• BUDIDAYA & PASCAPANEN LEATHERLEAF FERN (RUMOHRA ADIANTIFORMIS)
  • ditulis tgl : 30 Mei 2019, telah dibaca sebanyak : 232 kali


    Gambar malas ngoding

    Leatherleaf fern atau Pakis adalah jenis paku-pakuan dengan nama latin Rumohra adiantiformis (G. Forst.) Ching, tergolong dalam famili Polypodiaceae, berasal dari daerah tropis di Amerika tengah dan selatan, Afrika selatan, Madagascar, New Zealand dan Australia. Tanaman ini tergolong tanaman hias yang dimanfaatkan sebagai daun potong.
    Lingkungan tumbuh yang dikehendaki yaitu ketinggian tempat 850-1800 m dpl, suhu 19-27° C, kelembaban relatif 80-90%, intensitas cahaya  berkisar 5000 lux, dan pH tanah 5,5-6,0.
    Persiapan konstruksi naungan
    Intensitas cahaya yang sesuai berkisar  5000 lux, ini dapat dirancang dengan penggunaan naungan net sekitar 75% atau intensitas cahaya yang diterima tanaman 25%. Untuk menjaga keawetan net maka sambungan antar net harus dijahit rapat dengan menggunakan benang khusus dan diberikan penopang kawat bentuk diagonal yang dikaitkan pada tiang penyangga bangunan.
    Di daerah dengan curah hujan tinggi digunakan naungan plastik UV di bawah net.  Bila digunakan plastik UV di  bawah net maka kerapatan net sebaiknya sekitar 55%.
    Persiapan lahan, Pembuatan bedeng tanaman dan Persiapan tanam
    Lahan diolah dengan cara digemburkan pada kedalaman 15 cm. Ukuran bedeng penanaman yaitu lebar 100-120 cm, tinggi 10-15 cm  diatas permukaan tanah. Pupuk kandang yang sudah matang diberikan pada awal penanaman dengan takaran 2 ton/ha/tahun atau 2 kg/m2/tahun, dan pemberian pupuk kandang dapat diulang setiap tahun. Jarak antar bedeng yaitu 40-60 cm. Tanaman toleran pada pH 5.0-6.0 pH tanah dapat diatur dengan memberikan  dolomit dengan takaran 1120 kg/ha/tahun dan diberikan setiap 3 bulan.
    Bedengan dengan lebar 1 m diisi 3 tanaman, sedang bedengan dengan lebar 1,20 cm diisi 4 tanaman atau jarak antar tanaman 30,5 cm x 30,5 cm. Penanaman dengan menggunakan rhizome dilakukan pada kedalaman tanam 1,3 cm di bawah permukaan tanah, sedangkan rumpun berakar ditanam dengan kedalaman 2,5 cm di bawah permukaan tanah. 

    Pemupukan
    Selain pupuk kandang diberikan pula pupuk buatan berupa Urea, ZA, SP36, KCl dan pupuk mikro. Takaran Urea yaitu 40 kg/ha/tahun, ZA 44 kg/ha/tahun, SP36 39 kg/ha/tahun, KCl 46 kg/ha/tahun, diberikan setiap bulan satu kali. Pupuk mikro diberikan 1 g/l setiap minggu 1 kali.

    Pemberian mulsa
    Pemberian mulsa daun bambu sebanyak 0,5 karung/m2/tahun akan menambah bahan organik. Pemberian Gliocompost akan mempercepat pelapukan daun bambu menjadi bahan organik.

    Irigasi 
    Irigasi yang dianjurkan adalah irigasi dengan sistem springkle volume 5-7 liter/m2. Jika menggunakan alat pengukur kadar air tanah tensiometer, maka penyiraman dimulai pada saat pembacaan antara 20-25 kpa dan dihentikan apabila tensiometer sudah terbaca -10 kpa.

    Pengendalian hama dan penyakit
    Penyakit utama yang menyerang tanaman adalah Cylindrocladium, mempunyai gejala bercak kuning pada daun dan makin lama daun berubah menjadi coklat kemerahanan hingga coklat gelap. Sedangkan penyakit bercak daun anthraknosa yang disebabkan oleh Colletotrichum gloeosporioides memiliki gejala layu pada pucuk daun dan daun tidak mau berkembang sempurna . Selain menyerang daun, Cylindrocladium juga menyerang batang dan rhizome. Pengendalian  penyakit anthraknosa dapat digunakan naungan plastik sehingga mengurangi guyuran air hujan.

    Perbanyakan tanaman
    Perbanyakan tanaman dilakukan dengan rhizome bagian ujung sepanjang 5 - 15 cm tanpa daun atau dengan daun dan pemecahan rumpun tanaman yaitu panjang 12,5  paling sedikit 3 bagian ujung tanaman. Pemecahan rumpun dilakukan bila rumpun sudah padat dan diperlukan pembongkaran, berkisar 4 tahun penanaman.

    Panen dan Pascapanen
    Daun yang dipanen yaitu daun yang sudah berwarna hijau gelap, membuka sempurna dan cukup tua. Daun yang belum dewasa dan belum membuka sempurna mempunyai kualitas yang rendah dan mudah rusak.

    Tahapan penanganan pascapanen:
    • Penerimaan hasil panen
    • Pencucian dengan air
    • Bulu-bulu halus yang melekat di tangkai daun dan kotoran-kotoran lain di daun dibersihkan secara perlahan-lahan dalam bak air bersih
    • Pencelupan dengan fungisida dan penirisan
    • Daun yang sudah dicuci dicelupkan dalam larutan fungisida selama 10 detik  kemudian dikibaskan dan ditiriskan diatas rak kawat selama semalam dengan tangkai daun masuk dalam bak perendaman agar tetap segar.
    • Sortasi dan grading
    • Daun disortasi dikelompokkan sesuai dengan ukuran dan kelas sesuai standard mutu produk. Setelah disortasi daun dikelompokkan berdasarkan ukuran dengan menggunakan alat ukur. Daun yang sudah dikelompokkan diikat dengan karet, 10 tangkai/ikat dan diberi tanda karet yang berbeda warna sesuai dengan kelas mutu S (panjang daun 45 - 50 cm), M (panjang daun 51 - 55 cm), L (panjang daun 56 - 60 cm) dan XL (panjang daun > 60 cm) dengan kondisi daun tidak cacat, bebas dari hama penyakit,spora dan benda asing lainnya.
    Pengawasan mutu
    Petugas mutu memeriksa ulang setiap daun berdasarkan kelas mutu yang meliputi keberadaan OPT, spora, kerusakan fisik, residu pestisida dan ketuaan daun. Daun yang tidak memenuhi standard mutu dipisahkan.

    Pengemasan dan pelabelan
    Daun yang telah lolos pengawasan mutu dikemas menggunakan plastik transparan berlubang disesuaikan dengan ukurannya,  dalam satu plastik diisi 2 ikat. Setelah daun dikemas dalam plastik, kemudian dimasukkan dalam kardus berukuran 75x51x34 cm sesuai dengan kelas mutu.
    Isi dalam tiap kardus berbeda tergantung kelas mutu (S=100 ikat, M= 90 ikat, L= 80 ikat, XL= 70 ikat). Kardus ditutup dengan menggunakan lakban sehingga rapat dan diberi label yang berisi informasi tentang nama produk, jumlah, kelas mutu, waktu panen dan nama produsen. 

    Penyimpanan
    Kardus yang telah berisi daun dikelompokkan sesuai dengan kelas mutu dan disusun sedemikian rupa sehingga ada rongga di antara susunan kardus. Suhu ruang penyimpanan diatur 2-8°C dan kelembaban 85-90%. 
    Pengiriman
    Kardus disusun dalam mobil box berpendingin dengan rapi sesuai dengan kapasitas mobil. Suhu mobil box diatur 10-15°C dengan kelembaban 85-90%. Untuk pengiriman jarak jauh dapat dilakukan lewat kargo udara atau kapal laut.

    Pencatatan 
    Semua kegiatan budidaya dan penanganan pascapanen dicatat dalam buku secara konsisten.  Pencatatan dimaksudkan untuk koreksi terhadap kesalahan atas tindakan terkait dengan budidaya dan penanganan pascapanen.  Kegiatan ini ditujukan untuk upaya perbaikan berkelanjutan di dalam budidaya dan pascapanen.(irm)
    • 18 Juni 2019

      Gliocompost


      GLIOCOMPOST memilik bahan Aktif Gliocladium sp dan Mikrob penambat unsur hara, Pupuk hayati ini berfungsi sebagai biopestisida yang dapat membantu petani dalam meningkatkan produktivitas dan menanggulangi berbagai penyakit tanaman diantaranya mampu mengendalikan Layu Fusarium sp., Phomopsis sclerotioides, Pythium, Rhizoctonia solani dan Sclerotinia sclerotiorum pada tanaman hias, sayuran dan buah.

      Keunggulan pupuk ini
    • 17 Juni 2019

      Tapeinochilos ananassae


      Tanaman ini termasuk herba perenial yang mempunyai rhizoma tidak aromatik. Tinggi tanaman bisa mencapai 2 - 4 m Rhizoma berdaging. Daun tersusun spiral, dengan lamina tunggal, berbentuk lonjong dengan permukaan daun licin. Cabang udara sekunder muncul dari ketiak daun dan selanjutnya akan muncul pula cabang udara tersier dari cabang sekunder dan akan berakhir dengan cabang udara kwarter yang muncul dari cabang  tersier. Daun terkonsentrasi pada batang bagian
    • 16 Juni 2019

      Anthurium reflexinervum


      Anthurium reflexinervum termasuk kedalam famili Araceae, sebaran geografis tanaman hias ini mencakup Negara Peru dan Ecuador, kondisi saat ini sudah termasuk langka.

      Tumbuhan ini merupakan herba semi perennial. Tinggi tanaman bisa mencapai  50-60 cm dengan batang yang relatif sangat pendek. Spesies ini unik karena memiliki daun yang sangat dramatik, kerutannya kuat dan indah. Tumbuhan ini langka sehingga sangat
    • 14 Juni 2019

      Krisan Pot, bag. 2 (2/2)


      Penananan
      Untuk pot berdiameter 15 cm, tiap pot ditanam 5-6 setek Setek ditanam dangkal pada media, sehingga akar tanaman hanya sedikit tertutup tanah. Bentuk tanaman yang baik diperoleh jika setek ditanam menyudut, sehingga tanaman dapat tumbuh menyandar dan keluar dari pinggiran pot.

      Pemupukan
      Pemupukan harus segera diberikan pada media tanam  setelah setek dipindah ke pot. Pemupukan dapat dilakukan bersama air
    • 13 Juni 2019

      Krisan Pot, bag. 1 (1/2)


      Krisan pot merupakan tanaman pot yang paling populer diantara tanaman pot berbunga lain.Tanaman ini mempunyai keunggulan antara lain dapat diproduksi sepanjang tahun, waktu produksi dan pembungaan dapat diatur, penanganan tanaman dan kontrol kualitas  relatif mudah sebab mempunyai umur keragaan yang cukup lama.
      12 Juni 2019

      Teknologi Perbanyakan Anyelir (Dianthus caryophyllus L.) secara In Vitro melalui Inisiasi dan Proliferasi Tunas Adventif, bag. 2 (2/2)


      Tanaman donor yang digunakan adalah D. caryophyllus  ‘Maldives’ dalam bentuk stek tunas lateral yang berumur +- 6 bulan. Stek ditanam dalam polybag (diameter 20 cm) yang berisi campuran arang sekam dan humus (1:1, v/v) dan ditempatkan dalam rumah kaca.
      Tanaman donor dipelihara melalui melalui penyiraman dan pemupukan. Pupuk cair (2 g/l NPK 20:15:15) diaplikasikan setiap 3 hari sekali.
      Aplikasi pestisida untuk tujuan pengendalian hama dan penyakit
    • 11 Juni 2019

      Teknologi Perbanyakan Anyelir (Dianthus caryophyllus L.) secara In Vitro melalui Inisiasi dan Proliferasi Tunas Adventif, bag. 1 (1/2)


      Anyelir (Dianthus caryophyllus L.) merupakan salah satu bunga potong penting yang dibudidayakan di seluruh dunia dan masuk dalam peringkat puncak bunga potong dunia (Duhoky et al., 2009). 
      Bunga anyelir memiliki bentuk yang menarik, variasi ukuran, kaya warna baik tunggal maupun banyak warna (multicolors) dengan daya simpan yang cukup lama (Danial et al., 2009), namun pengembangan tanaman ini, termasuk di Indonesia sering diperhadapkan pada masalah keterbatasan