• TANAMAN INDUK UNTUK PRODUKSI STEK
  • ditulis tgl : 29 April 2019, telah dibaca sebanyak : 154 kali


    Gambar malas ngoding
    Tanaman induk adalah tanaman yang dipelihara khusus untuk produksi stek. Bahan tanam untuk tanaman induk dapat berupa stek berakar hasil perbanyakan konvensional atau tanaman yang sudah diaklimatisasi hasil perbanyakan kultur jaringan.  Berdasarkan fungsinya sebagai penghasil stek, maka tanaman induk dipelihara selalu dalam keadaan vegetatif aktif dengan penyinaran tambahan hingga tanaman tidak produktif.

    Stek yang dihasilkan harus berasal dari tunas samping (tunas aksiler) yang tumbuh dari ketiak daun.  Tunas aksiler yang tumbuh dari ketiak daun terstimulasi setelah pertumbuhan apikal pada cabang yang sama terhenti (dipanen atau di-pinching).  Maaswinkel dan Sulyo (2004) mengemukakan bahwa pemeliharaan tanaman induk perlu mendapat perhatian yang serius, sehubungan dengan kualitas stek yang akan dihasilkan.  Keragaan tanaman induk akan mempengaruhi mutu stek yang dihasilkan dan pada akhirnya akan berpengaruh terhadap tanaman yang hendak ditanam.  Tata cara budidaya tanaman induk  adalah sebagai berikut.
    Minggu 0 - 2 = stek dalam proses pengakaran
    Minggu 3 = penanaman stek dalam bedengan.
    Minggu 4 = pinching
    Minggu 7 - 23 = panen/produksi stek
    Minggu 23 = tanaman induk dibongkar/diganti dengan tanaman baru.
    Dengan demikian, usia produktif tanaman dalam menghasilkan stek yaitu pada minggu ke 7 - 23 (16 minggu).
    Sehubungan dengan tata cara pemotongan tunas aksiler sebagai stek,  Maaswinkel dan Sulyo (2004) lebih lanjut mengemukakan bahwa tunas apikal dipotong dengan menggunakan pemotong steril dengan menyisakan 2 - 3 daun pada batang/cabang yang dipotong, sekalipun jumlah tunas aksiler yang tumbuh dari ketiak daun berbanding lurus dengan sisa daun yang ditinggalkan hingga 7 - 8 daun (De Ruiter, 1997).  Hal ini berhubungan dengan pemeliharaan bentuk tajuk dan kanopi tanaman induk agar tidak cepat rimbun sehingga stek yang dihasilkan memiliki kualitas yang memadai.

    Tunas aksiler yang tumbuh pada ketiak daun setelah apikal dipotong, dimungkinkan berjumlah lebih dari satu dengan waktu yang tidak bersamaan (Ahmad dan Marshall, 1997) dan tidak seragam (Chockshull, 1982), sehingga tunas aksiler yang akan dipanen sebagai bahan stek selanjutnya kemungkinan tidak seragam.  Menurut Maaswinkel dan Sulyo (2004), tunas aksiler yang dipanen untuk bahan stek hendaknya tunas yang telah memiliki kriteria 5 - 7 daun sempurna.  Bila pada saat panen, dijumpai tunas aksiler muda atau yang belum memiliki kriteria tersebut diatas, maka tunas aksiler ini dibiarkan hingga pada saatnya dapat dipanen (panen stek berikutnya).

    Davies dan Potter (1981) mengemukakan bahwa kualitas pertumbuhan tanaman krisan sangat dipengaruhi oleh kualitas bahan tanamnya (kualitas stek).  Selanjutnya kualitas stek sangat dipengaruhi oleh performa dan sejarah pertumbuhan tanaman induk dimana stek tersebut berasal.  Stek berkualitas rendah dapat disebabkan oleh kesalahan penanganan stek setelah panen, proses pengakaran stek atau bahkan kualitas tanaman induk tanaman sumber stek tersebut sudah tidak memadai (Klapwijk, 1987).
    Banyak kasus menunjukkan bahwa kualitas tanaman induk yang buruk berkaitan dengan rendahnya kualitas stek yang dihasilkan. Moe (1988) mengemukakan bahwa tanaman induk yang telah terinduksi ke fase generatif akan menghasilkan tunas aksiler dengan pertumbuhan lebih lambat dan sedikit.  Dalam proses pengakaran, pertumbuhan akar lebih lambat sehingga periode pengakaran lebih lama dengan jumlah lebih sedikit dan pendek (De Vier dan Geneve, 1997).  Gejala yang sama pun sering terlihat bila stek diambil dari tanaman induk yang sudah tua dan tidak produktif lagi dalam menghasilkan stek.  Davies dan Potter (1981) mengemukakan bahwa kandungan karbohidrat pada tunas aksiler juga mempengaruhi kecepatan dan kekompakan pertumbuhan akar stek pada saat proses pengakaran.  Semakin sering tanaman induk dipanen steknya, maka kecepatan dan kualitas pertumbuhan tunas aksiler akan semakin menurun karena distribusi karbohidrat yang tidak merata, sehingga kualitas stek yang dihasilkan pun akan semakin rendah (Ahmad dan Marshall, 1997). 

    Budidaya tanaman induk dilakukan dalam rumah lindung yang terpisah dengan pertanaman untuk produksi bunga.   Pertanaman induk dapat menggunakan mulsa plastik untuk mengurangi pertumbuhan gulma yang cepat (gambar 25).  Mulsa ini juga berfungsi untuk menjaga kestabilan sifat fisik dan kimia tanah pada lahan bedengan selama proses pertanaman.

    Pada pertanaman induk krisan, pemberian GA3 dengan konsentrasi 100 ppm perminggu selama masa produktif dianjurkan untuk menstimulasi pertumbuhan tunas aksiler dan mengurangi etiolasi pada tunas aksiler (Marwoto, et. al., 2000).  Selain pupuk dasar, pemupukan lanjutan dilakukan setiap tiga minggu dan pupuk daun dengan frekuensi dan dosis yang sama seperti tanaman produksi bunga hingga tanaman induk tidak produktif menghasilkan stek. Setelah tanaman induk berumur lebih dari 23 minggu atau bila produktifitas tanaman induk dan kualitas stek yang dihasilkan menurun, tanaman induk dapat dibongkar dan diganti dengan tanaman baru.(irm)

    sumber: buku teknologi produksi krisan
    • 24 Mei 2019

      Tapeinochilos ananassae

      Tapeinochilos ananassae K. Schum berasal dari Malaysia dan banyak tersebar di pegunungan Maluku (Heyne, 1987). Saat ini tanaman ini banyak dikembangkan pula di Queensland, Australia, Hawai dan Amerika selatan (Anonim, 2002). 
      Selain sebagai tanaman hias, Tapeinochilos ananassae juga bisa dimanfaatkan sebagai tanaman obat. Daun dan akarnya yang lunak apabila diremas dengan air kemudian diminum bisa menjadi obat penangkal racun ular. Empulur dan daunnya juga bisa dipakai untuk
    • 23 Mei 2019

      KAPITALISASI INOVASI KRISAN BALAI PENELITIAN TANAMAN HIAS

      Balai Penelitian Tanaman Hias sebagai lembaga riset telah menghasilkan berbagai inovasi di bidang tanaman hias. Inovasi tersebut di antaranya berupa varietas, benih, dan teknologi produksi krisan.
      Balithi sejak tahun 1998 hingga saat ini telah menghasilkan 83 varietas.
      Penggunaan varietas tersebut di industri florikultura nasional mampu mensubstitusi  sebesar 40% dari total varietas yang beredar di pasar nasional.


      Berdasarkan data BPS (2014 s/d

    • 22 Mei 2019

      Mengenali Penyakit Tanaman Hias, Embun Tepung Oidium chrysanthemi Rab.


      Gejala serangan penyakit Embun Tepung Oidium chrysanthemi Rab. (Cendawan) yaitu terdapatnya lapisan putih bertepung pada permukaan daun. Tepung putih ini sebenarnya merupakan masa dari konidia cendawan. 
      Pada serangan berat menyebabkan daun pucat dan mengering. Penyakit biasa menyerang tanaman pada dataran tinggi maupun dataran rendah.  Suhu optimum untuk perkecambahan konidiumnya adalah 25C.
      Cendawan berkembang pada cuaca kering, dan konidiumnya
    • 21 Mei 2019

      Monev Puslitbang Horti On-Going tahun 2019


      Kegiatan monitoring dan evaluasi Tim Puslitbang Hortikultura dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Hias pada tanggal 21-23 Mei 2019. Anggota tim Monev terdiri atas Prof (R) Dr. Ir. Yusdar Hilman, MS., Dr. Bagus K, dan Dr. Noor Roufiq Ahmadi.

      Monitoring dan evaluasi dilakukan terhadap Tindak lanjut BA Monev I Puslitbang Hortikultura yang dilaksanakan tanggal 21-22 Maret 2019 dengam melihat kembali Dokumen perencanaan penelitian dan pengembangan
    • 21 Mei 2019

      Klasifikasi dan Deskripsi Botani Asplenium nidus L.


      Sistem klasifikasi menurut Christenhusz dan Chase (2014) adalah sebagai berikut:
      Asplenium nidus termasuk dalam Kerajaan Plantae, Divisi Pteridophyta, Kelas Polipodiopsida, Bangsa Polypodiales, Suku Aspleniaceae, Marga Asplenium
      Jenis A. nidus L. dalam bangsa Polypodiales terdiri atas 26 suku di antaranya Aspleniaceae. 
      Marga Asplenium terdiri atas 115 jenis (Ohlsen et al. 2015). Aspleniaceae merupakan tumbuhan paku sejati, karena memiliki
    • 20 Mei 2019

      Dracaena fragrans L. Ker Gawl (Asparagaceae)


      Marga Dracaena ditemukan pada tahun 1768 oleh Vandelli (Brown, 1914). Jenis pertama yang ditemukan adalah Dracaena draco L. di Pulau Canary. Menurut Waterhouse (1987), Dracaena meliputi 40 jenis, tetapi menurut Huxley (1992), Dracaena terdiri atas 50 jenis. 
      Menurut Bos (1992, 1998); Staples & Herbst (2005); Judd et al. (2007); dan Mabberley (2008), Dracaena terdiri atas 60-80 jenis yang tersebar di daerah tropis dan sub tropis, kecuali Amerika Selatan yang
    • 19 Mei 2019

      Alocasia celebica Engl ex Koord


      Alocasia celebica Engl ex Koord termasuk family araceae, memiliki nama umum Talas-talasan dan sebaran Geografisnya endemik di Sulawesi Tenggara terutama di daerah Mongolia

      Dengan tinggi tanaman 60 cm, bentuk daun jantung dengan ujung runcing, jumlah helaian daun 1-6, warna daun bagian atas hijau tua mengkilat dengan urat daun berwana hijau pucat keabu-abuan, warna daun bagian bawah ungu tua. Bunga berbentuk