BUDIDAYA-&-PASCAPANEN-LEATHERLEAF-FERN-(RUMOHRA-ADIANTIFORMIS)

  • BUDIDAYA & PASCAPANEN LEATHERLEAF FERN (RUMOHRA ADIANTIFORMIS)

  • ditulis tgl : 30 Mei 2019, telah dibaca sebanyak : 284 kali

    Share On Twitter


    Leatherleaf fern atau Pakis adalah jenis paku-pakuan dengan nama latin Rumohra adiantiformis (G. Forst.) Ching, tergolong dalam famili Polypodiaceae, berasal dari daerah tropis di Amerika tengah dan selatan, Afrika selatan, Madagascar, New Zealand dan Australia. Tanaman ini tergolong tanaman hias yang dimanfaatkan sebagai daun potong.
    Lingkungan tumbuh yang dikehendaki yaitu ketinggian tempat 850-1800 m dpl, suhu 19-27 C, kelembaban relatif 80-90%, intensitas cahaya  berkisar 5000 lux, dan pH tanah 5,5-6,0.
    Persiapan konstruksi naungan
    Intensitas cahaya yang sesuai berkisar  5000 lux, ini dapat dirancang dengan penggunaan naungan net sekitar 75% atau intensitas cahaya yang diterima tanaman 25%. Untuk menjaga keawetan net maka sambungan antar net harus dijahit rapat dengan menggunakan benang khusus dan diberikan penopang kawat bentuk diagonal yang dikaitkan pada tiang penyangga bangunan.
    Di daerah dengan curah hujan tinggi digunakan naungan plastik UV di bawah net.  Bila digunakan plastik UV di  bawah net maka kerapatan net sebaiknya sekitar 55%.
    Persiapan lahan, Pembuatan bedeng tanaman dan Persiapan tanam
    Lahan diolah dengan cara digemburkan pada kedalaman 15 cm. Ukuran bedeng penanaman yaitu lebar 100-120 cm, tinggi 10-15 cm  diatas permukaan tanah. Pupuk kandang yang sudah matang diberikan pada awal penanaman dengan takaran 2 ton/ha/tahun atau 2 kg/m2/tahun, dan pemberian pupuk kandang dapat diulang setiap tahun. Jarak antar bedeng yaitu 40-60 cm. Tanaman toleran pada pH 5.0-6.0 pH tanah dapat diatur dengan memberikan  dolomit dengan takaran 1120 kg/ha/tahun dan diberikan setiap 3 bulan.
    Bedengan dengan lebar 1 m diisi 3 tanaman, sedang bedengan dengan lebar 1,20 cm diisi 4 tanaman atau jarak antar tanaman 30,5 cm x 30,5 cm. Penanaman dengan menggunakan rhizome dilakukan pada kedalaman tanam 1,3 cm di bawah permukaan tanah, sedangkan rumpun berakar ditanam dengan kedalaman 2,5 cm di bawah permukaan tanah. 

    Pemupukan
    Selain pupuk kandang diberikan pula pupuk buatan berupa Urea, ZA, SP36, KCl dan pupuk mikro. Takaran Urea yaitu 40 kg/ha/tahun, ZA 44 kg/ha/tahun, SP36 39 kg/ha/tahun, KCl 46 kg/ha/tahun, diberikan setiap bulan satu kali. Pupuk mikro diberikan 1 g/l setiap minggu 1 kali.

    Pemberian mulsa
    Pemberian mulsa daun bambu sebanyak 0,5 karung/m2/tahun akan menambah bahan organik. Pemberian Gliocompost akan mempercepat pelapukan daun bambu menjadi bahan organik.

    Irigasi 
    Irigasi yang dianjurkan adalah irigasi dengan sistem springkle volume 5-7 liter/m2. Jika menggunakan alat pengukur kadar air tanah tensiometer, maka penyiraman dimulai pada saat pembacaan antara 20-25 kpa dan dihentikan apabila tensiometer sudah terbaca -10 kpa.

    Pengendalian hama dan penyakit
    Penyakit utama yang menyerang tanaman adalah Cylindrocladium, mempunyai gejala bercak kuning pada daun dan makin lama daun berubah menjadi coklat kemerahanan hingga coklat gelap. Sedangkan penyakit bercak daun anthraknosa yang disebabkan oleh Colletotrichum gloeosporioides memiliki gejala layu pada pucuk daun dan daun tidak mau berkembang sempurna . Selain menyerang daun, Cylindrocladium juga menyerang batang dan rhizome. Pengendalian  penyakit anthraknosa dapat digunakan naungan plastik sehingga mengurangi guyuran air hujan.

    Perbanyakan tanaman
    Perbanyakan tanaman dilakukan dengan rhizome bagian ujung sepanjang 5 - 15 cm tanpa daun atau dengan daun dan pemecahan rumpun tanaman yaitu panjang 12,5  paling sedikit 3 bagian ujung tanaman. Pemecahan rumpun dilakukan bila rumpun sudah padat dan diperlukan pembongkaran, berkisar 4 tahun penanaman.

    Panen dan Pascapanen
    Daun yang dipanen yaitu daun yang sudah berwarna hijau gelap, membuka sempurna dan cukup tua. Daun yang belum dewasa dan belum membuka sempurna mempunyai kualitas yang rendah dan mudah rusak.

    Tahapan penanganan pascapanen:
    • Penerimaan hasil panen
    • Pencucian dengan air
    • Bulu-bulu halus yang melekat di tangkai daun dan kotoran-kotoran lain di daun dibersihkan secara perlahan-lahan dalam bak air bersih
    • Pencelupan dengan fungisida dan penirisan
    • Daun yang sudah dicuci dicelupkan dalam larutan fungisida selama 10 detik  kemudian dikibaskan dan ditiriskan diatas rak kawat selama semalam dengan tangkai daun masuk dalam bak perendaman agar tetap segar.
    • Sortasi dan grading
    • Daun disortasi dikelompokkan sesuai dengan ukuran dan kelas sesuai standard mutu produk. Setelah disortasi daun dikelompokkan berdasarkan ukuran dengan menggunakan alat ukur. Daun yang sudah dikelompokkan diikat dengan karet, 10 tangkai/ikat dan diberi tanda karet yang berbeda warna sesuai dengan kelas mutu S (panjang daun 45 - 50 cm), M (panjang daun 51 - 55 cm), L (panjang daun 56 - 60 cm) dan XL (panjang daun > 60 cm) dengan kondisi daun tidak cacat, bebas dari hama penyakit,spora dan benda asing lainnya.
    Pengawasan mutu
    Petugas mutu memeriksa ulang setiap daun berdasarkan kelas mutu yang meliputi keberadaan OPT, spora, kerusakan fisik, residu pestisida dan ketuaan daun. Daun yang tidak memenuhi standard mutu dipisahkan.

    Pengemasan dan pelabelan
    Daun yang telah lolos pengawasan mutu dikemas menggunakan plastik transparan berlubang disesuaikan dengan ukurannya,  dalam satu plastik diisi 2 ikat. Setelah daun dikemas dalam plastik, kemudian dimasukkan dalam kardus berukuran 75x51x34 cm sesuai dengan kelas mutu.
    Isi dalam tiap kardus berbeda tergantung kelas mutu (S=100 ikat, M= 90 ikat, L= 80 ikat, XL= 70 ikat). Kardus ditutup dengan menggunakan lakban sehingga rapat dan diberi label yang berisi informasi tentang nama produk, jumlah, kelas mutu, waktu panen dan nama produsen. 

    Penyimpanan
    Kardus yang telah berisi daun dikelompokkan sesuai dengan kelas mutu dan disusun sedemikian rupa sehingga ada rongga di antara susunan kardus. Suhu ruang penyimpanan diatur 2-8C dan kelembaban 85-90%. 
    Pengiriman
    Kardus disusun dalam mobil box berpendingin dengan rapi sesuai dengan kapasitas mobil. Suhu mobil box diatur 10-15C dengan kelembaban 85-90%. Untuk pengiriman jarak jauh dapat dilakukan lewat kargo udara atau kapal laut.

    Pencatatan 
    Semua kegiatan budidaya dan penanganan pascapanen dicatat dalam buku secara konsisten.  Pencatatan dimaksudkan untuk koreksi terhadap kesalahan atas tindakan terkait dengan budidaya dan penanganan pascapanen.  Kegiatan ini ditujukan untuk upaya perbaikan berkelanjutan di dalam budidaya dan pascapanen.(irm)

  • BERITA TERKAIT
    • Mengenal Istilah-istilah yang Biasa Dipakai Dalam Dunia Teknologi Benih

      23 Agustus 2019
      Dalam dunia teknologi perbenihan dikenal berbagai istilah yang sudah biasa digunakan. Tetapi masih banyak kalangan yang belum mengetahui secara detail maksud dari istilah tersebut.Kali ini dibahas rincian atau deskripsi darivpenggunaan istilah-istilah dalam dunia perbenihan terutama yang menggunakan teknologi kultur jaringan tanaman.Aklimatisasi, aklimatisasi adalah proses adaptasi dan pemindahan tanaman hasil kultur in
    • Launching Inovasi Unggulan dan Penyerahan Royalti Kepada Inventor Balitbangtan

      22 Agustus 2019
      Bertempat di Auditorium Ir. Sadikin Sumintawikarta, Jl. Tentara Pelajar No. 2 Bogor Kamis 22 Agustus 2019 dilaksanakan Launching Inovasi Unggulan Balitbangtan.Mewakili Menteri Pertanian RI, Kepala Balitbangtan Dr. Ir. Fadjry Djufry, M.Si. secara resmi membuka acara tersebut. Selain launching inovasi unggulan Balitbangtan pada kesempatan yang sama dilaksanakan pula penyerahan royalti secara simbolis kepada inventor Balitbangtan yang dilaksanakan
    • Varietas Krisan Kineta

      22 Agustus 2019
      Kineta termasuk salah satu varietas dari komoditas krisan yang telah dihasilkan Balai Penelitian Tanaman Hias, deskripsi varietas ini diantaranya memiliki tinggi Tanaman 95 - 97 cm,Bentuk penampang batang : bulat dengan jumlah ruas batang 36 - 41 ruas pertanaman.Jumlah kuntum bunga 19 - 27 kuntum dengan diameter kuntum bunga
    • Peringatan HUT RI ke74 dan HUT Balithi ke-25

      21 Agustus 2019
      Peringatan hari ulang tahun (HUT) Balithi ke-25 dilaksanakan di area Balithi pada tanggal 21 Agustus 2019.Perayaan dimeriahkan dengan lomba jalan santai yang diikuti oleh seluruh karyawan, siswa dan mahasiswa praktik, dharma wanita dan para pekarya kebun; pembagian doorprize dan hiburan lainnya.Dalam pembukaan lomba jalan santai, Kepala Balithi menyampaikan bahwa kegiatan ini dilaksanakan semata-mata untuk mempererat tali
    • Penanaman Krisan

      21 Agustus 2019
      Untuk tanaman produksi bunga potong, bahan tanam berupa stek krisan berakar dapat ditanam pada lahan bedengan dengan jarak tanam 12,5 x 12,5 cm (kerapatan tanam 64 tanaman/m2),  setelah sebelumnya dibuat lobang tanam dengan menggunakan bambu atau kayu penugal, sedangkan untuk kebun tanaman induk produksi stek, stek berakar ditanam dengan kerapatan 25 hingga 40 tanaman/m2. Faktor kelembaban media tanam perlu mendapat perhatian dalam pertanaman
    • sosialisasi peningkatan SDM Perbenihan Tanaman Hias

      20 Agustus 2019
      Sosialisasi peningkatan Kompetensi SDM Dalam Mendukung Perbenihan tanaman hias berkualitas sesuai peraturan dilaksanakan di aula Balai Penelitian Tanaman Hias pada hari selasa 20 Agustus 2019.Pertemuan tersebut dihadiri oleh Kepala Balai Penelitian Tanaman Hias, Ir, Rudy Soehendi, MP., Ph.D., Prof(R). Dr. Budi Marwoto, MS., Evi Dwi Sulistya Nugroho, SP., MSi., para peneliti Balai Penelitian Tanaman Hias serta seluruh pengelola Unit Pengelolaan Benih
    • Launching Perpustakaan dan Aplikasi SILAK BALITBANGTAN

      18 Agustus 2019
      Menurut Undang-Undang Nomor 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan, disebutkan bahwa Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesiona l dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka. Selanjutnya disebutkan pula bahwa Perpustakaan khusus adalah perpustakaan yang diperuntukkan secara terbatas bagi pemustaka di lingkungan lembaga pemerintah,