PERBANYAKAN-TANAMAN-SECARA-IN-VITRO

  • PERBANYAKAN TANAMAN SECARA IN VITRO

  • ditulis tgl : 29 Mei 2019, telah dibaca sebanyak : 262 kali

    Share On Twitter

    Perbanyakan tanaman secara in vitro (kultur jaringan tanaman) adalah sebuah kegiatan menjaga dan menumbuhkan jaringan (kalus, sel, protoplas) dan organ tanaman (daun, tunas pucuk/lateral, batang, akar dan embrio) pada kondisi aseptik (Hartmann et al., 1997; George et al., 2007). Teknik ini digunakan untuk berbagai tujuan seperti: memperbanyak tanaman, memodifikasi genotype tanaman, memproduksi biomasa dan metabolit sekunder, mempelajari patologi tanaman, konservasi plasma nutfah dan penelitian-penelitian ilmiah lainnya. Teknik ini juga telah diaplikasikan pada berbagai jenis tanaman, baik tanaman semusim maupun menahun, tanaman herbaceous maupun berkayu. Aplikasi perbanyakan tanaman secara in vitro ini memiliki kelebihan dan kelemahan (Suryowinoto, 1996; Hartmann et al., 1997; George et al., 2007). 

    Kelebihan perbanyakan tanaman secara in vitro, diantaranya:
    • Menggunakan potongan-potongan kecil dari bagian tanaman (daun, tunas, batang, akar, kalus, sel) untuk menghasilkan tanaman baru yang utuh.
    • Membutuhkan ruang yang kecil, energi dan tenaga yang lebih efisien untuk menjaga, menumbuhkan dan meningkatkan jumlah tanaman
    • Karena perbanyakan tanaman dilakukan dalam kondisi aseptik, bebas dari pathogen, maka saat kultur tanaman berhasil dilakukan tidak akan terjadi kehilangan tanaman karena serangan penyakit dan tanaman yang dihasilkan dari kultur jaringan (pada kondisi tertentu) juga bebas dari bakteri, jamur dan mikroorganisme pengganggu yang lain.
    • Dengan metode khusus (kultur meristem), teknik ini dapat digunakan untuk menghasilkan tanaman yang bebas dari virus.
    • Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman, seperti: nutrisi (media), konsentrasi zat pengatur pertumbuhan (ZPT), kadar gula, cahaya, temperatur, kelembaban, dll. lebih mudah diatur.  
    • Dapat diaplikasikan pada berbagai jenis tanaman yang memiliki pertumbuhan yang lambat dan sulit diperbanyak secara vegetatif.
    • Produksi tanaman menggunakan teknik ini dapat dilakukan sepanjang tahun tanpa tergantung oleh perubahan musim.
    • Dapat menyimpan tanaman hasil perbanyakan dalam waktu yang lama

    Kelemahan perbanyakan tanaman secara in vitro:
    • Membutuhkan ketrampilan yang memadahi, peralatan, bahan dan biaya yang mahal, serta sarana pendukung yang mencukupi, Membutuhkan metode yang khusus dan optimum untuk menunjang keberhasilan aplikasinya pada tiap species dan tanaman,
    • Meski dapat menghasilkan tanaman dalam jumlah yang banyak dari bagian kecil tanaman, pada kondisi tertentu dapat menghasilkan adanya penyimpangan karakter-karakter tanaman (undesirable characteristics) dan kelainan genetik (genetic abberant),
    • Mengingat tanaman hasil kultur in vitro terbiasa tumbuh pada medium yang cukup dengan sumber karbon, kelembaban yang tinggi dan memiliki kemampuan fotosintesis yang rendah, maka untuk memindahkan tanaman dari kondisi in vitro ke kondisi ex vitro diperlukan proses aklimatisasi dan adaptasi agar tanaman tidak mudah mati akibat kehilangan air dan dapat tumbuh normal pada kondisi ex vitro. 

    Tahapan dalam perbanyakan tanaman secara in vitro dibagi dalam 5 tahapan, yaitu: (1) seleksi tanaman induk dan penyiapannya, (2) kultur aseptik, (3) perbanyakan/penggandaan propagule (kalus/tunas/embrio), (4) pengakaran dan (5) aklimatisasi plantlets. Dari ke-5 tahapan tersebut, kultur aseptik merupakan tahapan paling kritikal dan sulit dalam perbanyakan tanaman secara in vitro. Selanjutnya dalam perbanyakan tanaman secara in vitro, tidak semua jenis tanaman memerlukan ke-5 tahapan tersebut. Pada tanaman tertentu (krisan, anyelir) tahap pengakaran tidak diperlukan. 

    Keberhasilan perbanyakan tanaman tanaman secara in vitro  dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya: genotype tanaman; jenis, asal dan umur eksplan; media, zat pengatur tumbuh (ZPT), sumber karbon, bahan aditif, cahaya, suhu, kelembaban, dll. (Debergh dan Zimmerman, 1991; Hartmann et al., 1997; George et al., 2007). 
    Selain itu, keberhasilan kultur jaringan tanaman juga dipengaruhi oleh tersedianya sumber tanaman dan eksplan yang cukup. (irm)

  • BERITA TERKAIT
    • Launching Perpustakaan dan Aplikasi SILAK BALITBANGTAN

      18 Agustus 2019
      Menurut Undang-Undang Nomor 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan, disebutkan bahwa Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesiona l dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka. Selanjutnya disebutkan pula bahwa Perpustakaan khusus adalah perpustakaan yang diperuntukkan secara terbatas bagi pemustaka di lingkungan lembaga pemerintah,
    • Mengenal Tanaman Hias Cyperus alternifolius L.

      18 Agustus 2019
      Cyperus alternifolius L. merupakan tanaman semi-aquatik berasal dari Madagaskar (Les, 2003). Jenis ini menyebar dari Peninsula ke Afrika Utara, Afrika Selatan hingga KwaZuluNatal, kepulauan Laut Hindia dan Arabia. Kemudian jenis ini diintroduksi ke ke Asia Tenggara dan Asia Selatan, Australia, Asia Oceania, Amerika Utara, Tengah dan Selatan (The Board of Trustees of the Royal Botanic Gardens Kew, 2012).Informasi tentang variasi kromosom, diversitas dan
    • Mengenal Tanaman Hias Krisan Varietas Puspa Kayani

      17 Agustus 2019
      Krisan potong varietas Puspa Kayani merupakan salah satu produk yang dihasilkan Balai Penelitian Tanaman Hias yang memiliki tinggi tanaman 79.1 - 84.9 cm, mulai berbunga pada umur 88-93 hari setelah tanam.Bunga ini termasuk jenis bunga potong dengan tipe bunga spray, diameter kuntum bunga 8.14 - 9.29 cm, hasil bunga 12-14 kuntum/tanaman/musim, sehingga sangat cocok untuk dijadikan bunga rangkaian dalam vas atau dekorasi ruangan dan atau dekorasi
    • Florikultura Indonesia dan PEDATANI 2019

      15 Agustus 2019
      Guna memamerkan kekayaan alam florikultura Nasional dan mendorong kebangkitan industri florikultura Indonesia, maka gelaran Florikultura Indonesia menjadi agenda tahunan pemerintah.Tahun 2019 ini gelaran Florikultura Indonesia akan dilaksanakan bersamaan dengan Pekan Daerah Tani dan Nelayan (PEDATANI) pada tanggal 6-9 September 2019 di Komplek Perkantoran Balai Kota Air Pacah - Kota Padang - Sumatera Barat.Dengan tema
    • Perbanyakan Anggrek Phalaenopsis secara In Vitro

      14 Agustus 2019
      Perbanyakan anggrek Phalaenopsis secara in vitro melalui embryogenesis menggunakan tangkai bunga sebagai sumber eksplan telah dilakukan oleh beberapa peneliti. Chin (1987) menggunakan tangkai bunga untuk menginduksi protocorm like bodies (plbs) pada medium Vacin dan Went yang ditambah dengan 1 mg/l BA. Plbs dalam jumlah mencapai 10.000 berhasil diproduksi melalui subkultur berulang tunas pucuk yang dikultur pada medium New Dogasima (NDM) yang
    • Pengenalan Tanaman Hias Kepada Siswa SMP PB Soedirman Jakarta

      14 Agustus 2019
      Guna memperkenalkan dan sebagai bahan pembekalan terhadap generasi muda, siswa SMP Yayasan Masjid Panglima Besar Jenderal Soedirman Jakarta melakukan kunjungan ke Balai Penelitian Tanaman Hias pada hari Selasa, 13 Agustus 2019 yang diikuti 42 siswa dan 8 guru pendamping.Penerimaan dilaksanakan di Aula Balithi oleh Koordinator Program Penelitian Balithi, Dr. Dedeh Kurniasih yang mewakili Kepala Balithi, Koordinator penerimaan kerja praktik, Dr. Erniawati
    • Persiapan Florikultura Indonesia 2019

      13 Agustus 2019
      Rapat persiapan gelaran Florikultura Indonesia 2019 dilaksanakan di ruang pertemuan Balai Penelitian Tanaman Hias Senin 12 Agustus 2019, dipimpin oleh Kepala Balithi Ir. Rudy Soehendi, MP., PhD.Agenda yang dibahas dalam pertemuan tersebut diantaranya pematangan rencana kerja yang akan dilaksanakan dalam kegiatan Florikultura Indonesia 2019 diantaranya pembuatan desain stand pameran Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (BALITBANGTAN) yang akan diisi