KLASIFIKASI-DAN-DESKRIPSI-BOTANI-ASPLENIUM-NIDUS-L.

  • KLASIFIKASI DAN DESKRIPSI BOTANI ASPLENIUM NIDUS L.

  • ditulis tgl : 21 Mei 2019, telah dibaca sebanyak : 1041 kali

    Share On Twitter


    Sistem klasifikasi menurut Christenhusz dan Chase (2014) adalah sebagai berikut:
    Asplenium nidus termasuk dalam Kerajaan Plantae, Divisi Pteridophyta, Kelas Polipodiopsida, Bangsa Polypodiales, Suku Aspleniaceae, Marga Asplenium
    Jenis A. nidus L. dalam bangsa Polypodiales terdiri atas 26 suku di antaranya Aspleniaceae. 
    Marga Asplenium terdiri atas 115 jenis (Ohlsen et al. 2015). Aspleniaceae merupakan tumbuhan paku sejati, karena memiliki daun, batang, dan akarnya berupa rhizome yang berada di dalam tanah.
    A. nidus merupakan salah satu tumbuhan yang dalam siklus hidupnya mengalami metagenesis (pergiliran keturunan) antara fase gametofit dan fase sporofit.
    Pada metagenesis tumbuhan paku-pakuan, fase sporofit merupakan tumbuhan paku-pakuan itu sendiri, sedangkan pada fase gametofit berupa protalium (Fernandez & Revilla, 2003). Menurut Herrero et al. (2002) terbentuknya arkegonium pada perkecambahan gametangia A. nidus, pertama kali ditemukan di Kalimantan Barat oleh Murakami et al. (1999) dan selanjutnya oleh Yatabe et al. (2001) adalah sebagai bentuk gametofit.
    Daun tumbuhan paku yang menghasilkan spora disebut sporofil, sedangkan daun yang tidak menghasilkan spora tetapi berfungsi dalam proses fotosintesis disebut tropofil. Spora pada tumbuhan paku-pakuan dibentuk dalam kotak spora yang disebut sporangium. Pada umumnya sporangium tumbuh secara berkelompok dalam suatu bentuk sorus atau sori (jamak). 
    Pada A. nidus, sorus berbentuk seperti garis yang tersusun menyirip pada setiap helain daun. Sorus terletak di permukaan bawah daun, tersusun mengikuti venasi atau tulang daun dan berwarna cokelat tua (Kalsom, 2010).

    Perkecambahan spora A. nidus lebih mudah dan efektif bila ditumbuhkan secara in vitro. 
    Penelitian yang dilakukan di Yordania, spora A. nidus berhasil ditumbuhkan pada media MS yang diberi tambahan zat pengatur tumbuh kinetin 3 mg/l dan NAA 0,1 mg/l (Haddad & Bayerly, 2014), sedangkan Khan et al.  (2008) berhasil menumbuhkan spora dengan menggunakan media MS ditambah dengan zat pengatur tumbuh BAP 1-4 mg/l dan NAA 0,1-0,5 mg/l.

    Pada penelitian Nurchayati (2010) memperlihatkan bahwa perkecambahan pada spora cokelat tua menghasilkan benang-benang berklorofil yang terdiri atas 4-6 sel.
    Rizoid berkecambah pada sisi polar sedangkan benang berklorofil pada sisi ekuator.
    Pembentukan piringan berawal pada sel subterminal dari benang yang berkecambah pada hari ke 12 setelah semai (Herrero et al., 2002; Nurchayati, 2010), melalui pembelahan yang tidak simetris, rizoid terbentuk lagi pada sel-sel pangkal atau semi pangkal pada piringan.
    Gametofit muda berbentuk jantung panjang dan anteridium muda mulai terbentuk pada hari ke 60.
    Gametofit dewasa akan menghasilkan anteridium dewasa mulai umur 75 hari. Gametofit hermaprodit dan betina tidak ditemukan.
    Di alam sporofit muda sering terdapat menempel di pohon. Daun A. nidus berupa helaian-helaian yang tersusun melingkar dalam bentuk roset dan menyerupai sarang. Pembentukan daun dimulai dari terbentuknya tangkai dengan ujung yang menggulung berwarna cokelat, berukuran panjang berkisar antara 7-150 cm, lebar antara 3-30 cm. Bentuk ujung daun meruncing atau bulat, bentuk tepi daun rata dengan tekstur permukaan daun yang berombak dan mengkilat. Daun bagian bawah berwarna lebih pucat dengan garis-garis cokelat sepanjang anak tulang daun dan tersusun melingkar. Urat daun menyirip tunggal. Tulang daun menonjol di permukaan atas, dan hampir rata di permukaan bawah, berwarna cokelat tua pada daun yang tua. Tekstur daun seperti kertas

    Rhizome ditutupi oleh sisik yang halus, lebat, dan berwarna cokelat, dengan akar rimpang yang kokoh dan tegak. Tumbuhan paku-pakuan ini umumnya bersifat epifit, namun dapat tumbuh dan hidup pada tempat di mana terdapat bahan organik, dan menyukai naungan.(irm)

  • BERITA TERKAIT
    • FGD Evaluasi Kinerja Lembaga PUI: Nilai Kinerja Balithi Cukup Tinggi

      17 November 2019
      Focus Group Discussion (FGD) Evaluasi Kinerja Lembaga PUI Pemuliaan Tanaman Hias dilaksanakan di aula Balai Penelitian Tanaman Hias Sabtu 16 November 2019 dengan tim penilai Prof. Sudarsono sebagai Dewan Pakar PUI dan Dr. Lelya Narsi Koordinator PUI Pusat Kemenristek DIKTI.FGD Evaluasi Kinerja PUI Pemuliaan Tanaman hias ini dihadiri oleh pengelola PUI Pemuliaan Tanaman Hias Balithi, acara dipandu oleh Dr. Dedeh Kuniasih dan presentasi capaian kinerja 2019
    • BIMTEK KRISAN DATARAN RENDAH, KADISTAN CIANJUR: INI KESEMPATAN BUAT KITA

      11 November 2019
      Kegiatan bimbingan teknis dengan tema pengembangan rantai nilai perbenihan krisan dataran rendah inovasi terobosan untuk mendukung peningkatan daya saing industri florikultura berbasis sumber daya nasional dilaksanakan di Aula Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi) Senin 11 Nopember 2091 dan dibuka secara resmi oleh Kepala Balithi Ir. Rudy Soehendi, MP., Ph.D.Hadir dan turut memberikan sambutan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur Mamad Nano, SP.,
    • Bimtek dan Temu Lapang Pengembangan Rantai Nilai Perbenihan Krisan Dataran Rendah

      10 November 2019
      Guna mendiseminasikan inovasi teknologi yang telah dihasilkan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (BALITBANGTAN) akan mengelar kegiatan bimbingan teknis dan temu lapang dengan tema Pengembangan Rantai Nilai Perbenihan Krisan Dataran Rendah: Inovasi Terobosan yang Mendukung Peningkatan Daya Saing Industri Florikultura Berbasis Sumber Daya Nasional.Kegiatan bimbingan teknis akan diselenggarakan di aula Balai Penelitian Tanaman Hias pada Senin 11
    • Balitbangtan Melaksanakan Panen Perdana di Lokasi Demfarm SERASI

      06 November 2019
      Info Balitbangtan - Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melaksanakan Panen Perdana Padi dilaksanakan di Demfarm SERASI, Desa Jejangkit Muara, Kec. Jejangkit, Kab. Barito Kuala, Kalimantan Selatan, pada tanggal 6 Nopember 2019. Panen Perdana Padi secara simbolis dilakukan oleh Menteri Pertanian RI yang diwakili oleh Kepala Balitbangtan Dr. Fadjry Djufry.Dalam wawancaranya Dr. Fadjry Djufry mengatakan bahwa Balitbangtan telah
    • Sejarah Perkembangan Krisan: Lebih dari 100 varietas krisan dihasilkan Balithi

      05 November 2019
      Krisan dibudidayakan di Jepang sekitar abad ke 8 SM. Di Jepang terdapat Hari Krisan Nasional atau disebut dengan Festival of Happiness. Tahun 797 bunga krisan dijadikan sebagai simbol kekaisaran Jepang dengan sebutan Queen of The East. Pada abad kesembilan Masehi, Kaisar Uda mendirikan Taman Kerajaan di mana berbagai jenis krisan terus dikembangkan. Pada tahun 1910, krisan diproklamasikan sebagai bunga nasional. Tidak sampai pertengahan
    • NURFITRI Varietas Gladiol Dataran Medium

      31 Oktober 2019
      Nurfitri merupakan salah satu varietas gladiol yang adaptif untuk di budidayakan pada daerah dataran medium hingga tinggi dengan ketinggian tempat antara 600 - 1400 meter dari permukaan laut.Mulai berbunga pada umur 45-60 hari setelah tanam, dan pemanenan dapat dilakukan pada umur 73-96 hari setelah tanam, varietas Nurfitri memiliki kerapatan bunga yang saling bersentuhan antar kuntumnya.Diameter bunga varietas ini kisaran 8,5 -
    • Tirta Ayuni Krisan Dengan Hasil 13 Kuntum Per Tanaman

      28 Oktober 2019
      Tirta Ayuni merupakan varietas krisan yang adaptif ditanam di daerah dengan ketinggian tempat antara 700 - 1200 meter dari permukaan laut. Dengan warna bunga pita putih agak salem dan bunga tabung hijau cerah Tirta Ayuni termasuk jenis bunga potong dengan tipe spray dan bentuk bunga single.Tinggi tanaman krisan varietas Tirta Ayuni antara 109 - 111 cm, diameter bunga 6.1 - 6.9  cm, lama kesegaran bunga ini 11 - 12 hari dalam vase yang