• BIOPESTISIDA BERBAHAN AKTIF RHIZOBAKTERIA
  • ditulis tgl : 11 Januari 2019, telah dibaca sebanyak : 305 kali


    Gambar malas ngoding
    Berbahan aktif bakteri B. subtilis dan P. fluorescens
    Biopestisida ini diberi nama dagang Prima BAPF (Gambar 10), efektif untuk mengendalikan penyakit tanaman seperti penyakit akar bengkak yang disebabkan oleh P. brassicae pada aneka kubis (Cicu 2006), penyakit layu bakteri yang disebabkan oleh R. solanacearum pada tanaman aneka terung (Mawarni et al. 2002), R. solani pada tanaman krisan dan penyakit layu fusarium pada tanaman krisan dan anyelir dengan tingkat penekanan sebesar 28.62 71.47% (Hanudin et al. 2011). Biopestisida tersebut juga dapat menekan penyakit karat putih (Puccinia horina Henn.) sebesar 39.49% dan dapat mempertahankan hasil panen krisan sebesar 14.58% bila dibanding dengan fungisida kimia sintetik berbahan aktif azoksistrobin 200 gram/liter dan difenokonazol 125 gram/liter (Hanudin et al. 2010). Karakteristik biopestisida ini  berbentuk cair, berbahan aktif B. subtilis   ditemukan   pada biakan murni B. bassiana isolat ulat jambu batu (C. angulata f atau C. subtilis wlk)  asal Segunung (Cianjur, Jawa Barat) dan P. fluorescens yang diisolasi dari rhizosfir tanaman krisan yang tumbuh di Segunung.  Zat pembawa yang berfungsi sebagai suspensor adalah larutan mono sodium glutamat (Na glutamat) 1% yang ditambah dengan 0.1 m MgSO4. 7H2O.  
    Prima BAPF  telah mendapat sertifikat paten dari Kementrian Hukum dan Hak Azasi Manusia Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (Dirjen HAKI).  Hak paten tersebut diberikan untuk  formulasi biopestisida  dalam bentuk suspensi.  Adapun nomor sertifikat patennya ialah ID. 0 022 384B, 25 Nopember 2008.


    Berbahan aktif bakteri  P. fluorescens
    Biopestisida berbentuk cair berbahan aktif bakteri Pseudomonas kelompok fluorescens nomor isolat MR 96, diberi nama dagang Bio PF.  Pada tanaman hortikultura, Bio PF telah dikembangkan di Indonesia beberapa tahun ini.  Berdasarkan hasil penelitian, biopestisida ini efektif mengendalikan patogen tular tanah seperti layu bakteri, layu fusarium, penyakit rebah kecambah, dan busuk buah pada tanaman hortikultura. Pada tanaman cabai, Bio PF dapat menekan penyakit busuk buah yang disebabkan oleh colletotrichum sp sebesar 52,83% dan dapat mempertahankan produksi sebesar 30,60% bila dibanding dengan menggunkan pupuk dan pestisida kimia sintetik yang biasa digunakan petani (Nuryani et al. 2015)
    (irman)

    sumber: Ir. Hanudin
    • 22 Mei 2019

      Mengenali Penyakit Tanaman Hias, Embun Tepung Oidium chrysanthemi Rab.


      Gejala serangan penyakit Embun Tepung Oidium chrysanthemi Rab. (Cendawan) yaitu terdapatnya lapisan putih bertepung pada permukaan daun. Tepung putih ini sebenarnya merupakan masa dari konidia cendawan. 
      Pada serangan berat menyebabkan daun pucat dan mengering. Penyakit biasa menyerang tanaman pada dataran tinggi maupun dataran rendah.  Suhu optimum untuk perkecambahan konidiumnya adalah 25C.
      Cendawan berkembang pada cuaca kering, dan konidiumnya
    • 21 Mei 2019

      Monev Puslitbang Horti On-Going tahun 2019


      Kegiatan monitoring dan evaluasi Tim Puslitbang Hortikultura dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Hias pada tanggal 21-23 Mei 2019. Anggota tim Monev terdiri atas Prof (R) Dr. Ir. Yusdar Hilman, MS., Dr. Bagus K, dan Dr. Noor Roufiq Ahmadi.

      Monitoring dan evaluasi dilakukan terhadap Tindak lanjut BA Monev I Puslitbang Hortikultura yang dilaksanakan tanggal 21-22 Maret 2019 dengam melihat kembali Dokumen perencanaan penelitian dan pengembangan
    • 21 Mei 2019

      Klasifikasi dan Deskripsi Botani Asplenium nidus L.


      Sistem klasifikasi menurut Christenhusz dan Chase (2014) adalah sebagai berikut:
      Asplenium nidus termasuk dalam Kerajaan Plantae, Divisi Pteridophyta, Kelas Polipodiopsida, Bangsa Polypodiales, Suku Aspleniaceae, Marga Asplenium
      Jenis A. nidus L. dalam bangsa Polypodiales terdiri atas 26 suku di antaranya Aspleniaceae. 
      Marga Asplenium terdiri atas 115 jenis (Ohlsen et al. 2015). Aspleniaceae merupakan tumbuhan paku sejati, karena memiliki
    • 20 Mei 2019

      Dracaena fragrans L. Ker Gawl (Asparagaceae)


      Marga Dracaena ditemukan pada tahun 1768 oleh Vandelli (Brown, 1914). Jenis pertama yang ditemukan adalah Dracaena draco L. di Pulau Canary. Menurut Waterhouse (1987), Dracaena meliputi 40 jenis, tetapi menurut Huxley (1992), Dracaena terdiri atas 50 jenis. 
      Menurut Bos (1992, 1998); Staples & Herbst (2005); Judd et al. (2007); dan Mabberley (2008), Dracaena terdiri atas 60-80 jenis yang tersebar di daerah tropis dan sub tropis, kecuali Amerika Selatan yang
    • 19 Mei 2019

      Alocasia celebica Engl ex Koord


      Alocasia celebica Engl ex Koord termasuk family araceae, memiliki nama umum Talas-talasan dan sebaran Geografisnya endemik di Sulawesi Tenggara terutama di daerah Mongolia

      Dengan tinggi tanaman 60 cm, bentuk daun jantung dengan ujung runcing, jumlah helaian daun 1-6, warna daun bagian atas hijau tua mengkilat dengan urat daun berwana hijau pucat keabu-abuan, warna daun bagian bawah ungu tua. Bunga berbentuk
    • 17 Mei 2019

      Sedap malam (Polianthes tuberosa L.),


      Sedap malam (Polianthes tuberosa L.), atau Tuberose (Inggris) merupakan salah satu bunga potong dengan aroma wangi, susunan bunga menarik dan warna putih yang sering digunakan dalam rangkaian bunga. Tanaman ini sudah dibudidayakan dan dapat beradaptasi baik pada kondisi tropis seperti Indonesia.

      Sedap malam tumbuh baik pada daerah dengan ketinggian 50-600 m dpl (sedap malam jenis bunga petal tunggal dan semi ganda
    • 16 Mei 2019

      Rapat Koordinasi PUI Pemuliaan Tananan Hias.

      Rapat koordinasi PUI Pemuliaan Tanamam Hias diselenggarakan di Aula Balai Penelitian Tanaman Hias pada tanggal 16 Mei 2019 dipimpin oleh Ketua PUI Pemuliaan Tanaman Hias, Prof(R). Dr. Ir. Budi Marwoto, MS. dan diikuti oleh seluruh anggota PUI Pemuliaan Tanaman Hias.

      Agenda yang dibahas terdiri dari pemaparan capaian kinerja PUI Pemuliaan Tanaman Hias, Diskusi serta pemaparan rencana kerja Tahun 2019 yang dipaparkan oleh