• HAMA UTAMA TANAMAN MAWAR, KUTUDAUN MAWAR MACROSIPHUM ROSAE L. (ROSE APHID)
  • ditulis tgl : 01 Mei 2019, telah dibaca sebanyak : 124 kali


    Gambar malas ngoding
    Kutu daun mawar bertubuh lunak, berbentuk lonjong, bagian ekor lebih lebar dan lebih gemuk dibandingkan bagian depan (kepala). 
    Panjang tubuh rata-rata 2-5 mm. M. rosae tubuhnya berwarna hijau, hijau muda atau kuning kehijauan.

    (Homoptera: Aphididae) Kutu daun mawar umum dijumpai di setiap daerah pertanaman mawar di seluruh dunia (kosmopolitan).

    Hama ini menusukkan alat mulutnya yang halus tajam dan runcing yang dinamakan stilet ke dalam jaringan tanaman yang lunak, seperti pucuk, daun muda bakal bunga dan bunga, lalu menghisap cairan tanaman untuk mendapatkan nutrisi sebagai makanannya.
    Dengan terisapnya cairan dari jaringan tanaman, pertumbuhan tanaman menjadi terganggu dan tanaman menjadi layu.
    Kutu daun biasanya hidup berkoloni terutama pada permukaan bawah daun yang masih muda, pada pucuk, dan pada bakal bunga.
    Karena itu kahadiran kutu daun M. rosae pada tanaman mawar selain menyebabkan kerusakan pada tanaman, juga menurunkan kualitas penampilan bunga yang mengakibatkan penurunan harga jual bunga.

    Di daerah tropis kutu daun umumnya berkembang biak dengan melahirkan serangga muda (nimfa) tanpa melalui perkawinan (asexual).
    Cara berkembang biak tersebut biasanya dinamakan partenogenetik.
    Di laboratorium seekor betina mampu melahirkan nimfa lebih dari 24 ekor dengan lama hidup rata-rata 18,9 hari, sedangkan di rumah kaca lebih dari 19 ekor dengan lama hidup rata-rata 21,1 hari. 
    Siklus hidup hama ini di laboraturium rata-rata 11,3 hari, sedangkan di rumah kaca rata-rata 13,2 hari.
    Hama menyebar dari satu tanaman ke tanaman lain dengan berjalan, terbang (yang sudah bersayap) dengan bantuan angin dan atau bantuan aktivitas manusia (peralatan kebun penularan melalui bibit/stek, dsb).

    Pada populasi rendah kutu daun dapat dikendalikan dengan menyemprotkan air melalui selang bernozel dengan tekanan agak kuat, keadaan populasi lebih tinggi pengendalian hama ini dapat dilakukan dengan menggunakan insektisida sintetik, insektisida botani dan insektisida hayati.
    Tidak kurang dari 40 jenis insektisida sintetik dilaporkan mampu menekan populasi kutu daun, di antaranya adalah yang berbahan aktif betasilfutrin, deltametrin, diafentiuron, fosalon, imidakloprid, klorfenafir, klorfluazuron, metidation, profenopos dan sipermetrin.
    Insektisida botani dapat disiapkan sendiri dengan teknologi yang sangat sederhana atau dengan menggunakan ekstrak dari bahan tumbuhan yang bersifat insektisida. Insektisida botani yang berasal dari ekstrak biji atau daun perasannya dari tanaman-tanaman dari famili Annonaceae (sirsak, srikaya, buah nona) dan Meliaceae (neem/nimba, mindi, culan, mahoni) dilaporkan efektif menekan populasi beberapa jenis hama. Insektisida agens hayati, yaitu cendawan musuh alaminya Beauveria bassiana, dilaporkan efektif untuk mengendalikan kutu daun.
    Parasit nimfa kutu daun di Indonesia seperti pada tanaman kubis adalah Aphidius sp, di negeri Belanda parasit kutu daun dapat digunakan Encarsia formosa. Di Jawa Barat yang  sering ditemukan predator kutu daun ialah Coccinella sp, dan  Syrphidae. (irm)(RTS)
    • 24 Mei 2019

      Tapeinochilos ananassae

      Tapeinochilos ananassae K. Schum berasal dari Malaysia dan banyak tersebar di pegunungan Maluku (Heyne, 1987). Saat ini tanaman ini banyak dikembangkan pula di Queensland, Australia, Hawai dan Amerika selatan (Anonim, 2002). 
      Selain sebagai tanaman hias, Tapeinochilos ananassae juga bisa dimanfaatkan sebagai tanaman obat. Daun dan akarnya yang lunak apabila diremas dengan air kemudian diminum bisa menjadi obat penangkal racun ular. Empulur dan daunnya juga bisa dipakai untuk
    • 23 Mei 2019

      KAPITALISASI INOVASI KRISAN BALAI PENELITIAN TANAMAN HIAS

      Balai Penelitian Tanaman Hias sebagai lembaga riset telah menghasilkan berbagai inovasi di bidang tanaman hias. Inovasi tersebut di antaranya berupa varietas, benih, dan teknologi produksi krisan.
      Balithi sejak tahun 1998 hingga saat ini telah menghasilkan 83 varietas.
      Penggunaan varietas tersebut di industri florikultura nasional mampu mensubstitusi  sebesar 40% dari total varietas yang beredar di pasar nasional.


      Berdasarkan data BPS (2014 s/d

    • 22 Mei 2019

      Mengenali Penyakit Tanaman Hias, Embun Tepung Oidium chrysanthemi Rab.


      Gejala serangan penyakit Embun Tepung Oidium chrysanthemi Rab. (Cendawan) yaitu terdapatnya lapisan putih bertepung pada permukaan daun. Tepung putih ini sebenarnya merupakan masa dari konidia cendawan. 
      Pada serangan berat menyebabkan daun pucat dan mengering. Penyakit biasa menyerang tanaman pada dataran tinggi maupun dataran rendah.  Suhu optimum untuk perkecambahan konidiumnya adalah 25C.
      Cendawan berkembang pada cuaca kering, dan konidiumnya
    • 21 Mei 2019

      Monev Puslitbang Horti On-Going tahun 2019


      Kegiatan monitoring dan evaluasi Tim Puslitbang Hortikultura dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Hias pada tanggal 21-23 Mei 2019. Anggota tim Monev terdiri atas Prof (R) Dr. Ir. Yusdar Hilman, MS., Dr. Bagus K, dan Dr. Noor Roufiq Ahmadi.

      Monitoring dan evaluasi dilakukan terhadap Tindak lanjut BA Monev I Puslitbang Hortikultura yang dilaksanakan tanggal 21-22 Maret 2019 dengam melihat kembali Dokumen perencanaan penelitian dan pengembangan
    • 21 Mei 2019

      Klasifikasi dan Deskripsi Botani Asplenium nidus L.


      Sistem klasifikasi menurut Christenhusz dan Chase (2014) adalah sebagai berikut:
      Asplenium nidus termasuk dalam Kerajaan Plantae, Divisi Pteridophyta, Kelas Polipodiopsida, Bangsa Polypodiales, Suku Aspleniaceae, Marga Asplenium
      Jenis A. nidus L. dalam bangsa Polypodiales terdiri atas 26 suku di antaranya Aspleniaceae. 
      Marga Asplenium terdiri atas 115 jenis (Ohlsen et al. 2015). Aspleniaceae merupakan tumbuhan paku sejati, karena memiliki
    • 20 Mei 2019

      Dracaena fragrans L. Ker Gawl (Asparagaceae)


      Marga Dracaena ditemukan pada tahun 1768 oleh Vandelli (Brown, 1914). Jenis pertama yang ditemukan adalah Dracaena draco L. di Pulau Canary. Menurut Waterhouse (1987), Dracaena meliputi 40 jenis, tetapi menurut Huxley (1992), Dracaena terdiri atas 50 jenis. 
      Menurut Bos (1992, 1998); Staples & Herbst (2005); Judd et al. (2007); dan Mabberley (2008), Dracaena terdiri atas 60-80 jenis yang tersebar di daerah tropis dan sub tropis, kecuali Amerika Selatan yang
    • 19 Mei 2019

      Alocasia celebica Engl ex Koord


      Alocasia celebica Engl ex Koord termasuk family araceae, memiliki nama umum Talas-talasan dan sebaran Geografisnya endemik di Sulawesi Tenggara terutama di daerah Mongolia

      Dengan tinggi tanaman 60 cm, bentuk daun jantung dengan ujung runcing, jumlah helaian daun 1-6, warna daun bagian atas hijau tua mengkilat dengan urat daun berwana hijau pucat keabu-abuan, warna daun bagian bawah ungu tua. Bunga berbentuk