HAMA-UTAMA-TANAMAN-MAWAR,-KUTUDAUN-MAWAR--MACROSIPHUM-ROSAE-L.-(ROSE-APHID)

  • HAMA UTAMA TANAMAN MAWAR, KUTUDAUN MAWAR MACROSIPHUM ROSAE L. (ROSE APHID)

  • ditulis tgl : 01 Mei 2019, telah dibaca sebanyak : 188 kali

    Share On Twitter

    Kutu daun mawar bertubuh lunak, berbentuk lonjong, bagian ekor lebih lebar dan lebih gemuk dibandingkan bagian depan (kepala). 
    Panjang tubuh rata-rata 2-5 mm. M. rosae tubuhnya berwarna hijau, hijau muda atau kuning kehijauan.

    (Homoptera: Aphididae) Kutu daun mawar umum dijumpai di setiap daerah pertanaman mawar di seluruh dunia (kosmopolitan).

    Hama ini menusukkan alat mulutnya yang halus tajam dan runcing yang dinamakan stilet ke dalam jaringan tanaman yang lunak, seperti pucuk, daun muda bakal bunga dan bunga, lalu menghisap cairan tanaman untuk mendapatkan nutrisi sebagai makanannya.
    Dengan terisapnya cairan dari jaringan tanaman, pertumbuhan tanaman menjadi terganggu dan tanaman menjadi layu.
    Kutu daun biasanya hidup berkoloni terutama pada permukaan bawah daun yang masih muda, pada pucuk, dan pada bakal bunga.
    Karena itu kahadiran kutu daun M. rosae pada tanaman mawar selain menyebabkan kerusakan pada tanaman, juga menurunkan kualitas penampilan bunga yang mengakibatkan penurunan harga jual bunga.

    Di daerah tropis kutu daun umumnya berkembang biak dengan melahirkan serangga muda (nimfa) tanpa melalui perkawinan (asexual).
    Cara berkembang biak tersebut biasanya dinamakan partenogenetik.
    Di laboratorium seekor betina mampu melahirkan nimfa lebih dari 24 ekor dengan lama hidup rata-rata 18,9 hari, sedangkan di rumah kaca lebih dari 19 ekor dengan lama hidup rata-rata 21,1 hari. 
    Siklus hidup hama ini di laboraturium rata-rata 11,3 hari, sedangkan di rumah kaca rata-rata 13,2 hari.
    Hama menyebar dari satu tanaman ke tanaman lain dengan berjalan, terbang (yang sudah bersayap) dengan bantuan angin dan atau bantuan aktivitas manusia (peralatan kebun penularan melalui bibit/stek, dsb).

    Pada populasi rendah kutu daun dapat dikendalikan dengan menyemprotkan air melalui selang bernozel dengan tekanan agak kuat, keadaan populasi lebih tinggi pengendalian hama ini dapat dilakukan dengan menggunakan insektisida sintetik, insektisida botani dan insektisida hayati.
    Tidak kurang dari 40 jenis insektisida sintetik dilaporkan mampu menekan populasi kutu daun, di antaranya adalah yang berbahan aktif betasilfutrin, deltametrin, diafentiuron, fosalon, imidakloprid, klorfenafir, klorfluazuron, metidation, profenopos dan sipermetrin.
    Insektisida botani dapat disiapkan sendiri dengan teknologi yang sangat sederhana atau dengan menggunakan ekstrak dari bahan tumbuhan yang bersifat insektisida. Insektisida botani yang berasal dari ekstrak biji atau daun perasannya dari tanaman-tanaman dari famili Annonaceae (sirsak, srikaya, buah nona) dan Meliaceae (neem/nimba, mindi, culan, mahoni) dilaporkan efektif menekan populasi beberapa jenis hama. Insektisida agens hayati, yaitu cendawan musuh alaminya Beauveria bassiana, dilaporkan efektif untuk mengendalikan kutu daun.
    Parasit nimfa kutu daun di Indonesia seperti pada tanaman kubis adalah Aphidius sp, di negeri Belanda parasit kutu daun dapat digunakan Encarsia formosa. Di Jawa Barat yang  sering ditemukan predator kutu daun ialah Coccinella sp, dan  Syrphidae. (irm)(RTS)

  • BERITA TERKAIT
    • Mengenal Istilah-istilah yang Biasa Dipakai Dalam Dunia Teknologi Benih

      23 Agustus 2019
      Dalam dunia teknologi perbenihan dikenal berbagai istilah yang sudah biasa digunakan. Tetapi masih banyak kalangan yang belum mengetahui secara detail maksud dari istilah tersebut.Kali ini dibahas rincian atau deskripsi darivpenggunaan istilah-istilah dalam dunia perbenihan terutama yang menggunakan teknologi kultur jaringan tanaman.Aklimatisasi, aklimatisasi adalah proses adaptasi dan pemindahan tanaman hasil kultur in
    • Launching Inovasi Unggulan dan Penyerahan Royalti Kepada Inventor Balitbangtan

      22 Agustus 2019
      Bertempat di Auditorium Ir. Sadikin Sumintawikarta, Jl. Tentara Pelajar No. 2 Bogor Kamis 22 Agustus 2019 dilaksanakan Launching Inovasi Unggulan Balitbangtan.Mewakili Menteri Pertanian RI, Kepala Balitbangtan Dr. Ir. Fadjry Djufry, M.Si. secara resmi membuka acara tersebut. Selain launching inovasi unggulan Balitbangtan pada kesempatan yang sama dilaksanakan pula penyerahan royalti secara simbolis kepada inventor Balitbangtan yang dilaksanakan
    • Varietas Krisan Kineta

      22 Agustus 2019
      Kineta termasuk salah satu varietas dari komoditas krisan yang telah dihasilkan Balai Penelitian Tanaman Hias, deskripsi varietas ini diantaranya memiliki tinggi Tanaman 95 - 97 cm,Bentuk penampang batang : bulat dengan jumlah ruas batang 36 - 41 ruas pertanaman.Jumlah kuntum bunga 19 - 27 kuntum dengan diameter kuntum bunga
    • Peringatan HUT RI ke74 dan HUT Balithi ke-25

      21 Agustus 2019
      Peringatan hari ulang tahun (HUT) Balithi ke-25 dilaksanakan di area Balithi pada tanggal 21 Agustus 2019.Perayaan dimeriahkan dengan lomba jalan santai yang diikuti oleh seluruh karyawan, siswa dan mahasiswa praktik, dharma wanita dan para pekarya kebun; pembagian doorprize dan hiburan lainnya.Dalam pembukaan lomba jalan santai, Kepala Balithi menyampaikan bahwa kegiatan ini dilaksanakan semata-mata untuk mempererat tali
    • Penanaman Krisan

      21 Agustus 2019
      Untuk tanaman produksi bunga potong, bahan tanam berupa stek krisan berakar dapat ditanam pada lahan bedengan dengan jarak tanam 12,5 x 12,5 cm (kerapatan tanam 64 tanaman/m2),  setelah sebelumnya dibuat lobang tanam dengan menggunakan bambu atau kayu penugal, sedangkan untuk kebun tanaman induk produksi stek, stek berakar ditanam dengan kerapatan 25 hingga 40 tanaman/m2. Faktor kelembaban media tanam perlu mendapat perhatian dalam pertanaman
    • sosialisasi peningkatan SDM Perbenihan Tanaman Hias

      20 Agustus 2019
      Sosialisasi peningkatan Kompetensi SDM Dalam Mendukung Perbenihan tanaman hias berkualitas sesuai peraturan dilaksanakan di aula Balai Penelitian Tanaman Hias pada hari selasa 20 Agustus 2019.Pertemuan tersebut dihadiri oleh Kepala Balai Penelitian Tanaman Hias, Ir, Rudy Soehendi, MP., Ph.D., Prof(R). Dr. Budi Marwoto, MS., Evi Dwi Sulistya Nugroho, SP., MSi., para peneliti Balai Penelitian Tanaman Hias serta seluruh pengelola Unit Pengelolaan Benih
    • Launching Perpustakaan dan Aplikasi SILAK BALITBANGTAN

      18 Agustus 2019
      Menurut Undang-Undang Nomor 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan, disebutkan bahwa Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesiona l dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka. Selanjutnya disebutkan pula bahwa Perpustakaan khusus adalah perpustakaan yang diperuntukkan secara terbatas bagi pemustaka di lingkungan lembaga pemerintah,