• METODE PERBANYAKAN TANAMAN SECARA IN VITRO
  • ditulis tgl : 31 Mei 2019, telah dibaca sebanyak : 225 kali


    Gambar malas ngoding

    Perbanyakan tanaman secara in vitro dapat dilakukan melalui beberapa metode, diantaranya adalah pembentukan (1) tunas aksiler dan (2) tunas adventif. 

    Pembentukan tunas aksiler dapat dilakukan menggunakan (1) tunas pucuk (kultur tunas atau meristem) dan (2) tunas lateral (kultur nodus). Aplikasi pembentukan tunas aksiler pada perbanyakan tanaman secara in vitro dapat menghasilkan tanaman baru yang identik dengan induknya (true-to-type) pada persentase yang sangat tinggi. Sedangkan aplikasi pembentukan tunas adventif menghasilkan tanaman baru dengan persentase true-to-type yang lebih rendah, terlebih jika terdapat aplikasi ZPT tanaman yang berlebihan.

    Selain metode tersebut, dalam perbanyakan tanaman secara in vitro juga dikenal kultur kalus, sel dan protoplast. Kultur kalus merupakan metode kultur jaringan tanaman yang sangat penting dibanding metode yang lain. Kultur kalus dapat dikembangkan ke arah: (1) pembentukan akar, tunas maupun plantlet melalui organogenesis dari satu maupun kelompok sel, (2) kultur suspensi sel saat kalus ditumbuhkan dalam kultur cair, (3) pembentukan embrio somatik (somatic embryogenesis) dari satu maupun kelompok sel, dan (4) sel dapat diberi perlakuan untuk menghasilkan kultur protoplas dengan menghilangkan dinding selnya (Hartmann et al., 1997).

    Kultur kalus juga merupakan metode kultur jaringan yang penting dalam pemuliaan tanaman karena dapat menginduksi adanya variasi somaklonal sebagai akibat dari aplikasi penggunaan ZPT.

    Aplikasi beberapa metode perbanyakan tanaman secara in vitro tersebut yang dilakukan secara bertahap dan terstruktur dengan memerhatikan berbagai faktor yang berpengaruh dapat menghasilkan teknologi perbanyakan. Mengingat setiap jenis tanaman dan/atau eksplan memiliki respon dan membutuhkan kondisi yang spesifik dalam kultur jaringan, maka setiap jenis tanaman dan/atau eksplan akan menghasilkan teknologi perbanyakan yang berbeda antara satu dengan yang lainnya, seperti yang diuraikan dalam buku ini. Teknologi terdiri dari atas (1) tanaman donor dan pemanenan eksplan, (2) sterilisasi dan penyiapan eksplan, (3) inisiasi tunas adventif/aksiler/embrio/plb, (4) regenerasi dan/atau perbanyakan tunas adventif/aksiler/embrio/plb, (5) penyiapan plantlets dan (5) aklimatisasi plantlets.  (irm)
    • 18 Juni 2019

      Gliocompost


      GLIOCOMPOST memilik bahan Aktif Gliocladium sp dan Mikrob penambat unsur hara, Pupuk hayati ini berfungsi sebagai biopestisida yang dapat membantu petani dalam meningkatkan produktivitas dan menanggulangi berbagai penyakit tanaman diantaranya mampu mengendalikan Layu Fusarium sp., Phomopsis sclerotioides, Pythium, Rhizoctonia solani dan Sclerotinia sclerotiorum pada tanaman hias, sayuran dan buah.

      Keunggulan pupuk ini
    • 17 Juni 2019

      Tapeinochilos ananassae


      Tanaman ini termasuk herba perenial yang mempunyai rhizoma tidak aromatik. Tinggi tanaman bisa mencapai 2 - 4 m Rhizoma berdaging. Daun tersusun spiral, dengan lamina tunggal, berbentuk lonjong dengan permukaan daun licin. Cabang udara sekunder muncul dari ketiak daun dan selanjutnya akan muncul pula cabang udara tersier dari cabang sekunder dan akan berakhir dengan cabang udara kwarter yang muncul dari cabang  tersier. Daun terkonsentrasi pada batang bagian
    • 16 Juni 2019

      Anthurium reflexinervum


      Anthurium reflexinervum termasuk kedalam famili Araceae, sebaran geografis tanaman hias ini mencakup Negara Peru dan Ecuador, kondisi saat ini sudah termasuk langka.

      Tumbuhan ini merupakan herba semi perennial. Tinggi tanaman bisa mencapai  50-60 cm dengan batang yang relatif sangat pendek. Spesies ini unik karena memiliki daun yang sangat dramatik, kerutannya kuat dan indah. Tumbuhan ini langka sehingga sangat
    • 14 Juni 2019

      Krisan Pot, bag. 2 (2/2)


      Penananan
      Untuk pot berdiameter 15 cm, tiap pot ditanam 5-6 setek Setek ditanam dangkal pada media, sehingga akar tanaman hanya sedikit tertutup tanah. Bentuk tanaman yang baik diperoleh jika setek ditanam menyudut, sehingga tanaman dapat tumbuh menyandar dan keluar dari pinggiran pot.

      Pemupukan
      Pemupukan harus segera diberikan pada media tanam  setelah setek dipindah ke pot. Pemupukan dapat dilakukan bersama air
    • 13 Juni 2019

      Krisan Pot, bag. 1 (1/2)


      Krisan pot merupakan tanaman pot yang paling populer diantara tanaman pot berbunga lain.Tanaman ini mempunyai keunggulan antara lain dapat diproduksi sepanjang tahun, waktu produksi dan pembungaan dapat diatur, penanganan tanaman dan kontrol kualitas  relatif mudah sebab mempunyai umur keragaan yang cukup lama.
      12 Juni 2019

      Teknologi Perbanyakan Anyelir (Dianthus caryophyllus L.) secara In Vitro melalui Inisiasi dan Proliferasi Tunas Adventif, bag. 2 (2/2)


      Tanaman donor yang digunakan adalah D. caryophyllus  ‘Maldives’ dalam bentuk stek tunas lateral yang berumur +- 6 bulan. Stek ditanam dalam polybag (diameter 20 cm) yang berisi campuran arang sekam dan humus (1:1, v/v) dan ditempatkan dalam rumah kaca.
      Tanaman donor dipelihara melalui melalui penyiraman dan pemupukan. Pupuk cair (2 g/l NPK 20:15:15) diaplikasikan setiap 3 hari sekali.
      Aplikasi pestisida untuk tujuan pengendalian hama dan penyakit
    • 11 Juni 2019

      Teknologi Perbanyakan Anyelir (Dianthus caryophyllus L.) secara In Vitro melalui Inisiasi dan Proliferasi Tunas Adventif, bag. 1 (1/2)


      Anyelir (Dianthus caryophyllus L.) merupakan salah satu bunga potong penting yang dibudidayakan di seluruh dunia dan masuk dalam peringkat puncak bunga potong dunia (Duhoky et al., 2009). 
      Bunga anyelir memiliki bentuk yang menarik, variasi ukuran, kaya warna baik tunggal maupun banyak warna (multicolors) dengan daya simpan yang cukup lama (Danial et al., 2009), namun pengembangan tanaman ini, termasuk di Indonesia sering diperhadapkan pada masalah keterbatasan