• TEKNOLOGI PERBANYAKAN ANTHURIUM (ANTHURIUM ANDREANUM LINDEN EX ANDRE) SECARA IN VITRO MELALUI INISIASI DAN PROLIFERASI TUNAS ADVENTIF BAG. 2 (2/2)
  • ditulis tgl : 10 Juni 2019, telah dibaca sebanyak : 262 kali


    Gambar malas ngoding

    Regenerasi tunas adventif dilakukan dengan cara memindahkan dan memecah ukuran kalus (jika ukuran +- 1 cm panjang, lebar dan tinggi) dan menanam kembali kalus tersebut pada media yang sama dengan media inisiasi. Kultur disimpan di bawah kondisi terang 12 jam fotoperiode di bawah lampu fluoresen dengan intensitas ~ 13 µmol/m2/s selama 2 bulan. Regenerasi kalus membentuk tunas adventif biasanya dimulai dengan munculnya bakal tunas 10-15 hari setelah kultur. Bakal tunas akan terus bertumbuh dan membentuk tunas dengan 1 daun 20-25 hari setelah kultur. 
    Jumlah tunas dan daun terus bertambah seiring dengan pertambahan waktu penyimpanan. Tunas dengan 2-3 daun diamati setelah 2 bulan penyimpanan. Sedangkan perbanyakan tunas dilakukan dengan memindahkan dan memecah ukuran kalus dengan bakal tunas + tunas pada medium WT atau NWT yang ditambah 0,5 mg/l TDZ, 0,25 mg/l BA, 0,01 mg/l NAA, 30 g/l sukrosa dan 2 g/l gelrite dan disimpan pada kondisi inkubasi yang sama selama +- 2 bulan. Pada tahap ini pertambahan jumlah tunas terus terjadi dengan kecepatan penggandaan yang bervariasi tergantung respon varietas. Subkultur kalus dengan tunas dapat dilakukan berulang setiap 2 bulan sekali hingga 5-8 kali. Subkultur disarankan untuk dihentikan saat tunas sudah mulai membentuk akar.
         
    Penyiapan plantlets dilakukan dengan memilih dan menanam tunas yang tumbuh sehat dan vigor dengan 2-3 daun ke medium WT atau NWT tanpa ZPT atau medium ˝ MS yang ditambah dengan 20 g/l sukrosa dan 7 g/l agar Swallow. Kultur tunas kemudian disimpan dalam kondisi terang 12 jam fotoperiode di bawah lampu fluoresen dengan intensitas ~ 13 µmol/m2/s selama +- 2 bulan. Akar umumnya mulai terbentuk 10-15 hari setelah kultur. Jumlah akar yang terbentuk per tunas berkisar antara 2-4 akar dengan panjang yang bervariasi setelah 2 bulan masa inkubasi. 

    Aklimatisasi plantlet dilakukan dengan mengeluarkan plantlet yang sehat dan tumbuh vigor dengan 2-3 daun dan 2-4 akar diambil dan dikeluarkan dari dalam botol kultur. Akar plantlets selanjutnya dibersihkan dari sisa-sisa agar dengan cara mencuci akar di bawah air mengalir. Akar plantlets kemudian direndam dalam 1% larutan pestisida (1% fungisida dan 1% bakterisida) selama 3 menit dan tiriskan di atas kertas koran atau tisu. Plantlets ditanam dalam bak-bak plastik yang berisi arang sekam yang telah dibasahi dan cukup dengan air. Tutup bak plastik dengan plastik transparan, letakkan di tempat yang agak teduh di rumah kaca/plastik selama 7-10 hari. Buka plastik dan biarkan tanaman tetap pada tempat teduh. Setelah 1,5-2 bulan masa aklimatisasi, tanaman dapat dipindah dalam polybag (diameter 10 cm) yang berisi media campuran arang sekam dan pupuk organik (1:1, v/v) atau arang sekam, sekam dan humus bambu/pupuk organik (1:1:1, v/v/v). Keberhasilan aklimatisasi berkisar antara 80-100%

    Teknologi perbanyakan A. andreanum secara in vitro melalui inisiasi dan proliferasi tunas adventif telah berhasil dikembangkan. Waktu yang dibutuhkan +- 2 tahun. Titik kritis teknologi terletak pada tahap inisiasi kalus dan munculnya kontaminasi laten yang disebabkan oleh bakteri. Potensi produksi benih dari 1 eksplan responsif akan menghasilkan 5-10 tunas. Jika rata-rata tunas yang dihasilkan adalah 5 tunas tiap subkultur, 5 kali subkultur dapat dilakukan, maka total tunas yang dihasilkan +- 15.000 tunas dari satu eksplan. Jika persentase kegagalan aklimatisasi adalah 10%, maka 13.500 plantlets akan dihasilkan setelah 16 bulan.
    Teknologi ini berhasil diaplikasikan pada A. andreanum  Carnaval, Casino, Laguna, Amigo, Midori, Klon-klon Balithi, Klon-klon hasil persilangan petani dan Anthurium lokal. 

    Potensi produksi benih yang dihasilkan dapat lebih tinggi atau lebih rendah tergantung dari respon varietas yang digunakan sebagai tanaman donor. Modifikasi komposisi medium inisiasi, regenerasi dan proliferasi, khususnya konsentrasi ZPT (dinaikkan atau diturunkan) dan penggunaan arang aktif kadang diperlukan untuk meningkatkan keberhasilan aplikasi teknologi ini dalam perbanyakan benih anthurium. Seleksi benih pada tiap tahap perbanyakan secara in vitro diperlukan untuk meningkatkan keseragaman benih yang dihasilkan.(irm)
    • 18 Juni 2019

      Gliocompost


      GLIOCOMPOST memilik bahan Aktif Gliocladium sp dan Mikrob penambat unsur hara, Pupuk hayati ini berfungsi sebagai biopestisida yang dapat membantu petani dalam meningkatkan produktivitas dan menanggulangi berbagai penyakit tanaman diantaranya mampu mengendalikan Layu Fusarium sp., Phomopsis sclerotioides, Pythium, Rhizoctonia solani dan Sclerotinia sclerotiorum pada tanaman hias, sayuran dan buah.

      Keunggulan pupuk ini
    • 17 Juni 2019

      Tapeinochilos ananassae


      Tanaman ini termasuk herba perenial yang mempunyai rhizoma tidak aromatik. Tinggi tanaman bisa mencapai 2 - 4 m Rhizoma berdaging. Daun tersusun spiral, dengan lamina tunggal, berbentuk lonjong dengan permukaan daun licin. Cabang udara sekunder muncul dari ketiak daun dan selanjutnya akan muncul pula cabang udara tersier dari cabang sekunder dan akan berakhir dengan cabang udara kwarter yang muncul dari cabang  tersier. Daun terkonsentrasi pada batang bagian
    • 16 Juni 2019

      Anthurium reflexinervum


      Anthurium reflexinervum termasuk kedalam famili Araceae, sebaran geografis tanaman hias ini mencakup Negara Peru dan Ecuador, kondisi saat ini sudah termasuk langka.

      Tumbuhan ini merupakan herba semi perennial. Tinggi tanaman bisa mencapai  50-60 cm dengan batang yang relatif sangat pendek. Spesies ini unik karena memiliki daun yang sangat dramatik, kerutannya kuat dan indah. Tumbuhan ini langka sehingga sangat
    • 14 Juni 2019

      Krisan Pot, bag. 2 (2/2)


      Penananan
      Untuk pot berdiameter 15 cm, tiap pot ditanam 5-6 setek Setek ditanam dangkal pada media, sehingga akar tanaman hanya sedikit tertutup tanah. Bentuk tanaman yang baik diperoleh jika setek ditanam menyudut, sehingga tanaman dapat tumbuh menyandar dan keluar dari pinggiran pot.

      Pemupukan
      Pemupukan harus segera diberikan pada media tanam  setelah setek dipindah ke pot. Pemupukan dapat dilakukan bersama air
    • 13 Juni 2019

      Krisan Pot, bag. 1 (1/2)


      Krisan pot merupakan tanaman pot yang paling populer diantara tanaman pot berbunga lain.Tanaman ini mempunyai keunggulan antara lain dapat diproduksi sepanjang tahun, waktu produksi dan pembungaan dapat diatur, penanganan tanaman dan kontrol kualitas  relatif mudah sebab mempunyai umur keragaan yang cukup lama.
      12 Juni 2019

      Teknologi Perbanyakan Anyelir (Dianthus caryophyllus L.) secara In Vitro melalui Inisiasi dan Proliferasi Tunas Adventif, bag. 2 (2/2)


      Tanaman donor yang digunakan adalah D. caryophyllus  ‘Maldives’ dalam bentuk stek tunas lateral yang berumur +- 6 bulan. Stek ditanam dalam polybag (diameter 20 cm) yang berisi campuran arang sekam dan humus (1:1, v/v) dan ditempatkan dalam rumah kaca.
      Tanaman donor dipelihara melalui melalui penyiraman dan pemupukan. Pupuk cair (2 g/l NPK 20:15:15) diaplikasikan setiap 3 hari sekali.
      Aplikasi pestisida untuk tujuan pengendalian hama dan penyakit
    • 11 Juni 2019

      Teknologi Perbanyakan Anyelir (Dianthus caryophyllus L.) secara In Vitro melalui Inisiasi dan Proliferasi Tunas Adventif, bag. 1 (1/2)


      Anyelir (Dianthus caryophyllus L.) merupakan salah satu bunga potong penting yang dibudidayakan di seluruh dunia dan masuk dalam peringkat puncak bunga potong dunia (Duhoky et al., 2009). 
      Bunga anyelir memiliki bentuk yang menarik, variasi ukuran, kaya warna baik tunggal maupun banyak warna (multicolors) dengan daya simpan yang cukup lama (Danial et al., 2009), namun pengembangan tanaman ini, termasuk di Indonesia sering diperhadapkan pada masalah keterbatasan