• PHILODENDRON XANADU
  • ditulis tgl : 13 Mei 2019, telah dibaca sebanyak : 100 kali


    Gambar malas ngoding
    P. xanadu tergolong subgenus Meconostigma, satu dari tiga subgenus pada genus Philodendron pada family Araceae, bersama-sama dengan P. bipinnatifidum dan P. undulatum.  Spesies-spesies Philodendron banyak hidup sebagai epifit dan hemiepifit pada kondisi alami dan dalam nomenklatur taksonomi tumbuhan, genus Philodendron diperkenalkan pertama kali oleh Schott pada tahun 1829, yang kemudian direvisi oleh Mayo (1991) dan Goncalves and Salviani (2002).  
    P. xanadu termasuk dalam Kingdom : Plantae, Divisi : Angiospermae, Subdivisi : Monocotiledonae, Ordo : Alismatales, Family : Araceae, Subfamili : Aroideae, Genus : Philodendron, Subgenus Meconostigma, Species : P. xanadu Croat, Mayo and J. Boos. Genus philodendron merupakan genus yang mempunyai anggota spesies terbesar kedua setelah anthurium pada family Araceae.
    Tanaman P. xanadu tumbuh menyemak dengan tipe tumbuh dominansi apikal terminal yang kuat.  Apikal baru dapat muncul dari mata tunas yang ada pada setiap ketiak pelepah daun.  Pada kondisi alami, tanaman mampu tumbuh hingga tinggi mencapai 1 meter dengan diameter lingkar helaian daun mencapai lebih dari 120 cm.   Bentuk keseluruhan daun berbentuk elliptic/oval, lembaran daun agak tebal, berwarna hijau dengan tepi daun berlekuk dan mempunyai susunan tulang daun menyirip.  Tanaman P. xanadu mempunyai variasi daun juvenile dan dewasa yang berbeda.  Daun pada fase juvenile berukuran lebih kecil dengan lekukan margin/tepi dan venasi daun lebih sedikit, dibandingkan dengan daun pada tanaman yang telah memasuki fase dewasa.
    P. xanadu tergolong tanaman berumah satu (monoceous) dimana organ reproduksi jantan dan betina terdapat pada bunga/individu yang sama.  Tongkol P. xanadu terbagi menjadi tiga bagian yaitu bunga jantan, betina dan steril.  
    Awalnya tanaman ini diduga sebagai hibrida P. bipinnatifidum dan kemudian diberi nama Philodendron Winterbourn.  Tanaman ini kemudian dilindungi oleh undang-undang perlindungan tanaman (Plant Breeder Rights-PBR) di Australia.  Tanaman ini diberikan nama kembali menjadi Philodendron Xanadu oleh House of Plant Australia pada tahun 1988.  Tanaman ini menjadi terkenal di Amerika Serikat dengan nama Winterbourn pada 19 Januari 1988.  Perbanyakan secara besar-besaran untuk tujuan komersial tanaman hias di Amerika Serikat kemudian menjadi faktor penyebaran tanaman ini daratan Eropa dan Asia. 

    Tanaman P. xanadu banyak digunakan sebagai tanaman hias dan belum terdapat laporan secara spesifik perihal penggunaan tanaman untuk keperluan lainnya.  Pada hampir semua spesies Philodendron, tanaman mempunyai kandungan kristal calcium oxalate.  Pada setiap spesies dan organ, level kandungan berbeda satu sama lain.  Zat ini bersifat racun bagi hewan vertebrata dan bagi manusia, akan menyebabkan iritasi dan gatal pada kulit.  Bila senyawa in tertelan atau terhirup akan menyebabkan gangguan pernafasan dan pencernaan.

    Philodendron xanadu umumnya diperdagangkan dalam bentuk tanaman hias dalam pot untuk interior dan landscape atau berupa daun potong.  Di beberapa tempat sentra produksi tanaman hias daun potong seperti di Bali, luas panen tanaman hias daun potong termasuk Philodendron cenderung meningkat seiring peningkatan permintaan konsumen (Tuningrat et al. 2012).  Harga tanaman P. xanadu dalam pot tidak terlalu mahal tergantung dari ukuran tanaman.  Namun demikian, hibrida baru P. xanadu berdaun kuning atau yang sering disebut golden xanadu mempunyai nilai ekonomi yang lebih tinggi, karena keunikannya.(irm)
    • 24 Mei 2019

      Tapeinochilos ananassae

      Tapeinochilos ananassae K. Schum berasal dari Malaysia dan banyak tersebar di pegunungan Maluku (Heyne, 1987). Saat ini tanaman ini banyak dikembangkan pula di Queensland, Australia, Hawai dan Amerika selatan (Anonim, 2002). 
      Selain sebagai tanaman hias, Tapeinochilos ananassae juga bisa dimanfaatkan sebagai tanaman obat. Daun dan akarnya yang lunak apabila diremas dengan air kemudian diminum bisa menjadi obat penangkal racun ular. Empulur dan daunnya juga bisa dipakai untuk
    • 23 Mei 2019

      KAPITALISASI INOVASI KRISAN BALAI PENELITIAN TANAMAN HIAS

      Balai Penelitian Tanaman Hias sebagai lembaga riset telah menghasilkan berbagai inovasi di bidang tanaman hias. Inovasi tersebut di antaranya berupa varietas, benih, dan teknologi produksi krisan.
      Balithi sejak tahun 1998 hingga saat ini telah menghasilkan 83 varietas.
      Penggunaan varietas tersebut di industri florikultura nasional mampu mensubstitusi  sebesar 40% dari total varietas yang beredar di pasar nasional.


      Berdasarkan data BPS (2014 s/d

    • 22 Mei 2019

      Mengenali Penyakit Tanaman Hias, Embun Tepung Oidium chrysanthemi Rab.


      Gejala serangan penyakit Embun Tepung Oidium chrysanthemi Rab. (Cendawan) yaitu terdapatnya lapisan putih bertepung pada permukaan daun. Tepung putih ini sebenarnya merupakan masa dari konidia cendawan. 
      Pada serangan berat menyebabkan daun pucat dan mengering. Penyakit biasa menyerang tanaman pada dataran tinggi maupun dataran rendah.  Suhu optimum untuk perkecambahan konidiumnya adalah 25C.
      Cendawan berkembang pada cuaca kering, dan konidiumnya
    • 21 Mei 2019

      Monev Puslitbang Horti On-Going tahun 2019


      Kegiatan monitoring dan evaluasi Tim Puslitbang Hortikultura dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Hias pada tanggal 21-23 Mei 2019. Anggota tim Monev terdiri atas Prof (R) Dr. Ir. Yusdar Hilman, MS., Dr. Bagus K, dan Dr. Noor Roufiq Ahmadi.

      Monitoring dan evaluasi dilakukan terhadap Tindak lanjut BA Monev I Puslitbang Hortikultura yang dilaksanakan tanggal 21-22 Maret 2019 dengam melihat kembali Dokumen perencanaan penelitian dan pengembangan
    • 21 Mei 2019

      Klasifikasi dan Deskripsi Botani Asplenium nidus L.


      Sistem klasifikasi menurut Christenhusz dan Chase (2014) adalah sebagai berikut:
      Asplenium nidus termasuk dalam Kerajaan Plantae, Divisi Pteridophyta, Kelas Polipodiopsida, Bangsa Polypodiales, Suku Aspleniaceae, Marga Asplenium
      Jenis A. nidus L. dalam bangsa Polypodiales terdiri atas 26 suku di antaranya Aspleniaceae. 
      Marga Asplenium terdiri atas 115 jenis (Ohlsen et al. 2015). Aspleniaceae merupakan tumbuhan paku sejati, karena memiliki
    • 20 Mei 2019

      Dracaena fragrans L. Ker Gawl (Asparagaceae)


      Marga Dracaena ditemukan pada tahun 1768 oleh Vandelli (Brown, 1914). Jenis pertama yang ditemukan adalah Dracaena draco L. di Pulau Canary. Menurut Waterhouse (1987), Dracaena meliputi 40 jenis, tetapi menurut Huxley (1992), Dracaena terdiri atas 50 jenis. 
      Menurut Bos (1992, 1998); Staples & Herbst (2005); Judd et al. (2007); dan Mabberley (2008), Dracaena terdiri atas 60-80 jenis yang tersebar di daerah tropis dan sub tropis, kecuali Amerika Selatan yang
    • 19 Mei 2019

      Alocasia celebica Engl ex Koord


      Alocasia celebica Engl ex Koord termasuk family araceae, memiliki nama umum Talas-talasan dan sebaran Geografisnya endemik di Sulawesi Tenggara terutama di daerah Mongolia

      Dengan tinggi tanaman 60 cm, bentuk daun jantung dengan ujung runcing, jumlah helaian daun 1-6, warna daun bagian atas hijau tua mengkilat dengan urat daun berwana hijau pucat keabu-abuan, warna daun bagian bawah ungu tua. Bunga berbentuk