya bakal tunas 10-15 hari setelah kultur. Bakal tunas akan terus