• PERBANYAKAN TANAMAN SECARA IN VITRO
  • ditulis tgl : 29 Mei 2019, telah dibaca sebanyak : 238 kali


    Gambar malas ngoding
    Perbanyakan tanaman secara in vitro (kultur jaringan tanaman) adalah sebuah kegiatan menjaga dan menumbuhkan jaringan (kalus, sel, protoplas) dan organ tanaman (daun, tunas pucuk/lateral, batang, akar dan embrio) pada kondisi aseptik (Hartmann et al., 1997; George et al., 2007). Teknik ini digunakan untuk berbagai tujuan seperti: memperbanyak tanaman, memodifikasi genotype tanaman, memproduksi biomasa dan metabolit sekunder, mempelajari patologi tanaman, konservasi plasma nutfah dan penelitian-penelitian ilmiah lainnya. Teknik ini juga telah diaplikasikan pada berbagai jenis tanaman, baik tanaman semusim maupun menahun, tanaman herbaceous maupun berkayu. Aplikasi perbanyakan tanaman secara in vitro ini memiliki kelebihan dan kelemahan (Suryowinoto, 1996; Hartmann et al., 1997; George et al., 2007). 

    Kelebihan perbanyakan tanaman secara in vitro, diantaranya:
    • Menggunakan potongan-potongan kecil dari bagian tanaman (daun, tunas, batang, akar, kalus, sel) untuk menghasilkan tanaman baru yang utuh.
    • Membutuhkan ruang yang kecil, energi dan tenaga yang lebih efisien untuk menjaga, menumbuhkan dan meningkatkan jumlah tanaman
    • Karena perbanyakan tanaman dilakukan dalam kondisi aseptik, bebas dari pathogen, maka saat kultur tanaman berhasil dilakukan tidak akan terjadi kehilangan tanaman karena serangan penyakit dan tanaman yang dihasilkan dari kultur jaringan (pada kondisi tertentu) juga bebas dari bakteri, jamur dan mikroorganisme pengganggu yang lain.
    • Dengan metode khusus (kultur meristem), teknik ini dapat digunakan untuk menghasilkan tanaman yang bebas dari virus.
    • Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman, seperti: nutrisi (media), konsentrasi zat pengatur pertumbuhan (ZPT), kadar gula, cahaya, temperatur, kelembaban, dll. lebih mudah diatur.  
    • Dapat diaplikasikan pada berbagai jenis tanaman yang memiliki pertumbuhan yang lambat dan sulit diperbanyak secara vegetatif.
    • Produksi tanaman menggunakan teknik ini dapat dilakukan sepanjang tahun tanpa tergantung oleh perubahan musim.
    • Dapat menyimpan tanaman hasil perbanyakan dalam waktu yang lama

    Kelemahan perbanyakan tanaman secara in vitro:
    • Membutuhkan ketrampilan yang memadahi, peralatan, bahan dan biaya yang mahal, serta sarana pendukung yang mencukupi, Membutuhkan metode yang khusus dan optimum untuk menunjang keberhasilan aplikasinya pada tiap species dan tanaman,
    • Meski dapat menghasilkan tanaman dalam jumlah yang banyak dari bagian kecil tanaman, pada kondisi tertentu dapat menghasilkan adanya penyimpangan karakter-karakter tanaman (undesirable characteristics) dan kelainan genetik (genetic abberant),
    • Mengingat tanaman hasil kultur in vitro terbiasa tumbuh pada medium yang cukup dengan sumber karbon, kelembaban yang tinggi dan memiliki kemampuan fotosintesis yang rendah, maka untuk memindahkan tanaman dari kondisi in vitro ke kondisi ex vitro diperlukan proses aklimatisasi dan adaptasi agar tanaman tidak mudah mati akibat kehilangan air dan dapat tumbuh normal pada kondisi ex vitro. 

    Tahapan dalam perbanyakan tanaman secara in vitro dibagi dalam 5 tahapan, yaitu: (1) seleksi tanaman induk dan penyiapannya, (2) kultur aseptik, (3) perbanyakan/penggandaan propagule (kalus/tunas/embrio), (4) pengakaran dan (5) aklimatisasi plantlets. Dari ke-5 tahapan tersebut, kultur aseptik merupakan tahapan paling kritikal dan sulit dalam perbanyakan tanaman secara in vitro. Selanjutnya dalam perbanyakan tanaman secara in vitro, tidak semua jenis tanaman memerlukan ke-5 tahapan tersebut. Pada tanaman tertentu (krisan, anyelir) tahap pengakaran tidak diperlukan. 

    Keberhasilan perbanyakan tanaman tanaman secara in vitro  dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya: genotype tanaman; jenis, asal dan umur eksplan; media, zat pengatur tumbuh (ZPT), sumber karbon, bahan aditif, cahaya, suhu, kelembaban, dll. (Debergh dan Zimmerman, 1991; Hartmann et al., 1997; George et al., 2007). 
    Selain itu, keberhasilan kultur jaringan tanaman juga dipengaruhi oleh tersedianya sumber tanaman dan eksplan yang cukup. (irm)
    • 18 Juni 2019

      Gliocompost


      GLIOCOMPOST memilik bahan Aktif Gliocladium sp dan Mikrob penambat unsur hara, Pupuk hayati ini berfungsi sebagai biopestisida yang dapat membantu petani dalam meningkatkan produktivitas dan menanggulangi berbagai penyakit tanaman diantaranya mampu mengendalikan Layu Fusarium sp., Phomopsis sclerotioides, Pythium, Rhizoctonia solani dan Sclerotinia sclerotiorum pada tanaman hias, sayuran dan buah.

      Keunggulan pupuk ini
    • 17 Juni 2019

      Tapeinochilos ananassae


      Tanaman ini termasuk herba perenial yang mempunyai rhizoma tidak aromatik. Tinggi tanaman bisa mencapai 2 - 4 m Rhizoma berdaging. Daun tersusun spiral, dengan lamina tunggal, berbentuk lonjong dengan permukaan daun licin. Cabang udara sekunder muncul dari ketiak daun dan selanjutnya akan muncul pula cabang udara tersier dari cabang sekunder dan akan berakhir dengan cabang udara kwarter yang muncul dari cabang  tersier. Daun terkonsentrasi pada batang bagian
    • 16 Juni 2019

      Anthurium reflexinervum


      Anthurium reflexinervum termasuk kedalam famili Araceae, sebaran geografis tanaman hias ini mencakup Negara Peru dan Ecuador, kondisi saat ini sudah termasuk langka.

      Tumbuhan ini merupakan herba semi perennial. Tinggi tanaman bisa mencapai  50-60 cm dengan batang yang relatif sangat pendek. Spesies ini unik karena memiliki daun yang sangat dramatik, kerutannya kuat dan indah. Tumbuhan ini langka sehingga sangat
    • 14 Juni 2019

      Krisan Pot, bag. 2 (2/2)


      Penananan
      Untuk pot berdiameter 15 cm, tiap pot ditanam 5-6 setek Setek ditanam dangkal pada media, sehingga akar tanaman hanya sedikit tertutup tanah. Bentuk tanaman yang baik diperoleh jika setek ditanam menyudut, sehingga tanaman dapat tumbuh menyandar dan keluar dari pinggiran pot.

      Pemupukan
      Pemupukan harus segera diberikan pada media tanam  setelah setek dipindah ke pot. Pemupukan dapat dilakukan bersama air
    • 13 Juni 2019

      Krisan Pot, bag. 1 (1/2)


      Krisan pot merupakan tanaman pot yang paling populer diantara tanaman pot berbunga lain.Tanaman ini mempunyai keunggulan antara lain dapat diproduksi sepanjang tahun, waktu produksi dan pembungaan dapat diatur, penanganan tanaman dan kontrol kualitas  relatif mudah sebab mempunyai umur keragaan yang cukup lama.
      12 Juni 2019

      Teknologi Perbanyakan Anyelir (Dianthus caryophyllus L.) secara In Vitro melalui Inisiasi dan Proliferasi Tunas Adventif, bag. 2 (2/2)


      Tanaman donor yang digunakan adalah D. caryophyllus  ‘Maldives’ dalam bentuk stek tunas lateral yang berumur +- 6 bulan. Stek ditanam dalam polybag (diameter 20 cm) yang berisi campuran arang sekam dan humus (1:1, v/v) dan ditempatkan dalam rumah kaca.
      Tanaman donor dipelihara melalui melalui penyiraman dan pemupukan. Pupuk cair (2 g/l NPK 20:15:15) diaplikasikan setiap 3 hari sekali.
      Aplikasi pestisida untuk tujuan pengendalian hama dan penyakit
    • 11 Juni 2019

      Teknologi Perbanyakan Anyelir (Dianthus caryophyllus L.) secara In Vitro melalui Inisiasi dan Proliferasi Tunas Adventif, bag. 1 (1/2)


      Anyelir (Dianthus caryophyllus L.) merupakan salah satu bunga potong penting yang dibudidayakan di seluruh dunia dan masuk dalam peringkat puncak bunga potong dunia (Duhoky et al., 2009). 
      Bunga anyelir memiliki bentuk yang menarik, variasi ukuran, kaya warna baik tunggal maupun banyak warna (multicolors) dengan daya simpan yang cukup lama (Danial et al., 2009), namun pengembangan tanaman ini, termasuk di Indonesia sering diperhadapkan pada masalah keterbatasan