FERTIGASI-OTOMATIS-BERBASIS-TENSIOMETER-DAN-SENSOR-EC-UNTUK-BUDIDAYA-TANAMAN-HIAS
 

  • FERTIGASI OTOMATIS BERBASIS TENSIOMETER DAN SENSOR EC UNTUK BUDIDAYA TANAMAN HIAS

  • ditulis tgl : 26 Februari 2019, telah dibaca sebanyak : 1169 kali

    Share On Twitter

    Tensiometer artinya  pengukur  tegangan /gaya, untuk menyerap air dari dalam  tanah , tanaman  perlu mengatasi gaya isap  dari tanah, gaya ini diukur dengan sebuah tensiometer.  Satuannya kilo Pascal (kPa)  atau  sentibar (cBar). Tensiometer ini terbuat dari tabung akrilik yang salah satu ujungnya dipasangi cawan keramik berpori dan pada ujung lainnya dipasangi vakum meter.  Cawan keramik  mensimulasikan  aliran air  melalui tanah. Jika tanah sekitar cawan  keramik tensiometer kering, air diisap keluar dari tabung, sehingga terjadi hampa udara di dalam tabung yang  akhirnya angka di vakum meter terbaca.  Makin kering tanah, makin tinggi pembacaan tensiometer. Kalau tanah menjadi basah, maka air masuk ke tabung, sehingga pembacaan vakum meter mendekati nol. Pembacaan tensiometer yang sama  pada  tanah yang berbeda menunjukkan kandungan air yang berbeda.Hal ini disebabkan karena setiap jenis tanah memiliki karakteristik daya memegang air  yang berlainan. Pada nilai tensi yang sama,  jenis tanah yang berbeda akan  mengandung air yang berbeda. Jadi tanah yang berat mengandung air lebih banyak daripada tanah pasir. Oleh karena itu tanah berpasir memerlukan frekuensi pengairan yang lebih sering dibandingkan tanah yang bertekstur lebih berat.

    Untuk kebanyakan tanah, nilai tensiometer di atas 50 kPa  artinya tanah kering dan di bawah 10 Kpa menunjukkan tanah basah.  Otomatisasi penyiraman akan menyesuaikan kebutuhan air dengan stadia pertumbuhan tanaman. 
    Pengairan yang diberikan bersamaan dengan pemupukan berpeluang untuk menyebabkan  kandungan hara di dalam media tanaman menjadi terlalu tinggi, sehingga dapat meracuni tanaman. Dengan otomatisasi, maka  dapat mempertahankan level hara  yang tepat di dalam media tanam.

    Pengaturan Penyiraman
    Sistem penjadwalan penyiraman berdasarkan kepada kandungan air  tanah yang dimonitor menggunakan tensiometer. Tensiometer ini dipasang pada kedalaman sekitar 2/3 dari daerah perakaran. Pada saat keadaan tanah kering, maka air tertarik keluar tabung, sehingga terbentuk udara hampa di dalam tabung.  Angka yang terbaca di vakum meter menunjukkan tingkat hampa udara dalam tabung yang dapat dikonversi ke kandungan air tanah yang sesuai dengan jenis tekstur tanahnya. 

    Untuk otomatisasi pada sistem irigasi, maka vakum meter diganti dengan vakum sensor/kontroler  digital (Autonics).  Pada kontroler tersebut sudah tersedia fasilitas penyetelan /setting yang dapat disesuaikan dengan tekstur tanah, sistem pengairan yang digunakan  dan jenis tanaman. Setiap kali  pembacaan tensiometer  mencapai nilai tersebut, maka pengairan akan berlangsung, dan berhenti pada angka yang sudah ditentukan. Dengan menggunakan rangkaian elektronik sederhana , sesnsor ini dapat diprogram untuk menghidupkan atau mematikan  alat seperti katup solenoid dan pompa air

    Alat yang telah dirakit di Balai Penelitian Tanaman Hias, yaitu menggunakan sensor tekanan (pressure sensor) buatan Korea, merk Autonics model PSA-V01, dengan output NPN, yang memerlukan tegangan DC 12-24 V.  Sensor vakum ini dapat diprogram secara manual sesuai kebutuhan, misalnya untuk tanah di  Kp. Segunung, Cipanas, Cianjur,  menggunakan program F3, dimana  pengairan akan dilakukan pada saat tensiometer terbaca -30 kPa  dan berhenti setelah terbaca  -10 kPa. Sensor dihubungkan dengan alat pengendali (sensor controller) Merk Fotek (proximity switch amplifier) lalu  dihubungkan ke katup solenoid/pompa air. Untuk pengairan dengan menggunakan “octamitter”. Pembacaan tensiometer diatur saat mulai pengairan, yaitu pada -15 kPa dan berhenti pada -5 kPa.  Jika kandungan air yang terbaca oleh tensiometer sudah mencapai –15 kPa, maka kontroler akan mengontak  katup solenoid atau menjalankan pompa air. Demikian seterusnya.

    Pengaturan Hara
    Status hara pada tanah atau media tanam  melalu total garam terlarut dapat diukur  melalui daya hantar listriknya  menggunakan  electrical conductivity (EC) meter.  Satuan yang terbaca yaitu  mS/cm, yang setara dengan 640 ppm untuk garam yang tidak diketahui jenis ionnya.  Untuk keperluan otomatisasi , dilakukan dengan  memasang sensor EC  (Hanna).  Pengukuran EC atau garam terlarut memberikan indikasi yang umum apakah  hara dalam  keadaan kahat atau berlebih. Jika larutan pupuk dengan EC tertentu diberikan ke media tanam atau  tanah, maka akan disebarkan ke sekitar  daerah perakaran. Makin lama  waktu pemberian larutan pupuk, maka nilai EC  yang ada di daerah perakaran akan semakin bertambah sampai batas nilai yang telah ditentukan. Pada sistem fertigasi otomatis untuk tanaman hias, EC media ditentukan tidak lebih 0,8 – 1,5 mS/cm.    
    Sistem pencampuran  larutan pupuk ke air pengairan menggunakan alat yang namanya injektor /proportioner tipe Dosatron.  Alat pencampur ini dapat distel nisbahnya dari 1: 50 s/d 1:500. Untuk keperluan otomatisasi , maka pada inlet injektor dipasang katup solenoid  PVC ˝ in.  Input katup solenoid ini ini dihubungkan dengan selang untuk mengisap larutan stok pupuk pekat  pada tangki penampung. Katup solenoid ini  membuka/menutupnya  dikendalikan oleh  EC kontroler. Jika media tanam  EC nya sudah mencapai  nilai yang  ditentukan,  maka  sensor akan menyalurkan signal ke kontroler. Yang selanjutnya  mengontak katup solenoid untuk menutup./ Sedangkan  aliran air akan terus berlanjut sampai dengan nilai tensiometer mencapai angka yang sudah ditentukan.(irm)

  • BERITA TERKAIT
    • Dr. Andi Baso Mengunjungi Balithi

      17 Juni 2020
      Kepala Balai Penelitian Ternak (Balitnak) Dr. Andi Baso berkunjung ke Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi) Selasa (16/6).Tujuan kunjungan ini adalah untuk mengetahui produk inovasi Balithi yang bisa diadopsi atau diterapkan di Balitnak sebagai bentuk kolaborasi antar Unit Pelaksana Teknis (UPT) Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan). Dalam wawancaranya Selasa (16/6) Andi menyampaikan Balithi dan
    • Suryandhari Agrihorti, Krisan Potong Penghias Ruang dan Panggung

      04 Juni 2020
      Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) *telah* berhasil melepas labih dari 70 varietas krisan bunga potong yang memiliki karakter dan keunggulan yang berbeda-beda pa setiap varietasnya.Suryandhari Agrihorti adalah salah satu varietas unggul krisan yang dihasilkan Balitbangtan pada 2019 lalu, memiliki bunga tipe spray berbentuk ganda serta berwarna bunga pita kuning menjadikan Suryandhari Agrihorti ini sangat cocok untuk dijadikan
    • TANAM VARIETAS KRISAN BALITHI, PETANI MASIH TETAP RAUP KEUNTUNGAN

      27 Mei 2020
      Bukan sebuah rahasia lagi bahwa  pandemi covid 19 sangat berdampak ke beberapa sektor di negri ini , salah satunya adalah sektor pertanian. Semakin terbatasnya ruang untuk berkegiatan membuat sebagian petani memilih untuk mengurangi kegiatan mereka di luar rumah. Namun ditengah hebohnya pandemi covid 19, ternyata para petani bunga di Kabupaten Cianjur masih berproduksi, dan salah satu varietas yang diproduksi adalah varietas Balithi
    • KRISAN POT MULAI BERMEKARAN, PT CIGWA INDONESIA JAYA SEMAKIN BERWARNA

      19 Mei 2020
      Sejak ditanam pada tanggal 13 Maret lalu, ke lima varietas Krisan Pot milik Balithi yaitu Avanthe, Armita, Anindita, Zwena dan Naura mulai bermekaran di Green House milik PT Cigwa Indonesia Jaya. Ditengah pandemi Covid 19 yang masih melanda di Indonesia, kegiatan monitoring sejauh ini dilakukan secara jarak jauh. Namun pada kesempatan kali ini dengan tetap memperhatikan protocol keamanan dari pemerintah, tim dari Balithi mengunjungi langsung PT. Cigwa Indonesia
    • Clitoria ternatea, Etlingera elatior dan Euphorbia hirta Diminati Jepang

      11 April 2020
      Kamis (9/4) Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melakukan tindak lanjut kerjasama dengan Hirata Corp Japan mengenai kolaborasi berkelanjutan pengembangan produk untuk dijadikan sebagai bahan pewarna makanan, kosmetik & perlengkapan mandi serta pemanfaatannya untuk farmasi.Salah satu produk yang ditawarkan untuk dikembangkan dalam usulan kerjasama tersebut adalah jenis tanaman hias endemik Indonesia yg  potensial
    • Video Conference, Metode Yang Diterapkan Balitbangtan dalam Penanggulagan covid-19

      10 April 2020
      Dalam upaya menekan penyebaran Covid-19 Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) turut menerapkan berbagai kebijakan dalam upaya penanggulangan penyebaran Covid-19 ini diantara dengan membagikan alat pelindung diru (APD) seperti pembagian hand sanitizer, hand soap dan disinfektan kepada masyarakat yang sebelumnya APD tersebut telah diuji terlebih dahulu di laboratorium Balitbangtan.Penerapan kebijakan lain yang dilakukan Balitbangtan
    • Perhatian Balitbangtan Terhadap Dunia Medis dalam Upaya Mencegah Penyebaran Covid19

      08 April 2020
      Salah satu upaya yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) dalam mencegah penyebaran virus Corona (COVID19) yaitu dengan dilakukannya pemberian paket bantuan terhadap tenaga medis yang menangani pandemi Covid-19 pada Jumat (3/4/20).Kepala Balitbangtan Dr. Fadjry Djufry menyerahkan secara simbolis bantuan tersebut kepada masing-masing perwakilan dari empat rumah sakit yang berada di wilayah Bogor, yakni RSUD Kota Bogor, RSUD